
Senin pagi. Maya bersiap pergi ke kantor. Undangan untuk rekan kerja sudah ia siapkan. Begitu juga untuk para sahabat yang akan dia berikan langsung.
Ia berdiri di depan cermin besar dalam kamar. Dengan kemeja warna pastel dipadu celana panjang hitam. Rambut panjang ia biarkan tergerai, dengan jepit kecil di bagian poni.
Maya menghela napas dan tersenyum kecil. Sebentar lagi ia akan mengakhiri masa lajangnya. Hidup yang akan ia jalani kelak sepenuhnya untuk mengabdi pada sang suami. Mungkinkah ia akan tetap melakukan pekerjaannya seperti saat ini atau tidak, ia belum bisa membayangkannya.
Ia melangkah mengambil tas di ranjang, lalu berjalan keluar kamar. Saat hendak menutup pintu kamar dari luar, pandangannya terfokus pada sesosok pria yang juga baru saja keluar dari kamar sebelah. Siapa lagi kalau bukan sang kakak yang juga sudah bersiap berangkat kerja. Dengan mengenakan kemeja motif garis-garis warna hitam berjalan seraya menyisir rambutnya dan bersiul riang. Bahkan keberadaan Maya di situ tak dihiraukan.
Maya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang kakak.
"Woy, selonong boy loe!" bentak Maya.
Denis menoleh sekilas, lalu menyelipkan sisir kecil ke dalam saku belakang celana.
"Ada apa adikku sayang?" tanyanya tersenyum kecil.
"Tsah, sayang-sayang, tumben banget. Biasanya nyolot kalo gue panggil." Maya melangkah duluan menuruni anak tangga, Denis mengekor.
"Loe nggak bisa liat kakak loe bahagia apa?"
"Iya deh iya, bae-bae patah hati. Sakit."
"Nggak akan, sepertinya kali ini Dewi Fortuna sedang berpihak padaku," ujar Denis dengan pedenya.
Maya hanya menghela napas pelan. Mereka lalu menuju ruang makan. Hardi dan Sherli sudah menunggu mereka.
"Kalian itu nggak bisa apa nggak ribut sehari aja," ucap Hardi seraya melirik ke arah kedua anaknya itu.
"Kita nggak ribut kok, Pah. Ya kan adikku sayang?" Denis merangkul bahu Maya.
"Apaan sih loe?" Maya bergidik.
"Hehehe."
"Nah gitu dong akur," celetuk Sherli.
***
.
Siangnya.
Di kediaman Adji.
Adji membuka buku tabungan, dilihatnya barisan angka yang tertera, uangnya masih belum cukup untuk membeli cincin pernikahan. Masih kurang banyak. Sementara waktu sudah tinggal dua Minggu lagi. Ia merasa mungkin harus mencari lagi kerja sampingan.
Ia kembali meletakkan buku tabungan itu ke dalam lemari pakaian. Lalu mengambil topi dan melangkah keluar rumah, hendak ke pasar.
Perutnya terasa perih, sejak kemarin siang dia belum makan nasi, dan hari ini janji pada Maya akan ke rumah sang ayah. Belum lagi ia harus menulis list nama-nama yang akan diundang di pernikahannya itu.
Adji melangkah keluar gang sambil menendang-nendang batu kecil di depannya. Seraya berpikir pekerjaan apa yang hendak ia geluti untuk menambah uang tabungannya.
"Adji!" Sebuah suara panggilan membuatnya menoleh.
"Hey, Bang Darma?" Adji berbalik badan melihat seorang pria dengan kaus singlet putih yang sudah berwarna keabu-abuan dan celana pendek robek.
"Iya, loe mau ke mana?"
Pria tinggi berkulit hitam itu mendekati Adji.
"Kenapa, Bang?" tanya Adji.
"Loe mau bantu gue nggak? Gue lagi butuh orang nih."
"Buat apa?"
"Di bengkel. Loe ngerti mesin?"
"Dikit sih, Bang."
"Ya udah, loe ikut gue deh, bos gue lagi buka cabang, nyari karyawan buat bantu-bantu di bengkel. Muka loe kan lumayan, bisa kali ntar jadi adminnya."
"Tapi kan emang nggak pake surat lamaran?"
"Yaelah, sama gue mah pake jalan pintas. Udah yok. Eh tapi loe mau ke mana emang?"
