Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
31


__ADS_3

***


.


Adji tak bisa menahan kesedihannya. Awan hitam bergelayut di atas sana, mengiringi pemakaman sang ayah. Tak banyak yang datang mengantar. Karena memang keluarga mereka tertutup sejak dulu. Di tambah kurangnya sosialisasi warga sekitar. Jangankan mengantar ke pemakaman, bahkan untuk datang memberi ucapan duka cita pun tidak.


Dinding rumah yang rata-rata tinggi, membuat sekat tersendiri. Para pemiliknya yang notabene konglomerat,  pengusaha atau pejabat yang jarang ada di rumahnya. Meninggalkan asisten rumah tangga mereka. Apa yang terjadi pada tetangga mereka, mana tahu, apalagi peduli.


Adji mengusap batu nisan sang ayah. Ia menunduk mendoakan. Maya berada di sebelahnya. Sementara Sean berdiri kurang lebih dua langkah di samping adiknya.


Tak lama kemudian Maya melihat dua orang yang ia kenal berjalan ke arahnya, Denis juga Sherli. Mereka hendak ziarah, karena Hardi masih di luar negeri dan tidak bisa datang.


Denis menatap curiga ke arah Sean. Ia seperti pernah mengenal pria di hadapannya itu. Ia memejamkan mata seraya mengingat-ingat.


"Udah belum doanya?" tanya Sean sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.


Adji mendongak, menatap Sean lalu bangkit.


"Ada apa lagi, Kak?" tanya Adji sedikit gusar karena di situ ada Denis.


Keluarga Maya mengenal Sean sebagai atasan Maya juga anak buah Hardi. Kini mereka dipertemukan dalam situasi yang rumit. Di mana Denis seolah ingin menghakimi Maya karena telah membohongi keluarganya sendiri tetang status Adji.


Denis yang mendengar Adji memanggil sebutan 'Kak' pada Sean,  membuatnya mengernyit dan berbagai tanda tanya berkecamuk di kepalanya.


Sean menghela napas kasar lalu menarik tangan sang adik menjauh dari mereka. Denis melirik tajam. Ia berusaha menguping percakapan keduanya.


"Kakak mau apa lagi?" tanya Adji lirih.


"Loe udah liat kan? Bokap udah nggak ada, trus gimana sama rumah dan benda berharga milik Papi?"


"Astagfirullah, Kak. Kuburan Papi aja masih basah. Bisa-bisanya Kakak ngomongin warisan."


Adji pun merasa geram dengan sikap Sean.


"Bisa lah, mau ditunggu berapa lama emang?"


"Kita bicarakan ini dengan pengacara Papi, aku yakin Papi pasti sudah menyiapkan semuanya."


Adji lalu melangkah pergi dan meraih tangan sang istri membawanya keluar dari pemakaman.


Sesampainya di luar,  Denis yang sedari tadi mengikuti mereka langsung menarik paksa tangan Maya. Adji mengernyit.


"Kenapa, Mas?" tanya Adji bingung.


"Nggak usah tanya-tanya, loe udah bohongin kita kan? Siapa dia? Kakak loe?  Bukannya loe bilang nggak punya siapa-siapa. Cuma punya bokap yang lagi sakit. Itu kan Sean tangan kanan Papa. Jangan-jangan kalian merencanakan sesuatu?" Denis menatap tajam.


Adji terdiam, ia pun bingung harus menjelaskan seperti apa agar Denis percaya bahwa dirinya tak ada niat untuk membohongi siapapun. Apalagi merencanakan sesuatunya pada keluarga sang istri.


"Kenapa? Kok diam?" bentak Denis.

__ADS_1


"Kalau iya, kenapa? Keberatan?" Suara Sean sudah berada di antara mereka.


"Eh, tolong jelasin. Apa hubungan anda dengan si gembel ini?" Denis mulai tak bisa menahan emosinya.


Ia hanya ingin melindungi adik kesayangannya itu, agar tidak masuk ke masalah keluarga mereka.


"Dia sebenarnya adik gue, tapi semenjak dia kabur waktu kita mau bakar dia hidup-hidup,  gue udah nggak mau anggap dia adik lagi, apalagi sekarang cuma jadi pemulung. Loe tenang aja. Gue bakal berbakti kok sama perusahaan. Ini masalah keluarga gue. Karena nama dia masih ada di kartu keluarga. Dan menurut hukum masih dapat warisan bokap gue. Makanya gue cuma mau minta dia ngurusin surat warisan itu."


