Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
28


__ADS_3

🍒🍒🍒


Maya mengikuti langkah suaminya menuju ke kamar.  Dilihatnya Adji sudah berkemas dan siap pergi. Ia menghampiri sang suami.


"Kamu mau ninggalin aku?" tanya Maya.


Adji menatap istrinya dan tersenyum kecil. "Mana mungkin aku ninggalin kamu. Aku tunggu kamu siap-siap. Bawa pakaian seperlunya saja."


"Aku boleh kerja?"


Adji membuang muka,  tak tega sebenarnya melihat wajah sang istri yang memelas. Ia pun menghela napas pelan. Lalu mengangguk.


"Kamu serius? Aku masih boleh kerja?" Kedua mata Maya berbinar.


"Iya, aku izinkan kamu kerja. Dengan syarat."


"Apa?"


"Kamu nggak boleh lupa sama tugas kamu sebagai istri.  Ingat kita tinggal di rumahku. Tanpa pembantu."


Maya terdiam. Benar apa yang dikatakan suaminya. Ia pun berpikir kembali. Kalau dia kerja lalu siapa yang mengerjakan kerjaan rumah, mengurus dan melayani suaminya.


"Biar aku yang sewa assisten rumah tangga," ucap Maya.


"Nggak perlu, rumahku nggak pantas ada asisten di sana. Biar aku yang melakukannya saat kamu kerja nanti. Sekarang cepat kamu siap-siap. Keburu siang, panas."


Maya melangkah perlahan ke arah lemari besar dua pintu.  Mengambil koper dan memilih pakaian secukupnya.  Lalu memasukannya di dalam koper.


"Selesai, kita bisa berangkat sekarang. Oh iya tunggu." Maya berlari ke kamar mandi, mengambil perlengkapan mandi miliknya, lalu alat make up juga tas kerja.


"Sudah, kita naik apa?"


"Naik angkot saja."


"Apa?  Naik angkot?  Dji, aku bawa koper segini gedenya, masa kita naik angkot sih?" Maya menggerutu.


Adji mendekati istrinya yang manyun, melingkarkan tangannya ke pinggang Maya, membelai rambut dan menatap erat sang istri.


"Kamu belum bisa terima aku yang sederhana?" tanya Adji tepat di depan wajah istrinya yang memerah.


"Maaf, kalau aku belum bisa kasih kamu kemewahan, bahkan kendaraan untuk kita pergi berdua," sambung Adji lagi, kali ini suaranya sedikit berbisik di telinga Maya.


Tiba-tiba saja debaran jantung Maya berdegup kencang.  Deru napas suaminya terdengar bergemuruh. Ia menggigit bibir bawahnya saat hidung keduanya mulai bersentuhan.


"Tapi aku janji, akan bahagiakan kamu," ucap Adji  seraya mencium bibir sang istri lembut.


"Maafin aku." Maya memeluk erat suaminya dan terisak.


Adji mengusap punggung sang istri lembut seraya membelai rambutnya. 


"Iya,  aku ngerti. Aku harap kamu akan terbiasa dengan hidup suamimu yang sederhana ini."


🍒🍒🍒


"Mau gue anter?" tanya Denis saat melihat adiknya turun dari lantai dua membawa tas dan koper besar.


"Makasih, Mas. Kita bisa pergi sendiri kok," jawab Adji.


"Nggak apa-apa kali, Dji. Biat diantar Mas Denis," sanggah Maya.


"Ya udah, kalau kamu mau diantar, kamu saja. Biar aku naik angkutan umum saja." Adji melangkah meninggalkan keduanya.


"Sensi banget sih laki loe, May. Kenapa sih dia?" tanya Denis seolah tidak tahu apa-apa.


Maya hanya mengangkat bahu. Lalu berjalan mengikuti Adji yang sudah lebih dulu keluar rumah.


