
***
.
.
Hari ini tepatnya hari Minggu tertanggal 5 Mei 2019. Sebuah perhelatan akbar akan segera di mulai. Tampak aula mesjid yang sudah dihias sedemikian rupa sebagai tempat peresmian dua insan yang kelak akan menjalani bahtera rumah tangga.
Bunga mawar putih mendominasi ruangan, kursi-kursi tersusun rapi di tempatnya. Sebuah meja di kelilingi oleh beberapa kursi telah menanti. Pelaminan yang indah juga sudah siap.
Di tempat yang berukuran kurang lebih 4x4m2 seorang wanita cantik tengah dirias, kebaya modern berwarna putih dengan payet melekat ditubuh indahnya. Sanggul berhias melati sudah ia kenakan. Jemari lentiknya pun tak luput dari hiasan. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Ia merasa was-was, takut, tetapi juga bahagia dan tak sabar.
Beberapa orang juga terlihat sibuk, seorang pria terdengar memanggil sang ayah. Memberi tahu kalau mempelai pria sudah datang. Jantung wanita tadi semakin bertalu. Ia menarik napas pelan dan bangkit perlahan dari duduknya.
"Cantiknya ponakan Tante," ujar Ratna saat membantu Maya berjalan.
Jalannya agak sedikit tersendat karena ia mengenakan kain sebagai bawahan kebaya yang ia kenakan. Maya dituntun menuju ke depan pintu untuk menyambut kedatangan mempelai pria.
Ia menunduk saat tiba di depan dan berhadapan dengan keluarga besar Adji. Di sana tampak Adji di dampingi oleh Sean sekeluarga, lalu para tetangga. Maya keringat dingin, namun ia tersenyum kecil melihat sosok pangeran tampan dengan setelan jas berwarna hitam tersenyum padanya. Ia malu-malu dan menunduk lagi.
Sambutan dibuka oleh seorang MC. Ada acara serah terima barang bawaan di situ sebagai simbol bahwa keluarga mempelai wanita menerima dengan baik keluarga mempelai pria. Kemudian mereka para tamu undangan dan sanak saudara di persilakan untuk ke dalam menyaksikan acara inti yakni ijab qobul.
Maya dan Adji duduk di tempat yang telah di sediakan. Hardi menjadi wali anak perempuannya. Dan menunjuk Denis sebagai saksi. Sementara dari pihak Adji. Pak RT yang ditunjuk sebagai saksi nikahnya.
Sebelum ijab dimulai, terlebih dahulu ayat suci Alquran dilantunkan beserta artinya. Dibawakan oleh seorang pria dari keluarga besar Maya.
"Bagaimana saudara Adji, apa sudah siap?" tanya bapak penghulu.
"Insya Allah siap," jawab Adji pelan.
"Sudah hafal?"
"Insya Allah sudah."
"Baik, jabat tangan bapak. Bapak Hardi tolong ikuti saya." Pak penghulu meminta Hardi untuk menjabat tangan calon menantunya itu. Kemudian pak penghulu mendikte perkataan yang harus diucapkan Hardi.
"Saya nikahkan engkau ananda Muhammad Adji Konawa bin Roberttus Daylani dengan anak kandung saya yang bernama Maylana Hapsari binti Hardi Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan sebesar dua puluh lima gram dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Maylana Hapsari binti Hardi Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Adji lantang.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
.
Baarokallaahu laka wa baaroka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoirin.
.
Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.
Setelah mengucap syukur, pak penghulu mendoakan kedua mempelai, kemudian di aamiin oleh para tamu dan sanak saudara. Tak lupa ia memberikan beberapa wejangan untuk keduanya.
"Bang, liat sebelahnya. Siapa coba?" tanya si pak penghulu pada Adji.
Adji menoleh ke arah wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
"Istri saya, Pak," jawab Adji lirih.
"Cantik kaga?"
"Cantik, Pak." Adji malu-malu.
"Neng, sebelahnya siapa?" Kini pak penghulu beralih bertanya pada Maya.
"Suami saya, Pak." Maya juga tampak malu-malu.
"Ganteng kaga?"
"Ganteng, Pak."
