Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
35


__ADS_3

💗💗💗


Malam itu di kediaman Bapak Hardi. Tampak sekeluarga sedang menyantap makan malam di ruang makan.  Sang kepala rumah tangga yang tadi siang baru sampai rumah merasa lelah. Ia menyesap kopi buatan si mbok pelan.


Anak pertamanya sibuk mengunyah daging yang dimasak teriyaki, makanan kesukaannya dengan lahap. Sementara si adik bungsu menggigit udang goreng tepung dengan saus asam manis kegemarannya.


"Denis,  gimana kabar adik kamu Maya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Hardi memecah kesunyian.


Denis mengambil air minum,  ia minum perlahan baru menjawab pertanyaan ayahnya.


"Eum,  baik sih. Cuma ya gitu,  Pah. Rumah Adji kan kumuh banget. Aku khawatir Maya akan susah menyesuaikan diri. Kasihan, tidur aja cuma pakai tikar, udah gitu dipannya kayu. Nggak ada kasurnya. Bisa sakit seluruh badan."


Hardi mengunyah makanannya, ia lebih memilih makan dengan sayur sop dan kerupuk udang.


"Tapi sepertinya Maya betah,  dia nggak kembali ke sini kan?"


"Iya sih, Pah. Aku takut Maya di sana disuruh-suruh lagi sama si Adji kaya pembantu."


"Denis,  Denis. Namanya istri ya harus patuh sama suaminya."


"Tapi,  Pah. Maya itu kan nggak terbiasa hidup susah. Bayangin malam ini mereka makan apa coba?"


Hardi terdiam, ia menyudahi makannya.


"Kenapa, Pah?" tanya Denis yang melihat ayahnya meletakkan sendok di atas piring dan tidak melanjutkan makan.


Hardi menyandarkan punggung di sandaran kursi. "Papa ingat waktu pertama kali papa menikah. Kondisi Papa waktu itu lebih parah dari Adji, kita berdua cuma tinggal di kontrakan kecil satu petak. Makan, tidur, nerima tamu,  kamar mandi satu ruangan. Keluarga Papa dan Mama nggak ada di sini, kami berdua pendatang. Cari kerja ke sana ke mari. Bantu-bantu nguli,  jualin dagangan orang. Hidup itu semua berproses. Kamu nggak akan ngerti kalau belum ngalamin hidup susah." Hardi mencoba memberi gambaran akan masa lalunya pada putra kesayangannya itu.


"Bukannya keluarga Papa dan Mama orang kaya?"


"Namanya hidup rumah tangga,  kita nggak bergantung sama orang lain. Orang tua sekalipun. Apalagi laki-laki. Harga diri Denis."


Denis menunduk. Perkataan ayahnya begitu menohok. Selama ini dia telah salah menilai Adji karena kemiskinannya. Justru ia salah besar, Adji sebenarnya kaya, akan ilmu juga pengalaman hidupnya. Sementara dirinya sampai saat ini masih bergantung dengan orang tua. Makan masih uang orang tua,  kendaraan dari orang tua,  begitu juga tempat tinggal.


"Oh iya,  Pah. Papah udah tahu belum kalau Sean adalah kakak kandung Adji?" tanya Denis mengalihkan pembicaraan.


Hardi yang hendak bangkit dari duduknya itu menatap tajam ke arah Denis. "Kamu kata siapa?"


"Ya kata Adji lah. Selama ini kita sudah dibohongi, Pah. Dan Papanya Adji - Sean itu adalah rival Papa sendiri." Denis kembali menekankan.


Tiba-tiba Hardi merasa dadanya sesak dan sakit. Kecurigaannya selama ini ternyata benar, kalau Adji dam Sean bersaudara. Awalnya ia tak percaya melihat kehidupan Adji yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sang kakak. Begitu pula dengan semua sikap manisnya.


"Pah,  Papah nggak apa-apa?" tanya Denis saat melihat Hardi memijit keningnya.


Denis akhirnya membantu sang ayah berjalan ke kamar. Membaringkan tubuh pria paruh baya itu di ranjang.  Lalu menyelimutinya.


"Sean kena skorsing karena kasus korupsi, Papa memberinya waktu untuk dia bisa mengembalikan semua saham dan uang perusahaan yang telah dia curi itu," ucap Hardi lirih.