Denis menatap kepergian sang adik dengan hati gelisah. Dia takut kalau Maya tidak akan bahagia tinggal bersama Adji.


🍒🍒🍒


Adji menarik koper besar Maya, dan menjinjing tas miliknya menuju pinggir jalan besar. Sesekali ia melihat ke arah wanita di sebelahnya itu yang sedang mengusap keringat di kening dan tengkuknya.


Sebenarnya ia tak tega, hanya saja ia perlu menguji istrinya untuk bisa menerima hidup yang sesungguhnya. Ini belum seberapa dibandingkan dirinya yang setiap hari harus berjalan di bawah terik matahari, atau derasnya hujan demi sesuap nasi. Tak jarang kendaraan yang lalu lalang hampir menyerempet dirinya.


Akhirnya mereka tiba di ujung jalan besar, sudah keluar dari komplek perumahannya. Maya yang kelelahan lantas duduk di atas trotoar. Sementara sang suami tetap berdiri sambil melihat ke arah jalanan menunggu angkutan umum yang akan mereka tumpangi.


Sebuah angkot berwarna merah terlihat dari kejauhan, saat angkot itu berjalan mendekat, Adji melambaikan tangannya. Angkot itu berhenti tepat di depan keduanya.


"Ayo,  Sayang," ajak Adji.


Mereka masuk ke angkot yang kebetulan sepi penumpang, hanya ada mereka berdua. 


Adji mengambil duduk di paling belakang dekat kaca. Sementara Maya duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Capek, ya?" tanya Adji sambil meraih tangan istrinya.


Maya tersenyum kecil, "Nggak apa-apa kok, baru jalan segitu aja." Ia berusaha menutupi rasa lelahnya.


"Nanti aku pijitin kalau udah sampai rumah."


"Hem,  yang ada kamu minta lebih."


Adji terkekeh, sang istri seakan tahu apa yang ada di kepalanya.


"Oh iya, lihat deh. Angkot ini kaya kita carter ya? Nggak ada penumpang lain soalnya. Aku jadi ngantuk pengen tiduran." Adji hendak meluruskan kakinya ke atas jok, tangan Maya segera menarik kaki tersebut.


"Loh kenapa?" tanya Adji bingung. Kakinya sudah berada di bawah lagi.


"Jangan,  nanti kamu bisa bayar lebih."


"Ya enggak lah, lagi juga nggak ada penumpang."


"Ya yang sopan."


"Iya, hehehe."


Maya menggeleng melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil. Tanpa sadar mereka sudah sampai di daerah rumah Adji. Keduanya pun turun dan membayar ongkosnya.


"Huft, akhirnya sampai juga. Aku udah kangen sama orang-orang sini, yuk!" Adji mengajak istrinya berjalan masuk melewati gang menuju kediamannya.


Beberapa orang menyambut kedatangannya dengan tersenyum. Bahkan ada yang menghampiri mereka sekedar bertanya kabar dan mengungkapkan ketidakhadirannya ke pesta pernikahan mereka.


Kini mereka sudah berdiri di depan pintu rumah Adji. Ia mengambil kunci yang diletakkan di bawah pot bunga miliknya, lalu membuka pintu itu perlahan.


Kreet.


Suara derit pintu saat dibuka. Adji lalu mengajak istrinya masuk ke kamar. Meletakkan barang bawaan mereka di atas dipan kayu. Hanya ada satu lemari di dalam kamar. Adji mengalah, membiarkan lemari itu digunakan untuk menyimpan pakaian sang istri.


Adji mengeluarkan pakaian miliknya yang tak seberapa banyak itu fan meletakkannya di dipan. Lalu meminta Maya untuk menata pakaiannya di dalam lemari.


Tiba-tiba saat pakaian terakhirnya diangkat, sebuah foto terjatuh di lantai, Maya mengernyit melihat foto itu. Adji yang menyadari benda miliknya terjatuh dari selipan baju segera mengambilnya, dan menyembunyikannya dengan gugup.


