Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
32


__ADS_3

💗💗💗


Akhirnya mereka pulang naik bajaj, taxi yang Adji janjikan tak kunjung lewat. Padahal sebenarnya tidak ada ongkos.


Sesampainya, Adji membawa sang istri masuk ke kamarnya.


"Kamu istirahat, ya. Aku buatkan teh hangat dulu," ucap Adji seraya membaringkan tubuh maya di ranjang.


Maya hanya mengangguk. Adji melepas kaosnya yang basah dan kotor,  hingga terlihat jelas tubuh kekarnya yang bertelanjang dada. Otot ditangannya pun ikut menonjol saat ia berusaha melepas juga celana panjangnya yang kotor terkena tanah.


Maya yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa menelan ludah, tubuh kotak-kotak suaminya membuat darahnya berdesir. Bahkan pandangannyapun tak beralih.


"Kamu liatin apa?" tanya Adji yang merasa diperhatikan.


Maya tersipu, ia membalik tubuhnya membelakangi Adji yang kini hanya mengenakan celana pendek saja. 


Adji tersenyum kecil,  lalu beranjak ke kamar mandi,  mencuci muka dan berwudhu. Lalu ke dapur membuatkan teh manis hangat untuk sang istri tercintanya.


"Ini diminum." Adji duduk di tepi ranjang. 


Maya lalu duduk menerima secangkir teh buatan suaminya  menyesapnya pelan. Sementara Adji mengambil baju ganti, lalu memakai sarung dan menggelar sajadah. Ia melaksanakan sholat dzuhur.


Sekujur tubuh Maya masih terasa pegal, bagaimana tidak, ia sempat berguling di aspal, beruntung tidak ada kendaraan yang lewat di belakangnya tadi. Kalau ia tidak nekat keluar dari mobil Denis, mungkin saat ini ia tak bisa bersama suaminya.


"May, Maya!"


Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. Ia kenal betul suara itu. Mas Denis datang. Ia bingung harus bagaimana, Adji masih sholat. Sedangkan kakinya masih sedikit sakit untuk dipaksa berjalan.


"Adji,  Adji!  Maya!  Gue tahu kalian ada di dalam."


Denis berteriak-teriak diluar sana. Maya semakin cemas. Ia takut warga akan berdatangan karena ulah kakaknya itu.


Adji telah selesai sholat,  ia lalu berdoa sejenak dan bangkit. "Biar aku yang temui kakak kamu, kamu diam-diam saja di sini!" pintanya. Maya hanya mengangguk lemah. Perutnya terasa perih,  sejak kemarin malam belum terisi apa pun.  Hanya air mineral saja yang sempat membasahi kerongkongannya.


Ia ingat,  kalau mau makan ia harus masak dulu. Sementara tubuhnya begitu lemah. Kalau beli,  kasihan Adji,  entah masih ada sisa uang atau tidak. Karena sudah terpakai untuk biaya pengobatan juga ongkos pulang. Air matanya merembes ke pipi. Cepat ia hapus sebelum Adji kembali.


"Mana adek gue,  Maya!" suara keras Denis membuat Maya penasaran. 


Di pintu depan Denis dan Adji saling beradu pandang, mata Denis tersirat kemarahan,  yang sebenarnya adalah rasa cemas pada sang adik.


"Ada, Mas. Maya baik-baik saja," jawab Adji lirih.


Denis tak percaya begitu saja,  ia jalan menerobos masuk dan mendorong Adji yang berdiri di tengah pintu ke arah samping.


"Maya,  Maya!" teriak Denis yang sudah masuk ke kamar.


Ia mengembuskan napas kasar saat melihat adiknya terbaring lemah di atas dipan kayu yang hanya beralaskan tikar. Ia pun melangkah menghampiri dan duduk di tepi ranjang bawah kaki Maya.


Denis mengetuk-ngetuk tangannya ke dipan kayu lalu menggeleng. "Loe tidur di sini?" tanyanya tak percaya.


Ia mengedarkan pandangnya ke sekeliling kamar Adji.


