
Esoknya.
Ponsel Maya bergetar, ia yang sedang merias wajah seketika menoleh ke arah kasur, di mana ponselnya tergeletak di sana.
Sebuah pesan wa masuk. Cepat ia membacanya.
BOS
[ Jangan lupa, meeting pagi ini. Tolong siapkan berkasnya ya.]
Maya menepuk pelan keningnya.
"Astaga, lupa! Harus buru-buru nih," gumamnya seraya merapikan rambut, lalu memasukkan peralatan make up, handphone, charger ke dalam tas. Ia lalu berlari keluar kamar.
"Pagi," sapa Maya pada keluarganya yang sudah menunggu di ruang makan.
"Buru-buru amat, oh iya, May. Uang hasil penjualan mobil kamu, mau Papa beliin mobil apa?" tanya Hardi.
Maya mengernyit.
"Udah laku emang, Pah?"
"Udah."
"Ya udah, beliin motor aja, Pah."
"Uhuk, nggak salah loe, May?" Denis yang berada di sampingnya seketika tersedak mendengar ucapan sang adik yang lebih memilih motor baru ketimbang mobil baru.
"Kenapa? Nggak boleh?" Maya melirik ke arah sang kakak.
"Bu-bukan. Ntar kehujanan, sakit."
"Enak aja, emang gue anak manja? Tenang aja. Sebentar lagi kan kalo sakit ada yang ngerawat."
"Preeet!"
"Duuut!" sahut Maya kesal.
"Sisanya banyak tuh, May. Kan sayang."
"Ya biarin sih, Mas. Buat Papa, kenapa loe mau? Jual tuh mobil loe."
"Enak aja."
"Ya udah, aku berangkat dulu ya, Pah. Ada meeting pagi nih." Maya meraih tangan sang ayah dan mencium punggung tangannya.
"Naik apaan loe?" tanya Denis.
"Udah pesen ojek online." Maya langsung berjalan keluar.
***
.
Maya tiba di kantor tepat pukul setengah delapan pagi. Masih ada waktu untuk mempersiapkan berkas yang akan dibahas saat meeting.
Ia langsung menuju meja kerjanya, meletakkan tas di meja, menghidupkan komputer, dan fokus di depannya.
Alisnya mengkerut saat data yang sudah ia kerjakan dan ia simpan lenyap. Bahkan file aslinya ikut hilang. Jantungnya berdebar hebat, tangannya terus bergerak mencari folder demi folder dalam dokumen. Tetap tak ia temukan.
Maya menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya terpejam sesaat, mengingat-ingat di mana ia simpan semua file miliknya.
"May," sapa seseorang.
Glek. Maya menelan ludah melihat Sean sudah berdiri di depannya.
"I-iya, Pak," jawabnya gugup.
"Gimana? Udah siap? Bisa saya lihat dulu proposal kemarin yang kamu kerjakan?"
Maya terdiam. Mencoba mencari cara agar sang Bos tak memarahinya.
"May?" Sean kembali bertanya dan menatap tajam.
"Ma-maaf, Pak. Filenya hilang." Maya menunduk takut.
"Apa? Kok bisa?"
"Saya juga nggak tahu, Pak. Seinget saya kemarin sudah saya kerjakan. Sudah saya save juga di komputer. Tapi kok tiba-tiba hilang."
"Nggak mungkin ada yang tiba-tiba, May. Ya udah, kalau gitu saya akan reschedul ulang jadwal meeting ya nanti sore saja jam tiga. Sekarang kamu kerjakan lagi. Ya. Tapi jangan sampai ceroboh." Sean berlalu.
Maya menghela napas lega. Satu masalah selesai. Ia pikir Sean akan memarahinya habis-habisan. Beruntung ia punya bos yang masih pengertian. Kesempatan ini tak akan ia sia-siakan begitu saja. Ia juga tak ingin dianggap menyepelekan kepercayaan yang sudah diberikan oleh Sean. Maya kembali mengerjakan tugasnya. Memulai dari awal lagi.
***
.
Siang harinya.
Mentari begitu terik terasa. Ditambah kantin yang berada di basement kantor terlihat penuh. Maya dan Monik sibuk mencari tempat duduk. Dua kursi kosong terlihat di ujung ruangan. Mereka berdua langsung menuju kursi tersebut.
Mereka memesan dua porsi soto ayam plus nasi dengan dua gelas es teh manis. Seraya menunggu pesanan datang, mereka berbincang-bincang.
"Mon, loe kemarin liat nggak ada orang yang duduk di kursi kerja gue?" tanya Maya agak berbisik.
"Enggak, kenapa?" tanya Monik heran.
"Berkas yang udah gue kerjain buat meeting pagi ini, hilang. Semuanya. Dan gue harus ngulang lagi dari awal."
