Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
Episode 50 Cemas


__ADS_3

Assalamualaikum....


maaf baru bisa dilanjuuut.


semoga masih ada yang menunggu.


.


.


γ€€


γ€€


Sebulan setelah Adji bekerja di perusahaan papa mertuanya. Akhirnya semua kejanggalan dan bukti bahwa Reza yang telah menyelewengkan uang perusahaan, terungkap.


Adji menemukan berkas perjanjian antara Reza dengan sang kakak Sean di laci meja kerjanya yang terkunci. Ia pernah menanyakan kuncinya tapi Reza selalu mengelak dan mengatakan kalau ia tak pernah tahu ke mana kunci tersebut.


Sampai akhirnya Adji yang pernah berpengalaman di bengkel itu pun, membuka secara manual tempat kunci laci itu dengan obeng dan beberapa perkakas tanpa merusaknya, hingga terbukalah laci tersebut.


Ceklek.


Pintu ruang kerjanya terbuka, sesosok yang ingin ia temui kini telah datang dan berdiri di hadapannya.


"Kenapa, Dji? Loe manggil gue?" tanya pria di depan Adji.


"Duduk, Mas."


Adji mempersilakan atasannya itu duduk.Β  Lalu menyodorkan beberapa map dan amplop berisi perjanjian dan bukti penyelewengan keuangan.


Kedua mata Reza menatap tajam tak percaya, tangannya mengepal. Jantungnya pun berdegup kencang. Apa yang selama ini ia sembunyikan, kini telah terbongkar. Ia tak menyangka Adji bisa secepat itu menemukannya sebelum ia menemukan di mana kunci laci yang telah hilang itu.


Awalnya Reza senang saat kunci laci itu hilang entah ke mana. Karena ia berpikir rahasianya akan aman. Tapi kini semua akan terungkap.


"Saya sudah baca semuanya. Ternyata benar, kalau Mas Reza yang membuat kakak saya meninggal. Dia juga yang harus bertanggung jawab atas semuanya," ucap Adji tegas.


"Dji, gue bisa jelasin semuanya. Gue sama Sean itu kerjasama. Dan dia setujuin semua perjanjian itu. Jadi bukan salah gue dong. Dia yang pakai uang perusahaan, bukan gue," elak Reza dengan geram. Ia tak mau disalahkan sendirian. Padahal jelas-jelas dirinya telah menipu Sean.


"Tapi Mas sudah mengakali kakak saya, dengan dalih investasi kan? Padahal pemindahan saham secara diam-diam. Semua dana jelas ngalirnya ke mana."


"Trus loe mau apa? Mau nuntut gue? Bisa? Kakak loe udah meninggal. Cuma dia yang bisa ngajuin tuntutan." Reza tersenyum sinis, merasa menang atas semuanya.


"Saya mungkin memang nggak bisa menuntut Mas Reza. Tapi, dengan bukti ini. Saya akan membersihkan nama baik kakak saya di hadapan mertua saya. Dan saya pastikan keberadaan Mas Reza di perusahaan ini akan terancam."


Reze melotot, dia bangkit dari duduknya mendekat ke arah Adji dan berlutut. Karirnya akan hancur kalau sampai papanya Maya tahu. Belum lagi hukuman yang akan diterima dari sang ayah atas kecerobohannya itu.


"Please, Dji. Jangan bilang ke Pak Hardi, Dji. Gue ngaku salah, Dji. Gue minta maaf. Gue bakal lakuin apa pun yang loe minta, gue juga bakal ngembaliin semua aset yang pernah diambil. Gue janji, Dji. Gue mohon jangan sampai Pak Hardi tahu. Please, Dji." Reza memohon dengan sangat pada Adji.


Adji bangkit dari duduknya, ia tak peduli dengan permohonan Reza. Dirinya sudah berhasil menemukan semua bukti, dan tidak semudah itu ia terpengaruh. Terlebih ini menyangkut nama baik mendiang sang kakak, dan juga keluarganya.


"Dji, gue mohon, Dji. Kasihanin gue, Dji. Gue nggak mau dipenjara. Gue belum merit, Dji. Duh, Dji. Gue nyesel, Dji." Reza mendekap kaki Adji erat.


