Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
Takdir cinta


__ADS_3

💗Madji💗


Anggaplah konflik di sini selesai, masalah Sean, juga Reza.


Terkadang kita memang tak perlu bersusah payah mengotori tangan untuk membalas perbuatan jahat seseorang. Percayalah, Allah senantiasa bersama kita. Dia yang tak pernah tidur sudah menyiapkan skenario indah untuk orang-orang yang beriman. Semoga kita termasuk orang-orang yang di dalamnya. Aamiin.


💗💗💗


Toko buku gramedia menjadi pilihan untuk pasangan Maya dan Adji bermalam mingguan. Sebenarnya sih masih siang, mereka pergi sambil mencari tempat makan siang yang cocok sebelum berkelana di rak-rak penuh buku.


Maya berjalan bersisian dengan sang suami, mereka tal bergandengan tangan atau pun rangkulan seperti pasangan lainnya. Hanya sesekali saling pandang dan tersenyum.


Menaiki eskalator menuju ke lantai tiga, tempat di mana novel, komik, dan buku lainnya berada. Karena untuk lantai duanya khusus untuk buku anak. Dan lantai satu khusus untuk alat tulis kantor.


"Bang, aku ke bagian novel, ya." Maya menepuk bahu suaminya meminta izin untuk ke arah rak berisi novel yang berada di pojok ruangan sebelah kanan.


"Ya udah, aku ke sana, ya. Ada buku yang mau kucari."


Mereka pun berpisah sejenak. Menuju rak-rak besar yang berisi buku pilihan mereka. Maya berjalan ke arah novel islami. Puluhan judul terpajang di sana. Satu judul menarik perhatiannya. "Menanti Buah Hati."


Sekilas ia baca blurb yang berada di bagian belakang novel tersebut. Mengisahkan sepasang suami istri yang sudah menikah hampir delapan tahun dan belum dikaruniai seorang anak. Di saat mereka hampir putus asa, Allah akhirnya memberikan kepercayaan itu di tahun pernikahan yang ke sembilan dengan sepasang bayi kembar.


Bibir Maya tertarik ke samping, lalu mengusap-usap perutnya. Namun, ia tak mengambil novel tersebut untuk dibeli. Ia justru berjalan ke arah rak lain yang berisi buku-buku tentang kehamilan.


Satu persatu buku yang berbaris ia baca judulnya, ia pun tersenyum saat melihat satu buku yang dicarinya. "Tips Dahsyat Cara Alami untuk Cepat Hamil."


Diambilnya buku tersebut, Maya tak jadi membeli novel atau buku lainnya. Hanya buku itu yang ia butuhkan. Karena, ia merasa iri saat melihat rekan kerjanya yang baru sebulan menikah langsung hamil, sementara dirinya? 


Maya pun mencari sang suami ke bagian lain. Dilihatnya Adji tengah berbincang akrab dengan seorang wanita berjilbab. Ia hanya mengernyit, wanita berhidung mancung itu tak pernah dilihatnya. Bahkan bukam wanita yang pernah datang menjenguk suaminya saat di rumah sakit. Tapi, bisa saja kan kalau itu adalah tan kuliahnya yang lain.


Tak ingin berprasangka buruk seperti yang sudah-sudah, Maya pun berjalan mendekati suaminya.


"Bang," panggil Maya lirih.


Wanita di hadapannya tersentak, begitu juga dengan Adji. "Eh, kamu udah cari bukunya?" tanya Adji.


"Udah."


"Buku apa?"


Maya tak memberitahu buku apa yang ia pegang. Ia memeluknya di depan dada, malu kalau sampai wanita di depannya itu tahu dirinya sedang mencari buki soal kehamilan.


"Siapa?" tanya Maya mengalihkan pembicaraan.


"Oh, eum, i-ini, Nabila. Temanku waktu sekolah," jawab Adji gugup.


