
๐Madji๐
"May, itu tadi laki loe? Ganteng juga kalo pake jas begitu." Monik mendekatkan kursi kerjanya ke sebelah Maya.
Maya yang tengah sibuk mengerjakan rekap bulanan itu, seketika menoleh. Tersenyum kecil ke arah Monik yang juga senyum-senyum.
"Emang ganteng. Kenapa? Iri loe ya?" ledek Maya terkekeh.
"Hati-hati, May. Tar disabet cewek-cewek zomblo di sini. Hihihi."
"Coba aja kalo berani. Gue suruh bokap gue buat pecat mereka. Hahaha." Maya terbahak. Sadar kalau suaranya kencang, ia pun menunduk seraya menutup mulutnya.
"Jahat loe, May." Monik kembali ke depan meja kerjanya.
"Tuh Pak Reza ngapain di pojokan sama si Sari?" Maya menunjuk ke arah pojok ruangan dekat pintu pantry.
Di sana terlihat Reza sedang berbincang dengan seorang wanita berambut panjang. Dia adalah sekretaris magang. Bernama Sari, mereka terlihat seperti sedang bicara serius. Maya menatap dengan mengernyit.
"Jam kerja, dia malah bikin kopi. Trus pacaran," ujar Maya kesal.
"Udah sih, biarin aja. Nggak lama lagi juga dia udah nggak di sini. Pedekate kali tuh."
"Bisa jadi."
Maya dan Monik melanjutkan pekerjaan mereka. Sesekali Maya melirik ke arah di mana Reza berdiri. Ia merasa curiga dengan sikap yang ditunjukkan oleh pria itu. Ia pun tak pernah menyangka kalau Reza adalah orang jahat. Bahkan lebih jahat dari Sean.
๐Madji๐
Adji tak menemukan apapun di meja kerja. Ia mengembalikan map yang tadi dibacanya ke lemari. Laci kecil di meja tak bisa ia buka. Itu membuatnya penasaran. Kemungkinan kuncinya dibawa oleh Reza. Saat hendak melangkah ke lemari besar di samping pintu. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
"Ya masuk!" ujarnya.
Seorang wanita berbaju merah dengan rok span di atas lutut terlihat masuk. Ia tersenyum kecil ke arah Adji dan melangkah ke depan meja.
"Duduk! ada apa?" tanya Adji yang ia pun belum kenal siapa wanita itu.
"Eum, Pak. Sa-saya." Wanita yang duduk di hadapan Adji merasa gugup.
"Itu apa? Berkas?" tanya Adji melihat sebuah amplop coklat yang sedari dari di dekap oleh wanita tersebut.
Wanita itu menyodorkan amplop yang ia pegang. Tiba-tiba ia terisak. Adji semakin bingung.
"Sa-saya. Maafkan saya, Pak. Sa-saya mau mengundurkan diri," ucapnya lirih di sela isak tangisnya.
Adji membuka amplop coklat itu dan mengambil selembar kertas di dalamnya. Membaca dengan teliti. Wanita berambut kemerahan itu bernama Novita Sari. Ia sebagai karyawan magang di sini. Adji merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Kontrak Sari tertulis tiga bulan untuk magang di kantor, seminggu lagi kontraknya habis. Tapi, kenapa ia justruย mengundurkan diri.
"Eum, kenapa kamu ngundurin diri? Bukannya masa magang kamu masih seminggu lagi. Kamu nggak mau diangkat jadi karyawan di sini?" tanya Adji.
"Sa-saya. Saya sudah dapat pekerjaan di tempat lain, Pak."
"Kamu yakin? Trus kenapa nangis?"
"Saya merasa sedih saja, karena di kantor ini saya kenal banyak teman. Orang-orangnya juga baik."
"Ya trus kenapa kamu tetap ingin pindah?"
"Karena, kata Pak Reza. Saya nggak akan diperpanjang. Jadi lebih baik saya mengundurkan diri saja."
Adji terdiam. Reza yang bilang seperti itu?
"Oke, kalau memang itu keputusan kamu. Karena saya juga di sini masih baru. Saya juga nggak tahu gimana kinerja kamu. Kalau Pak Reza bilang seperti itu ya saya bisa apa."
