Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
9


__ADS_3

Yang mau baca mohon follow dulu yaaa


Happy reading 😘


***


Tiga hari telah berlalu, dan selama itu pula Adji sama sekali belum menggunakan barang-barang pemberian Maya. Ia merasa semua yang ia miliki saat ini masih bisa dipakai. Sampai-sampai kemarin Maya sempat marah karena merasa tidak dihargai.


Kaki Adji mulai membaik, setiap hari sepulang kerja Maya selalu menyempatkan waktu untuk menjenguknya, meski hanya sekedar membawakan makanan dan berbincang. Ia mulai merasa nyaman dengan wanita itu.


Hari ini seperti biasa Adji sudah bersiap untuk kembali bekerja, menyambangi setiap tempat sampah, dan menyusuri jalanan, mencari botol bekas minuman ataupun kardus.


Saat berjalan dekat sebuah sekolahan, Adji menghentikan langkahnya. Kedua netranya tertuju pada sebuah dompet berwarna marun yang tergeletak di dekat tempat sampah tak jauh dari ia berdiri. Entah sudah kali keberapa ia menemukan dompet milik orang, namun tak pernah ia temukan isinya, baik uang ataupun identitasnya.


Akan tetapi kali ini dompet yang dilihatnya itu ukurannya agak besar, sepertinya milik seorang wanita. Ia mendekat, lalu mengambilnya, mengecek isinya.


Jantungnya nyaris copot melihat isi di dalam dompet, lembaran uang berwarna merah memenuhi benda persegi itu, ia mencari identitas pemiliknya, sebuah KTP ia ambil dari selipan, benar dugaannya sang pemilik adalah seorang wanita bernama Adelia Anastasia, alamatnya juga tertera dan tak jauh dari situ.


Adji menyimpan dompet itu di dalam tas pinggang miliknya, lalu menyebrang jalan menuju komplek perumahan seperti yang telah tertera di kartu identitas tadi. Saat hendak melangkah melewati gerbang masuk, seorang security menghampirinya.


"Maaf, adek nggak boleh masuk ke sini," ujarnya.


"Maaf, Pak. Saya bukan mau mulung di sini, cuma mau ngembaliin dompet ini." Adji menunjukkan dompet yang tadi ia temukan.


"Ya sudah, tapi karung sama besi panjangnya taruh di pos. Jangan di bawa ke dalam."


"Makasih, Pak." Adji meletakkan peralatannya di depan pos jaga.


Ia lalu masuk mencari alamat yang dimaksud. Kakinya berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah dengan pagar hitam. Alamatnya sama peraih seperti di dalam KTP.


Ting tong.


Bel rumah berdentang.


Tampak seseorang berlari ke arah pintu gerbang, wanita paruh baya dengan rambut bersanggul, tubuh sedikit gembul.


"Cari siapa, Ya?" tanyanya setelah membuka gerbang.


"Maaf, Mbak. Apa benar ini rumahnya ibu Adelia?" tanya Adji hati-hati.


"Iya, Mas. Ada perlu apa, Ya?" Wanita itu mengernyit.


"Eum ...."


"Asih ... Asih ...."


"Sebentar, Mas. Saya dipanggil majikan saya."


Wanita itu berlari masuk meninggalkan Adji yang masih berdiri di depan pintu gerbang.


Tak lama kemudian, wanita tadi ke luar bersama seorang wanita cantik berambut panjang lurus menggendong seorang anak balita.


"Kamu cari saya?" tanyanya.


"Iya, Bu. Ini saya menemukan dompet ibu di jalan." Adji menyerahkan dompet tadi.


Wanita itu langsung meraihnya dan mengecek semua isinya, dan anak yang ia gendong tadi sudah berpindah tangan ke gendongan wanita gembul tadi.


"Ya ampun, saya sampai pusing nyarinya. Makasih ya, semua masih utuh. Kayanya tadi jatuh deh. Oh iya ayo masuk!" Wanita itu menyuruh Adji masuk.


"Makasih, Bu. Saya masih harus kerja lagi."


Adji menolak dengan halus.


"Kerja? Kamu kerja apa?"


"Saya pemulung, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu." Adji menundukkan kepala lalu berpamitan.


"Hey, tunggu!" Wanita itu memanggil Adji lagi, lalu memberikan uang ke tangannya.


Adji menolak.


"Maaf, Bu. Saya ikhlas."


"Saya juga ikhlas. Ini buat kamu sebagai ucapan terima kasih saya."


"Enggak usah, Bu. Makasih."


"Saya nggak mau punya hutang budi sama kamu."


