Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
Episode 54 Arin


__ADS_3

Maya menemui temannya di depan, sementara Adji membaringkan tubuh di ranjang.


"May," panggil Adji.


Maya yang hendak keluar kamar menoleh ke arah sang suami.


"Ya, kenapa, Bang?"


"Kamu yakin mau terima tamu pakai baju kaya gitu?"


Maya memperhatikan tubuhnya yang nyaris telanjang. Ia menatap cermin di depan lemari, lipstik yang ia kenakan belepotan ke bagian pipi. Belum lagi lehernya yang penuh dengan kissmark dari suaminya tadi.


Adji terkekeh melihatnya, ia pun membalikkan tubuh hendak istirahat sambil menunggu adzan ashar.


"Kerjaan kamu, nih, Bang," ujar Maya seraya berjalan menuju kamar mandi, sementara di depan rumahnya suara teman Maya terus memanggil.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Lama banget, sih, May!" ujar Diana kesal saat Maya membukakan pintu untuknya.


"Ya, maaf. Gue mandi dulu tadi. Gerah banget. Masuk deh."


"Abis ngapain kalian, jam segini mandi," celetuk Riris.


"Nggak ngapa-ngapain, loe nggak lihat gue nggak keramas. Cuma mandi aja, abis gerah," ucap Maya lagi, padahal ia mandi untuk menghapus jejak suaminya yang menempel di tubuh meskipun jejak itu tidak bisa hilang semuanya


"Kok berdua doang, mana yang lainnya?" tanya Maya celingukan.


Saat di wag memang temannya ingin datang menjenguk sang suami dan merayakan ultahnya. Tapi, belum konfirmasi berapa yang datang dan yang tidak bisa datang.


"Nggak tahu, May. Yang lain nggak bisa dihubungi. Oh iya, keadaan suami loe gimana?"


"Alhamdulillah, baik."


"Kok bisa sih suami loe sampe dikeroyok gitu, ceritanya gimana?"


"Ya gitu, dikira jambret." Maya malas menjelaskan detailnya, karena ia tahu semua salahnya. Kalau dirinya menceritakan kronologis kenapa dan gimana Adji bisa dikeroyok, jalan sendiri sedang apa dan untuk apa. Nanti temannya akan tahu, kalau ada kesalah pahaman yang terjadi di rumah tangga mereka. Ujung-ujungnya bisa dirinya yang disalahkan, atau suaminya yang diomongin.


Mereka pun akhrinya ngobrol hingga sore waktu menunjuk ke pukul lima sore. Sudah satu setengah jam mereka ngobrol sambil ngemil. Dan selama itu pula Adji tidak keluar dari kamar. Maya tahu kalau suaminya tengah tidur, dan ia pun tak tega membangunkannya.


"Udah sore, kita balik dulu, ya, May. Oh iya, loe belum isi juga?" tanya Diana seraya berbisik.


Diana takut menyinggung sahabatnya itu saat menanyakan perihal kehamilan pada Maya. Maya menggeleng lemah.


"Loe mau nggak ke rumah orang pinter, kemarin sepupu gue ke sana. Dikasih air doa sama disuruh jalanin amalan yang diminta Pak Hajinya gitu deh. Nggak lama langsung hamil. Kalau loe mau, ntar gue wa deh alamatnya."


"Dukun, Di?" tanya Riris penasaran.


"Bukan, bukan. Dia tuh kaya psikiater, eh apa sih tuh namanya yang suka ngobatin orang lewat air, atau pijat, akupuntur gitu deh. Nanti katanya sih, tangan kalian berdua diperiksa gitu, ketauan deh masalahnya di siapa dan kenapa."

__ADS_1


"Oh, semacam pengobatan tradisional?" tanya Maya memastikan.


"Nah, iya semacam itu lah. Cuma ngantri, nggak buka tiap hari, bukannya sore doang kalo nggak salah. Semua penyakit bisa sembuh, yang nggak bisa jalan macam struk, lama kelamaan terapi sama dia rutin, trus sembuh."


"Oh, boleh deh. Barangkali cocok, kan. Nggak ada salahnya dicoba." Maya tersenyum kecil.


"Iya, May. Tapi begituaannya juga kudu rutin. Kalau berobat doang tapiΒ  suami loe nggak nanem, ya nggak bakalan jadi juga. Hehehe."


Sontak ketiganya terkekeh.


