
***
.
Siang itu matahari begitu terik, Maya yang masih izin belum bisa masuk kerja kini sedang bersiap hendak ke rumah Adji, menjemputnya untuk pergi ke butik, feeting baju pengantin. Meski tubuhnya masih sedikit lemah, ia harus pergi karena sudah janji dengan orang butiknya.
Maya tidak berangkat sendiri, seorang sopir pribadi mengantarnya. Karena khawatir terjadi apa-apa di jalan. Itupun menggunakan mobil Denis, karena mobilnya masih dibengkel. Kemungkinan juga mobil itu akan dijual.
Mobil melaju mengantarkannya ke sebuah tempat, ke arah rumah Adji. Jalanan siang itu lengang, ia tak perlu waktu lama untuk tiba di sana. Maya meminta Pak Junet sang sopir untuk parkir di depan gang. Karena mobilnya tak bisa masuk. Setelah itu iapun turun. Pak Junet diminta untuk menunggu saja di mobil.
Maya berjalan melewati lorong gang kecil ke arah rumah Adji, warga yang melihat kedatangannya menyambut dengan senyuman, mereka sepertinya sudah tahu kalau dirinya akan menikah dengan pria yang tinggal di perkampungan itu.
Ia tiba di depan rumah Adji, pintu rumahnya terbuka. Maya mengetuk pintu dan mengucap salam. Tak lama kemudian sosok yang dicarinya keluar.
Pria itu memakai baju biru muda dengan setelan celana jeans. Maya terpaku melihat pria di hadapannya itu. Ia tak pernah melihat Adji sekeren itu. Bibirnya menyungging senyum.
"Kenapa, Mbak? Kok lihatin saya kaya gitu?" tanya Adji.
"Ka-kamu, ganteng banget sih?" ucap Maya gugup.
"Owh, dari dulu kali, Mbak. Hehehe." Adji malah cengengesan.
"Yeh, malah kepedean."
"Kamu nggak kerja?"
"Mbak gimana sih, kan Mbak tadi pagi nelpon saya, mau ngajak fetting baju, masa saya kerja."
"Ya kirain gitu. Udah makan?"
"Udah kok."
"Beneran?"
"Iya."
"Makan pake apa?"
"Pake tangan."
"Adji ...." Maya cemberut.
"Mbak, emang udah sembuh?"
"Kalo belum, ngapain ke sini. Udah yuk!" Maya meraih tangan Adji menggandengnya.
Adji menepis, "Tunggu, Mbak. Saat ngunci pintu dulu." Ia lalu menutup pintu dan menguncinya.
Mereka kemudian berjalan ke depan gang, dan naik ke dalam mobil.
***
.
Dalam perjalan mereka hanya terdiam, sebenarnya ada yang ingin ditanyakan oleh Maya perihal nama Adji yang mirip dengan bosnya, juga musuh bisnis sang ayah. Maya takut kalau ternyata Adji tak sebaik yang ia kira.
"Dji," panggil Maya lirih.
"Iya, Mbak." Adji menoleh, menatap wanita yang duduk di sebelahnya itu.
"Eum ... aku mau tanya."
"Ya?"
"Nggak jadi deh." Maya menunduk. Ia takut pertanyaannya akan menyakiti hati pria itu.
Ia pernah bertanya sebelumnya, dan Adji selalu bilang kalau antara dia dengan Sean tak ada hubungan apa-apa, juga tak mengenal satu sama lain.
"Owh. Tanya aja, Mbak. Nggak apa-apa kok."
"Nanti aja. Eum ... orang tua kamu."
Adji terdiam.
"Setelah ini, saya akan ajak Mbak Maya bertemu dengan orang tua saya," ucap Adji lirih, ia menatap keluar jendela mobil.
"Ka-kamu serius? Bukannya waktu itu kamu pernah bilang kalau---"
Adji menatap Maya erat, lalu menggeleng.