"Saya harus kasihan sama Mas Reza? Sementara Mas Reza sendiri nggak peduli dengan keluarga kakak saya. Apa Mas Reza tahu keadaan istri dan anaknya sekarang? Mereka yang harus menanggung kerugian perusahaan ini. Rumah, mobil mereka dijual. Kakak ipar saya nggak cuma kehilangan harta, dia juga kehilangan suaminya. Belum lagi anaknya, harus menjadi yatim di usianya yang masih balita. Di mana hati Mas Reza saat itu?"


Reza menunduk, tangannya mengepal, lalu memukulkannya ke lantai berkali-kali. Tanpa terasa ia pun meneteskan air mata penyesalan.


"Gue nyesel, Dji," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Terlambat, Mas."


Reza menarik napas dalam-dalam. Dirinya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Penyesalan yang ada pun sudah terlambat. Ia bahkan tak akan pernah mengira kalau Sean akan pergi secepat itu. Sebelum misinya berhasil, dan sekarang semuanya sudah selesai. Ia pun akhirnya pasrah kalau kasus ini dibawa ke ranah hukum.


"Saya akan beritahu Pak Hardi. Tapi bukan hak saya untuk menghukum Mas Reza. Keputusan ada di tangan Pak Hardi. Jadi, Mas berdoa saja biar Pak Hardi bisa membebaskan Mas dari segala tuduhan, kalau memang Mas merasa nggak bersalah."


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Keluarga Hardi Wijaya telah tiba di lobi rumah sakit. Mereka mempercepat langkah menuju ruang ICU. Terlihat seorang wanita dan seorang pria yang tak asing di mata Hardi, Bella sedang duduk berdua dengan Reza di kursi tunggu sambil menyantap bubur ayam.


Hardi menatap sinis keduanya, Reza dan Bella bangkit meletakkan bubur di atas kursi lalu berjalan menghampiri Hardi untuk menyalami papanya Maya itu.


"Di mana anak dan menantu saya?" tanya Hardi.


"Di dalam, Pak," jawab Reza gugup.


Tanpa menatap sejoli itu, Hardi dan kedua anaknya masuk ke dalam ruangan di mana Adji di rawat.


"May," panggil Hardi lirih.


Maya menoleh lalu menyambut kedatangan keluarganya. Hardi merengkuh tubuh putrinya itu, menatap nanar ke arah menantunya yang masih tak sadarkan diri.


"Pa, aku takut Bang Adji kenapa-napa. Aku belum siap kalau harus kehilangan dia, Pa." Maya terisak di pelukan sang papa.


Hardi mengusap kepala putrinya lembut, ia tahu apa yang Maya rasakan. Sama sepertinya puluhan tahun lalu saat sang istri terbaring lemah tak berdaya. Terlebih anak-anaknya dulu masih kecil-kecil.


"Sabar, Nak. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk suami kamu."


"Bang Adji orang baik, Pa. Kenapa nasib tak pernah berpihak sama dia. Aku sayang banget sama Bang Adji, Pa."


"Kejadiannya kaya gimana emang, May? Kok Adji bisa kaya gini?" tanya Denis penasaran.


Maya melepas pelukannya, ia mengusap air matanya yang sejak tadi tak pernah berhenti mengalir. Dan membuat kedua matanya bengkak memerah.


"Bang Adji dikira jambret, Mas, Pa. Dia dipukulin warga sampai babak belur. Bahkan ada yang memukul kepalanya pakai kayu, sampai Bang Adji harus di operasi karena tulang tengkoraknya retak."


"AstaghfirullahΒ  …."


Maya kembali terduduk di kursi sebelah brankar suaminya. Menatap erat sang suami sambil menggenggam tangannya.


"Trus yang bawa dia ke sini siapa?" tanya Denis lagi.


"Orang yang kejambret, dan kebetulan itu tantenya Mbak Adelia, suaminya Kak Sean."


"Oh ya? Lalu di mana mereka?" tanya Hardi penasaran saat mendengar nama istri Sean disebut.


Hardi masih merasa bersalah atas tuduhan yang pernah ia lontarkan pada almarhum Sean. Meskipun ia sudah memecat Reza, dan meminta pertanggung jawaban. Namun rasa sesal itu masih membekas. Karena desakannya untuk membayar kerugian, membuat keluarga Sean menderita bahkan nyawa pria itu menjadi taruhan.