"Iyalah, itu sih nggak pernah lupa, Di. Nggak usah diingetin juga." Maya tersipu malu.


Akhirnya mereka pun pamit pulang. Maya bahagia meskipun tak semua sahabatnya bisa hadir ke rumahnya. Paling tidak masih ada sahabat lainnya yang perhatian pada keluarganya. Apalagi sampai memperhatikan masalah dirinya yang belum juga diberi kepercayaan memiliki momongan.


Sebenarnya waktu setahun setelah menikah bukanlah waktu yang lama. Dengan kesibukannya bekerja, dan suami yang juga kuliah. Kelelahan bisa menjadi salah satu faktor dirinya yang tak kunjung hamil. Teman sekantornya pun ada yang sudah tiga tahun bahkan enam dan delapan tahun belum juga dikaruniai momongan. Mereka semua biasa saja. Hanya yang menjadi beban adalah omongan para tetangga setiap kali berpapasan dengannya.


Pertanyaan seperti, belum isi, Mbak? Kok lama sih, padahal masih muda? Atau wah jangan-jangan pada nunda ya, sibuk semua sih. Bahkan ada yang bilang kalau keluarga mereka gila kerja, dan mengatakan bahwa suaminya OKB lah. Hingga tak ingin direpotkan lebih dulu dengan kehadiran anak.


Maya hanya bisa menahan amarahnya, perasaan tersinggung dan sakit hati itu selalu ada. Dirinya ingin sekali mengajak sang suami untuk pindah rumah, tinggal di komplek perumahan yang nggak perlu dengar omongan tetangga seperti itu. Namun, sang suami selalu menolak dengan alasan kita hidup butuh bersosialisasi dengan warga, karena jika suatu saat kita terkena musibah, orang pertama yang membantu bukanlah keluarga, melainkan tetangga. Sementara kalau tinggal di komplek perumahan biasanya warganya individu, alias masing-masing. Bahkan kemarin orang komplek tak jauh dari rumah mereka ada yang meninggal sudah membusuk selama tiga hari, karena tidak ada yang tahu. Dan Adji tak mau seperti itu.


"May,"


Suara panggilan mengejutkannya,Β  ia menoleh dan melihat suaminya yang baru bangun tidur dengan rambut masih berantakan menghampirinya


"Ngapain bengong? Teman kamu udah pada pulang?" tanya Adji seraya mengambil sebuah biskuit di piring.


"Udah, barusan."


"Kamu tidurnya pules banget, aku nggak tega banguninnya."


Adji beranjak dari duduknya menuju pintu depan, memperhatikan sekeliling. Dirasa aman, ia pun menutup dan mengunci pintunya.


"Kenapa, Bang? Ada siapa?"


"Aman, nggak ada siapa-siapa. Lanjutin yang tadi, yuk. Nanggung." Adji mengeringkan sebelah matanya.


"Tapi, aku udah mandi."


"Ya nanti mandi lagi, lah."


Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Adji dengan sigap menggendong tubuh Maya dan membawanya ke dalam kamar. Kue ultah dan bunga yang tadi berada di atas kasur sudah ia pindahkan ke dapur. Jadi kini tempat tidur itu bisa dengan leluasa digunakan untuk bergulat.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hardi menatap sahabatnya yang terbaring di ranjang pesakitan dengan tatapan iba. Tubuh tinggi kekar dan biasa ditakuti itu kini lemah tak berdaya. Badannya pun mulai terlihat kurus, wajahnya menghitam dan pucat. Sementara rambut ikal pendek yang selalu klimis kini mulai kusam dan terlihat memutih, karena lama tak disemir seperti biasanya.


Di brankar tertulis nama Tn. Jimmy, sahabat yang juga menjadi rival bisnisnya. Jimmy yang sadar akan kehadiran teman lamanya itu pun tersenyum kecil. Tak ada perbincangan di antara mereka. Hanya saja, tampak raut wajah penyesalan pada Jimmy, ia yang selama ini ingin menghancurkan bisnis sahabatnya itu dengan berbagai cara. Kini, justru dirinya lah yang hancur, tak hanya perusahaan, bahkan anak dan kesehatannya pun menjadi taruhan.


"Maafkan aku, Har," ucap Jimmy lirih.

__ADS_1


Hardi mengangguk, lalu mengusap bahu sahabatnya. "Kamu yang kuat, aku sudah memaafkanmu sejak dulu."