"Ibu nggak usah khawatir. Saya nggak anggap itu hutang kok. Karena sudah kewajiban saya mengembalikan barang yang bukan milik saya."


"Kamu baik, siapa nama kamu?"


"Saya Adji, Bu."


"Adji, ya sudah kalau uang ini kamu tolak. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa kerja di tempat saya. Di toko kue. Kebetulan saya lagi butuh karyawan. Ini kartu nama saya, kamu bisa datang kapan saja. Saya tunggu loh, Dji." Wanita itu memberikan kartu namanya pada Adji.


"Makasih, Bu."


"Iya, sama-sama."


"Kalau gitu, saya permisi dulu."


Adji kembali melangkah pergi, dengan membawa sejuta harapan. Mungkin dengan dia beralih profesi, akan dengan cepat mengumpulkan uang untuk membelikan Maya cincin kawin.


Namun, apa mungkin dia bisa, sementara ijasah saja ia tak punya. Hanya ada surat laporan dari kepolisian yang menyatakan kalau semua berkas miliknya lenyap akibat kebakaran. Padahal sebenarnya dibakar.


***

__ADS_1


.


Di tempat lain Maya tampak sibuk, mengutak-atik ponsel miliknya, menarik napas kasar, dan menggerutu.


"Loe kenapa sih, May? Dari tadi gue liatin loe megangin hape melulu, nunggu apaan sih?" Monik tampak kes melihat tingkah sohibnya itu.


"Ini, si Adji. Gue kasih hape. Eh kaga pernah aktif. Heran gue, ada cowok kaya dia ya."


"Adji? Pemulung yang waktu itu nolongin loe? Loe kasih hape? Wuih ... Kesambet apa loe?" Monik meletakkan punggung tangannya ke kening Maya.


"Apaan sih?"


"Serius gue nanya, loe nggak ada hubungan apa-apa kan sama Adji?" Monik mulai menyelidik.


Maya menoleh sekilas.


"Kenapa? Nggak boleh?"


Pipi Monik menggelembung, ia menahan tawanya agar tidak pecah dan membuat kegaduhan seisi ruangan.


"Selera loe berubah, May? Gue jadi penasaran pengen kenal tuh bocah."


"Jangan! Ntar loe naksir lagi."


"Hahaha ...." Akhirnya tawa Monik pecah juga.


Maya membekap mulut sohibnya dengan tangan.


"Diem, Loe. Berisik!"


Kembali mereka melanjutkan pekerjaan.


"Ehem!" Suara berdehem memecah suasana.


Maya dan Monik saling pandang, di hadapan mereka sudah berdiri seorang pria berkemeja hitam menatap dengan senyum.


"Kalian sedang sibuk?" tanyanya.


"Enggak begitu sih, Pak. Ada apa ya?" tanya Monik.


"Ke ruangan saya sekarang!"


"Baik, Pak."


***


.


"Kalian bisa bantu saya? Minggu depan kita ada family gatering, boleh ajak keluarga, suami, anak, pacar, adik, kakak. Nah ini selebarannya. Ada gamesnya juga, undian berhadiah. Bisa dibaca ya. Lalu nanti kalian tolong data siapa saja yang bisa hadir. Gratis." Sean memberikan flyer untuk dibagikan ke seluruh karyawannya.


"Waaaah ... Asyik nih. Ke Dufan," celetuk Monik.


"Norak, Loe!" ucap Maya.


Maya tak menanggapi omongan Monik. Hanya melirik sekilas, lalu pamit ke luar ruangan Sean, bos mereka.


***


.


Sepulang kerja, seperti biasa Maya mampir terlebih dahulu ke rumah Adji. Kali ini wajahnya tak berseri seperti biasanya. Wajah tampak murung dan ditekuk bagai uang lecek.


Berjalan perlahan menuju rumah sederhana itu, dari kejauhan pintu rumah Adji terlihat tertutup. Maya mengernyit. Mempercepat langkahnya dan mengetuk pintunya.


"Adji ...."


Ceklek.


"Waalaikumsalam, Mbak." Adji membuka pintu menyambut wanita pujaannya itu dengan senyum. Namun, sayangnya wajah Maya tampak suram.


Maya langsung duduk di kursi ruang tamu.


"Mbak, kenapa?"


"Hape loe mana?" tanya Maya ketus.


"Di kamar, Mbak."


"Kenapa nggak dipake? Kan kemarin udah gue ajarin caranya, udah diisiin pulsa. Kalau nggak mau, biar gue buang aja deh."


"Ya jangan, Mbak. Sayang ...."