"Iya dong, Alhamdulillah Abang sama Eneng udah resmi ya, sekarang. Udah sah menjadi suami istri. Kalau udah sah masa cuma diem-dieman aja? Lirik-lirik gitu?" Pak penghulu mencoba memecah suasana.
Terdengar suara riuh tertawa para tamu.
"Bang, sekarang kalian udah bebas, mau ke mana berdua, mau ngapa-ngapain, boleh. Kalau ada yang ngegerebek, kalian udah punya bukti, namanya buku nikah. Nih. Bisa ditanda tangani dulu bukunya." Pak penghulu menyerahkan dua buku nikah berbeda warna untuk kedua pengantin.
Keduanya bergantian menandatangani buku tersebut.
"Nah, bukti selanjutnya apa? Mana tadi perhiasan. Nah coba dipakein ke jari istrinya, trus gantian. Biasanya sih nih ya, biasanya. Istri nyium tangan suami. Trus suami nyium kening si istri. Ini kok pada canggung gitu ya. Mau bapak wakilin, Bang?" ledek pak penghulu.
Kembali suara riuh terdengar, para tamu tertawa. Memang tampak gugup sekali keduanya. Apalagi Adji. Ia takut sampai ada keluarga Maya atau rombongan dari kampungnya yang salah bicara memberitahu identitas dia yang sebenarnya.
Perlahan Adji menyematkan cincin ke jari manis Maya, begitu pula sebaliknya. Setelah itu Maya mencium punggung tangan Adji, lalu mereka mendekat, tangan saling menggenggam, kepala Maya menunduk, sementara wajah Adji mendekat ke keningnya. Mengecup pelan kening Maya.
"Tahan ... tahan ...." Suara fotografer hendak mengambil gambar.
Adji dan Maya menahan tawa.
Selesai foto-foto. Kembali pak penghulu memberikan sedikit ceramah untuk pengantin dan para tamu undangan sekalian.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh, ibu-ibu, bapak-bapak semua yang hadir di sini yang di rahmati Allah SWT. Baru saja kita menyaksikan ijab kabul ananda kita. Kita berdoa semoga anak-anak kita ini rumah tangganya sakinah, mawadah, wa Rohmah. Cepat diberikan momongan."
"Awal-awal menikah biasanya masih manis ya, iya pengantin baru. Nanti lama kelamaan kita akan mulai mengenal pribadi dan kebiasaan satu sama lain. Entah keburukan atau kebaikan. Dan kita harus bisa terima itu. Yang dulu mungkin pas pacaran kelihatan manis, taunya pas nikah cuek. Banyak. Atau malah kebalikannya. Bisa."
"Neng, berapapun penghasilan suami, terima. Bang, senggak bisanya istri masak atau merias diri, terima. Karena kita cari apa? Pendamping hidup, bukan koki, bukan baby sitter, bukan pelayan. Tapi, bukan berarti ibu-ibu para istri jadi bebas tugas. Maksud saya. Kalau istri capek, bantu atau minimal jangan dimarahin. Tau kalau istri udah ngambek kaya apa?" tanya pak penghulu.
"Piring terbang."
"Nggak dibukain pintu."
"Nggak dimasakin."
Teriak para tamu.
"Tuh, tuh. Kan pada curhat." Pak penghulu menunjuk satu-satu yang bersuara tadi.
"Hahahaha ...."
"Dalam berumah tangga, kita suami juga istri saling bantu pekerjaan rumah. Meskipun suami sudah lelah seharian bekerja. Nggak ada salahnya kan bantu istri. Atau kalau nggak mau capek istrinya, gampang sewa assisten rumah tangga."
"Namanya rumah tangga, pasti ada percikan, kerikil, batu, yang menghadang. Pasti itu. Sebutan lainnya adalah bumbu cinta."
"Gimana cara kita menghadapi masalah? Dibicarakan. Saling terbuka, jangan sampai masalah rumah tangga kita sampai di dengar orang luar, meskipun itu orang tua sendiri. Nah ini nih, biasanya orang tuanya malah ngomporin kalau anak-anaknya pada berantem. Bener apa bener?"
"Bener ...."