"Nanti akan saya jelaskan semuanya, agar Mbak nggak salah paham. Kalau suatu saat Mbak tahu kebenarannya dari orang lain, saya takut itu akan menyakiti hati Mbak dan keluarga."
Maya kini terdiam, ia mencerna baik-baik apa yang baru saja diucapkan oleh pria di sebelahnya itu. Menyakiti? Maksudnya apa?
Maya mengangguk lirih.
"Dji, apapun yang terjadi dengan kamu, itu nggak akan pernah merubah perasaanku sama kamu."
"Makasih, karena Mbak udah percaya sama saya."
Maya tersenyum kecil.
Akhirnya mobil yang dikendarai Pak Junet tiba di depan sebuah tempat, butik langganan keluarga Hardi. Maya dan Adji segera turun dari mobil. Mereka berjalan ke arah pintu masuk butik.
__ADS_1
Maya membuka pintunya perlahan. Beberapa patung terlihat berjejer dengan gaun pengantin yang melekat. Adji terperangah. Ia membayangkan betapa mahalnya gaun-gaun tersebut. Hatinya gusar, ia minder juga sedikit takut.
"Dji," panggil Maya yang melihat Adji berhenti di depan sebuah patung berbalut kebaya putih tulang nan sederhana. Payet di kebaya itu tidak terlalu rame, bordirannya juga halus. Ia teringat dengan almarhumah maminya. Foto yang ia kenang adalah foto pernikahan kedua orang tuanya. Kebaya di hadapannya itu persis dengan yang pernah dikenakan maminya saat menikah dulu.
"Eum ... bagus juga selera kamu," seloroh Maya yang sudah ada di hadapannya itu.
"Eum ...maaf, terlalu sederhana ya?"
"Enggak. Ini justru yang paling mahal."
"Apa?" Adji terbelalak.
"Iya, kamu tahu nggak. Bawahannya ini sutera, dan kebaya ini limited edition. Kemarin kupikir ini terlalu sederhana. Makanya aku nggak pilih ini. Aku ingin cari warna yang lain seperti gold gitu biar kelihatan mewah. Tapi ternyata selera kamu bagus. Okey, kamu suka yang ini?" tanya Maya.
"Eum ... cari yang lain aja, yang menurut selera kamu. Tadi saya cuma takjub aja sama kebaya ini." Adji mulai gugup.
"Udah sih, nggak usah gugup gitu. Sebentar ya." Maya berjalan ke dalam.
Tak lama kemudian ia datang dengan seorang pria gemulai, sedikit gemuk, membawa kipas, dan rambut sedikit di merah-merahin.
"Hay, Cyin," sapanya pada Adji.
Adji menatap aneh pada sosok yang terlihat pria tapi bergaya wanita itu.
"Kenalin, Dji. Ini namanya Betty." Maya memperkenalkan Betty pada Adji. Mereka berjabat tangan.
"Cowok?" tanya Adji.
Betty mengerucutkan bibirnya. "Ish, kamu bisa aja deh. Panggil Sis Betty."
"Owh."
"Cucok bo you punya boyfriend," ujarnya pada Maya.
"Hahaha ... iyalah, Maya gitu loh." Maya terkekeh.
"Jadi, you suka yang ini? Ish seleranya cucok banget sih? Eike kemarin udah nawarin dise buat pakai ini, eh dise bilang kampungan warnanya. Dan sekarang you milihin buat dise." Betty menepuk-nepuk bahu Adji dengan kipasnya.
Adji meringis sambil mengusap-usap bahunya yang sedikit geli melihat tingkah pria ajaib itu.
"Iya, aku cobain dulu ya."
"Boleh, Cyin ... sini eike ambilin, sebentar ya." Betty melepas kebaya yang melekat pada patung itu lalu memberikannya pada Maya untuk di coba mengenakannya. Maya berjalan ke arah kamar ganti.
"Bro, eh Sis," panggil Adji.
