
***
Hari ini Maya bersiap untuk pulang. Keluarganya sudah menjemput. Namun, Adji tidak terlihat batang hidungnya. Ia tak masalah, karena Adji juga sudah tahu kalau hari ini adalah kepulangannya. Kemarin Adji sudah bilang kalau ia tak bisa ikut menjemput.
"Udah siap semua, May?" tanya Hardi sang ayah.
"Udah, Pah."
"Pacarnya mana, Mbak?" tanya Sherli celingukan.
"Ngapain nanya-nanya?" sahut Maya jutek.
"Dih, gitu doang marah."
"Udah udah, ayo buruan, keburu siang, panas tahu." Denis mengangkat tas berisi pakaian Maya mengikuti papanya yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu.
Mereka masuk ke mobil, Denis yang menyetir, Hardi di sebelahnya, sementara Maya dan Sherli duduk di belakang.
"May, Adji sudah tahu kamu pulang?" tanya Hardi.
"Sudah, Pah. Kemarin dia juga ngasih ini." Maya menyerahkan amplop berisi berkas untuk mendaftar ke KUA.
Hardi menerimanya.
"Owh, okey. Besok papa urus semuanya."
"Makasih, Pah."
"Oh iya, pernikahan kalian tiga Minggu lagi. Besok sore ajak Adji untuk fitting baju ya."
"Serius, Pah?" tanya Maya dengan mata berbinar.
"Iya."
"Pah, jadi tuh nikah sama tukang mulung?" tanya Denis sengit.
"Kamu kenapa sih? Meskipun pemulung. Adji anak yang baik, sopan. Pekerjaannya juga halal."
"Tapi, Pah. Emang papa nggak malu nanti sama tamu undangan kalau sampai mereka tahu siapa Adji sebenarnya?"
"Ya makanya jangan sampai ketahuan, mulut kamu dijaga."
Denis hanya diam, dengan wajah kesalnya.
Maya terlihat senyum-senyum, tangannya mengusap-usap benda pipih yang menyala. Mencoba menghubungi Adji, sayangnya tak ada respon. Bahkan wa nya hanya centang satu.
***
Sesampainya di rumah, Maya langsung masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuh di ranjang.
"Akhirnya kembali juga ke kamar ini," gumamnya lirih.
Brak!
Pintu kamar terbuka, Denis sudah berdiri di depan pintu kamar, ia melangkah mendekati sang adik yang sedang tiduran.
"Bisa nggak sih ketuk pintu dulu!" omel Maya.
"May, loe jangan bercanda deh, mending pernikahan itu dibatalkan. Gue nggak mau loe hidup susah sama anak itu." Denis kini duduk di tepi ranjang.
"Mas, bisa nggak sih liat adiknya seneng?"
"May, justru itu. Gue nggak mau hidup loe susah nantinya. Masih banyak kok cowok yang lebih mapan dari pada dia."
__ADS_1
"Tapi Mas bisa nggak ngejamin hatinya nggak sebejat Alex?"
"May, namanya cowok, seribu satu yang setia."
"Nah, itu dia yang satunya, dan Mas Denis yang seribunya."
"May, dengerin gue. Aduh gue harus ngomong gimana sama loe ya, biar loe tuh tahu. Kalau kehidupan yang sesungguhnya itu nanti, setelah loe menikah. Loe juga emang yakin dia bakalan setia? Loe sendiri aja kan pasti belum kenal dia lebih jauh."
Maya hanya terdiam. Ia duduk menatap Denis di sebelahnya.
"Gue kan masih kerja, Mas. Kita masih bisa hidup layak kok."
"Tapi, itu sekarang. Kalau nanti kalian udah nikah, dan anak itu nyuruh loe berhenti kerja. Loe bisa apa? Loe kan nggak biasa hidup susah."
"Nggak mungkin lah."
"Kenapa nggak mungkin? Bisa aja kan?"
"Mas tenang aja deh, nggak usah mikirin hidup gue. Bilang aja loe ngiri. Makanya buruan nikah."
"Masih banyak pertimbangan kenapa sampai sekarang gue belum berani ambil keputusan besar itu."
"Kenapa? Loe emang mau dilangkahi dua adik perempuan loe?"
"Emang Sherli mau nikah?" Mata Denis melotot tajam.
"Ya nggak menutup kemungkinan kan? Katanya kalau dilangkahi itu bisa jadi bujang lapuk." Maya tersenyum miring ke arah sang kakak.
"Nggak usah nakut-nakutin gue. Sherli bukan kaya loe. Pacar aja nggak punya."
"Ya baguslah, kecil-kecil kok pacaran."
"Lah, loe kan dulu gitu. Masih SD udah pacaran. Eh gedenya malah dapet pemulung. Heran gue!" Denis bangkit dari duduknya.
"Aduh!" pekik Denis sambil mengusap-usap punggung itu, dan mengambil bantal yang terjatuh lalu membawanya keluar kamar.
"Woy, bantal gue tuh!" teriak Maya yang mengejar Denis keluar kamar.