Kedua wanita itu berjabat tangan. Wanita berna Nabila itu memperhatikan Maya dari atas sampai bawah, lalu ia tersenyum kecil.


"Siapa kamu, Yu?" tanya Nabila pada Adji.


"Oh, istri saya."


Nabila hanya mengangguk, ia tak percaya pria yang pernah satu sekolah dengannya itu ternyata sudah menikah. Padahal usia mereka masih terbilang muda.


"Wah, selamat, ya, Yu. Aku nggak nyangka kamu malah sudah menikah." Nabila tersenyum ke arah mereka berdua.


"Oh iya, Yu, aku mau ke bawah dulu, ya." Nabila pun berpamitan pada mereka.


"Iya, hati-hati," ucap Adji pada wanita yang sudah berjalan menjauh.


Adji menatap kepergian Nabila sampai ia turun tangga eskalator. Ada sebersit rasa rindu akan wanita teman sekolahnya itu. Karena wanita itu yang membuatnya mengenal Islam, wanita itu yang pernah mengisi hatinya dulu, wanita itu juga yang selama ini ingin ia temui.


Adji menghela napas pelan, menunduk, sesal di hatinya karena tak sempat menanyakan nomor ponsel Nabila. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, dan juga ceritakan pada wanita itu.


💗💗💗


Tepat pukul 20.00 wib Denis duduk termenung di ruang keluarga. Televisi yang sejak tadi menyala bahkan tak ditontonnya. Ia menerawang ke langit-langit, hatinya masih belum bisa menentukan, apakah ia benar-benar akan melamar Arin, atau tidak.


Jujur dirinya begitu menyayangi gadis itu, bahkan mencintainya. Namun, ia belum yakin jika melamarnya dalam waktu dekat. Pastinya nanti akan dibicarakam juga waktu pernikahan. Ia belum siap, padahal teman-teman seusianya sudah banyak yang memiliki anak.


"Den, ada masalah?" Hardi yang sejak tadi memperhatikan putranya itu pun penasaran.


Saat makam malam tadi, Denis terlihat murung dan seperti tak bersemangat. Makanya Hardi ingin menyelidikinya.


"Aku bingung, Pah."


"Kenapa? Kerjaan?"


"Bukan, Arin."


"Arin? Pacar kamu?"


"Bukan, Pah. Aku ditolak waktu nikahan Maya. Eh sekarang bapaknya malah nyuruh aku ngelamar dia cepet-cepet."


"Wah, Bagus itu. Kapan? Papa siap, kok. Mumpung Papa di rumah. Inget umur, Den."

__ADS_1


"Yah, si Papah malah ngeledek aja. Nggak tahu, Pah. Aku harus bicara dulu sama Arinnya. Dia beneran serius nggak mau nikah sama aku. Apalagi dia masih kuliah, Pah."


"Ya sudah, kalian bicarakan saja. Papa selalu siap pokoknya."


"Makasih, Pah."


Hardi lalu beranjak dari duduk dan berjalan ke arah kamarnya. Sementara Denis masih memikirkan bagaimana caranya meyakinkan diri sendiri untuk menikah. Paling tidak dua sudah tahu kalau papanya mendukung.


💗💗💗


Hujan deras mengguyur malam mingguan Adji dan Maya, mereka terjebak di sebuah restorant cepat saji. Menanti hujan reda sambil menikmati lemon tea hangat. Makanan mereka sudah habis sejak setengah jam yang lalu.


Maya mengusap-usap telapak tangannya karena dingin, sang suami yang melihat langsung meraih dan menggenggam tangannya. Adji mengulum senyum, lalu istrinya itu menyandarkan kepala ke bahunya. Mencoba mencari kehangatan. Tak peduli dengan pengunjung lain di sekitar mereka.


"Aku mau tanya, boleh?" tanya Maya.


"Ngomong aja."


"Nabila itu, mantan kamu?"