"Terima kasih, Har. Aku benar-benar menyesal," ujar Jimmy dengan suara serak, tanpa terasa buliran air menggenangi ujung matanya hingga jatuh perlahan ke bagian pipinya.


"Semua sudah terjadi, tak ada yang perlu disesali. Kejadian ini akan menjadi pelajaran berharga untuk kamu dan keluargamu, Jim."


"Iya, aku harap besok kamu bisa hadir di sini. Aku akan menikahkan putraku Reza dengan kekasihnya, Bella. Maaf, karena ulah mereka, aku dengar menantumu mengalami kecelakaan."


Hardi terdiam, ia tak tahu permasalahan yang terjadi dengan anak dan menantunya tersebut. Terlebih kalai masalah itu ternyata juga ada kaitannya dengan Reza.


"Oh, aku tidak tahu masalah mereka. Tapi, menantuku sudah sehat dan pulang ke rumahnya."


"Alhamdulillah kalau begitu, iya hanya salah paham saja. Anakmu mengira kalau Bella hamil dengan menantumu, padahal Bella hanya ingin meminta tolong diantar untuk menemuiku dan Reza, dia hanya takut menghadapi aku dan juga Reza. Bella hamil anak Reza, Har. Selama ini aku tak pernah mengajarinya agama, sampai dia menjadi anak sebrengsek itu. Awalnya dia ingin kabur, tapi aku tak ingin menambah dosanya, dan menyuruhnya bertanggung jawab."


Jimmy menjelaskan panjang lebar duduk permasalahan yang terjadi.Β  Hardi menghela napas pelan saat mendengarnya. Pantas saja Maya kemarin pulang ke rumah dengan membawa koper, pasti dia marah dikira Bella hamil anaknya Adji, padahal bukan. Ia berpikir, mungkin Adji hendak menjemput putrinya saat itu, sayangnya kejadian tak terduga menimpanya di tengah perjalananan. Ia yakin, menantunya itu memang orang baik, tak mungkin berani menyakiti istrinya sendiri.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Malam kian larut, Maya masih menunggu sang suami di rumah. Sejak magrib tadi suaminya izin ke masjid, hingga pukul setengah sepuluh malam belum juga kembali. Padahal kondisi tubuhnya baru saja pulih.


Adji masih berada di dalam masjid dengan beberapa warga, pemuka agama, ketua RT dan ketua RW.Β  Mereka sedang membicarakan tentang pembangunan jembatan di bagian belakang desa mereka, yang menghubungkan dengan desa seberang. Jembatan yang masih berupa kayu itu akan direnovasi karena membahayakan pengguna jalan.


Iuran warga sudah terkumpul sebagian, dan minggu besok akan segera dicicil untuk membeli bahan bangunan dan menyewa pekerja. Sampai pukul sepuluh malam akhirnya rapat itu pun selesai. Para warga kembali pulang ke rumah masing-masing.


"Mas Adji,Β  udah sehat?" tanya Arin yang berjalan bersisian dengan Adji.


Arin dan beberapa pemuda ikut dalam rapat tersebut. Kebetulan dirinya sedang libur semester.


"Alhamdulillah, baik."


"Eum, kalau kabar Mas Denis?" tanya Arin malu-malu.


Adji menghentikan langkah menatap gadis do sebelahnya itu. Arin tampak tersipu dan menunduk.


"Ngapain nanyain Mas Denis? Kamu kangen ya? Bukannya kamu punya nomor handphone nya?"


"Tapi aku malu, Mas. Kalau hubungin dia duluan."


"Owh, ya udah nanti aku salamin."


"Makasih, ya, Mas."


Arin dan Adji melanjutkan langkahnya. Entah kenapa dirinya tiba-tiba penasaran dengan kabar pria yang sempat menyatakan perasaannya itu. Ia hanya ingin mengetahui apakah Denis benar-benar menunggunya, atau sudah memiliki kekasih. Jujur dalam hatinya, ia menyukai sosok pria dewasa yang pernah mengisi hari-harinya itu.


Dari kejauhan Maya melihat keakraban antara sang suami dengan tetangga mereka. Arin. Ada rasa panas yang menjalar di tubuhnya setiap kali melihat suaminya dekat dengan wanita lain. Meskipun ia yakin kalau suaminya tak mungkin mengkhianatinya. Namun, tetap saja hati wanita mana yang rela melihat suaminya akrab, mengumbar senyum pada wanita selain dirinya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


γ€€

__ADS_1


Vote komen ya gaesss


__ADS_2