
💗💗💗
"Mbak, mau pulang bareng?"
Seorang pria sudah berdiri di samping Maya. Ia menoleh dan tersenyum kecil.
"Owh, nggak usah. Pak. Saya sudah pesan ojek online kok," jawab Maya.
"Duh, jangan panggil Pak dong. Panggil Reza aja. Soalnya kita kan sepantaran. Lagi pula sudah bukan di jam kerja lagi."
"Iya, Reza." Maya mengecek ponselnya. Melihat di mana keberadaan ojek online yang dipesannya.
"Masih lama kan? Sudah bareng saya aja, kita kan searah." Reza kembali menawarkan tumpangan.
Maya mengernyit, "Searah? Memang kamu tahu rumah saya, eum maksudnya rumah suami saya?"
"Loh memang kamu nggak tinggal di rumah Ayah kamu?" tanya Reza heran.
"Enggak, aku tinggal di rumah suami."
"Jauh? Udah batalin aja ojolnya. Biar saya antar pulang ya." Reza seolah memaksakan diri.
Maya tetap menolak. Ia tak mau merepotkan apalagi harus membalas Budi nantinya. Ia tahu kalau pria itu sedang mencari perhatiannya.Â
Tin, tin.
Suara klakson motor terdengar tepat di hadapan mereka.
"Maaf, akun duluan ya. Terima kasih tawarannya." Maya lalu berjalan ke arah abang ojek online. Memakai helm lalu naik di jok belakang. Meletakkan tasnya di tengah-tengah dan melaju menyusuri jalanan sore yang padat.
Reza membuang napas kasar. "Benar kata Doni, kamu memang sulit ditaklukan, May," gumamnya lirih.
"Tapi tenang aja, aku bakalan cari cara lain untuk bisa mendekati kamu dan juga papa kamu. Aku tahu, kamu menyembunyikan identitas suamimu dari keluarga besarmu itu. Kupastikan perusahaan ini akan jatuh ke tanganku." Reza tersenyum sinis, ia lalu melangkah ke arah parkiran.
💗💗💗
Maya turun dari ojol kemudian membayar ongkos. Ia melangkah menuju ke gang arah rumah Adji.
"Mbak Maya," panggil seseorang dari arah belakang. Maya menoleh.
Seorang wanita berambut panjang sedikit berlari menghampiri dan menyalaminya.
"Arin, dari mana?" tanya Maya seraya berjalan bersisian dengan gadis tersebut.
"Pulang kuliah, Mbak. Mbak Maya baru pulang kerja juga?"
"Iya, kami kuliah di mana?"
"Di IKIP Rawamangun, Mbak."
"UNJ? Wah mau jadi guru ya?"
"Iya, Mbak. Disuruh Bapak." Arin terlihat malu-malu.
Dari kejauhan Maya melihat suaminya sedang membereskan botol bekas di samping rumah. Ia heran ternyata Adji sudah pulang duluan.
"Owh, sukses ya, Rin."
"Makasih, Mbak."
Mereka terpisah, Arin berjalan ke rumahnya yang berada di sebelah kiri berjarak lima rumah dari kediaman Adji, sementara Maya ke sebelah kanan.
"Assalamualaikum," sapa Maya.
Adji menoleh, menghentikan aktivitasnya menyambut kepulangan sang istri. Maya mencium punggung tangan suaminya.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Maya.
"Lima belas menit yang lalu."
"Udah makan?"
"Ya belum lah, Sayang."
__ADS_1
"Mau aku masakin apa?"
"Emang kamu nggak capek?"
"Buat kamu, apa sih yang enggak."
Adji melirik sekilas ke arah sang istri. Lalu menjawil dagunya. "Iya, apa saja. Yang penting masakan kamu. Kamu mandi dulu aja."
"Kamu udah mandi?"
"Ya belum, kalau aku sih mandi nggak mandi sama aja, May. Ganteng." Adji terkekeh.
"Hahaha." Maya terbahak. Sejak kapan suaminya jadi alay begitu.