"Wah parah, siapa ya yang tega sama loe berbuat kaya gitu?" Monik kini ikut berpikir.
"Entah. Untungnya Pak Sean langsung reschedul ulang jadwal meeting jadi nanti sore. Sumpah tuh bos baik baik sama gue. Gue pikir dia bakalan marah habis-habisan. Bayangin aja. Klien yang janjian meeting hari ini kan bawa proyek besar."
"Dia suka kali sama loe," goda Monik.
"Hahaha ... ngaco!"
__ADS_1
"Gimana kabar calon suami loe?" Monik mengalihkan pembicaraan.
Belum sempat Maya menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Pesanan mereka tiba di meja, dan siap disajikan.
"Makan dulu ah, gue laper. Harus cepet-cepet soalnya proposalnya belum selesai. Takut di tanyain." Maya enggan menanggapi Monik perihal pertanyaan tentang Adji.
Dalam hati, Maya kangen berat. Dua hari tidak bertemu dengan calon suaminya. Kalau diomongin nanti rindu yang ia rasakan semakin membuncah.
Selesai makan dan membayar makanan, mereka hendak kembali naik ke ruang kerja. Namun, Maya melihat di balik mobil yang terparkir dua orang sedang baku hantam. Yang tak bisa ia percaya adalah kedua orang itu ia kenal, yakni Sean dan Doni.
Maya menyenggol lengan Monik, lalu menunjuk ke arah dua orang pria tadi.
"Gue nggak berani, udah kita naik aja. Itu bukan urusan kita," ujar Monik.
"Tapi gue penasaran, katanya kan mereka sohib, kok berantem ya. Kepo gue."
"Udah yok!" Monik menarik tangan Maya, namun ditepisnya.
"Loe duluan aja, Mon. Gue ke toilet dulu." Maya berbohong, sebenarnya ia ingin mencari tahu apa yang terjadi di antara kedua orang yang ia kenal itu sedang berkelahi.
"Ya udah." Monik berlalu.
Maya langsung berjalan pelan mendekat ke arah mereka dan bersembunyi di balik mobil yang terparkir.
Terdengar jelas percakapan mereka.
"Bisa-bisanya loe ngelakuin itu ke Maya!" Suara Sean terdengar lantang.
Bugh! Sebuah pukulan mengenai perut Doni.
"Sean, loe kenapa sih belain dia? Bukannya loe benci sama dia? Hah!" Doni mencoba bangkit seraya memegangi perutnya.
"Asal loe tahu ya, dia itu anak pemilik perusahaan ini. Jangan cuma gara-gara cinta loe ditolak, trus loe mau bikin perusahaan ini bangkrut. Gitu!" bentak Sean lagi.
Mata Maya terbelalak mendengar pernyataan Sean barusan. Ia tahu maksud arah pembicaraan Sean ke mana. Jangan-jangan Sean memang sudah tahu kalau yang menghilangkan file di komputer miliknya adalah Doni.
"Hello? Sean ... loe lupa. Bukannya niat awal loe juga bikin perusahaan bokapnya Maya bangkrut. Untuk membalaskan dendam bokap loe?" Doni tersenyum miring.
Jantung Maya berdetak cepat, merinding mendengar perkataan Doni. Ia jadi bertanya-tanya apa benar yang dikatakan Doni. Kebaikan yang di berikan Sean hanya kamuflase saja. Untuk menutupi niat jahatnya.
Bugh!
Tinju mengenai wajah Doni.
"Jangan macam-macam loe kalo ngomong," ucap Sean geram. Ia takut ada yang melihat dan mendengar perkataan pria di hadapannya itu.
"Kenapa? Takut loe? Loe lupa sama gue, yang udah nolongin loe dari jurang kemiskinan sehabis bokap loe bangkrut. Gini balasan loe ke gue? Hah!"
Bugh! Kini Doni mulai membalas perlakuan Sean padanya.
Maya tak kuat lagi, ia harus melerai perkelahian itu. Ia keluar dari tempat persembunyiannya. Keduanya terkejut, menatap tajam ke arah Maya yang sudah berdiri di tengah-tengah mereka.
"May, ka-kamu?" tanya Doni gugup.
"Jadi, kamu yang udah hapus file aku di komputer? Iya?" Maya menatap tajam ke arah Doni.
Plak!
Tamparan keras kembali mendarat di pipinya. Ia meringis kesakitan. Sean tersenyum kecil.
"May, aku ingetin sama kamu. Dia. Punya niat buruk sama keluarga kamu. Hati-hati licik. Dia itu kerja sama dengan adiknya untuk merebut perusahaan milik ayah kamu." Doni menunjuk ke arah Sean yang wajahnya memerah menahan amarah, karena Doni membocorkan niatnya.