Hardi hanya ingin memastikan, kalau istri dan anak Sean hidup berkecukupan. Uang santunan yang pernah ia berikan pada keluarga Sean sempat ditolak karena mereka tak ingin membahas lagi masalah itu. Padahal uang santunan itu adalah hak untuk karyawan yang terkena musibah.


Bukan hanya Adji saja yang baik, sebenarnya Sean dan keluarga istrinya juga orang baik. Hanya saja mereka terkena hasutan dan berteman dengan orang-orang ambisius. Sehingga mereka terpengaruh oleh berbagai tipu daya yang justru menjebaknya dalam kehinaan.


"Mereka sudah pulang, Pa. Waktu aku datang ke sini. Mereka juga yang sudah membiayai operasi dan perawatan untuk Bang Adji."


"Lalu, kenapa manusia jahat itu ada di depan?" tanya Hardi tidak suka dengan keberadaan Reza di rumah sakit ini.


Maya mengernyit mencoba memahami pertanyaan sang papa. "Orang jahat? Siapa, Pa?"

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan Reza."


"Eum, tadi kebetulan mereka datang ke rumah untuk minta maaf."


"Minta maaf? Jangan-jangan mereka yang udah bikin Adji seperti ini?" tanya Hardi geram.


"Eum, eng-enggak, Pa. Ini masalah aku sama Bella aja kok."


"Bella? Masalah apa?" tanya Denis penuh selidik.


Kedua pria itu menatap penuh tanya. Mereka merasa ada yang tengah disembunyikan oleh Maya atas kejadian yang menimpa Adji.


"Masalah perempuan, kalian nggak perlu tahu," jawab Maya singkat.


"Trus kemarin kenapa loe pulang ke rumah bawa koper segala? Berantem loe sama Adji?" tembak Denis pada akhirnya.


"Ya biasalah, Mas. Namanya rumah tangga. Pasti ada berantemnya." Maya memalingkan wajah tak ingin membahasnya lebih lanjut. Bisa murka kedua orang itu kalau tahu yang sebenarnya.


"Pasti ada hubungannya sama si Bella. Dia ngegodain Adji, trus loe marah cemburu kabur pulang ke rumah?" cecar Denis.


Maya menelan ludah. Kesal dengan kekepoan sang kakak. Dan membuat dirinya kembali mengingat masalah itu. Meskipun bukan suaminya ayah dari anak yang dikandung Bella, tapi dadanya masih terasa sesak saat melihat suaminya itu lebih care pada wanita lain dari pada dirinya.


Sebelum Maya sempat menjawab pertanyaan sang kakak. Ia merasakan ada yang bergerak di tangannya. Ia pun melihat jemari sang suami mulai bergerak. Dan membalas genggamannya.


"Bang, Bang Adji? Kamu udah sadar?" Maya bangkit dan menatap wajah suaminya dengan semringah.


Kedua mata pria kesayangannya itu perlahan terbuka. Bibirnya tertarik ke samping, senyum merekah diwajah Maya. Ada rasa bahagia saat tangan kekar itu membalas genggamannya. Sejenak ia melupakan semua kekesalannya pada sang suami. Yang diinginkan saat ini adalah Adji sadar dan pulih, lalu pulang dan berkumpul kembali di rumah.


"Kamu udah sadar, Sayang?" tanya Maya gemetar.


Adji menatap sang istri dengan tersenyum, lalu pandangannya beralih ke papa mertuanya dan kedua saudara iparnya.


"Saya di mana?" tanya Adji dengan suara lemah.


"Kamu di rumah sakit, Sayang."


"Saya kenapa?"


"Kamu kecelakaan, Bang."


"Sssh." Adji memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berkedut dan menimbulkan rasa sakit. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam.


"Bang, kamu nggak apa-apa?" tanya Maya cemas.


"Panggil dokter, Den!" titah Hardi pada putranya.


Sambil menunggu kedatangan dokter, Adji terus merintih kesakitan. Sementara wajah Maya semakin pucat. Ia khawatir akan kondisi suaminya. Maya berusaha menahan kembali desakan air dari pelupuk matanya. Mencoba menguatkan agar sang suami tetap kuat melawan rasa sakit yang di deritanya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Tbc.


Vote dan komennya ya gaaaesss


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2