"Apa itu? Coba aku lihat!" Maya mendekat ke arah suaminya.


Adji dengan cepat menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya.


"Bukan apa-apa kok, kertas bon," jawab Adji bohong.


"Jangan bohong,  itu foto cewek. Iya kan? Mana lihat sini!" Maya hendak merebut foto itu dari tangan suaminya.


Maya mendekati wajahnya ke arah Adji, sambil tangannya terulur ke belakang punggung sang suami, mencoba meraih foto itu sambil mengecup bibir Adji melumatnya perlahan.


"Dapet!" pekik Maya saat misinya berhasil. Ia melompat kegirangan dan membawa foto itu menjauh mengangkatnya ke udara.


Adji mendengkus kesal, bisa-bisanya dia kalah, karena ciuman Maya tadi. Padahal bibirnya masih terbuka lebar. Belum sempat ia membalas lumatan itu.


"Siapa ini? Pacar kamu? Mantan kamu?" cecar Maya sambil menyodorkan foto seorang wanita berjilbab.


"Bukan siapa-siapa."


"Kalau bukan siapa-siapa kenapa kamu simpan fotonya?" Maya tak percaya.


Adji kembali duduk di dipan. Menatap erat istrinya. "Duduk sini!" pintanya.


"Enggak mau! Jawab dulu ini siapa?"


"Ya makanya kamu duduk dulu, biar aku ceritain."


"Nggak, kamu tinggal jawab aja itu siapa? Trus kenapa kamu bisa simpan foto ini?"


"Dia...." Belum sempat Adji bercerita, tiba-tiba Maya terisak.


Adji mengernyit lalu menghampiri istrinya. "Kok kamu nangis?" tanyanya bingung.


"Selama ini kita berhubungan, diam-diam kamu simpan foto perempuan lain di lemari. Dan aku nggak tahu. Kamu bisa setiap saat mandangin foto dia, nyium-nyium mungkin. Aku ngerasa dibohongi," ucap Maya dalam isak tangisnya.


Adji merengkuh tubuh istrinya membawa ke dalam pelukan.


"Pikiran kamu kejauhan, Sayang. Foto itu adalah foto temanku dulu. Dia yang membuat aku menjadi seorang mualaf. Karena dia aku mengenal Tuhanku. Karena dia aku berubah. Kalau aku nggak bertemu dan kenal dengan dia, mungkin kita juga nggak akan pernah bertemu dan bersatu. Bisa saja aku kuliah di luar negeri, dan kamu tetap menikah dengan tunangan kamu itu."


"Sampai sekarang pun aku nggak tahu keberadaannya, aku hanya simpan fotonya seperti saudaraku sendiri, hanya sebagai pengingat kalau dia pernah berjasa dalam hidup aku. Nggak lebih. Kamu percaya kan sama aku?"


Adji menangkupkan kedua tangannya di wajah sang istri, mengusap pipinya yang basah.


"Tetap aja, aku nggak suka."


"Ya udah, kamu maunya gimana? Buang atau disobek?"

__ADS_1


"Bakar!"


"Ya udah sini biar aku bakar."


"Nggak usah, kamu simpan lagi aja. Aku percaya sama kamu."


"Nah gitu dong. Kita kan udah jadi suami istri, harus saling percaya." Adji menowel hidung Maya yang merah.


Maya tersenyum. "Kamu sayang sama aku?"


"Kalau nggak sayang, ngapain meluk-meluk kamu."


"Cinta nggak sama aku?"


"Kalau nggak cinta ngapain aku nikahin kamu."


"Yakin? Karena apa? Pasti karena aku cantik kan?" Dengan pedenya Maya berbicara seraya memeluk erat suaminya itu.


Adji terkekeh. "Eum, cantik sih relatif ya. Tapi kayanya lebih ke arah kamu tuh ada auranya, jangan-jangan kamu pakai pelet ya?" goda Adji.