"Bukan, tapi, dia adalah orang pertama yang memotivasi aku untuk lebih mengenal Islam."


"Oh ya?" Maya mengangkat kepalanya menatap sang suami.


"Kamu suka sama dia?" tembak Maya.


Adji tersenyum kecil. "Mungkin aku pernah menyukainya, tapi itu dulu sebelum bertemu dengan kamu. Kamu cemburu lagi?"


"Ternyata masa lalu kamu masih berkeliaran."


"Masa lalu aku semua tinggal kenangan. Hanya dia kenangan terindahku, meskipun kami tak pernah menjalin hubungan. Tapi, karena dia, mengantarkanku untuk memeluk agama yang sama denganmu. Jadi, aku bisa nikahin kamu deh."


Maya kembali tersipu, benar saja yang dikatakan sang suami. Seandainya saja dulu dia tak mengubah keyakinannya, dan menjadi seorang mualaf. Mungkin dia tak akan pernah bertemu dengan suaminya itu. Atau mungkin dirinya sudah mati terlindas kereta waktu itu. Takdir, takdir yang telah menyatukan keduanya.


"Aku takut," ucap Maya lirih.


"Takut apa sih, Yank?"


"Kehilangan kamu."


"Ya enggak lah, aku nggak akan ninggalin kamu, mana ada sih yang mau sama seorang pemulung kaya aku? Cuma kamu." Adji menarik hidung istrinya gemas.


"Ya tapi, kan, kamu ganteng, Bang. Sekarang udah bukan pemulung lagi."


"Ya kalau aku ninggalin kamu, berarti aku nggak kerja lagi di kantor papa, ya palingan aku balik jadi pemulung. Mana mau cewek-cewek itu sama aku."


"Astaghfirullah, Mayang. Untung di tempat umum, kalo di rumah udah kuuwel-uwel kamu." Adji gemas dan mencubit pipi sang istri.


"Sakit, Bang."


"Suka tapi, kan."


Maya tersenyum kecil. Bahagia yang ia rasakan saat ini. Semua sudah terjawab, hatinya tak lagi bertanya-tanya tentang siapa wanita berjilbab bernama Nabila tadi. Ia yakin dan percaya seratus persen dengan suaminya, kalau ia akan Setia padanya begitu pula dengan dirinya.


Adji yang sekarang memang berbeda dengan Adji setahun lalu. Di mana saat pertama kali mereka bertemu. Maya merasa suaminya itu semakin dewasa dan bertanggung jawab. Padahal usianya masih terbilang muda, bahkan jauh di bawahnya.


💗💗💗


Tiga bulan telah berlalu, Maya merasakan tubuhnya tidak enak badan. Suara adzan subuh yang berkumandang sejak tadi tak mampu menggerakkan tubuhnya. Perut bawahnya terasa ngilu, hampir seluruh tubuhnya sakit.


"Sayang, kamu nggak sholat?" Adji yang baru dari kamar mandi untuk berwudhu itu melihat istrinya masih terbaring di ranjang.


Tak ada sahutan dari mulut Maya, tubuhnya menggigil, sementara Adji yang tak memperhatikan langsung mengambil sarung dan peci untuk sholat berjamaah di masjid.


"Ya udah, aku ke masjid dulu, ya."


Adji pun melangkah keluar rumah. Sang istri hanya menatap dari ranjangnya. Ia ingin bilang kalau tubuhnya sakit setelah sang suami kembali dari masjid.


Sambil menunggu suaminya pulang dari masjid. Maya mencoba bangun dan turun dari ranjang. Dengan tertatih ia melangkah ke arah dapur untuk mengambil segelas air putih. Setelah minum, ia merasa perutnya seperti penuh dan bergejolak. Tanpa pikir panjang ia berlari ke kamar mandi.


"Hoek, hoek." Maya memuntahkan isi perutnya.