Ia menggeleng lalu masuk ke rumah. Sementara Adji masih berkutat dengan harta karunnya sambil menunggu adzan magrib.
💗💗💗
"Allahu Akbar, Allahu Akbar. " Suara adzan magrib menggema di udara. Alunannya terdengar sedikit berat dan lambat.
Adji yang baru saja selesai mandi dan masuk kar melihat sang istri yang senyum-senyum sendiri sambil menggeleng. Ia mendekati istrinya itu.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Adji seraya mengambil kaps oblong abu-abu yang telah disiapkan di atas kasur.
"Kamu denger nggak, Dji? Itu yang adzan siapa sih? Slow motion banget deh. Lucu tau nggak. Pasti aki-aki tuh yang adzan." Maya masih cekikikin.
Adji mengusap bahu istrinya, menatap erat dengan pandangan sedih. Maya tertegun sesaat.
"Kamu kenapa, Dji? Aku salah ngomong ya?" tanya Maya cemas.
Adji menggeleng.
"Aku sedih, May. Harusnya aku yang adzan di mesjid. Tapi tadi aku malah sibuk sama urusanku sendiri."
"Ya terus, kenapa kamu jadi sedih? Kan adzan nggak ada jadwalnya. Kok kamu yang merasa bersalah gitu?" tanya Maya bingung.
Adji mengembuskan napas pelan.
"Generasi muda kita saat ini sangat sangat sangat sedikit sekali yang terbuka hatinya untuk mengunjungi rumah Allah. Meskipun hanya sekedar beristirahat. Mereka lebih suka ke warung kopi, cafe, sambil main game online lewat ponsel, cari wifi gratis. Akibatnya ya gitu, para sesepuh yang adzan, dan diketawain sama yang dengar. Kamu misalnya."
"Kamu nggak salah, mungkin orang tua kamu yang dulu tidak membiasakan anak-anaknya untuk ke mesjid."
"Iya, dulu waktu kecil aku sama Sherli pernah dibawa ke mesjid. Eh di omelin, karena berisik. Dari situ kita kapok ke mesjid lagi. Takut diomelin soalnya."
"Sekarang kan kamu sudah besar, sudah mengerti kalau mesjid itu bukan tempat bermain lagi. Jadi nggak usah takut. Nggak akan ada yang mau marahin kamu."
"Iya sih."
"Itulah, seharusnya kita juga yang dewasa harus ngajarin anak sedini mungkin untuk suka dulu pergi ke mesjid. Sebenarnya nggak apa-apa mereka anggap itu tempat bermain. Karena sejatinya anak-anak itu memang sukanya main. Tapi, mereka kan nggak akan selamanya jadi anak-anak. Suatu saat mereka menyadari kalau tempat itu adalah untuk beribadah."
"Iya, benar banget. Makasih ya, Dji. Kamu emang suami the best. Ya udah kita sholat dulu yuk."
"Ya udah, kapan kita belajar ngajarin anak-anak ke mesjid?"
Maya mendelik. "Anaknya siapa? Kita kan belum punya anak."
"Ya bikin lah."
Maya tersipu, pipinya merona merah. "Sholat dulu lah. "
"Yuk, mau ke mesjid udah nggak keburu." Adji kembali ke kamar mandi dan berwudhu. Begitu juga dengan sang istri.
Mereka sholat berjamaah di rumah.
💗💗💗
Waktu menunjuk ke angka tujuh malam. Maya menyiapkan makan malamnya. Ia memasak sayur sop dan telur dadar.
"Sayang, lama-lama kamu jago masak juga." Adji menyendok sayur ke dalam piringnya.
"Belum ahli banget sih, tapi lumayan lah, bisa kemakan. Hehehe."
"Iya."
__ADS_1
Dengan lahap mereka menyantap makan malam sederhana. Saling berbincang ringan. Selesai makan, Maya membawa ke belakang piring dan gelas kotor. Tak ada makanan yang tersisa. Karena memang ia memasak tak terlalu banyak, hanya seporsi untuk sekali makan saja.
Adji duduk bersandar di kursi ruang tamu, tak lama kemudian Maya datang menghampiri.