"Apa? Sean korupsi? Dan kemarin, Pah. Waktu di pemakaman, waktu ayahnya meninggal, Sean itu langsung ngebahas warisan sama Adji. Dia ngotot. Aku langsung bawa Maya pergi, karena aku nggak mau Maya terlibat percekcokan keluarga mereka. Sayangnya Maya malah nekat turun dari mobil,  trus jatuh."


"Apa?  Maya jatuh? Kamu gila ya. Adik sendiri kamu celakain."


"Bu-bukan gitu,  Pah. Aku cuma mau nyelamatin Maya aja kok."


"Trus sekarang yang gantiin Sean siapa?" tanya Denis menyelidik.


"Reza,  kamu kenal kan? Dulu pernah magang juga di sana. Dan dia tahu seluk beluk perusahaan yang dipegang Sean kemarin."


"Papah yakin? Anak itu yang jadi penggantinya Sean? Bukannya dia pernah kena kasus juga?"


"Yang dulu? Salah paham aja dulu itu. Harusnya kamu yang pegang. Kamu nggak mau. Papah udah waktunya pensiun ini."


"Kayanya Reza lebih berbahaya dari pada Sean deh, Pah."


"Kamu itu, sudah jangan berlebihan. Kan di sana juga ada Maya. Besok kamu jemput adik kamu ya, suruh dia datang ke sini. Papah kangen."


"Iya,  Pah."


"Tapi bilang suaminya dulu,  jangan main culik."

__ADS_1


"Iya, iya, Pah."


💗💗💗


Esoknya saat adzan subuh berkumandang, kedua pasangan Maya dan Adji menyempatkan diri untuk pergi ke mesjid dan sholat subuh berjamaah di sana.


Sepulangnya dari mesjid, barulah Maya memulai pekerjaannya di dapur. Memasak untuk sarapan. Adji juga tidak tinggal diam, ia membantu sang istri untuk mencuci pakaian.


Maya yang melihat suaminya sibuk di sumur, kemudian menghampiri. "Kamu ngapain, Dji?" tanyanya saat Adji mulai merendam pakaian dengan detergen.


"Mau nyuci," jawab Adji santai.


"Biar aku aja."


"Ya udah, kamu masak aja. Cuma dikit kok ini. Nanti nggak keburu. Kamu belum mandi, trus siap-siap kerja."


Maya terdiam, dan tersenyum. Ia lalu kembali ke dapur memasak sayur sawi pakcoy, goreng tahu tempe dan telur ceplok.


Tepat jam enam, masakan telah matang dan siap di santap. Namun,  keduanya lebih memilih mandi terlebih dahulu sebelum sarapan. Maya yang baru selesai mandi itu masuk ke kamar mendapati suaminya yang tengah memegang ponsel miliknya.


"Ada wa kayanya," ucap Adji seraya memberikan ponsel itu pada sang istri.


Maya duduk di tepi ranjang, Adji mengambil handuk yang tergantung di lemari dan melangkah keluar.


"Dji!" panggil Maya saat suaminya sudah di depan pintu hendak ke kamar mandi.


Adji menoleh, "Ada apa?"


"Mas Denis wa. Pulang kerja mau jemput aku pulang, Papah kangen katanya. Boleh nggak aku ke rumah Papah?" tanya Maya takut kalau Adji tidak mengizinkannya.


Maya yang gugup itu memilin ujung handuk yang masih melilit tubuhnya. Adji yang melihat merasa gemas. Ia mendekati sang istri.


"Kenapa? Kok kamu takut. Aku nggak akan larang kamu ke rumah orang tua kamu."


"Iya, takut nggak diizinin aja." Kali ini Maya menatap intens suaminya.


Aroma Wangi sabun dari tubuh Maya membuat naluri kelelakian Adji muncul lagi. Hasratnya kembali menginginkannya. Terlebih tubuh Maya yang hanya berbalut handuk itu terlihat putih dan seksi. Adji tersenyum nakal.


Adji melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya itu. Menciumi leher jenjang Maya lembut.


"Dji,  kamu mau apa?" tanya Maya agak geli dengan perlakuan suaminya itu.


"Mau itu dulu." Adji masih belum melepas pelukannya.


"Semalam kan udah."


"Sekarang kan belum, Sayang. Sebentar aja."


"Tapi aku udah mandi."


"Nanti kita mandi bareng."


Adji yang sudah tak sabar itu menarik tubuh sang istri ke ranjang, mereka kembali melakukan ibadah suami istri di pagi hari sebelum memulai aktivitas.