"Sama hape aja loe sayang, tapi sama gue enggak."


Adji terkekeh.


"Maksudnya, Mbak?" tanyanya pura-pura.


"Nggak tau, sini hapenya!"


"Enggak ah, mau dibuang."


"Ya udah ambil dulu."


Adji melangkah ke kamar, mengambil ponsel pemberian Maya yang ia simpan di dalam lemari dan masih tersimpan rapi di kardusnya.


"Ini." Adji menyerahkan ponsel pada Maya.


Maya membuka kadsusnya, menyalakan ponsel dan mengutak-atik. Ia mentransfer foto-foto miliknya ke dalam ponsel Adji.

__ADS_1


"Nih, awas kalau nggak dipake!" ancam Maya seraya menyerahkan kembali ponsel milik Adji.


"Apa nih, Mbak? Kok isinya foto Mbak semua?"


"Ya kalau loe kangen kan bisa dilihat."


"Mbak kali yang kangen, saya juga bingung mbak. Nggak punya teman, fungsinya apa?"


"Kan kita bisa telponan, chat, wa video call," jelas Maya.


Adji tersenyum melihat ke arah wanita di hadapannya itu.


"Tapi kan kita udah ketemu, Mbak. Sayang pulsanya."


"Ya ampun, Dji. Loe tuh ya. Deuh ... Baru ini gue nemuin cowok kaya loe."


Adji hanya nyengir. Hatinya bahagia, Maya begitu perhatian padanya.


"Ya, saya harus gimana emangnya?" tanya Adji malu-malu.


"Loe pernah pacaran nggak sih?" tanya Maya menyelidik.


Adji hanya menggeleng.


"Mana ada yang mau sama saya, Mbak. Mbak doang nih yang khilaf ya?" Adji mulai meledek.


"Iya, ya. Semoga gue nggak cepet sadar ya, Dji."


Mereka tertawa bersama. Lalu mereka terdiam lagi.


"Mbak, saya mau nanya dong."


"Jangan susah-susah ya, Dji."


"Nggak kok, kalau mau melamar kerja, kira-kira berkas yang dibawa apa aja ya?" tanya Adji.


"Loe mau kerja? Di mana? Jadi apa?"


"Mbak, saya nanya dulu."


"Yang dibawa ya surat lamaran kerja, fotocopy KTP. Ijasah, CV, SKCK mungkin perlu."


"CV itu apa?"


"CV itu curiculum vitae. Biodata diri. Pernah sekolah di mana aja, pengalaman kerja di mana aja."


Adji terdiam. Harapan hanya tinggal harapan. Mungkin memang sudah takdirnya ia hanya akan menjadi seorang pemulung. Bahkan untuk merubah hidup saja tidak bisa.


"Kenapa, Dji? Emang loe mau kerja di mana?"


Adji merogoh saku celana panjangnya. Memberikan kartu nama yang diberikan oleh si wanita pemilik dompet tadi pagi.


"Adelia bakery. Ini sih toko kuenya istri bos gue," ujar Maya setelah membaca nama dan alamat di dalam kartu nama itu.


"Oh ya? Wah kok bisa kebetulan gitu ya, Mbak. Bosnya baik nggak, Mbak?"


"Baik banget, mana ganteng, tajir."


"Hem ...."


"Eh sorry, bercanda."


"Tapi saya kayanya nggak jadi deh ngelamar di sana."


"Loh kenapa? Belum dicoba. Nanti gue bantuin deh bikin lamarannya."


"Serius, Mbak mau bantuin?"


"Iya dong, kan demi masa depan kita."


"Uhuk ...." Adji melirik ke arah Maya.


Maya menepuk bahu Adji lirih.


"Dji, duduk sini dong." Maya menunjuk ke sebelah kirinya.


Adji hanya tersenyum dan menggeleng.


"Mbak mau apa?"


"Mau nyender di bahu loe."


"Saya takut khilaf, Mbak."


"Ya udah deh kalau nggak mau. Gue pulang ya." Maya bangkit dari duduknya melangkah ke depan pintu.


"Mbak!" panggil Adji.


Maya menoleh, kini bocah itu sudah berdiri di belakangnya.


"Kenapa?"


"Nggak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Adji seraya mengerlingkan sebelah mata.


"Eh, nakal loe ya." Maya mencubit pinggang Adji. Wajahnya memerah. Mereka berdua tertawa. Lalu Maya berpamitan pulang, Adji mengantarnya sampai ujung jalan di mana mobil Maya diparkir.


***


Vote dan komentarnya ya 😙

__ADS_1


Makasih ...


😘😘😘


__ADS_2