"Nyari kerja sampingan sih, saya lagi butuh banyak biaya juga. Dua Minggu lagi mau nikah."
"Wah, selamat ya, Dji. Nggak nyangka gue. Ya udah mungkin ini rezeki loe. Udah GPL. Setor muka dulu aja ke bos gue."
"Iya, Bang. Makasih."
"Sama-sama."
Adji akhirnya ikut dengan Darma ke sebuah bengkel yang tak jauh dari pasar. Bengkel besar yang berdiri sejak lama di daerah situ. Terkenal dengan pelayanannya yang bagus, dan juga harganya yang sedikit miring dibanding dengan bengkel lainnya.
Darma mengajak Adji bertemu dengan kepala divisi. Setelah berbincang lama. Akhirnya Adji diterima untuk sementara membantu Darma. Sebelum akhirnya ia dilepas di cabang yang baru. Adji mulai bekerja besok pagi.
"Makasih, Bang. Besok pagi saya pasti ke sini. Kebetulan hari ini saya ada janji juga sama calon saya. Ada perlu," ucapnya saat keluar dari ruangan.
"Okey, pokoknya gue tunggu besok pagi. Jangan kesiangan, hehehe."
"Siap!"
Kruuuk ...
Adji meringis, perutnya berbunyi.
"Loe belum sarapan, Dji? Ini udah jam setengah dua belas loh." Darma menatap erat.
Adji hanya menggeleng lemah.
"Ya Allah, nih gue ada duit. Loe pake dulu aja buat beli makan." Darma menyerahkan selembar uang berwarna biru pada Adji. Adji menolak.
"Maaf, Bang. Saya ada kok uang."
"Iya, tapi pasti duit loe itu pas-pasan, buat ongkos abis nanti. Kalo loe pingsan di jalan kan kasihan cewek loe."
"Hahaha. Abang bisa aja. Nggak, Bang. Makasih. Saya permisi dulu." Adji tak menerima uang pemberian Darma. Lalu ia pamit pergi.
Darma menggeleng dan tersenyum.
"Masih ada orang kaya loe, Dji. Beruntung yang dapet loe. Sabar, Sholeh, nggak manfaatin orang atau keadaan, pekerja keras," gumamnya.
Adji merogoh saku celananya, melihat hanya ada uang sepuluh ribu dua lembar, dan selembar uang lima ribu, juga dua lembar uang dua ribuan. Untuk ongkos ke rumah sang ayah butuh sepuluh ribu.
Ia mampir ke sebuah warung pinggir jalan, membeli segelas air mineral dan sepotong roti untuk mengganjal perutnya yang lapar. Kemudian ia kembali melanjutkan perjalanan. Mungkin ia akan makan siang di rumah sang ayah nanti.
****
.
__ADS_1
Tok tok tok.
"Ya masuk!" Suara dari dalam ruangan.
Maya membuka pintu ruangan bosnya. Sean. Ia sedang sibuk di depan layar laptop saat Maya masuk.
"Eh, kamu. Ada apa? Silakan duduk!" Sean mempersilakan Maya duduk di kursi seberang mejanya.
Maya menyodorkan sebuah undangan pernikahan untuk bosnya itu.
"Ini, Pak. Saya mau ngasih ini," ujarnya tersipu.
Sean menerima dan membacanya sekilas. Lalu tersenyum miring.
"Wah, selamat ya," ucap Sean. Ia pikir mungkin Maya tidak tahu kalau dirinya adalah kakak dari calon suaminya itu.
"Iya, Pak. Makasih. Kalau begitu saya juga mau minta izin pulang, Pak. Karena ada urusan keluarga." Maya menunduk, takut kalau ia tak diizinkan.
Sean mengernyit.
"Owh begitu? Belum selesai?"
"Iya, Pak."
"Okey, saya izinkan. Tapi besok masuk kan? Cuti kamu kan masih Minggu depan."
"Iya, Pak. Saya tahu."
"Ya udah."
"Makasih, Pak. Saya permisi dulu."
"Iya, silakan!"
Akhirnya Maya diizinkan untuk pulang cepat, karena memang sudah ada janji dengan Adji akan kerumah calon mertuanya. Juga janji dengan sahabat lamanya sore nanti untuk memberikan undangan.