"Saya permisi, Pak."
Sari lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke arah pintu dengan air mata yang kembali berlinang. Saat pintu hendak dibuka. Reza sudah lebih dulu membukanya dari luar. Mereka nyaris tabrakan.
Reza memberi jalan pada Sari untuk keluar lebih dulu. Baru kemudian ia yang masuk. Dan duduk di kursinya.
"Gimana, Dji? Enak kan kerja kantoran? Iyalah dari pada di jalan kan?" ledek Reza seraya menatap ke arah Adji dengan sinis.
"Maaf, apa benar kontrak magang Sari nggak diperpanjang?" tanya Adji penasaran.
"Tu cewek kerjanya nggak becus, selebor. Dikit-dikit salah. Kalo diajarin lemot. Makanya nggak gue perpanjang. Udah loe tenang aja. Nanti gue cariin assisten buat loe yah, yang lebih yahud and pinter pastinya dari pada si Sari." Reza menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Ia sudah punya rencana untuk semuanya. Ia sengaja memang menyuruh Sari keluar dari kantor ini. Lalu meminta temannya masuk ke dalam menjadi sekretaris sekaligus assisten untuk Adji. Dengan begitu, meskipun dia tak lagi berada di kantor ini. Ia masih punya mata-mata. Yang akan selalu siap jika ditanya atau pun memberi kabar terbaru perkembangan kantor di sini.
"Oh gitu, ya."
"Iya. Oh iya gue mau keluar dulu. Tadi ada klien telpon. Katanya mau ngajuin proposal kerja sama gitu. Dia minta produknya dimasukkin ke tempat kita."
"Saya boleh ikut, Mas?"
"Lain kali aja, ya. Soalnya gue nggak bilang mau ngajak orang. Nanti kalau gue butuh teman pasti gue ajak loe. Okey, bye!"
Reza mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar. Ia berbohong. Padahal ia ingin pergi bertemu dengan temannya itu. Untuk membicarakan misi yang akan dia lakukan.
Adji hanya menggeleng pelan. Ia pun mulai membaca beberapa proposal, mempelajari detail perusahaan yang akan ia kelola. Nama perusahaan milik Hardi cukup unik. Namanya DMS Good Mart.ย Bergerak di bidang retail. Memiliki puluhan cabang yang tersebar di setiap kota besar.
Penghasilannya yang di dapat sudah hitungan triliun rupiah. Pantas saja Reza matanya langsung hijau. Bisa menguasai satu cabang saja bisa jadi kaya mendadak. Apalagi kalau separuh sahamnya dapat dipegang atau diambil alih.
Kejadian Sean kemarin membuat kerugian di satu wilayah, yang terdiri dari kurang lebih sepuluh titik. Beberapa gaji karyawan harus tertahan gara-gara itu. Kalau tidak segera diatasi. Maka bisa dipastikan akan ditutup karena perusahaan dianggap gagal. Dan bisa dilaporkan pada yang berwajib. Lalu dicabutlah izin usahanya.
Adji hanya herannya, Hardi masih bisa memberikan Sean kesempatan untuk mengembalikan semua uang kerugian itu. Padahal ia bisa saja langsung menjebloskannya ke penjara. Atau mungkin ia lakukan ini karena Sean adalah kakaknya. Ia masih menjaga nama baik anaknya. Bisa saja kan berita mengabarkan bahwa kakak ipar dari anak pemilik perusahaannya ditangkap, karena kasus korupsi di kantornya sendiri.
Adji akhirnya merasa bosan. Ia bangkit dari duduk dan menuju ke depan jendela. Menatap keluar jendela, melihat ke bawah. Terik matahari siang itu begitu menusuk. Tak bisa dibayangkan betapa panasnya di luar sana. Biasa ia keliling mencari botol bekas ditengah sengatan matahari. Mengunjungi tiap-tiap tempat sampah. Kini ia berdiri tegak dengan pakaian rapi, Wangi dan di dalam ruangan yang dingin karena AC.
Hidup selalu berputar, terkadang kita terlalu lama menatap ke atas. Hingga kita lupa caranya bersyukur. Atau sebaliknya, terlalu lama kita melihat ke bawah. Sampai lupa, bagaimana caranya kita bisa merubah nasib.
