
💗💗💗
Maya sibuk membuatkan mie rebus untuk sang kakak. Hatinya masih bertanya-tanya kenapa kakaknya itu bisa tiba-tiba datang ke rumahnya. Saat sedang mengaduk mie dalam panci kecil, Adji sudah berada di sebelahnya menatap heran.
"Kamu masih lapar? Bikin mie sampe dua gitu?" tanya Adji.
Maya menoleh dan tersenyum kecil, "Enak aja, emang perut aku karung apa. Buat Mas Denis."
"Mas Denis? Dia di sini?"
"Iya, ada di depan lagi …."
Belum sempat Maya melanjutkan ucapannya, sang suami sudah lebih dulu pergi ke ruang tamu.
Adji melihat kakak iparnya itu sedang tidur, kelihatannya begitu lelah. Ia pun enggan mendekat dan kembali ke dapur menghampiri istrinya.
"Kok kakak kamu bisa ada di sini?" tanya Adji bingung.
"Aku juga nggak tahu, Bang. Dia belum cerita, tadi sih pas datang mukanya kaya orang bingung gitu. Langsung minta makan."
"Itu sih bukan orang bingung, May. Tapi orang lapar. Kasihan, udah belum mienya?"
"Udah, nih."
Maya menuang mie lengkap dengan telur, sawi dan cabe rawit ke dalam mangkuk, lalu meletakkannya di atas nampan beserta segelas air putih. Kemudian membawanya ke depan, Adji pun mengekor.
Setelah meletakkan nampan tadi di atas meja, Maya duduk di kursi sebelah sang kakak yang masih terlelap.
"Jangan dibangunin, May. Kasihan," ujar Adji.
"Lebih kasihan lagi kalau nggak dibangunin, Bang. Itu nanti mienya bisa jadi segede belut, mekar."
Maya menyentuh tangan Denis yang menutupi wajah. "Mas, bangun, Mas. Nih mienya udah jadi."
"Ehm." Denis hanya menggeliat sesaat dan membuka mata.
Aroma mie rebus sudah menusuk hidung, tubuh yang tadinya enggan tuk beranjak. Kini perlahan mulai dapat bergerak, Denis menegakkan tubuhnya, menelan saliva melihat mie rebus yang asapnya masih mengepul di hadapannya. Menggugah selera, perutnya pun sudah menjerit-jerit minta diisi.
Denis mengambil minum, lalu mengambil mangkuk dan mulai menyuapkan mie ke dalam mulutnya. Adji dan Maya saling pandang, ada yang berbeda dengan sikap pria yang tengah melahap mie dengan cepat itu. Tak biasanya mereka berdua melihat sosok yang tengil tengah kelaparan.
💗💗💗
"Gue bingung, May, Dji. Tadi bokapnya Arin minta gue buat cepet-cepet lamar si Arin." Denis yang sudah selesai makan, mulai membuka suara.
Ekspresi wajah adik dan iparnya yang mendengar Denis berbicara itu pun tak terkejut. Malah terkesan biasa saja, datar. Membuat Denis menarik napas dalam.
"Kalian kok nggak kaget sih?" tanya Denis kesal.
"Kaget kenapa, Mas? Bukannya harusnya Mas senang, ya? Udah dikasih lampu hijau sama bapaknya Arin." Maya menatap sang kakak serius.
"Yah, May. Bukannya gitu, cuma kan gue bingung. Belum ada persiapan sama sekali, tau dia ada di sini aja gue udah seneng banget. Tapi, masalah nikah kan buat seumur hidup, nggak bisa diputuskan secara mendadak."
__ADS_1
"Buktinya, kita bisa kok," celetuk Adji.
"Nah iya bener apa kata Adji, malah kita nggak saling kenal. Mas, kan udah lama juga pedekate."
"Ya itu sih beda, May. Loe patah hati butuh pelarian. Adji miskin, butuh duit. Ya kalian saling ketergantungan. Kalo gue?"
Hati Adji memanas mendengar ucapan sang kakak iparnya itu. Tapi, ia mencoba menahan diri. Sudah biasa memang dirinya dihina dan direndahkan oleh pria di hadapannya itu. Sampai kapan pun, siapa dirinya di masa lalu, tak akan pernah merubah pandangan seorang Denis. Bagi Denis, dirinya tetaplah pria miskin, pemulung yang memanfaatkan adiknya.
"Mas jahat banget ngomong kaya gitu. Ya, terus kalo Mas sama Arin emang saling Cinta, trus apalagi yang ditunggu? Nggak ada, kan?" Nada suara Maya pun meninggi, ia tak terima suaminya diejek dan dihina seperi tadi.
Maya mungkin saat bertemu dengan Adji ketika dirinya patah hati, butun seseorang untuk menggantikan mantan tunangannya untuk menjadi suami. Namun, pernikahannya dengan Adji bukan sekedar pelarian, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, bahkan Adji mampu mengikis dan menghapus sedikit demi sedikit bayangan masa lalu Maya bersama mantan tunangannya itu.
"Kok loe ngegas, sih, May?" tanya Denis sewot.
"Ya, Mas Denis ngomongnya begitu. Emang salah kalau suami gue miskin? Yang penting dia nggak miskin ilmu, juga iman."
"Terserah apa kata loe, deh, May. Gue bingung."
"Ya udah, mendingan sekarang Mas Denis pulang, deh. Udah numpang makan, numpang curhat, pake ngatain suami gue lagi." Maya memalingkan wajahnya kesal.
