Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
19


__ADS_3

      Sore menjelang, rintik-rintik air mulai turun dari langit. Mendung dan gelap. Sesekali suara petir terdengar. Maya berlari menuju taksi online yang dipesannya sambil menutup kepala dengan tas kerja.


"Huft ...." Ia menghela napas pelan, saat tubuhnya sudah duduk di kursi belakang mobil.


Mobil lalu melaju ke arah tujuannya. Ia hendak ke rumah Adji menyampaikan pesan sang ayah kemarin malam.


Ia memandang ke arah luar jendela, jalanan padat karena hujan makin deras. Terlihat orang-orang berlarian menyelamatkan diri dari air yang turun secara keroyokan itu. Menghindari tubuh mereka agar tidak kebasahan. Mereka berteduh di pinggiran toko atau halte pinggir jalan.


Matanya tertuju pada sebuah motor yang berhenti tepat di sebelah mobil yang ia tumpangi. Dua makhluk berlawanan jenis duduk di atasnya. Sang pria mengusap tangan wanita yang melingkar di pinggangnya. Sang wanita menyusupkan kepalanya di belakang punggung. Sungguh romantis. Maya tersenyum kecil, lalu menunduk.


Ia jadi kepikiran, kenapa ia tidak membelikan Adji motor saja. Agar Adji bisa narik ojek dan tidak lagi jadi pemulung. Bukankah hasilnya lumayan dari pada harus mencari botol bekas seharian. Bonusnya kan dia jadi bisa minta antar jemput kerja, dan pelukan kaya pasangan tadi.


Perjalanan masih panjang, karena macet tak berkesudahan. Jam di pergelangan tangan menunjuk ke angka enam. Suara adzan magrib terdengar dari kejauhan. Maya tampak gelisah. Entah akan tiba di rumah Adji jam berapa. Sementara di luar hujan semakin deras dan belum ada tanda-tanda akan berhenti.


Sampai di pertigaan jalan, akhirnya arus lalu lintas mulai lancar, ternyata yang membuat macet adalah para pengendara motor yang berteduh di bawah jembatan layang.


Lima belas menit kemudian, mobil yang ia tumpangi tiba di depan gang rumah Adji. Terpaksa Maya harus turun dan melewati gang itu tanpa payung. Ia lupa, karena terburu-buru payung tak dibawanya dan tertinggal di laci meja kerja.


Setelah membayar ongkos, ia pun keluar, melepas sepatu hak tingginya, dan berlari menuju lorong gang sambil menutup kepala dengan tas.


Sampai di depan pintu rumah Adji, ia mengatur napasnya yang tersengal, sambil mengusap-usap pakaiannya yang basah.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum, Adji," panggilnya.


Tak lama kemudian, pintu terbuka.


"Waalaikumsalam, Mbak?"


Adji terbelalak melihat wanita kesayangannya itu datang dengan tubuh basah kuyup, di mana pakaian dalam Maya tercetak jelas.


"Masuk, Mbak," ucapnya gugup.


Adji menyuruh Maya masuk dan duduk, sementara dirinya pergi ke kamar mengambil sebuah handuk dan memberikannya pada Maya.


Maya mengusap handuk itu ke kepala, lalu menutup tubuhnya.


"Hatchim!"


"Mbak dari mana sih? Kok hujan-hujanan?"


"Dari kantor, Dji. Hatchim." Maya kembali bersin.


"Sebentar, saya buatkan teh dulu. Mbak ganti baju ya."


"Aku nggak bawa baju ganti."


"Pakai baju saya aja."


"Enggak mau, kegedean."


"Dari pada masuk angin."


"Tapi ini basah ke dalam-dalamnya."


"Ya dalamnya nggak usah ganti, emang mau pakai punya saya?"


"Enak aja."


"Hehehe." Adji bangkit dari duduk, kembali ke kamar. Mengambil sebuah baju yang belum pernah ia pakai. Baju yang dibelikan Maya dulu. Setelah menyerahkan baju itu pada Maya, ia berjalan ke dapur membuatkan teh hangat untuk Maya.