"Jangan ya, Pak, Bu. Biarkan anak-anak kita menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau memang butuh nasihat, baru kita boleh memberikan nasihat, tapi beri kesempatan mereka untuk mengambil keputusan. Bukan kita yang nentuin nasib mereka."
__ADS_1
"Mungkin ini saja yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya rabbal alamin. Akhirul Kalam, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh."
Akhirnya ceramah dari pak penghulu yang juga sebagian ustadz itu selesai. Acar berlanjut. Para tamu undangan dipersilakan memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
****
Di atas pelaminan, tampak senyum mengembang dari kedua pengantin baru itu.
"Mbak, wangi banget sih," ucap Adji seraya berbisik di telinga istrinya.
Maya tersenyum kecil.
"Mbak, nggak berat apa itu kondenya?" tanya Adji lagi.
Ia terus menggoda sang istri seraya menyambut uluran tangan para tamu undangan yang antri menyalami mereka.
"Dji, bisa diem nggak? Berisik tau." Maya mencoba menyenggol lengan suaminya itu.
"Mbak, giginya merah tuh, kena lipstik."
"Adji."
Ia terkekeh geli.
"Cantik banget sobat gue," pekik Diana, sahabat Maya, mereka saling berpelukan erat.
"Pantes lu cinta mati, ganteng gini," ucap Gendis yang berada di belakang Diana, seraya berbisik.
"Untung Alex udah mati, kalo nggak bisa bunuh diri dia," sambung Riris.
"Sssttt udah udah, sana makan yang banyak." Maya menyalami satu persatu sahabatnya itu.
"Selamat ya, Sayangku." Kini Monik datang bersama suaminya, menyalami dan memeluk erat rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
"Makasih juga cinta," ujar Maya.
"Mbak, masih lama ya?" tanya Adji gelisah.
"Kenapa?"
"Saya ...." Wajah Adji memucat. Maya terlihat cemas.
"Kamu kenapa?"
"Kebelet, Mbak," ujarnya lirih.
"Astaghfirullah, ya udah ke toilet dulu aja."
"Nggak apa-apa emang?"
"Nggak apa-apa, udah nggak ada tamu yang datang, mumpung sepi."
"Ya udah, saya ke toilet dulu."
Adji melangkah menuruni tangga pelaminan, menuju ke toilet. Maya yang melihat tingkah suaminya itu.
Di sudut ruangan terlihat dua pasang muda mudi sedang asyik bercengkrama sambil memakan zupa soup.
"Mas, semalam mau ngomong apa?" tanya wanita berambut panjang.
"Eum, masa di sini sih." Denis celingukan.
Ia tidak nyaman jika menyatakan cinta di tempat ramai seperti itu. Belum lagi kalau ada temannya yang datang lalu menyapa.
"Emang mau ngomong apa sih? Kayanya serius banget."
"Eum, yuk!" Denis meraih tangan Arin, sontak Arin bangkit dari duduknya. Mereka meletakkan piring di meja dan berjalan menuju ke arah samping mesjid.

"Mas, mau ngomong apa? Udah sepi nih."
"Eum, kamu ... kamu ... mau nggak?"
"Mau apa?"
"Eum ...."
"Mas Denis! Dicariin juga, tuh disuruh foto keluarga." Tiba-tiba Sherli sudah berdiri di belakangnya.
Denis mendengkus kesal.
"Ya udah sana, duluan aja. Ganggu orang aja sih," ujarnya sewot.
"Ye, orang aku disuruh manggil. Itu ditungguin."
"Ya udah, loe duluan. Gue nyusul."
"Bener loh ya."
"Iya."
Sherli lalu berjalan meninggalkan Denis dan Arin.
Denis kembali mendekati Arin.
"Kamu mau jadi pacar aku?" Kini suaranya sudah tak segugup tadi, maklum dikejar waktu.
Arin tersenyum kecil.
"Eum, nanti aku pertimbangkan dulu ya, Mas."
"Nggak usah ditimbang-timbang, aku butuh jawaban kamu sekarang."
"Gimana ya, Mas. Aku masih mau fokus kuliah dulu. Kalau ketahuan bapak nanti bisa dimarahi pacaran."