"Eh, iya. Ada apa?"
"Ini patungnya ditutupin sarung dulu, kasihan kedinginan." Adji menunjuk patung bugil di hadapannya.
Adji bergidik lalu berjalan cepat menuju ke kursi tunggu. Menunggu Maya yang berganti pakaian.
Tak lama kemudian, tirai di hadapannya itu terbuka lebar, sesosok wanita berkebaya putih lengkap dengan kain bawahnya berjalan mendekat. Rambut panjangnya digulung ke atas.
Kedua netra Adji menatap takjub, ia menelan saliva. Melihat dari ujung kaki sampai kepala, kebaya itu membalut tubuh Maya dengan sempurna, bagian atas sedikit terbuka namun tetap terlihat sopan. Pinggul Maya yang membentuk bak gitar spanyol membuat jantung Adji berdegup kencang.
"Gimana? Cocok nggak?" tanya Maya.
Adji mengangguk cepat.
"Cantik nggak?"
"He eum ... banget."
Maya tersipu malu, ia lalu berjalan ke kaca besar di sebelahnya, memutar tubuhnya di hadapan cermin.
"Boy, nih punya kamu. Cobain gih! Apa perlu Eike pakein," goda Betty seraya membawa jas untuk Adji.
Adji menoleh dan mengusap dadanya. Lalu meraih jasa tersebut dari tangan Betty. Ia berjalan ke dalam ruang ganti.
Beberapa saat kemudian Adji keluar dengan setelan jas berwarna hitam lengkap dengan kemeja, dasi dan pecinya. Ia terlihat begitu gagah dan tampan. Maya tersenyum kecil dan menghampiri calon suaminya itu.
"Deuh, kalian tuh ya. Pasangan yang cucok maricok. Bikin ngiri deh," ujar Betty.
Mereka berdua tersenyum kecil.
***
.
Hari kian sore, sudah pukul setengah lima. Mereka keluar dari butik dan sudah mengganti pakaian dengan pakaian semula. Berjalan ke arah parkiran. Dilihatnya Pak Junet tidak ada di tempat. Maya menelpon sebentar, ternyata dia sedang makan di warteg tak jauh dari situ.
"Mbak, kita sholat dulu, yuk. Itu ada mesjid." Adji menunjuk ke arah mesjid di seberang jalan.
"Owh, ya udah. Aku SMS Pak Junet dulu ya."
Sambil mengetik sms mereka berjalan ke arah mesjid, Adji menggandeng tangan Maya untuk menyebrang. Tangan kiri perempuan itu masih sibuk dengan ponselnya.
Mereka masuk pelataran mesjid besar bercat hijau itu, melepas alas kaki dan menuju tempat wudhu masing-masing.
Selesai berwudhu Adji langsung ke shof depan untuk melaksanakan sholat, sementara Maya memakai mukena yang telah disediakan di mesjid itu.
Lima belas menit berlalu, mereka lalu keluar bersama, kembali ke parkiran depan butik, Pak Junet sudah terlihat di depan mobil.
__ADS_1
"Mbak, saya ajak ketemu orang tua saya ya."
"Kamu yakin"
Adji mengangguk. Maya meminta Pak Junet untuk mengantarkannya ke rumah Adji sesuai dengan alamat yang diberikan.
Hampir setengah jam berlalu, jalanan sore itu agak macet, karena bersamaan dengan waktu pulang kantor. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah besar bergaya modern, bercat putih. Adji meminta Pak Junet memarkir mobil di dekat pohon depan rumahnya, agar mudah nanti jika pulang.
Mereka berdua turun, Maya menghentikan langkahnya tepat di depan pagar, menatap ke atas arah rumah berlantai dua itu. Lalu melirik ke arah Adji.
Adji meraih tangan Maya menuntunnya masuk. Pintu gerbang memang selalu di buka oleh Sean. Tak ada satpam penjaga. Hanya seorang pembantu saja yang tinggal di rumah itu untuk melayani kebutuhan ayahnya.