***


"Ada apa sih, Mbak sampai bela-belain ke sini hujan-hujanan? Kangen ya?" tanya Adji sambil menggoda.


"Apaan sih? Perasaan udah nggak musim hujan ya, tapi kok masih hujan aja. Heran deh."


"Mbak, hujan itu rahmat dari Allah. Bersyukur masih diberi rahmat. Bahkan waktu mustajab untuk berdoa salah satunya disaat turun hujan loh."


"Iya, iya. Aku ke sini cuma mau nyampein pesan papa. Kira-kira kamu mau ngundang berapa orang? Keluarga atau tetangga gitu?"


"Waduh, berapa ya, Mbak. Palingan nggak nyampe seratus. Warga sini doang. Keluarga juga saya semua jauh."


"Emang nggak mau ngundang keluarga kamu?"


"Eum ... dulu Mami aku anak tunggal, kedua orang tuanya juga sudah nggak ada. Trus keluarga Papi juga saya nggak tahu. Di kampung."


"Ya udah, seratus cukup lah ya."


"Iya, Mbak."


"Trus mau bulan madu ke mana?" tanya Maya malu-malu.


Adji tersenyum kecil dan tersipu.

__ADS_1


"Bulan madu? Berdua?"


"Ya iyalah, Dji. Pengantin baru gitu. Emang nggak mau jalan-jalan?"


"Ya mau sih, Mbak. Tapi sayang uangnya. Mending di tabung. Kalau cuma berduaan doang mah di rumah juga bisa. Orang udah halal."


"Ish, kamu mah polos banget, Dji. Diajak seneng aja nggak mau." Maya memajukan bibirnya beberapa senti.


"Bukan begitu, Sayangku. Kata orang, hidup yang sesungguhnya itu setelah menikah. Kan sayang kalau uangnya dihamburkan gitu aja."


"Kan uang Papa, bukan uang kita."


"Nah, apalagi uang orang tua kamu. Saya aja nggak bisa ngasih kamu apa-apa. Semua orang tua kamu yang nyiapin. Saya malu, Mbak. Kalau sampai saya minta ini itu, apalagi menuntut berbulan madu. Dapetin Mbak Maya aja saya udah bersyukur bahagia banget."


Maya terdiam, ia menyerap setiap kata yang keluar dari mulut calon suaminya itu. Ada rasa sesal, karena Adji tak mau diajak berbulan madu. Tapi di sisi lain ia bersyukur, kalau ia tak salah memilih calon imam. Karena Adji memang tak pernah memanfaatkan dirinya sedikitpun.


"Hatchim!"


"Teh nya di minum, udah dingin tuh!"


"Iya."


Maya mengambil gelas berisi teh hangat, dan meminumnya perlahan.


"Mbak, sudah sholat magrib?"


"Nanti aja, Dji. Sekalian isya di rumah. Soalnya baju aku kan kotor."


"Owh, ya sudah. Sudah jam setengah delapan. Nanti Mbak pulang kemalaman."


"Kamu ngusir?"


"Bukan, saya cuma khawatir sama Mbak. Tadi Mbak naik apa?"


"Taksi online."


"Sayang banget."


"Lah terus aku harus naik apa?"


"Naik jet pribadi dong, kaya Syahrini. Hehehe."


"Ye, bercanda aja. Kaya rumah kamu ada parkirannya aja."


"Iya, deh. Rumah saya kan jelek."


"Siapa yang ngambek. Emang bener kok. Rumah saya ini jelek. Herannya Mbak betah aja di sini."


"Soalnya yang punya rumah ganteng sih," seloroh Maya.


Adji kini yang tersipu malu. Wajah keduanya memerah, tanpa sengaja kedua mata itu saling bertemu. Lalu mengalihkan pandangan.


Maya bangkit dari duduknya berjalan ke depan pintu. Melihat kondisi di luar, hujan sudah mulai reda. Saat ia berbalik badan.


Bug!


Tiba-tiba tubuhnya menabrak tubuh Adji yang sudah berdiri di belakangnya.


"Adji, seneng banget ngagetin."


"Mbaknya, nggak pake spion."