"Dji, aku mau ngomong sama kamu," ucap Maya serius.
Ia ingin membahas tentang Sean yang terkena kasus di kantornya.
Adji langsung berbalik badan menatap sangvisyri lekat-lekat. "Ngomong apa sih?"
"Kakak kamu, kena skorsing. Dia udah nggak masuk kerja semingguan." Lirih Maya bicara sambil menunduk.
Adji mengernyit. "Kenapa?"
"Aku dengar kakak kamu kena kasus penggelapan. Korupsi katanya."
"Bisa di penjara dong?" Wajah Adji serius.
Maya hanya mengangguk lirih. Adji membuang napas kasar. Kesal.
"Tapi Papa ngasih waktu buat dia ngembaliin semua uang yang dia bawa."
"May, Kak Sean itu nggak punya apa-apa. Rumahnya juga masih kredit. Cuma rumah Papih doang. Tapi nggak akan nutup kayanya kalau uang yang dia ambil itu banyak."
Maya mengangkat bahu.
"Aku harus bantu dia, aku nggak mau kalau sampai dia dipenjara."
"Tapi, Dji, kamu mau bantu pakai apa? Hidup kita saja kaya gini."
"Apa aja, yang penting Kak Sean nggak dipenjara."
"Dia udah jahat banget loh sama kamu, kenapa kamu masih mau bantuin dia sih?" Maya yang tadi bicara santai kini malah emosi.
Ia sebenarnya tak terima Adji membantu Sean. Karena ia tahu bagaimana perlakuan Sean pada suaminya itu. Ia malah ingin semua ini biar saja terjadi, agat Sean bisa mengambil pelajaran.
Maya bangkit dari duduknya melangkah menuju ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"May, Kak Sean itu punya anak sama istri. Kalau dia sampai dipenjara. Gimana nasib anak sama istrinya. Bayangin kalau kamu yang jadi istrinya." Adji yang mengekor kini sudah duduk di depan Maya.
"Hem. Aku tuh mau lihat Kakak kamu biar sadar. Jangan dikasih hati terus."
"May, sejelek apapun dia. Cuma Kak Sean keluarga yang aku punya. Sanksi sosial itu udah dia terima. Blacklist perusahaan juga pasti dia terima. Dia akan belajar hidup yg sesungguhnya setelah kebangkrutannya. Justru kalau dia masuk penjara. Kita nggak pernah tahu dia benar-benar bisa berubah apa enggak. Bisa aja kan setelah dia bebas justru dendam sama keluarga kami dan aku?"
Maya lagi-lagi terdiam. Laki-laki di hadapannya itu benar-benar luas sekali pandangannya. Sampai-sampai ia memikirkan sesuatu yang diluar jangkauan.
Maya menatap intens sang suami.
"Terserah kamu aja, Dji." Akhirnya hanya suara itu yang keluar dari bibirnya.
"Ya udah kalau terserah aku, tutup pintu depan gih, trus kunci."
Maya menurut, ia ke depan menutup dan mengunci pintunya rapat-rapat. Lalu kembali ke dalam kamar. Di sana Adji terlihat sedang berolah raga ringan.
Ia berdiri mengangkat kedua tangannya ke udara, kepala di gerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Sesekali membungkuk.
"Kamu ngapain?" tanya Maya bingung.
"pemanasan," ucapnya lirih.
"Emang mau ngapain?"
"Olah raga malam, Zheyank."
Adji langsung menarik tubuh sang istri dan membawanya ke atas kasur. Dada Adji naik turun. Kini sang istri sudah berada di bawahnya. Ia mendekatkan bibirnya, mata Maya terpecah.
Cup.
Kecupan ringan membasahi bibir tipis itu. Darah mulai berdesir, mereka saling berpagutan. Tangan Adji menyentuh setiap inci tubuh istrinya. Perlahan mereka melakukan ibadah suami istri. Menikmati indahnya malam berdua. Kembali sang kumbang berhasil menghisap madu yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
💗💗💗
Tbc.
__ADS_1
Vote komen gaes...