Tok tok tok.
Pintu rumah diketuk.
Seorang wanita paruh baya datang membukakan pintu. Adji tersenyum, wanita itu mempersilakan masuk.
Adji mengajak wanita kesayangannya itu ke kamar sang ayah. Maya mengedarkan pandang ke sekeliling rumah. Menatap takjub, tak menyangka kalau pria yang selama ini ia kenal adalah anak dari seorang yang kaya raya.
Ceklek.
Adji membuka pintu kamar sang ayah. Maya terkesiap melihat sesosok tubuh pria yang terbaring tak berdaya di ranjang.
"Dia ... ayah saya." Adji berkata lirih.
"Sakit apa?"
Adji hanya terdiam. Enggan menjawab tentang penyakit yang di derita sang ayah.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita?" tanya Maya lagi.
"Saya takut, Mbak akan menganggap saya yang tidak-tidak."
"Menganggap apa? Kamu bukan orang yang sedang menyamar kan? Kaya yang di sinetron, nyamar jadi gembel cuma buat mencari cewek yang nggak matre!"
"Bukan."
"Terus?"
"Awalnya saya sudah nggak mau nganggap dia sebagai orang tua saya lagi."
"Loh kenapa? Durhaka kamu, Dji. Kalau sampai berpikir seperti itu."
Adji menatap Maya erat.
"Mbak tahu apa yang pernah dia lakukan terhadap diri saya?" tanya Adji dengan pandangan serius.
Maya terdiam. Sementara Adji menunjuk ke arah sang ayah.
"Dia hendak membakar saya hidup-hidup di gudang belakang rumah ini!"
Maya membuka mulutnya lebar lalu menutupnya dengan kedua tangan. Kemudian ia menggeleng.
"Karena apa? Dia sampai tega seperti itu sama kamu?" tanya Maya yang kedua ujung matanya kian membasah.
"Karena saya menjadi seorang mualaf." Adji menunduk.
Maya terisak, sebegitu beratnyakah perjuangan Adji demi sebuah keyakinan yang sekarang ia anut. Sementara dirinya yang sejak lahir sudah menjadi seorang muslim saja masih suka lalai dalam beribadah.
"Sean, dia kakak kandung saya, yang membantu papi untuk membunuh saya." Adji menitikkan air matanya.
"Itu sebabnya kamu nggak mau ketemu dia, itu yang buat kamu ketakutan saat melihat dia di kantorku?" tanya Maya bergetar.
"Iya."
"Maafkan aku, Dji. Terus kenapa sekarang kamu baru bicara semuanya?"
"Karena saya menyayangi kamu, Mbak. Saya nggak ingin menyembunyikan apapun dari calon istri saya."
"Aku juga sayang kamu, Dji. Bukan karena apapun, tapi karena ketulusan kamu."
Mereka saling berhadapan, menatap intens.
"Sekarang tugas saya berat, saya harus segera menyadarkan papi, agar ia bisa melihat kita menikah, dan saya juga ingin membuat papi menjadi mualaf seperti saya."
"Aku pasti bantu kamu."
"Makasih, Mbak. Masalahnya Kak Sean."
"Kenapa?"
"Eum ... enggak, enggak apa-apa. Mbak pura-pura nggak tahu aja ya, kalau saya adalah adik dari bos Mbak itu."
"Owh, okey." Maya menyeka air matanya, pipi basah itu diusapnya pelan.
Mereka tersenyum lalu mendekat ke arah ayah Adji. Pelan Adji membacakan surat alfatihah dan dilanjutkan dengan surat-surat pendek lainnya. Maya menyimak, menatap erat calon suaminya itu. Suara merdu yang keluar dari bibirnya bagai candu, membuatnya ingin selalu mendengar suara tersebut.
****
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komentarnya ya gaes 😘😍