Maya kembali ke meja kerja, mematikan komputer miliknya, lalu berkemas pulang. Monik yang duduk di sebelah menatap heran.
"Mau ke mana, May?" tanyanya.
"Ke rumah calon mertua gue," jawab Maya seraya berbisik, takut terdengar oleh Doni atau Sean.
"Owh, hati-hati!"
"Tengkyu. Gue duluan ya."
"Sip!"
Maya beranjak dari duduknya dan menuju ke lobi, berdiri di depan lobi sambil memesan ojek online. Tiba-tiba tangannya ada yang menarik ke arah samping kantor.
"Doni! Lepasin. Ngapain sih kamu?" Maya kesal dengan sikap Doni yang ternyata dari tadi mengikutinya.
"May, kamu mau ke mana? Aku antar ya!"
"Enggak! Aku mau pulang. Kamu kan masih banyak kerjaan."
"Aku bisa izin kok sama Sean. Buat nganterin kamu."
"Enggak, Don! Aku ada urusan."
"May, aku cinta mati sama kamu, aku nunggu kamu dari dulu. Kenapa sih kamu nggak mau nerima aku? Aku ganteng, kaya, kurang apa coba?" Doni terlihat begitu memohon.
Doni menerima undangan itu dan membacanya sekilas.
"Apa-apaan ini? Kamu mau nikah? Nggak akan aku biarin kamu nikah sama orang lain, May," ucap Doni geram.
"Emang kamu siapa? Bokap aku? Bokap aku aja setuju, kenapa kamu sewot. Udah ah aku mau pergi!" Maya lalu bergegas naik ke atas motor, ojek online yang dipesannya sudah datang sejak tadi.
Doni mendengkus kesal, meremas undangan itu dan membuangnya di tempat sampah, lalu tempat sampahnya ia tendang. Kemudian ia meringis kesakitan.
****
.
Perjalanan siang itu tak begitu macet. Namun, cuaca sangat panas. Bahkan Maya juga belum sempat makan siang. Beruntung ia masih ingat jalan menuju rumah kediaman orang tua Adji.
Akhirnya ia tiba kembali di depan rumah besar itu, setelah membayar ongkos ia membuka pintu pagar dan menutupnya dari dalam. Adji sudah terlihat duduk di teras rumah, tersenyum menyambut pujaan hatinya datang.
Maya menyibak rambut ke belakang lalu menguncinya karena gerah.
"Kamu udah lama?" tanya Maya.
"Iya, ayo. Tadi Mbak bilang gimana sama Kak Sean?" tanya Adji sambil mengajak Maya masuk ke rumah.
"Aku bilang kalau ada urusan keluarga."
"Owh."
Kini Adji sudah berada di kamar sang ayah. Mereka berjalan mendekat. Sang ayah terlihat lemah, ia mendengar kedatangan keduanya.
"Pih, ini Maya. Yang aku ceritakan waktu itu. Dia calon istri aku." Adji memperkenalkan Maya pada ayahnya.
Mata tua itu terbuka perlahan, lalu melirik ke arah keduanya. Di ujung matanya terlihat berair. Lalu buliran air bening itu menetes perlahan. Tangan kanannya bergerak-gerak hendak menggapai tangan sang anak.
Adji menggenggam tangan ayahnya erat. Sang ayah tersenyum kecil. Kini sudah tidak ada lagi selang yang menutupi wajah tua itu. Hanya saja ayahnya belum bisa untuk berbicara.
"Cantik kan, Pih?" tanya Adji.
Sang ayah tersenyum dan mengangguk pelan.
"Papih setuju?" tanyanya lagi.
Kembali pria tua itu mengangguk lirih.
Adji lalu meraih tangan wanita di sebelahnya itu, meletakkannya di atas tangan sang ayah. Kemudian ia kecup keduanya.
"Kalian orang yang aku sayang," ucap Adji lirih.
Tanpa terasa pipi Maya telah basah. Air matanya tak dapat ia bendung, melihat bagaimana ketulusan hati calon suaminya itu. Padahal sang ayah dulu sempat ingin membunuhnya.
Maya menyeka air matanya.
"Kok nangis?" tanya Adji pada wanita di sebelahnya itu.
Maya hanya tersenyum. Adji mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi mulus itu.
"Nanti cantiknya luntur kalo nangis," ujar Adji membuat Maya tersipu malu.