Ia mengusap rambutnya ke belakang yang basah karena keringat. Lalu menyiram bekas muntahannya yang hanya air saja. Berkali ia muntah, karena rasa mual menjalar di tubuhnya.


Merasa enakan, Maya pun berjalan kembali masuk ke dalam setelah selesai berwudhu. Sholat subuh ia tunaikan sendiri, sambil menahan rasa mual yang masih terasa. Selesai sholat suara salam terdengar di hadapannya.


"Assalamualaikum," sapa Adji saat masuk ke kamar.


"Waalaikum salam," jawab Maya seraya bangkit dari duduk dan menyalami sang suami. Namun, seketika tubuhnya limbung dan nyaris jatuh jika tangan Adji tak sigap menangkap tubuhnya.


"May, kamu nggak apa-apa?  Kamu kenapa, May? Kamu sakit? Astaghfirullah, badan kamu dingin banget ini. Baju kamu juga, kamu kenapa?" Adji panik melihat wajah istrinya yang pucat.  Ia pun membaringkannya ke atas ranjang.


Adji membuatkan teh hangat untuk sang istri. Lagi-lagi, baru setengguk diminum, Maya kembali memuntahkan isinya.


"Masuk angin kamu, ya?" tanya Adji mengusap kening sang istri.

__ADS_1


Maya hanya menggeleng lemah. Ia tak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Tubuhnya benar-benar lemah. Bahkan ia mengingat makanan apa yang semalam dimakannya, sampai muntah-muntah seperti itu.


"Nanti kita ke dokter, ya. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Sekarang kamu istirahat dulu. Aku buatin bubur biar perut kamu isi dan nggak perih." Adji kembali mengusap kepala sang istri dan mengecup keningnya lembut.


💗💗💗


"Selamat, ya, Pak. Istri Bapak hamil," ucap seorang dokter wanita yang baru saja selesai memeriksa kondisi Maya.


Dokter berjilbab itu menyalami Adji, senyum mengembang di wajah keduanya. Adji langsung memeluk erat sang istri, matanya berbinar dan mengusap lembut perut istrinya yang masih rata itu.


"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya aku berhasil, sebentar lagi aku jadi ayah," ucap Adji haru.


"Makasih, ya, Sayang." Adji mengecup wajah sang istri bertubi-tubi  saking senangnya. Bahkan ia tak malu melakukannya di depan sang dokter.


Adji dan Maya kembali duduk di hadapan dokter.


"Memangnya kalian menikah sudah berapa lama?" tanya sang dokter.


"Setahun lebih, Dok."


"Owh, pantas. Kalian menikah muda, ya? Senangnya …." Sang dokter tersenyum ikut bahagia melihat pasangan yang tengah bahagia tersebut.


Keduanya hanya tersenyum kecil.


"Pak, Adji. Kandungan Ibu Maya lemah, jadi dua harus bedrest. Nggak boleh bekerja berat dahulu, nanti saya beri vitamin penguat kandungan," jelas sang dokter.


"Owh,  begitu, ya, Dok? Tapi semuanya normal, kan?"


"Alhamdulillah semua normal, dan kandungan Ibu Maya ini sudah masuk tujuh minggu. Sekali lagi selamat, ya, buat Ibu Maya dan Bapak Adji. Ini resep vitamin yang harus ditebus." Dokter menyerahkan kertas resep untuk Maya.


"Terima kasih, Dok." Maya dan Adji menyalami dokter tersebut sebelum keluar dari ruangannya.


Adji mengajak Maya duduk di kursi tunggu, menunggu panggilan dari arah apotek. Sedari keluar ruangan dokter, Adji tak henti menggenggam erat tangan istrinya dan sesekali menciumnya.