"Ck, ck, ck. May, May. Kok mau sih loe idup susah?" Denis berdecak kesal.


Maya hanya menunduk. Adji menatap dari depan kamarnya kedua kakak beradik yang sedang berbincang itu. Hatinya sedikit sakit dengan ucapan Denis barusan, bukan maksud dia untuk mengajak istrinya hidup susah. Namun,  memang keadaannya seperti itu, dan Maya tahu betul.


"Gue baik-baik aja kok, Mas." Maya berusaha tersenyum.


Denis tersenyum miring. "Loe mau ngomong apapun,  gue nggak percaya kalau keadaan loe masih kaya gini. Gue ke sini cuma mau kasih ini. Muka loe pucet, loe pasti belum makan kan? Gue nggak mau liat adik gue kurus kering dan mati kelaparan.  Oh iya,  dia kalau mau,  suruh beli sendiri!" ucap Denis menunjuk ke arah Adji. Lalu ia bangkit.


"Mas,  tunggu!" panggil Maya saat Denis hendak melangkah keluar kamar.


Denis menoleh. "Kenapa? Kurang?"


"Mending loe bawa lagi makanan ini. Gue nggak butuh belas kasihan dari kakak kaya loe." Maya berusaha bangkit lalu memberikan plastik berisi makanan kesukaannya ayam mekdi ke tangan Denis.


"Tapi,  May. Gue ikhlas ini buat loe!"


"Enggak! Gue makan yang suami gue makan. Mending loe pulang deh, tambah pusing kepala gue liat loe, Mas." Maya kembali berbaring membelakangi Denis.


Denis mendengkus kesal,  ia lalu berjalan keluar menubruk tubuh adik iparnya,  dan memberikan makanan tadi ke dada Adji.


"Nih makan!  Kasih bini loe! Kalau nggak mau buang aja. Gue tahu loe juga laper,  dan tahu hukumnya membuang makanan." Denis ngeloyor pergi.


Adji meremas bungkusan berisi makanan itu. Perih sekali rasanya dihina oleh kakak ipar sendiri. Ia tak melarang Denis untuk memperhatikan adiknya. Tapi bukan dengan cara merendahkannya. 


Adji melangkah ke dapur mengambil piring juga air untuk minum. Membawanya ke kamar.


"Sayang,  kamu makan dulu, ya. Trus obatnya diminum lagi." Adji mengusap punggung sang istri lembut.


Maya menoleh dan tersenyum. "Kamu juga makan. Aku nggak mau kalau makan sendiri."

__ADS_1


"Iya,  aku suapin,  ya." Adji membuka bungkusannya.


"Kamu juga aku suapin."


"Maaf,  ya, May. Bahkan untuk membelikan makanan kesukaan kamu aja aku belum mampu," ucap Adji lirih.


"Udah lah,  aku bisa makan apa aja,  yang penting sama kamu." Maya berusaha untuk tersenyum dan tak ingin membuat hati suaminya bersedih.


Mereka makan berdua dengan saling suap-suapan.  Sesekali Adji menyibak rambut istrinya yang panjang ke belakang telinga,  agar tidak menutupi wajah.  Maya pun tak segan mengusap bibir suaminya yang belepotan saus.  Mereka saling bercanda, menikmati kesederhanaan.


"Habis ini aku mau keliling dulu. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri?" tanya Adji seraya menuang air ke gelas.


"Jangan pulang malem-malem."


"Iya, kamu jangan kerja macem-macem. Istirahat aja."


"Iya,  zheyank."


Adji mengernyit.


"Zheyank?  Kamu ngomong apa sih?" tanya Adji bingung.


"Sayang maksudnya,  heheheh."


Adji mencubit gemas hidung sang istri.


"Cubit doang?" goda Maya.


Adji mendelik, "maunya apa?"


Maya memajukan bibir mungilnya, Adji terkekeh. Lalu mendekatkan wajahnya ke arah sang istri.


Cup.


Kecupan hangat mendarat di bibir Maya, lalu Adji mengacak rambut istrinya lembut seraya berbisik. "Aku berangkat ya,  Zheyank."