"Apaan sih kamu. Aku mau pulang." Maya mengambil tasnya di kursi.


"Emang udah pesan taksinya?"


"Belum, ini mau aku pesan dulu."


Maya mengambil ponselnya, dan menyusul Adji yang duduk di kursi teras.


"Kamu mau ngojek nggak?" tanya Maya tiba-tiba.


Adji hanya menggeleng.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Kan lumayan, Dji. Dari pada mulung."


"Tapi riskan, Mbak."


"Maksudnya?"


"Ya riskan buat bersentuhan dengan lawan jenis. Kalau ada yang naksir saya, trus meluk-meluk dari belakang gimana? Mbak mau?"

__ADS_1


"Ye, pikirannya. Jangan mau lah. Lagi palingan juga ibu-ibu mau ke pasar yang ngojek."


"Ibu-ibu ke pasar mana mau ngojek, Mbak. Sayang duitnya. Mending jalan kaki mereka mah."


"Bener juga sih. Ya tapi kan ...."


Belum sempat Maya melanjutkan bicara, jari Adji sudah menutup mulutnya.


"Ssstttt ... saya tahu maksud Mbak apa. Mbak pengen kan jalan-jalan berdua sama saya naik motor, biar bisa meluk saya dari belakang?" Adji terkekeh.


"Ye, kepedean." Maya menepuk bahu Adji pelan.


Tak lama kemudian ponselnya berdering, telepon dari sopir taksi yang dipesannya.


"Aku pulang, ya."


"Iya, Mbak. Hati-hati. Saya antar sampai depan ya."


Mereka berjalan ke ujung gang bersama.


***


    Maya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah mandi, berganti pakaian dan sholat. Akhirnya ia bisa beristirahat sejenak. Matanya menerawang jauh ke langit-langit kamar.


"Kak!" Sebuah suara mengejutkannya. Ia menoleh, dilihatnya sang adik berdiri di depan pintu.


Maya bangkit dan duduk menatap ke arah sang adik.


"Kenapa? Masuk!"


Sherli berjalan ke ranjang sang kakak lalu duduk di depannya.


"Kak, aku ... aku ... mau cerita."


"Tentang?"


"Eum ... aku ... aku ...."


Maya mengernyit.


"Loe kenapa? Bilang sama gue? Ada cowok yang berani macem-macem sama loe?"


"Bu-bukan, Kak. Aku ... menstruasi," ucap Sherli seraya berbisik.


"Yah elah, gue kira ada apa? Trus udah pake pembalut belum?"


Sherli menggeleng.


"Waduh, bangun loe. Ntar tembus di kasur gue." Maya menyuruh sang adik bangkit dari duduknya.


Ia berjalan ke arah lemari, mengambil pembalut dari dalam lemari pakaiannya. Dan menyerahkannya pada sang adik.


"Nih, pake. Jangan kebalik."


"Emang gimana caranya?" Sherli tampak melihat bungkus pembalut itu sambil membacanya.


"Sini!" Maya meraih satu pembalut dan mempraktekkan cara memasang pembalut yang benar.


Sherli akhirnya paham.


"Oh iya, buangnya jangan sembarangan."


"Kenapa, Kak?"


"Ntar dijilatin setan."


"Terus buangnya gimana?"


"Ya dicuci yang bersih, kalau darahnya udah nggak ada baru dibungkus pake pelastik baru buang di tong sampah."


"Owh, gitu."


"Hem. Udah buruan pake sana. Ish becek pasti."


"Makasih, Kak."


"Hem ...."


Sherli membawa keluar pembalut yang diberikan Maya dengan cara menyembunyikannya di dalam kaus yang ia pakai.


Maya yang melihat kelakuan sang adik hanya tersenyum kecil. Adik kecilnya kini sudah beranjak dewasa. Sherli masih beruntung saat pertama kali haidh masih ada dirinya yang bisa ditanya, sementara dirinya dulu saat pertama kali haidh, ia harus cari tahu sendiri gimana caranya. Karena di rumah tak ada sosok wanita dewasa yang bisa ditanya.


****


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komentarnya yess.


Luph you all 😘😘😘


__ADS_2