Maya yang melihat merasa bahagia, ia juga merasa telah berhasil menerapkan tips-tips dari buku yang pernah dibelinya. Dari buku itu ia mulai belajar hidup sehat, mengatur pola makan, pola tidur bahkan posisi saat berhubungan. Juga mengatur jadwal masa subur, meskipun terkadang suka ada yang kelewat harinya untuk tidak melaksanakan ibadah suami istri. Karena suatu sebab, seperti suaminya yang kelelahan seharian kerja belum lagi sepulang kerja harus kuliah juga.


Tak lama kemudian suara speaker terdengar menyebut nama Adji, ia pun melangkah ke arah depan. Mengambil vitamin dan menyelesaikan transaksi lalu kembali ke kursi sang istri.


"Ayo, Sayang. Kita pulang."


Mereka berdua melangkah menuju keluar rumah sakit. Masih dengan hati yang berbunga dan berbahagia mendengar kabar kehamilan sang istri, Adji berjalan hati-hati mengikuti langkah istrinya.


Perasaannya tak pernah sebahagia itu, bagi Adji hal terindah yang ia dapatkan saat ini ketika ia akan segera dinobatkan menjadi seorang ayah muda. Tak bisa dibayangkan saat anak itu lahir, lalu tumbuh besar dan bermain bersama, memanggilnya dengan sebutan ayah. Seandainya saja ayahnya masih hidup, pasti ia akan bahagia juga. Memiliki cucu darinya, anak yang hampir dibakar kala itu kini akan memilik anak.


"Bang, itu bukannya Pak RT?" tanya Maya menunjuk ke arah depan UGD.


Adji seketika menoleh. "Iya, siapa yang sakit, ya?"


Maya menggeleng, Adji pun mengajak istrinya untuk mendekat ke arah Pak RT mereka yang sedang terlihat cemas berjalan mondar-mandir di depan ruangan tersebut.


"Maaf, Pak. Siapa yang sakit?" tanya Adji.


Cahyo menoleh saat Adji bertanya padanya. "Ka-kalian ngapain di sini?" tanyanya.


"Eum, ini, Pak. Alhamdulillah istri saya sudah hamil. Bapak sendiri ngapain di sini? Siapa yang sakit?"


"Wah, selamat, ya, Nak Adji, Mbak Maya. Sa-saya di sini karena, Arin …." Cahyo mengusap wajahnya yang pucat.


"Arin? Kenapa, Arin?"


"Tadi dia terpeleset di kamar mandi, kemungkinan kepalanya terbentur pinggiran wc.  Dia pingsan, udah satu jam di dalam, dokter belum keluar."


"Astaghfirullah. Yang sabar, Pak."


"Makasih, Nak Adji."


Adji menyuruh istrinya untuk duduk di kursi tunggu. Dirinya juga ikut cemas mendengar kabar tersebut, bagaimana tidak, Arin sudah dianggapnya saudara sendiri, bahkan keluarga Pak Cahyo itu seperti keluarganya. Padahal baru seminggu yang lalu acara lamaran berlangsung di kediamannya. Dan gadis itu terlihat begitu cantik saat menyambut kehadiran calon suaminya.


Lima belas menit mereka bertiga menunggu, akhrinya seorang dokter dan suster keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Cahyo cemas.


Adji dan Maya ikut berdiri di hadapan dokter menunggu hasil pemeriksaan. Dokter itu menatap erat ayah Arin. Lalu mengembuskan napas pelan.


"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ada pembuluh darah yang pecah di bagian belakang kepala putri bapak, mengakibatkan kerusakan syaraf di bagian kepala. Hingga putri bapak tak terselamatkan," jelas sang dokter.


"Maksud dokter?" Kedua mata Cahyo mulai memerah. Mencoba menahan air matanya yang hendak tumpah. Ia masih berharap apa yang didengarnya barusan adalah salah.


"Putri bapak meninggal dunia."


"Innalillahi wa innailaihi roji'un."


💗💗💗


End.

__ADS_1


Terima kasih yang telah mengikuti kisah ini sampai di akhir.


__ADS_2