Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
13


__ADS_3

Selamat hari Senin ...


Ada yang kangen nggak ya???


Eum ...


Part ini mungkin akan sedikit membuatmu tegang. Tapi tetap ada manis-manisnya kok.


Happy reading gaes ...


Please follow dulu sebelum baca ya, silent reader harap menyingkir saja 😌


***


.


.


Matahari bersinar cerah pagi ini, Maya bangun pagi-pagi sekali, setelah menunaikan sholat subuh ia langsung pergi mandi dan berkemas, karena hari ini adalah hari di mana diselenggarakan acara family Gatering dari kantornya.


Setelah bersiap-siap, ia menuju ruang makan, mengambil dua lembar roti tawar dengan selai kacang dan segelas susu. Penghuni rumah belum ada yang bangun, maklum hari libur, biasanya Denis dan Sherli sudah berenang, tapi kali ini kolam renang masih tampak sepi, hanya bibi yang terlihat sibuk di dapur.


"Mau ke mana, Neng? Pagi-pagi udah rapi?" tanya si bibi.


"Ada acara kantor, Bi. Nanti kalo Papa tanya ya, saya berangkat dulu," jawab Maya seraya menenggak susu coklat kesukaannya itu.


"Iya, Neng."


***


.


.


Maya akan mengajak Adji untuk pergi ke acara kantornya, ia berharap Adji tidak akan menolak ajakannya.


Perjalanan menuju rumah Adji sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi sepertinya kali ini ada masalah. Beberapa kendaraan terlihat berhenti, entah apa yang menyebabkan jalanan mendadak macet total.


Maya membuka kaca jendela mobil, melongok keluar mencari tahu, beberapa orang berlarian hendak melihat ke tempat kejadian. Maya penasaran sementara arloji di pergelangan tangannya terus berjalan. Ia harus cepat sampai di rumah Adji, kalau tidak bisa terlambat ke lokasi, karena absen sama seperti hari kerja jam delapan pagi.


"Kalau begini terus kapan sampainya," gumamnya lirih.


Ia mencoba menghubungi nomor Adji, berharap panggilannya di terima, tapi sayangnya nada sambung tak terdengar di ponsel Maya. Ia mengetuk-ngetuk kemudi dengan jarinya. Semakin gelisah saat mendengar orang-orang yang berlarian ada yang menyebut kalau seorang pemulung baru saja tewas tertabrak truk.


Jantung Maya berdegup tidak karuan, jangan-jangan terjadi sesuatu pada Adji calon suaminya itu. Sejak kemarin sepulang dari rumahnya, ia sama sekali tak memberi kabar.


Akhirnya Maya turun dari mobil, mencoba mencari tahu kebenarannya. Apa benar kecelakaan yang menyebabkan jalanan menjadi macet karena ada pemulung yang tewas tertabrak, semoga saja itu bukan Adji.


Maya menerobos kerumunan orang di hadapannya itu demi memastikan siapa yang tertabrak. Di ujung jalan truk yang diduga menabrak korban, terparkir, sementara sang supir diamankan warga.


"Minggir-minggir," ucapnya.


Beberapa orang yang berkerumun langsung menyingkir.


"Mbak, Kenal?" tanya seorang bapak.


Maya menoleh, tapi ia tak mengiyakan. Penasaran, ia membuka koran yang menutupi tubuh berlumuran darah itu. Ia berjongkok, matanya terpejam sesaat, lalu membuka sedikit demi sedikit sambil mengernyitkan dahi.


Wajahnya terlihat hancur nyaris tak dapat dikenali, ia yakin itu bukan Adji, karena tubuh mayat di hadapannya itu berkulit gelap dan sudah sedikit keriput. Kemungkinan korban adalah seorang pria paruh baya. Ia bernapas lega, dan kembali bangkit.


Waktu sudah menunjuk ke angka setengah delapan pagi, ia harus sampai di Dufan pukul delapan, sedangkan jalanan masih tak bisa dilewati. Antrian kendaraan semakin mengular.


Tak berapa lama kemudian, sirine mobil ambulance terdengar mendekat, dan membawa korban tadi ke rumah sakit, supir truk dibawa ke kantor polisi.


Maya kembali duduk di balik kemudi, perlahan mobil-mobil yang tadi berhenti mulai berjalan kembali. Polisi lalu lintas terlihat mengatur jalanan agar kemacetan tak semakin parah.


***


.

__ADS_1


.


Maya yang baru saja turun dari mobilnya itu kini berjalan menyusuri gang untuk segera tiba di rumah Adji. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok yang dikenalnya sedang berbincang serius di depan rumah Adji.