"Sekarang waktunya Papih istirahat lagi. Aku pulang ya, Pih." Adji mencium kembali punggung tangan sang ayah dan berpamitan pulang. Begitu juga dengan Maya.
***
__ADS_1
.
"Mbak, mau ke mana lagi?" tanya Adji.
Kini mereka sedang duduk di sebuah taman yang tak jauh dari rumah ayahnya Adji.
"Janjian sih sama teman, ini mau ngasih undangan. Itu teman-teman aku yang waktu itu di rumah sakit. Sahabat."
"Owh, di mana?"
"Cafe depan bioskop. Eh kapan-kapan kita nonton yuk!"
"Nonton apa?"
"Film lah, masa kebakaran!" jawab Maya kesal.
"Hahaha ... ya iya tahu. Film apa maksud saya."
"Apa kek, yang romantis gitu, hehehe." Maya menyenggol bahu Adji malu.
"Nanti saja kalau acara sudah selesai, Mbak."
"Yah hiburan, Dji." Maya merengut.
"Tuh hiburan, Mbak!" Adji menunjuk ke arah permainan anak tak jauh dari mereka duduk.
Ada ayunan, perosotan, kemidi puter, kolam ikan kecil.
"Emang aku anak bocah."
"Hihihi." Adji terkekeh.
"Malah ketawa."
"Mbak lucu kalau ngambek. Kek ada manis-manisnya gitu," ledek Adji.
"Seneng banget godain mbaknya," ucap Maya.
"Owh, gitu. Iya nih. Dedek seneng godain Mbak. Mbak, minta es krim dong. Itu!" Adji bergaya memohon seperti anak kecil sambil menunjuk ke arah Abang tukang es krim keliling yang naik sepeda.
"Adji! Apaan sih, geli tau dengernya. Dedak dedek. Ish." Maya mencubit pinggang Adji.
Mereka berdua tertawa bersama, Adji menyandarkan tubuhnya ke belakang. Maya melirik sekilas, ia lalu merebahkan kepalanya di atas bahu kiri Adji. Kini mereka tak berjarak.
Adji dapat mencium aroma harum rambut wanita pujaannya itu. Ia menarik napas dalam. Jantungnya berdebar-debar, darahnya berdesir perlahan. Sambil memejamkan mata, menghirup udara siang itu dengan penuh suka cita.
Tangan kiri Adji mengusap lembut kepala Maya.
"Mbak, kok mau sih sama saya?" tanya Adji.
"Kan udah aku bilang, khilaf. Biarin ya khilafnya agak lamaan."
"Hehehe ...."
"Kamu nggak melet aku kan?"
"Uang dari mana saya buat bayar dukun pelet, Mbak."
"Ya kali, dukunnya mau di sogok pake botol bekas."
"Hahaha." Adhi terbahak.
"Mbak, sejak kapan jadi pelawak sih? Bikin gemes." Adji menarik hidung Maya pelan.
"Aduh, sakit, Adji!" Maya mengusap-usap hidungnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Maya segera meraihnya dari dalam tas.
"Ya hallo?"
"May, loe di mana?" tanya suara di seberang sana.
"Di taman."
"Ngapain? Siang-siang begini."
"Ngapain kek udah gede ini."
"Ye, kita udah sampe nih. Buruan ke sini."
"Iya iya, bentar."
Tut Tut Tut ....
Panggilan terputus.
"Temennya ya, Mbak?"
"Iya, kamu mau ikut?"
Adji menggeleng.
"Malu, saya nggak punya uang juga, nggak enak kalau nanti Mbak yang traktir."
"Ya Allah, Dji. Nggak segitunya kali."
"Saya mau pulang aja. Ada kerjaan."
"Sok sibuk, mau ngapain sih? Palingan ngumpulin botol bekas lagi kan?"
"Ya mau gimana, itu kan emang kerjaan saya. Saya juga belum nulis list undangan yang Mbak minta kemarin."
"Owh iya ya, ya udah deh. Kamu pulang naik apa?"
"Angkot aja. Mbak naik apa?"
"Ojek online. Pengennya sih kamu yang ngojekin, hehehe."
"Insya Allah nanti kalau ada rezeki, saya rela jadi tukang ojeknya Mbak Maya."
"Aamiin."
****
.
.
Jangan lupa vote dan komentarnya yesss
Luph u all 😘😘😘
__ADS_1