"Ya jangan sampai ketahuan. Tapi kamu suka kan sama aku?"
Arin mengangguk malu.
"Mas Denis emang mau nunggu Arin sampai selesai kuliah."
"Rin, kita kan cuma pacaran, bukan mau nikah."
"Mas nggak serius dong, main-main aja."
"Emang kamu udah kebelet nikah?" tanya Denis heran.
"Bukan, kalau niatnya cuma pacaran aja. Ya mending kita nggak usah ada hubungan lebih, takut kecewa nanti kalau nggak jadi."
"Maksud kamu?"
"Kita nggak pernah tahu, Mas. Jodoh kita siapa, kalau ditengah jalan ternyata kita nggak jodoh gimana? Pacaran itu banyak mudharatnya, Mas. Itu sih pesan bapak."
Denis terdiam. Benar apa yang dikatakan Arin. Ia pikir Arin seperti gadis remaja lainnya yang senang pacaran, jalan berdua dengan lawan jenis dan sebagainya. Ternyata dugaannya salah. Beruntung ia kenal dengan gadis seperti Arin. Meskipun cintanya ditolak, paling tidak ia tahu kalau Arin juga menyukainya. Mungkin hanya waktu yang dapat menjawab semuanya.
"Ya udah, kalau gitu kita ke dalam yuk, udah ditungguin sama yang lain buat foto-foto." Denis meraih tangan gadis pujaannya itu menggandeng masuk kembali ke dalam gedung.
__ADS_1
***
"Selamat ya, Dji. May. Semoga bahagia selalu, sorry bokap kondisinya tidak memungkinkan buat diajak dan menyaksikan pernikahan kalian," ucap Sean seraya menjabat tangan adiknya.
"Iya, Kak. Nggak apa-apa. Yang penting doanya." Adji menatap erat ke arah sang kakak yang kala itu membawa serta istri dan anaknya.
"Loh, ini kan ka-kamu, yang waktu itu nemuin dompet saya," ujar wanita yang berada di sebelah Sean.
"Kami kenal?" tanya Sean bingung.
"Eum ... Iya, dia waktu itu nemuin dompet aku, kamu bukannya ...."
Belum sempat wanita itu melanjutkan pembicaraan, Sean dengan cepat berpamitan pada mereka. Ia tahu apa yang akan dibicarakan sang istri. Pasti akan menyebut kalau Adji adalah pemulung. Bisa gawat kalau seluruh tamu mendengar kebenaran itu. Rencana yang sudah tersusun bisa gagal.
"Kita pamit dulu ya," ucap Sean lagi.
"Oh iya, Kak. Terima kasih."
"Terima kasih, Pak."
"Panggil Kakak saja, May. Kan bukan di kantor." Sean tersenyum kecil.
"Iya, Kak."
***
.
Malamnya selepas makan malam di kediaman Hardi. Semua berkumpul. Keluarga besar Hardi Wijaya lalu berpamitan pulang, karena besok Senin harus masuk kerja dan sekolah. Termasuk Ratna, adik Hardi yang sudah pulang sejak sore menggunakan pesawat.
Kini hanya tinggal keluarga inti saja yang ada di rumah. Bertambah satu orang, yakni Adji. Sherli sudah masuk kamar karena lelah, begitu juga dengan Hardi.
Denis terlihat asyik di depan layar televisi. Sementara Maya dan Adji duduk berdua di depan teras rumah sambil berbincang-bincang.
"Dji, nggak nyangka ya, acaranya bakal semeriah itu," ucap Maya.
"Iya, Mbak. Alhamdulillah."
"Jangan panggil Mbak lagi dong. Kan malu kalau didenger orang. Kamu nggak malu apa?"
"Enggak, aku jadi kelihatan lebih muda."
"Tega."
"Iya, tapi kalau aku panggil nama kamu, jadi kesannya nggak sopan."
"Loh kenapa? Kamu kan udah jadi suami aku."
"Oh gitu ya."
"He em."
"Dingin ya," ucap Adji seraya mengusap-usap tengkuknya.
"Iya, masuk yuk. Ke kamar."
"Ngapain?"