Adji hanya diam, ia tak ingin ikut berkomentar. Salah-salah dia yang akan kena cacian lagi oleh kakak iparnya itu.
"Loe ngusir gue, May?"
"Iya."
Denis bangkit dari duduknya, menghela napas pelan. "Sedih gue, diusir adek sendiri. Punya suami nggak tegas."
"Naik apa?" tanya Denis.
"Gerobak," jawab Adji spontan.
Denis menoleh dan melotot, sementara Adji hanya menunduk. Maya pun menahan tawa.
"Makasih," jawab Denis ketus lalu berjalan ke luar rumah menuju jalanan.
💗💗💗
"Nyebelin banget sih tuh orang, dari dulu sampe sekarang kayanya hobi banget ngatain kamu, kamu juga diem aja lagi dikatain," ucap Maya sewot sambil merebahkan tubuhnya di kursi ruang tamu.
Adji yang melihat istrinya marah-marah hanya tersenyum kecil, berjalan mendekat dan duduk di sebelah sang istri.
"Udah sih, kok kamu yang marah. Aku biasa aja. Emang benar yang dibilang kakak kamu kan? Aku emang miskin, tanpa kamu, aku bukan siapa-siapa."
"Ya tetep aja kata-katanya tuh nyakitin."
Adji meraih bahu istrinya, memutar tubuh itu menghadap ke arahnya. "Masih mau marah-marah? Kita malam mingguan yuk!" ajak Adji merayu sang istri.
"Ke mana?"
"Toko buku, ada buku kuliah yang mau aku cari. Lagi pula kabarnya lagi ada bazar gitu. Promo novel. Bukannya kamu suka baca?"
__ADS_1
"Serius kamu? Tapi kita ke sana nggak naik gerobak, kan?" ledek Maya.
"Nggak lah, Sayang. Tapi, kalau kamu mau gapapa. Aku dorongin."
"Apaan sih, Bang." Maya menjawil pinggang suaminya.
Adji lalu merengkuh tubuh sang istri, memeluknya erat dan mengusap kepalanya, kemudian mendaratkan kecupan di pucuk kepala wanita itu.
"Naik busway, ya." Adji mengurai pelukannya.
Maya menatap suaminya heran, bukankah di rumah ada sepeda motor. Kenapa suaminya malah mengajaknya naik busway.
"Nggak naik motor aja?"
"Enakan naik busway, nggak ribet pakai helm, cari parkiran. Langsung turun depan gramedia."
"Tapi, kan, ribet kalau belanja banyak. Belum tentu juga dapat duduk. Nggak bisa pelukan pula." Maya kembali merengut dan memalingkan wajahnya.
Cuaca yang mendung syahdu itu membuat Maya ingin menghabiskan malam minggu bersama suaminya dengan berjalan-jalan. Naik motor keliling kota layaknya pasangan lainnya. Bisa berpelukan di atas motor, berhenti di atas jembatan layang sambil menatap mobil yang melintas di bawahnya.
Adji terbahak mendengar ucapan istrinya barusan.
"Astaghfirullah, Mayang. Kamu naik motor cuma pengen pelukan? Nggak malu diliatin orang? Sini, sini, aku peluk sampai kamu puas." Adji pun meraih kembali tubuh sang istri.
Maya memberontak kecil, "Abang, ish, genit."
"Suka juga digenitin. Sini, aku bilangin."
"Apa?"
Adji memainkan rambut istrinya, seraya menatap erat wajah wanita di hadapannya itu. Keduanya saling bersitatap. Menyelam di pikiran masing-masing. Perasaan hangat menjalar di tubuh mereka, keintiman itu seringkali terjadi. Sampai saat ini Adji masih belum percaya dengan apa yang didapatkannya. Seorang istri yang cantik, baik hati, berpendidikan tinggi dan anak pengusaha kaya.
Bagaikan mimpi di siang bolong. Bahkan ia bisa melanjutkan kuliah berkat orang tua istrinya itu. Ia tak tahu, seandainya tak pernah bertemu dengan Maya, melintas dan menolongnya di rel kereta waktu itu. Akankah nasibnya akan berubah seperti saat ini. Allah sebaik-baik pemilik rencana.
Maya memandangi wajah tampan sang suami, lalu mengusap pipinya lembut. Jantungnya yang sejak tadi berdebar, kini mulai dapat dikondisikan. Ia tak kuat lama-lama dipandangi dengan intens seperti itu. Sang suami pasti akan berbuat lebih setelah ini, ia bisa membaca hal tersebut.
Tangan Adji yang semula hanya memainkan rambut sang istri, kini membelai lembut leher jenjang itu hingga ke bagian belakang. Maya tak berkutik saat bibirnya bersentuhan dengan bibir sang suami, kedua matanya terpejam saat gigitan lembut mengenai bibir bawahnya. Darahnya pun seketika berdesir, menikmati tiap sentuhan tangan suaminya yang menyusup ke dalam celah baju.
"Allahu Akbar Allahu Akbar."
Suara adzan dhuhur berkumandang, spontan Adji melepas pagutannya. "Udah dhuhur. Kita sholat dulu," ujar Adji seraya bangkit dari duduk.
"Habis sholat?"
"Ke gramedia lah, emang mau ke mana?"
Adji melangkah ke arah kamar mandi, sementara Maya menarik napas kasar. Ternyata kegiatan tadi hanya sampai di situ. Padahal tubuhnya menginginkan lebih.
💗💗💗
Tbc
__ADS_1
Segini dulu ya, yang pengen mites Denis, ane persilakan 😂😂😂