Menjadi kaya adalah impian tiap orang. Namun, menjadi miskin bisa jadi pilihan. Karena kita tahu, kalau uang saja tak cukup membuat kita bahagia.
Seandainya saja sang ayah masih hidup, ia pasti akan bangga. Kalau putranya yang nyaris dibakar hidup-hidup, kini bisa berdiri di sini. Meski terasa instan karena campur tangan sang istri. Paling tidak ayahnya akan tahu. Kalau Allah maha baik, Ia tak kan pernah melupakan hambanya yang selalu memohon. Meminta rezeki, meminta umur panjang, dan badan yang selalu sehat, meski hidup dari balik tempat sampah. Ia akan buktikan kalau ajaran yang ia bela mati-matian itu adalah baik.
Tanpa terasa, ujung mata Adji basah. Mengingat kembali masa kecilnya. Sang ayah sering membawanya ke kantor. Ia bermain, berlari ke sana kemari hingga meja-meja karyawan berantakan. Namun, tak ada satu pun karyawan ayahnya yang marah. Justru mereka malah senang dan mengajaknya bermain. Belum lagi para karyawan wanita yang senang menjawil pipinya. Dan bilang "Anak ganteng, nanti nikahnya sama tante, ya." atau "Anak ganteng, mau nggak nikah sama kakak."
Adji tersenyum kecil, mengingat kejadian itu. Siapa sangka. Kalau istrinya kini juga seorang kakak-kakak.
Adji berbalik badan hendak kembali ke mejanya. Namun, tiba-tiba kakinya seperti menendang sesuatu. Ia pun menoleh ke bawah. Dan melihat sebuah flashdisk berwarna hitam tergeletak di lantai. Ia mengambilnya dan mengusap debu yang menempel. Beruntung ia tak sampai menginjaknya. Ia pun memasukannya ke dalam saku celana.
๐Madji๐
Malamnya, Adji dan Maya melepas penat di dalam kamar. Maya sibuk dengan ponselnya. Membalas chat di grup wa para sahabatnya sementara Adji duduk bersila di atas ranjang sambil memegang flashdisk yang ia temukan tadi.
Sebenarnya ia ingin mengembalikan flashdisk itu pada Reza. Namun, ditunggu sampai jam pulang, Reza tak kembali ke kantor. Ia pun penasaran dengan isi di dalam flashdisk itu. Kalau penting, Reza pasti kembali dan mencarinya.
"Ada, di lemari. Kenapa, Dji?ย Kamu mau pake. Ambil aja."
"Aku pinjam, ya."
"Iya."
Adji mengambil laptop milik Maya dari dalam lemari. Lalu membuka dan menghidupkannya. Tak lama gambar di layar muncul. Ia lalu menancapkan flashdisk tadi ke lubang konektor.
Adji membuka file tersebut. Ada beberapa folder dengan nama-nama negara. Amerika, Nigeria, Asia, Japanese, China, Korea. Ia mengernyit. Hatinya bertanya-tanya mengapa tidak ada negara Indonesia.
Penasaran, karena bisa jadi itu adalah kontrak kerjasama antar negara. Keren juga si Reza kalau sampai ia bisa berkordinasi dengan luar negeri.
Klik. Adji mencoba membuka negara Amerika. Ia ingin tahu perjanjian antar negara seperti apa. Barangkali bisa ia pelajari.
Saat folder terbuka, ada ratusan file video dengan beberapa durasi. Ada yang pendek sekitar tiga menit, dan ada yang dengan durasi hampir dua jam.
Dengan sangat hati-hati Adji mengklik dengan durasi paling panjang. Ia yakin, pasti ada wawancara atau video kegiatan di dalamnya. Yang mungkin sengaja direkam.
Loading sedikit, ia mengernyit mendapati video yang tak sesuai dengan ekspektasinya. Dipercepatlah video yang berisi beberapa anak muda sedang berkumpul bersama itu.
Tiba-tiba jantung Adji berdegup kencang saat video di hadapannya menampilkan para pemain mulai melucuti pakaiannya satu persatu. Dan mereka melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Adji menelan ludah. Cepat ia mengklik tombol silang di ujung sebelah kanan. Lalu menarik napas dalam-dalam.
