Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
33


__ADS_3

💗💗💗


Seminggu telah berlalu. Kini aktivitas mulai kembali seperti biasa. Masa libur pengantin baru sudah habis. Saatnya Maya dan Adji kembali bekerja.


Setelah sarapan, Maya bergegas ke kamar mengambil tas kerjanya karena sang suami mengizinkannya bekerja. Sementara Adji juga bersiap ke bengkel.


Maya mencium punggung tangan suaminya, ia sudah memesan ojek online di ujung gang.


"Assalamualaikum," ucap Maya.


"Waalaikumsalam." Adji mengusap lembut kepala sang istri dan melepas kepergiannya.


Ia lalu mengunci pintu rumah dan berangkat ke bengkel. Semalam Bang Darma menemuinya,  kalau hari ini sudah mulai masuk kerja,  si pemilik bengkel sudah kembali dari kampung.


💗💗💗


Maya tiba di depan kantor, setelah membayar ongkos lalu berjalan ke arah lobi. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara derap langkah mendekatinya.


"Maya ....!"


Maya menoleh, seorang wanita berlari mendekat dengan napas tersengal. Ia berhenti tepat di depannya.


"Monik?" Maya memeluk erat sahabatnya itu.


"Gue kangen banget sama loe, May," ucap Monik seraya merangkul Maya berjalan ke arah lift.


"Oh ya?"


"Iya, mana kerjaan banyak banget, huft. Nggak ada yang bantuin pula," ocehnya.


"Ah, itu sih bukan kangen sama guenya, tapi karena nggak ada yang bantuin loe kerja."


"Hahaha ...."


Mereka tertawa bersama.


Akhirnya mereka tiba di depan pintu kaca ruangan keduanya. Beberapa rekan kerja Maya datang menyambut, mengucapkan selamat juga permintaan maaf karena tidak hadir saat pernikahannya.


Ia lalu menuju ke meja kerja.


"Huft, akhirnya. Welcome to the jungle, hahaha." Maya meletakkan tasnya di atas meja, menarik kursi lalu duduk dan menghidupkan komputer miliknya.


"Pak Sean udah dateng?" tanya Maya seraya melihat ke arah ruangan bosnya.


"Loh, emang loe nggak dibilangin bokap loe?"


Monik mengernyit.


"Bilangin apa?" tanya Maya bingung.


"Jadi loe belum tahu?"


Maya menggeleng pelan.


"Astaga, Maya. Loe tuh anaknya pemilik perusahaan ini, masa loe nggak tahu kabar kalau Pak Seam diskorsing."


"Apa? Diskors? Kenapa?" Kedua bola mata Maya nyaris copot mendengar ucapan Monik barusan.


"Kasus penggelapan."


"Apa? Dia korupsi?" Kali ini Maya benar-benar kaget.


Tak disangka kakak iparnya senekat itu. Kalau orang kantor tahu Sean adalah kakak iparnya, entah apa yang akan mereka katakan.


"Udah berapa lama dia nggak masuk kerja?" tanya Maya mulai menyelidik.


"Baru semingguan sih."


"Trus dipenjara?"


"Kayanya bokap loe ngasih waktu dia buat ngembaliin semua uang yang udah dia curi itu. Kalau nggak bisa ya terpaksa seluruh harta dia disita, dan dia dijeblosin ke penjara." Monik kembali menjelaskan.


"Ah gila, masalah besar kaya gini, gue nggak tahu." Maya menggeleng lemah.


"Loe sih, keenakan bulan madu. Hehehe." Monik menggoda sahabatnya itu.


"Apaan coba." Maya tersipu malu.


Pantas saja waktu ayah mertuanya meninggal, Sean ngotot banget sama harta warisan itu. Bahkan sebelum ayah mertuanya meninggal dia sudah menyiapkan surat pengambil alihan seluruh harta ayahnya.


"Mungkin bokap loe nggak mau bilang, takut ganggu liburan kalian, May," sambung Monik lagi.


"Bisa jadi."


Maya semakin takut lagi, kalau Sean pasti akan datang menemui suaminya. Terkait pembagian harta warisan.

__ADS_1


"Trus yang gantiin dia siapa?" tanya Maya lagi.


"Eum, Pak Reza namanya. Ganteng sih, masih muda. Tapi gayanya gue nggak suka."


"Loh kenapa?"


"Sok aja gitu. Pak Sean yang ganteng aja tuh nggak setengil itu. Pokoknya nggak banget deh."


"Hahaha ...."


"Malah ketawa, emang lucu?" Monik mengerucutkan bibirnya.