"Hahaha." Maya terbahak mendengar suaminya ikut mengucap kata zheyank.


"Dji!" panggil Maya lagi saat Adji melangkah ke arah pintu.


Adji menoleh, "apa? Kurang?"


"Kamu mau keliling pake sarung?" tanya Maya lagi.


"Oh iya lupa,  nanti dulu. Aku naruh piring sama gelas ke dapur dulu,  baru ganti baju."


Maya tersenyum bahagia melihat suaminya yang begitu perhatian dan menyayanginya. Begitu pula dengan Adji. Ia beruntung mendapatkan istri yang baik, dan mengerti akan kondisi hidupnya.


****


Kali ini Adji keliling membawa gerobaknya. Berharap ia akan mendapatkan banyak barang bekas nantinya.  Karena kebutuhannya saat ini bukan hanya untuk sendiri, tapi juga berdua. Otomatis pengeluaran pun bertambah.


Minggu depan ia kembali kerja di bengkel dari pagi sampai sore. Hari libur lebaran kemarin si pemilik bengkelnya pulang kampung, jadi liburnya agak lama.


Rumah demi rumah ia singgahi,  tempat sampah besar ia buka. Demi mencari botol,  kerdus atau benda lainnya yang bisa dijual ke pengepul.


Pencariannya hari ini cukup lumayan,  ada bekas kipas angin rusak yang masih bagus dan mungkin sebenarnya masih bisa diservis. Namun,  pasti pemiliknya malas untuk memperbaiki,  karena punya uang dan lebih baik membeli. Adji membungkus kipas berukuran sedang tersebut untuk dibawa pulang.


Dari kejauhan Adji melihat seorang wanita yang sedang kesusahan membawa keluar sebuah kasur busa berukuran sedang menuju tempat sampah.  Adji berlari ke arah manita paruh baya itu.


"Maaf,  Bu. Kasurnya mau dibawa ke mana? Biar saya bantu?" tanya Adji.


"Owh,  ini mau saya buang, Dek."


"Loh,  kok dibuang, Bu?  Ini masih bagus loh."


"Iya,  Dek. Tapi nggak ada yang mau pakai, soalnya bekas almarhum ibu saya kemarin yang baru meninggal. Pada takut katanya. Makanya mendingan dibuang."


"Astagfirullah, orang yang sudah meninggal itu alamnya sudah berbeda dengan kita, Bu. Kenapa mesti takut."


"Yah namanya takut,  ya takut aja."


"Kalau kasurnya buat saya, boleh, Bu?" tanya Adji.


"Boleh,  bawa aja,  Dek. Kamu bawanya pakai apa?"


"Gerobak saya di sana, Bu."


"Owh,  yasudah bawa saja. Nggak apa-apa. Oh iya di dalam juga ada sofa yang nggak kepake,  kamu juga?" tanya wanita itu.


Adji mengangguk cepat.

__ADS_1


"Tapi kamu ambil sendiri di dalam ya!"


"Iya,  Bu. Iya.  Makasih banyak."


Adji berlari mengambil gerobaknya, hatinya bersorak. Rezeki memang selalu ada dari arah yang tidak ia duga dan tanpa disangka-sangka. Benar seperti yang Allah janjikan. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan hasil yang setimpal.


***


Maya memaksakan dirinya untuk ke dapur. Memasak makanan sederhana untuk suaminya.  Berhubung kemarin Adji sudah sempat memberikan sayur mayur juga bumbu.  Ia langsung mengeksekusi dengan melihat resep dari ponselnya.


Sayur bayam,  tempe dan tahu goreng juga sambal terasi.  Agak sedikit keasinan saat ia mencoba menyicip kuah sayurnya.  Tapi kalau dimakan pakai nasi,  rasanya pas.  Ia juga mulai membiasakan diri memasak nasi tanpa mejikom. Berhasil, jelas karena kemarin Adji mengajarinya dengan contoh dan takaran yang pas.


"Assalamualaikum."