"Oh iya, mulai detik ini gue mengundurkan diri! Sorry, gue nggak mau ikut campur masalah kalian!" sambung Doni lagi. Ia kemudian berjalan ke arah mobil sedan putih, membuka pintunya dan masuk. Mesin mobil terdengar menyala. Tak lama mobil yang di kendarai Doni melintas di hadapan mereka dan keluar dari basement.
Kini hanya tinggal Maya dan Sean yang berdiri di situ.
"May, tunggu. Saya bisa jelaskan." Sean menarik tangan Maya yang hendak melangkah pergi.
"Maaf, Pak. Saya buru-buru. Kerjaan saya belum selesai."
"Tapi, May. Saya akan jelaskan semuanya. Kalau yang dikatakan Doni tadi itu tidak benar. Kamu percaya kan sama saya?" Sean berjalan mundur mengikuti langkah Maya yang berjalan di depannya.
"Maaf, Pak. Saya nggak mau bahas itu di sini."
"May, tunggu! May." Sean memanggil, namun Maya mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam toilet wanita. Sean menghela napas pelan. Tidak mungkin ia ikut masuk ke sana.
***
.
Sorenya Sean yang cemas menunggu Maya di depan lobi. Masih berharap Maya akan mendengar penjelasannya.
Yang ditunggu akhirnya tiba, Maya terlihat berjalan keluar bersama Monik. Namun, berhubung sahabatnya itu sudah dijemput oleh suaminya, maka Maya ditinggal sendiri menunggu ojek online pesanannya.
Sean tak menyia-nyiakan kesempatan itu, langsung saja ia dekati.
"May, saya ingin bicara. Sebentar. Boleh?" Suara Sean terlihat memohon.
"Maaf, Pak. Ojeknya sudah datang. Permisi!" Maya tersenyum ke arah Sean yang kelihatan kesal. Ia berjalan ke arah ojek online yang baru saja datang itu.
"Gawat, gawat. Gara-gara Doni nih," gumam Sean geram.
Sepanjang jalan, air mata Maya menetes tanpa henti, sesekali ia menyekanya dengan tisu yang ia pegang. Masih tak percaya dengan ucapan Doni tadi siang. Ia akan membuktikannya dengan berbicara langsung pada Adji. Karena ia tau tak mungkin bisa selesai kalau bertanya dengan Sean.
Ia percaya, Adji pasti akan bicara jujur padanya. Terlebih sebentar lagi pernikahan akan segera di langsungkan. Kalau benar Sean mempunyai niat licik seperti itu. Maya benar-benar kecewa oleh mereka berdua yang terang-terangan menipunya dengan bersikap baik seolah tak terjadi apa-apa.
Motor yang ia tumpangi tiba di depan gang rumah Adji, tepat saat adzan magrib berkumandang. Setelah membayar ongkosnya, ia berjalan menyusuri gang kecil yang tanahnya tampak sedikit becek sisa hujan semalam.
Maya melihat kekasihnya hendak keluar rumah memakai baju Koko, sarung dan peci. Tampak begitu mengesankan. Tampan dan terlihat Sholeh.
"Assalamualaikum," sapa Maya.
Adji yang baru saja menutup pintu rumahnya tersentak, melihat bidadari kesayangannya itu tiba di depan rumah.
"Waalaikumsalam, Mbak mau ikut ke mesjid?" tanya Adji.
"Nggak, gue lagi nggak sholat."
__ADS_1
"Owh, ya udah, Mbak masuk aja. Tungguin saya di dalam. Saya ke mesjid dulu." Adji kembali membuka pintu rumahnya, mempersilakan tuan putri masuk dan menunggu di dalam.
***
Lima belas menit berlalu, Adji kembali ke rumah setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah di mesjid. Maya masih setia menunggunya sambil bermain ponsel. Adji masuk ke kamar berganti pakaian lalu menemui Maya di ruang tamu.
"Ada apa, malam-malam ke sini? Kangen?" tanya Adji basa-basi.
Wajah Maya datar, sama sekali tak tersenyum seperti biasanya, Adji mengernyit. Apalagi saat ia menyadari kalau kedua kelopak mata wanita di hadapannya itu terlihat sembab.
Maya meletakkan ponselnya di meja. Lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Menarik napas pelan.
"Mbak kenapa? Habis nangis? Cerita kalau ada masalah." Kini Adji duduk mendekati Maya, namun wanita itu menggeser duduknya menjauh
Adji semakin bingung.
"Mbak, ngomong. Kalau begini saya nggak tahu salah saya apa," ucap Adji seraya menunduk lesu.
"Dji, jawab jujur. Apa yang kamu rencanain sama kakak kamu?" tanya Maya.
Deg.
"Maksud Mbak apa?"
"Apa benar kalian kerjasama untuk mengalihkan perusahaan ke tangan kalian?"