"Iya lucu. Lagian loe bos ganteng masih muda tengil gitu aja sewot."


"Ih loe nggak tau sih gayanya."


"Jadi penasaran gue," ucap Maya mencoba bangkit dari duduknya hendak ke ruangan yang dimaksud.


"May, mau ke mana?" tanya Monik sedikit cemas.


"Penasaran gue," jawab Maya yang sudah melangkah sampai depan ruangan Reza.


"Aduh, si Maya cari perkara." Monik menepuk keningnya pelan.


💗💗💗


Maya mengetuk pintu kaca perlahan.


"Ya, masuk!" Suara di dalam menyuruhnya masuk.


Maya merapikan pakaian dan juga rambutnya.  Lalu mendorong pintu dengan hati-hati. Seorang pria muda dengan potongan rambut yang rapi dan klimis,  berkulit putih itu terlihat sedang sibuk di depan layar laptop.


Kemeja biru muda dengan dasi yang warnanya lebih gelap. Pria itu terlihat begitu tampan.  Aroma parfum menguar di ruangan.


"Duduk!" titahnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Maya.


Maya menurut, ia duduk di hadapan pria itu.


'Ada yang bisa---" Pria itu tak melanjutkan ucapannya.


Ia justru bangkit dan mengulurkan tangannya.


"Maaf,  Mbak. Saya Reza.  Saya pikir siapa yang datang." Pria bernama Reza itu memperkenalkan diri.


Maya mengernyit dan menerima uluran tangan itu,  mereka berjabat tangan sesaat. Pria itu menunduk lalu duduk.


Pria itu tersenyum manis.


"Ya iyalah, Mbak. Masa anaknya bos nggak kenal."


"Owh. Kalau boleh tahu,  sebelumnya kamu di cabang mana?"


"Saya dari Tangerang. Diminta ke sini sama Pak Bos Hardi. Sementara katanya,  sambil nunggu suami Mbak Maya."


"Apa?  Suami saya?"


"Iya,  Pak Bos bilang begitu."


Maya membuang napas pelan. "Ya ya ya."


"Ada perlu apa ya,  Mbak?  Ada yang bisa saya bantu?" tanya Reza hati-hati.


"Enggak sih,  cuma pengen tahu aja siapa yang gantiin Pak Sean."


"Owh, sekarang udah nggak penasaran kan?" ledeknya seraya tersenyum.


"Iya,  nggak.  Ya udah saya balik kerja dulu."


"Mbak," panggilnya saat Maya melangkah ke pintu.


"Ternyata Mbak Maya jauh lebih cantik aslinya dari pada di foto." Reza mengerlingkan matanya sebelah.


Maya hanya menggeleng. "Makasih pujiannya. Inget saya udah punya suami loh ya."


"Iya, Mbak. Saya tahu."


Maya tersenyum lalu keluar ruangan.  Semua bayangan tentang Reza tidak seperti yang disebutkan oleh Monik tadi. Justru sebaliknya,  dia ramah juga sopan. Tidak sok atau pun belagu,  memang gayanya sedikit tengil.  Tapi cukup asyik. 


Maya kembali ke meja kerjanya.


💗💗💗


.


Jam istirahat tiba.  Monik sudah siap hendaknke kantin mengajak sohibnya itu.  Namun, ia terkejut saat melihat rekan sebelahnya itu membuka kotak bekal yang diambilnya dari dalam tas.

__ADS_1


"Loe bawa bekel,  May?" tanya Monik heran.


Maya mengangguk. "Lihat nih,  gue masak sendiri."


Dengan bangga Maya menunjukkan hasil masakannya.


"Apa nih?  Orek tempe sama tumis sawi?" Monik mengernyit.


"Iya,  enak kok. Laki gue aja sampe nambah tadi."


"Ini serius loe yang masak?  Sejak kapan loe bida masak?" tanya Monik antusias.


"Eh, Jali!" Monik memanggil pelayan yang baru saja lewat di depannya.


"Iya,  Mbak."


"Beliin gue ketoprak ya. GPL!" Monik memberikan selembar uang berwarna hijau pada pelayan bernama Jali itu.  Pria itu pun bergegas keluar.


Monik memperhatikan sahabatnya yang tengah lahap menyantap makan siang.


"Eh gue duluan loh makannya,  laper banget," ujar Maya dengan mulut penuh nasi.


"Iya, May. Nggak apa-apa. Makan aja." Monik menelan ludah.


Ia tak menyangka Maya bisa seperti itu,  biasanya saja dia selalu beli makanan di luar. Mana mau bawa bekal.  Alasannya malu lah. Ditambah bekal makanan yang dia bawa adalah hasil masakannya. Sejak kapan Maya bisa masak.