"Tidur lah, kamu udah lihat kamar pengantin belum?"
Adji menggeleng.
"Ayo, aku tunjukin."
Maya meraih tangan suaminya masuk ke rumah menuju kamarnya, Denis yang melihat hanya melirik sinis dan iri. Ia lalu mematikan televisi dan mengekor kedua pengantin baru itu.
Melihat Maya yang bergelayut manja di lengan suaminya, membuat Denis jengah melihat kemesraan itu.
"Ehem, minggir-minggir, gue mau lewat," ucapnya menerobos di tengah-tengah mereka.
Spontan Maya melepas pegangan tangannya pada Adji, menatap kesal ke arah sang kakak.
"Loe kenapa, Mas? Suntuk gitu. Nggak biasanya? Nggak ngapel?" tanya Maya.
"Besok kerja, tidur-tidur!" serunya sambil berjalan ke arah kamar dan menutup pintunya dengan keras.
Maya dan Adji saling pandang, lalu tersenyum.
"Iri dia," ucap Maya lirih seraya membuka pintu kamarnya.

Maya sudah lebih dulu masuk ke kamarnya, menyalakan lampu tidur. Adji terpaku di tengah pintu, takjub melihat pemandangan di kamar pengantin.
"Kok diam di situ? Sini masuk. Ini kamar aku, eh kamar kita. Gimana? Bagus nggak? Bunganya banyak." Maya merentangkan tangan menunjuk ke arah ranjang yang telah dihias sedemikian rupa. Di atas ranjangnya penuh dengan bunga, begitu juga kasurnya.
Adji perlahan melangkah mendekati ranjang. Memperhatikan ke atas, bunga-bunga itu menurutnya mengerikan. Bagaimana kalau saat tidur tiba-tiba jatuh, seperti kuburan baru yang ditaburi bunga.
"Mbak, eh, May. Ini nggak salah? Emang nggak ada uletnya? Saya merinding lihatnya," ujar Adji.
"Hahaha ... ya enggak lah."
"Saya kebelet lagi nih, kamar mandinya mana?" tanya Adji.
"Itu di situ." Maya menunjuk ke samping pintu, depan wastafel.
Cepat Adji melangkah menuju toilet, sementara Maya membuka lemarinya untuk berganti pakaian tidur. Kebetulan ia dapat hadiah baju malam pengantin dari rekan kerjanya itu, siapa lagi kalau bukan monik.
Adji selesai dari toilet langsung terkejut saat melihat wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu sedang berdiri membelakanginya di depan lemari pakaian.
Tampak Maya sedang melucuti satu persatu pakaiannya, jakun Adji naik turun, jantungnya berdebar-debar. Ia menyipitkan mata, untuk tak melihat pemandangan indah itu, namun hatinya berkata lain. Bukankah apa yang ia lihat sudah halal baginya.
Terlihat jelas di depan matanya, lekuk tubuh Maya dalam balutan busana malam yang tipis, memperlihatkan dengan jelas bagian dalam tubuh wanita itu. Adji menarik napas pelan, mencoba mengaturnya agar tidak pingsan.

Merasa ada yang diperhatikan, Maya menoleh, ia tampak tersentak melihat Adji yang berdiri mematung. Maya menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan, ia merasa malu saat mengetahui sejak tadi suaminya melihat ia berganti pakaian.
"Jangan bilang kamu lihat semuanya?" tanya Maya gugup.
Adji mengangguk lirih.
"Indah, putih," ucap Adji dengan suara parau.
Kakinya terasa berat untuk melangkah. Maya tersipu malu. Wajahnya memerah bagai tomat.
Tiba-tiba Adji hilang keseimbangan, nyaris terjatuh. Ia masih berusaha menenangkan diri. Jantungnya tak henti berdebar, terlebih saat melihat sang istri berjalan mendekat. Semakin terlihat jelas tubuh indah nan putih itu. Ditambah harum bunga memenuhi ruangan.
Brugh!
"Adji!" pekik Maya saat melihat Adji tergeletak di lantai.
****
Bersambung.
Makasih ...
__ADS_1
Vote dan komentarnya yess.
Luph u all 😘😘😘