Ia mengernyit, mencoba mencari tahu apa yang sedang mereka bincangkan, ia tak pernah melihat wajah Adji semarah itu. Tatapannya tajam ke arah pria yang berbicara di hadapannya.


Maya berjalan cepat mendekati mereka.


"Pak Sean?"


Pria yang dipanggil menoleh, matanya membulat melihat siapa yang datang, begitu juga dengan Adji.


"Mbak."


"Maya?"


"Kalian? Saling kenal?" tanya Maya.


"Owh, eng ... enggak. Saya tadi sedang cari alamat. Ya udah saya duluan ya, May." Sean berlalu.


Adji langsung masuk ke dalam rumahnya, sementara Maya mengekor.


"Adji, tunggu!"


"Kenapa, Mbak?" Adji duduk di ruang tamu.


"Ikut gue, Yuk. Ke Dufan. Ada acara kantor."


"Maaf, Mbak. Saya nggak bisa."


"Kenapa?"


Adji hanya menggeleng.


"Itu tadi bos gue, kok kenal sama loe? Kalian ada hubungan apa?"


Maya menggeleng.


"Kalau loe nggak mau ikut, ya gue mending nggak jadi pergi."


"Jangan, saya kan bukan siapa-siapa, Mbak. Itu kan acara kantor."


"Tapi kan boleh ajak keluarga."


"Saya kan bukan keluarga, Mbak."


"Sebentar lagi kan jadi keluarga."


Adji tersenyum kecil.


"Katanya sayang?" celetuk Maya dengan wajah cemberut.


"Iya, emang sayang."


"Kok nggak mau nemenin."


"Bukan gitu, saya nggak enak. Malu, Mbak."


"Kan pake baju, Dji."


Adji terkekeh.


"Ya udah sana ganti baju, biar ganteng."


"Emang ini jelek ya?"


Maya menggeleng.


"Ganteng sih, ah udah buruan sana, gue udah telat nih."

__ADS_1


"Iya, Mbakku sayang."


Adji bangkit dari duduknya lalu menuju ke kamar berganti pakaian.


***


.


Maya duduk di belakang kemudi, sementara Adji berada di sebelahnya. Menatap jalanan dari kaca membuat hatinya gelisah.


Kedatangan Sean tadi benar-benar membuat Adji ingin mengakhiri saja semua yang telah terjadi antara dirinya dengan wanita di sebelahnya itu. Ia tak mungkin bisa membiarkan Maya masuk ke dalam masalah keluarganya. Apalagi Sean sempat mengancamnya.


"Dji," panggil Maya lirih.


Adji bergeming, menatap ke luar jendela.


"Dji," panggilnya lagi.


"Adji!" Kini suara Maya sedikit teriak.


Adji menoleh dan tersenyum kecil.


"Loe kenapa? Ada masalah? Cerita sama gue."


"Enggak, Mbak. Cuma agak pusing aja."


"Ya udah, kita pulang aja, Ya."


"Nggak usah, Mbak. Saya pulang sendiri aja."


"Nggak bisa, loe harus pulang sama gue."


"Nggak usah, Mbak."


"Dji."


"Mbak, awaaaaaassss!"


Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Maya berhadapan dengan sebuah truk pengangkut barang, spontan ia membanting stir ke arah kanan dan menabrak sebuah pohon besar di depannya.


Brak!


***


Mobil yang dikemudikan oleh Maya menabrak pohon besar. Mereka berdua seketika pingsan tak sadarkan diri. Dari kening Maya terlihat cairan berwarna merah segar keluar.


Gerombolan warga datang berkerumun di lokasi kejadian. Ada yang berusaha membuka pintunya. Kemudian mengeluarkan keduanya. Kap mobil mengeluarkan asap. Takut akan terjadi kebakaran dengan cepat warga mengevakuasi.


Sebuah mobil hitam melintas, dan pengemudinya keluar mendekat ke tempat di mana warga membaringkan kedua korban.


"Maaf, ada apa ya?" tanya pria itu.


"Kecelakaan, Pak."


"Boleh saya lihat?"


"Silakan, Pak."


Pria itu mendekat, dan tersenyum miring saat melihat siapa korbannya.


"Bisa tolong dibawa ke mobil saya? Mereka adik-adik saya," ucap pria itu.


"Baik, Pak."


Warga membantu mengangkat tubuh Maya dan Adji ke dalam mobil pria tadi. Lalu mobil melesat menuju ke rumah sakit.


***


tbc

__ADS_1


__ADS_2