💕💕💕


Di kantor.


"May,  nanti ada meeting sehabis makan siang. Laporannya udah disiapin?" tanya Monik yang baru saja datang.


Maya mencari file laporan yang sudah ia buat kemarin di dalam draft komputernya.


"Udah, nih."


"Ya udah, loe print gih. Di tunggu Pak Reza katanya, mau dicek."


"Kenapa harus diprint dulu, nanti sayang kalau salah nge-print lagi dong."


"Duh,  gue nggak tau. Kemarin dia mintanya begitu. Emang nggak bilang sama loe?"

__ADS_1


"Enggak."


Akhirnya Maya mengerjakan apa yang dikatakan Monik. Ia berjalan ke arah printer besar di ujung ruangan. Menunggu hasil laporannya yang baru saja ia print.


Selesai, ia mengambil kertas lembaran dari dalam benda di hadapannya itu. Menatanya dan membawa kembali ke meja kerja.


Brugh!


Tubuhnya tiba-tiba tersenggol. Kertas yang ia bawa berceceran di lantai. Refleks ia jongkok untuk mengambil satu persatu kertas tersebut, orang yang menabraknya pun ikut membantu.


Saat ia hendak mengambil kertas terakhir yang berada di dekat sepatu orang yang menabraknya, tangannya tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan itu. Seorang pria yang baru saja menabraknya tersenyum kecil.


"Maaf, Mbak Maya. Saya nggak sengaja." Pria itu memberikan kertas lembaran terakhir pada Maya.


"Iya,  Pak Reza."


"Eum,  Kamu bisa ke ruangan saya sekarang?"


"Sebentar ya, Pak. Sekalian saya mau ngasih laporan ini sama Bapak."


"Okey,  saya tunggu kamu di ruangan saya ya."


Reza melangkah menjauh menuju ruangannya.


💕💕💕


Maya masuk perlahan ke ruangan Reza, bos barunya itu. Ternyata kehadirannya sudah ditunggu di sana. Reza terlihat sedang duduk di sofa, di hadapannya sudah banyak berkas yang akan ia bahas saat meeting nanti.


"Mbak,  masuk!" pintanya saat melihat Maya berdiri di depan pintu.


"Duduk, Mbak!" ujarnya lagi.


Maya menurut, ia dudul tak jauh dari pria itu.


"Ini laporannya, Pak." Maya menyodorkan map berwarna hijau pada Reza.


Tangan pria itu sengaja memegang tangan Maya, cepat Maya menarik tangannya.


"Maaf," ucap Reza seraya tersenyum nakal.


"Saya permisi." Maya bangkit dari duduknya.


Tangan Reza lebih cepat meraihnya kembali, sehingga Maya duduk lagi di sofa.


"Maaf,  Pak. Jangan perlakukan saya seperti ini. Saya sudah bersuami, tak sopan rasanya Bapak bersikap seperti ini," ujar Maya geram.


"Maaf, maaf. Mbak mau ke mana sih? Kita harus bahas ini." Reza mengangkat berkas yang tadi dibawa Maya.


"Tapi bukan begini caranya, Bapak bisa bicara baik-baik."


"Okey,  maaf."


Maya menarik napas pelan, ia lantas merapikan duduknya. Menatap ke meja yang penuh berkas. Reza menjelaskan perlahan perihal perjanjian kontrak dengan mitra kerja mereka yang baru, juga beberapa vendor yang akan bekerjasama.


"Mbak,  maafin saya, Ya. Mbak Maya terlalu cantik, jadi saya khilaf." Reza menunduk memohon maaf.


"Jangan diulangi lagi, saya bisa laporkan Papa, dan kami bisa dikeluarkan dari sini!" ancam Maya.


"Jangan dong, Mbak. Saya masih punya orang tua yang harus saya hidupi."


"Makanya jangan kurang-ajar."


"Iya,  Mbak. Sebagai permintaan maaf saya. Gimana kalau kita makam siang bareng?"


Maya diam, kebetulan memang tadi dia tidak bawa bekal makan siang, karena tidak cukup waktu untuk menyiapkan semuanya. Di mana ia harus mandi dua kali sebelum berangkat ke kantor.


"Gimana, Mbak? Saya yang traktir deh, teman Mbak juga boleh ikut kok."


Maya hanya menelan ludah.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


bersambung


__ADS_2