Monik saja yang sudah lama berumah tangga belum pernah sekalipun bawa bekal hasil masakannya. Sarapan di rumah juga jarang. Kalau libur selalu beli.  Karena nggak mau ribet. Ia juga tak bisa masak.


Tak lama kemudian pesanan Monik tiba,  tapi Maya sudah selesai makan.


"Alhamdulillah," ucap Maya lirih setelah minum.


"Yah, loe udah kelar aja. Gue makan sendiri dong."


"Nggak apa-apa. Gue masih di sini kok."


"Hehehe... itu serius, May.  Loe yang masak semuanya?" Monik bertanya seolah meragukan masakan Maya.


"Iya,  diajarin sih sama laki gue. Dari masak nasi nggak pake mejikom,  nyiangin sayuran,  motongin bawang,  ngulek sambel,  sampai pasang tabung gas."


"So sweet banget sih laki loe, laki gue boro-boro."


"Nah,  tadi pagi itu doi bangun jam empat,  dia tahu kalau gue udah mulai kerja hari ini. Dia juga kerja. Makanya dia masak nasi tuh. Kan gue denger,  trus gue bangun deh bantuin dia. Masa dia masak gue tidur. Istri macam apa gue? Hahaha."


Monik terdiam mendengar penuturan sohibnya itu. Ia bahkan tak pernah melihat suaminya turun tangan ke dapur. Jangankan bantu masak, bahkan mengambil air minum saja sang suami meminta dirinya yang ambil.


"Trus, tadi loe beragkat naik ojol? Mobil loe ke mana?" tanya Monik sambil mengunyah kerupuk.


"Dijual."


"Nggak beli lagi?"


"Sayang,  nanti aja. Lagi juga belum butuh."


"Tapi kan, May.  Bukannya malah boros kalo ngojek?"


"Ya irit sih,  nggak perlu keluar uang bensin. Lebih cepat juga sampenya."


"May,  May. Hidup loe tuh dulu enak,  kenapas sekarang jadi ngirit begini. Padahal bokap loe punya perusahaan yanh bercabang."


"Monik,  Sayang. Gue kan perempuan. Ya ikut suami.  Harga orang tua gue,  ya buat dia,  gue nggak ada hak. Kecuali kalau bokap meninggal. Masa iya gue nyumpahin bokap gue meninggal. Suami gue tuh ngajarin banyak banget pelajaran hidup. Tentang kesederhanaan hidup. Semua pokoknya."


"Emang suami loe masih mulung? "


"Enggak, kerja di bengkel."


"Apa?  Kerja di bengkel?" Sebuah suara lantang terdengar di belakang keduanya yang sedang asyik ngobrol.


Maya dan Monik sontak menoleh.


"Hey,  teman-teman. Tau nggak sih,  masa anak bos dapet suami orang bengkel," ucapnya.  Seorang wanita berambut pirang pendek sebahu meledek Maya.


Maya bangkit dari duduknya,  menatap tajam ke arah wanita yang menjabat sebagai supervisor itu. Mulutnya serasa ingin dia sobek saja. 


"Maaf,  Mbak Dewi.  Ada urusan apa anda dengan saya. Kenapa anda berani mengejek saya di depan teman-teman," ujar Maya geram.


"Owh, nggak sih,  nggak ada urusan apa-apa. Cuma heran aja gitu,  anak bos nikah sama anak bengkel?  Kaya nggak selevel."


Maya tersenyum kecil.  Monik cepat-cepat menghabiskan makanannya lalu minum.  Untuk segera melerai debat.


"Emang kenapa kalau nggak selevel?  Toh di akherat juga nggak akan ditanya kok. Jabatan kamu di dunia jadi apa?  Tapi yang ditanya adalah amal perbuatan kita.  Selama di dunia kamu ngapain aja?  Nyinyirin orang?" Maya menatap tajam.


Wanita bernama Dewi langsung diam seketika.  Bibirnya mengerucut dan komat kamit karena kesal. Ia lalu berjalan melenggang keluar kantor meninggalkan Maya dan Monik.


Beberapa pasang mata memandang mereka. Maya bahagia,  bisa bicara seperti itu.  Tak ada yanh membuatnya malu lagi. Apapun kondisi suaminya saat ini,  yang terpenting adalah pekerjaan sang suami halal.  Dan Adji selalu menyayanginya. Karena gaji dan jabatan tak menjamin masuk ke surganya Allah.

__ADS_1


💗💗💗


Bersambung


__ADS_2