Ia lalu membuka video dengan durasi pendek tiga menit. Dengan harapan bukan adegan seperti tadi.
Klik.
"Ouughhht โฆ shiiit โฆ yeaaah." Suara itu tiba-tiba terdengar keras hingga Maya terlonjak kaget dan bangun mendekati sang suami yang kelihatan gugup.
Maya melihat layar laptopnya dengan mengernyit. Entah apa yang barusan suaminya itu stel. Karena saat ia lihat hanya ada folder dengan nama-nama negara di sana.
"Barusan suara apa, Dji?" tanya Maya bingung menatap erat sang suami.
Adji mengusap tengkuknya. Menahan senyum dengan jantung yang masih berdebar-debar. Baru pertama kali ia melihat adegan seperti tadi. Dan itu membuatnya malu. Ia hanya tak bisa membayangkan pasangan tadi bermain Cinta, di depan orang yang membuat video tersebut.
__ADS_1
"Adji, jawab. Kamu abis nonton apa? Film seru ya? Coba lihat!"
Maya menarik laptop ke hadapannya. Adji tak bisa mencegah karena tangan istrinya sudah lebih cepat membuka folder di dalam sana.
Klik.
Kedua bola mata Maya melotot tajam, satu persatu nama-nama negara itu ia buka foldernya. Lalu menoleh ke arah sang suami.
"Kamu dapat ini dari mana, Sayang?" tanya Maya tersenyum meledek.
"Di bawah mejanya Reza." Adji menjawab jujur.
"Oh, jadi kamu sama Reza suka nonton kaya gini?"
"Eum, bu-bukan, Sayang. Aku nemu di bawah meja. Aku tunggu dia nggak datang-datang. Makanya ku bawa pulang. Penasaran, kupikir file kerja."
"Taunya?"
"Ya nggak tau. Aku nggak tau itu apa."
"Ini itu kumpulan video bokep, Sayang."
"Maksud kamu?"
"Ya yang kamu lihat tadi. Tadi kamu liat yang mana?" Maya mulai menyelidik.
"Lupa."
"Tapi kamu nggak lupa kan sama adegannya?"
Adji tersenyum malu. "Apaan sih kamu?"
"Aku matiin ya. Atau kamu mau nonton?"
Adji menggeleng. "Enggak, aurat orang itu."
"Okey." Maya akhirnya mencabut flashdisk dan mematikkan laptop lalu mengembalikannya ke dalam lemari.
Ia hanya berpikir, berarti selama ini yang dilakukan Reza di kantor adalah menonton video tadi. Maya kembali ke atas ranjang. Ia melihat suaminya tampak gelisah dan tidur membelakanginya.
Maya mengambil ponsel dan melanjutkan chat dengan teman-temannya. Tiba-tiba sang suami berbalik badan mengusap bahunya.
"Sayang โฆ," panggil Adji lirih.
"Hem," jawab Maya tanpa menoleh.
"Kamu datang bulannya kapan?"
"Dua hari lagi kalau menurut tanggal sih. Kalau mundur ya nggak tau."
"Berarti, masih bisa dong?"
"Bisa apa?" Maya menoleh ke arah suaminya.
Wajah Adji malu-malu, seperti anak kecil yang ketahuan minum ice cream sama orang tuanya. Maya tau arah pembicaraan itu ke mana.
"Eum, yang kaya di laptop tadi." Adji menaik turunkan alisnya, dan mengusap-usap pipi sang istri lembut.
Darah Maya seketika berdesir. Ia letakkan ponsel di atas nakas sebelah ranjangnya. Lalu berbaring berhadapan dengan sang suami.
"Mau yang durasi berapa lama?" tanya Maya dengan suara mendesah.
Drrttt โฆ.
Belum sempat Adji menjawab, suara dering ponsel milik Adji berbunyi. Mereka berdua tertawa bersama.
"Siapa sih, malam-malam telepon ganggu aja!" Maya bersungut.
Adji mengecup bibir Maya yang mengerucut seraya bangkit dari tempat tidur mengambil ponselnya.
๐๐๐
Tbc
__ADS_1
Vote komennya ya gaaaaessss.