"Mbak kata siapa?" Adji kini menatap tajam ke arah wanita di sebelahnya itu.
"Jawab aja. Iya atau tidak."
"Iya," jawab Adji lirih.
Maya bangkit dari duduknya.
"Kalian benar-benar jahat, kalian licik." Maya tak kuat lagi, ia hendak berlari keluar, namun tangan kekar Adji menahannya.
"Lepasin, Dji!"
"Nggak!"
"Aku nyesel kenal sama kalian. Ternyata kebaikan kalian itu cuma akal-akalan. Dan kamu, apa yang kamu kerjakan selama ini cuma pura-pura kan? Iya kan? Biar aku kejebak dalam jebakan cinta pemulung jahat!" Maya berusaha melepaskan tangannya dari tangan Adji.
Adji tak berkutik. Namun, ia bisa apa. Ia tak bisa berbuat banyak. Apalagi wanita di depannya itu terus menangis.
Perlahan Adji menarik tangan Maya, meraih tubuhnya dan memeluknya erat, awalnya ia meronta, tapi kalah dengan rengkuhan tubuh Adji.
Maya membenamkan wajahnya di dada pria yang membuatnya menangis.
"Mbak, maafkan saya kalau saya salah karena tidak jujur. Memang Kak Sean merencanakan semuanya. Tapi apa yang saya kerjakan selama ini tidak pura-pura. Termasuk perasaan saya ke Mbak Maya." Adji berusaha menjelaskan.
"Terserah setelah ini Mbak Maya mau anggap saya apa? Kalau Mbak mau membatalkan pernikahan ini, saya siap. Mungkin ini sudah konsekuensi yang harus saya terima. Memang Mbak bukan jodoh saya. Tidak ada ceritanya seorang pemulung bisa nikah dengan anak orang kaya. Iya kan? Tapi perasaan saya ke Mbak Maya nggak akan pernah berubah. Saya menyayangi dan mencintai Mbak melebihi diri saya sendiri." Adji menangkupkan kedua tangannya ke wajah Maya, mengusap lembut buliran air yang membasahi pipi wanita itu.
"Mbak harus percaya sama saya, saya nggak mungkin tega menghancurkan keluarga orang yang saya sayangi. Tapi kalau Mbak nggak percaya, saya terima."
"Adji, aku juga sayang sama kamu. Aku nggak mau pernikahan kita gagal. Tapi kamu ...."
"Kenapa? Saya ganteng ya?"
"Adji!" Maya menepuk bahu Adji pelan. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Jangan nangis lagi dong, Sayang. Kan jelek. Nanti dikira saya ngapain-ngapain Mbak Maya."
"Iya emang."
"Mbak maafin saya?" Adji terlihat memohon di hadapannya.
"Ya gimana, terlanjur. Nyebur aja sekalian."
"Terlanjur apa, Mbak?"
"Terlanjur cinta," jawab Maya lirih.
Adji menarik tangan Maya menuju ke kamarnya. Maya mengernyit.
"Kamu mau ngapain?" tanya Maya cemas.
"Udah ikut dulu, yuk. Saya mau ngasih lihat ke Mbak Maya."
Mereka berhenti di depan pintu kamar Adji yang terbuka. Kedua mata Maya tampak berbinar melihat benda-benda yang sudah tersusun rapi di atas ranjang kayu Adji. Yaitu seserahan yang hendak di bawa nanti. Maya mendekat melihat satu persatu isinya. Semua sudah lengkap dan rapi dihias.
Ada tas, sepatu, make up, pakaian dalam, handuk, seperangkat alat sholat dan lainnya. Adji mendekati Maya membawa sebuah kotak merah berbahan beludru berbentuk hati. Kemudian membukanya. Sebuah perhiasan tampak berkilau di hadapan mereka.
"Masya Allah, Adji. Kamu dapat uang dari mana buat beli semua ini?" tanya Maya.
"Nggak perlu tahu, yang penting Mbak Maya senang."
"Makasih ya, Dji. Semua kamu simpan dulu. Oh iya kamu tidur di mana nanti?"
"Di kursi depan lah."
"Ya Allah, nggak masuk angin?" tanya Maya cemas.
"Nggak lah. Kan pakai sarung. Hehehe."
"Nanti kalau udah sah aku bakalan buat kamu hangat, Dji," ujar Maya lirih.
"Apa, Mbak?" tanya Adji yang sedang tidak fokus karena sibuk menyimpan kembali kotak perhiasan itu ke dalam lemari.
"Enggak apa-apa, Dji." Maya salah tingkah.
Maya tersenyum bahagia. Sejenak ia melupakan masalahnya dengan Sean. Demi rencana indahnya nanti. Ia percayakan semuanya pada pria yang sudah membuatnya jatuh cinta berkali-kali itu.
***
.
Bersambung.
__ADS_1