Suara dari arah luar terdengar. Maya yang sedang duduk di ruang tamu hendak bangkit membuka pintu.  Namun,  Adji lebih dulu membuka pintunya. Ia terkejut melihat istrinya di luar,  tidak di kamar.


"Kok kamu di sini?"


Maya hanya tersenyum seraya mencium punggung tangan suaminya.


Adji duduk lalu meraih air minum yang sudah disediakan sang istri. Ia minum perlahan.


"Ini kamu yang masak?" Adji menatap tak percaya melihat hidangan yang tersaji di meja.


Maya mengangguk.


"Ngapain sih repot-repot, padahal aku mau ngajak kamu makan di luar."


"Emang kamu punya uang?"


"Punya,  nih. Yah cukup lah kalau cuma makan nasi goreng di ujung jalan." Adji menunjukkan lembaran uang yang dia ambil dari saku celananya.


"Udah,  uangnya kamu simpan aja buat besok-besok."


"Kamu yang pegang ya." Adji memberikan seluruh uang hasil jerih payahnya hari ini pada sang istri.


"Tapi, Dji."


"Udah,  kan kamu yang jadi manager keuangannya sekarang. Hehehe."


Maya tersenyum, ia baru tahu begini rasanya mempunyai suami yang mempercayainya untuk mengelola keuangan. Meskipun ia sering mendapat gaji tiap bulan dari kantornya, tapi yang ini rasanya berbeda. Kaya ada manis-manisnya gitu.


"Kamu udah makan?" tanya Adji.


Maya menggeleng.


"Ya sudah,  kita makan bareng lagi, ya. Oh iya mulai malam ini kita nggak tidur di tikar yang keras itu lagi."


Maya yang sedang menyendokkan nasi untuk suaminya itu seketika menoleh, menatap erat Adji.


"Kamu beli kasur?"


Adji menggeleng. "Enggak." Ia pun menceritakan semuanya pada Maya. Di mana ia mendapatkan kasur juga sofa. Perjalanan siang tadi yang cukup panas memang membuatnya kelelahan. Tapi, untul hasilnya cukup memuaskan.  Karena masih banyak yang mengadakan halal bihalal setelah lebaran, dan di sana harta karun menumpuk,  plastik air mineral bekas yang berserak.


Adzan Isya berkumandang, berbarengan dengan kedua insan yang baru saja selesai makan malam.


"Alhamdulillah," ucap Adji lirih sambil menaruh gelas kosong di meja.


"Alhamdulillah, enak nggak masakan aku?" tanya Maya menatap cemas suaminya.


"Enak,  aku tahu kamu masaknya pakai apa."


"Jadi malu." Maya tersipu,  karena Adji audah pasti bisa menebak kalau dirinya nyontel resep dari ponsel.


"Eum,  pakai Cinta kan?" Adji menowel dagu sang istri. Dan itu membuat wajah Maya semakin memerah.


Maya tersenyum kecil malu-malu. Ternyata suaminya itu pintar sekali membuatnya merasa melayang ke udara. 


Adji membantu sang istri, ia yang membawa piring dan gelaa kotor ke dapur. Setelah itu ia pun membawa kasur tadi ke kamarnya,  juga kipas angin.


Memasang kasur di atas dipan, dan ukurannya ternyata masih lebih luas dipannya. Tapi cukuplah untuk mereka tidur berdua,  minimal sang istri tak akan merasakan sakit sekujur tubuhnya karena dipan keras itu. 


Adji memasangkan seprai,  sementara Maya menyiapkan pakaian ganti untuknya. Setelah semua rapi,  Adji lalu beranjak pergi mandi. 


Malam kian merangkak naik,  suara jangkrik masih terdengar dari samping rumah di semak-semak dan ilalang yang memenuhi belakang rumah besar itu.


Maya menatap wajah lelah suaminya yang sudah tertidur selepas sholat isya tadi.  Ia mengusap wajah itu lembut dan mengecup pipinya.  Lalu ia menyusup di bawah ketiak dan memeluk sang suami erat.


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2