"Aduh," rintih Maya saat kaki kanannya kepentok tangga. Ia lupa kalau ia baru saja sembuh. Beberapa bagian tubuhnya masih ada yang berasa memar, Denis masuk ke dalam kamarnya membawa bantal milik sang adik. Maya mendengkus kesal, ia lalu masuk kembali ke kamar.
***
.
Di tempat lain, adji terlihat sedang bekerja, mengais botol bekas yang di ambilnya dari tempat sampah, atau pinggir jalanan. Hari itu begitu terik, ia sampai kelelahan. Sejak pagi ia sudah mendapatkan dua karung besar botol plastik bekas.
Kini tubuhnya sudah mulai terasa lelah, ia bersyukur karena kemarin banyak yang hajatan, jadi banyak pula gelas-gelas plastik yang berserakan. Karena hanya itu ladang rezekinya.
Ia kini sedang menikmati angin yang berembus pelan, sambil duduk di bawah pohon tepat di depan sebuah rumah besar bercat abu-abu. Entah siapa pemiliknya, yang pasti tempat itu cukup untuk beristirahat barang sejenak.
Ia mengipas-ngipaskan topi ke wajah, sesekali melihat ke sekeliling jalanan nan sepi, siang hari warga komplek mungkin sedang asyik di dalam rumah, menonton televisi atau bermain handphone.
Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti tepat di hadapannya. Adji mengernyit, lalu bangkit saat melihat siapa yang berjalan ke arahnya.
"Loe masih mulung?" Suara berat itu menyapanya.
"Iya, ini pekerjaan gue. Kenapa?"
"Duh, loe tuh mau nikah sama orang kaya. Gue bisa kok kasih loe modal buat usaha apa kek, beli-beli baju bagus."
"Maaf, Kak. Gue masih bisa cari uang halal sendiri."
"Eh, loe pikir kerjaan gue nggak halal?"
__ADS_1
"Tau apa Kakak tentang halal? Menghalalkan segala cara."
"Inget ya, Dji! Tentang perjanjian kita!" Sean menatap tajam sang adik.
"Iya, Kakak tenang aja."
"Sean!" Sebuah suara mengejutkan mereka.
Seorang pria baru saja keluar dari rumah bercat abu-abu itu. Pria yang dikenal Adji. Dia yang kemarin ada di rumah sakit bersama teman-teman Maya yang perempuannya. Doni.
"Loe kenal dia?" tanya Doni menatap curiga.
"Owh, eng-enggak. Kebetulan aja tadi gue pas mau parkir di sini ada nih orang," jawab Sean sedikit gugup.
Adji menunduk, menutup sebagian wajahnya dengan topi, berharap Doni tak mengenalinya. Bukan perkara malu, tapi ia hanya takut kalau Doni akan mengadu pada Maya tentang pertemuannya dengan Sean.
Cepat Adji mengambil karung miliknya lalu berjalan meninggalkan mereka berdua, mereka pun masuk ke rumah Doni.
***
.
Malamnya, keluarga Hardi berkumpul di ruang makan. Membahas masalah pernikahan Maya yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Berbagai rangkaian acara sudah tersusun rapi. Perizinan besok akan diurus. Undangan juga sudah dipesan. Tak banyak hanya dua ratus undangan saja. Sudah termasuk teman-teman kantor dan saudara. Hanya saja yang masih mengganjal dalam pikiran Hardi adalah keluarga Adji. Tak ada nama-nama yang dicatat.
"May, Adji masa nggak punya saudara?" tanya Hardi seraya menyeruput teh hangatnya.
Maya mengangkat bahu.
"Dia nggak pernah cerita apa-apa, Pah."
"Jangan kaya beli kucing dalam karung, May," sambung Denis.
"Nama panjang dia kok kayanya nggak asing di telinga papah ya." Hardi sedikit memijat kening, berusaha mengingat-ingat.
"Konawa ya, Pah? Sama kaya bos aku di kantor," celetuk Maya.
"Papa juga pernah punya teman namanya Konawa, beberapa tahun lalu perusahaannya bangkrut, karena saham dia jatuh ke perusahaan kita. Kebanyakan hutang dia. Nah sejak itu, papa nggak dengar lagi nama dia di dunia bisnis yang berkembang sekarang."
Maya dan Denis saling pandang.
"Jangan-jangan, mereka berdua sekongkol lagi?" tanya Denis curiga.
"Nggak mungkin lah, liat aja perbedaannya. Jauh, Pah, Mas." Maya menyangkal.
"Iya, Den. Beda jauh. Mungkin namanya aja yang sama." Hardi mencoba berpikir realistis saja.
"Tapi, nama itu ibarat marga, hanya keturunan mereka yang pakai." Denis makin penasaran.
"Sudah, sudah. Masalah nama saja diributkan. Papa percaya pada Adji. Dia nggak mungkin mau nusuk kita dari belakang."
"Hati-hati, Pah. Ketipu nanti."
Hardi tersenyum kecil. Pikirannya semakin ke mana-mana kalau memang benar Adji adalah anak Konawa mantan rekan bisnisnya itu, bisa jadi ia akan merebut kembali saham itu.
***
Next
Jangan lupa vote dan komennya gaes
😘😘😘😘
__ADS_1