"Iya, buat naklukin kucing garong kaya kamu!" jawab Maya kesal.


Adji terbahak saat dirinya dibilang kucing garong. "Hahaha...."


"Assalamualaikum.... "


Adji dan Maya saling pandang saat mendengar salam dari arah luar.


"Kaya suaranya pak RT." Adji melepas pelukannya dan berjalan keluar kamar menuju arah suara, Maya mengekor.


"Waalaikum salam, eh Pak. Silakan masuk!" Adji mempersilakan Pak RT masuk dan duduk.


"May,  tolong biarkan minum ya!" pinta Adji pada istrinya.


Maya gugup dan mengangguk lalu melangkah ke arah dapur. Belum pernah ia membuatkan minuman untuk tamu. Terlebih ini di rumah Adji.


"Ada apa ya, Pak? Kelihatannya penting."


"Begini, Dji. Bapak juga berat mau ngomongnya.  Tali harus! Jadi kamu tahu kan rumah besar depan gang kita itu?"


Adji mengangguk. "Iya. Kenapa?"


"Nah,  rumah itu mau dijual. Tapi nggak laku-laku. Soalnya tempatnya nanggung.  Kurang strategis lah. Nab ada kaya pemilik perusahaan retail gitu mau bayarin rumah dia, dengan syarat rumah di belakang dan sekitarnya juga ikut dijual. Termasuk rumah kamu ini, dan beberapa warga juga. Karena mau dibangun minimarket gitu. Daerah sekitar sini kan belum ada."


"Jadi, maksudnya rumah saya mau dibeli? Digusur gitu?"


"Iya, tapi tenang aja, Dji. Dapat ganti rugi tiga kali lipat. Lumayan kan? Kamu bisa cari rumah baru yang,  maaf ya. Lebih layak buat kamu dan istri kamu nanti. Sebagian bisa buat modal usaha. Permeternya dia berani bayar tujuh juta." Pak RT berusaha menjelaskan.


Tiba-tiba dari arah belakang Maya terlihat membawa sebuah nampan berisi dua gelas air bening,  lalu menyuguhkannya di meja. Adji mendelik dan membisikkan istrinya.


"Kenapa cuma air putih?"


"Aku nggak tahu kamu simpan teh, kopi dan gula di mana. Cuma ketemu air putih di galon."


Adji menghela napas pelan, "Maaf, Pak. Cuma ada air putih."


"Oh iya, nggak apa-apa, Dji. Nyantai aja. Kaya sama siapa aja. Oh iya ini ada surat edarannya. Bisa kamu pelajari dulu. Tinggal rumah kamu aja yang nunggu persetujuan. Rumah warga lainnya sudah setuju. Kapan lagi, Dji. Rezeki ini."


"Rumah bapak kena juga?"


"Enggak, kan bersebrangan sama rumah besar itu."


"Owh,  jadi cuma samping dan belakang rumah itu yang mau dibayarin?"


"Iya, Dji. Ya udah. Saya pamit dulu ya."


Pak RT bangkit dari duduknya. Dan melangkah keluar untuk kembali pulang.


Maya duduk di dekat suaminya mengambil kertas yang tergeletak di meja. Surat edaran dari Pak RT.


"Indoraga Retail Jaya?" gumam Maya.


"Kenapa, May?"


"Ini anak perusahaannya papa yang dipegang kakak kamu, dia mau beli lahan di sini buat bangun minimarket?" Maya menyerahkan surat edaran itu pada Adji.


Adji membaca sekilas, "Iya."


"Kok kakak kamu tega sih padahal dia tahu kan kamu tinggal di sini?"


Adji hanya diam. Benar apa yang dikatakan Maya. Kenapa Sean tega padanya. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Sean sampai-sampai ingin mengusirnya pergi dari kampung itu.


🍒🍒🍒

__ADS_1


Next.


Like dan komentarnya ya...


__ADS_2