Denis mengatur napasnya. Tetap saja dia tidak percaya. Apalagi sekarang Maya sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Ia hanya takut adiknya hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk mengeruk harta juga mengalihkan perusahaan. Dilihat dari cara Sean yang begitu gila harta.


"Gue tetep nggak percaya, pokoknya loe, Adji. Sebelum masalah loe selesai sama Sean. Jangan pernah temuin Maya!" tegas Denis seraya menarik tangan Maya ke arah mobilnya.


Adji mengejar,  Maya meronta minta dilepaskan.


"Mas,  Mas Denis. Nggak bisa gitu dong. Maya sudah jadi istri aku. Dia harus ikut kemana pun aku pergi." Adji terus mengejar.


Maya dipaksa masuk ke mobil,  begitu juga dengan Sherli.


"May,  buka pintunya, May!" Adji mengetuk kaca mobil.


Maya berusaha membuka pintu mobil yang terkunci, sayang Denis lebih cepat menghidupkan mesin mobil lalu dengan cepat mobil menjauh.


"Maya!" teriak Adji histeris. Saat mobil yang membawa sang istri meninggalkannya.


Maya menangis di dalam mobil, tak henti ia memukul sang kakak yang duduk di sebelahnya.


"Eh,  gue tuh nyelamatin elu. Harusnya loe bilang terima kasih sama gue."


"Turunin gue nggak?" bentak Maya.


"Enggak!"


"Atau gue loncat dari sini." Maya hendak membuka pintu.


"Jangan nekat loe, May."


"Gue serius, Mas."


Kunci terbuka dan Maya nekat menarik bukaan pintu, pintu mobil terbuka. Denis melotot tak percaya kalau adiknya benar-benar akan berbuat nekat hanya demi Adji.


"May,  jangan!"


Brugh!


Seketika Denis menginjak rem. Tubuh Maya terpental dan berguling di jalanan. Adji yang sedari tadi mengejar sang istri dari belakang dengan menumpang ojek, langsung turun dan menyelamatkan istrinya tersebut.


"May, bangun, Sayang." Adji memangku kepala Maya.


Darah segar mengalir dari pelipis dan kening sang istri. Denis hendak mengambil alih tubuh adiknya dari tangan Adji. Namun, Adji menepisnya.

__ADS_1


"Dji, gue mau nolong adik gue!" bentak Denis.


"Biar saya yang bawa ke rumah sakit." Adji menggendong tubuh istrinya ke ojek yang masih menunggu tak jauh dari situ.


"Adji!" teriak Denis.


Motor melaju membawa mereka bertiga. Beruntung lokasi kecelakaan tadi tak jauh dari sebuah klinik dua puluh empat jam. Kalau harus dibawa ke rumah sakit, jaraknya masih cukup jauh.


Maya sudah masuk diruangan dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Adji cemas.


"Alhamdulillah, istri Bapak nggak kenapa-kenapa, hanya luka dan memar saja semuanya normal."


"Alhamdulillah." Adji bernapas lega.


"Tapi istri saya boleh pulang kan?"


"Boleh,  istri Bapak sudah siuman. Oh iya ini resep yang harus ditebus, ada obat luka luar dan antibiotik. Tolong banyak istirahat." Dokter menyerahkan selembar kertas resep.


Adji menerimanya, "Terima kasih, Dok."


Ia pun melangkah ke tempat tidur di mana sang istri masih terbaring lemah.


"Dji," panggilnya lirih.


Adji mendekat, Maya duduk dan langsung memeluk suaminya. Mereka berpelukan lama di mana Maya menangis tersedu-sedu.


"Aku nggak mau pisah sama kamu," ucap Maya lirih.


"Aku juga, makanya tadi aku ngikutin kamu dari belakang." Adji mengusap kepala sang istri dengan lembut. Lalu mengecup pucuk kepalanya.


"Kita pulang, aku nggak mau lama-lama di sini, aku takut Mas Denis akan misahin kita."


"Iya,  kita pulang."


"Naik apa, Dji?"


"Naik gerobak lah," jawab Adji santai.


"Ya Allah, Adji."


"Iya, enggak. Kita naik taksi." Adji mencubit pipi Maya gemas.


***


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2