Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
22


__ADS_3

***


.


Tiga hari berlalu, semua list nama-nama undangan sudah dibuat. Sebagian sudah disebar oleh Adji dibantu dengan warga sekitar. Selama itu pula ia menyibukkan diri bekerja di bengkel, lumayan uang tambahan yang dihasilkan membantunya lebih cepat untuk mengumpulkan uang demi membeli sebuah mahar.


Hari ini Adji sudah bersiap hendak ke bengkel. Ia sudah sarapan dengan telur ceplok yang ia goreng sendiri. Sementara nasinya sisa semalam waktu ia beli untuk makan malam.


Saat hendak melangkahkan kaki menuju ke pintu, tiba-tiba pintu sudah terbuka, dilihatnya seorang pria yang ia kenal berdiri di depan pintu. Menatap erat dan tersenyum miring.


Adji tersentak sesaat, lalu mempersilakan pria itu masuk dan duduk.


"Ada apa kakak datang ke sini?" tanya Adji pada sosok pria di hadapannya itu.


"Riyu, gue ke sini cuma mau ngasih, ini!" Sean mengeluarkan amplop dari dalam jasnya, meletakkan di meja.


Adji mengernyit.


"Itu apa?"


"Uang, gue tahu loe butuh uang banyak buat ngasih ke keluarga calon istri loe itu."


"Aku nggak perlu itu, aku akan cari sendiri uangnya." Adji menolak dengan halus.


"Loe nggak usah khawatir, gue ngasih itu secara cuma-cuma, loe nggak perlu ganti. Anggap aja bantuan buat gue sebagai seorang kakak."


Adji tersenyum sinis, "Iya, ujung-ujungnya perjanjian itu kan?"


"Perjanjian itu kan sudah disepakati, uang ini di luar perjanjian. Udah loe terima, atau gue akan bocorin sama Maya tentang rencana loe sama gue? Gimana?"


Adji mendengkus kesal, mana mungkin ia bisa terima uang sogokan itu. Akan tetapi kalau ia tidak terima uang itu, maka Maya dan keluarganya akan tahu maksud dan tujuan sang kakak.


"Udah, kerja Loe setahun juga nggak akan cukup buat beli mahar, bayar akomodasi, belum lagi seserahan. Loe mau di sana nanti dibudakin keluarganya? Karena loe dianggap nggak modal apa-apa waktu nikahin Maya."


Jleb.


Adji berpikir sejenak, benar apa yang dikatakan sang kakak. Terlebih semua biaya memang keluarga Maya yang mengeluarkan. Sementara dirinya hanya pasang badan. Kalaupun pernikahan itu tak terjadi, ia juga tak akan merasa rugi. Namun, ia tak ingin kehilangan sosok yang terlanjur ia sayang dan cintai itu.


Ini bukan masalah uang, atau apapun. Mungkin lebih dari itu. Yakni masalah tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki. Ia sudah berani masuk dalam masalah keluarga Maya. Berarti ia harus menjalaninya sampai selesai, apapun resikonya.


"Sudahlah, nggak usah banyak berpikir. Buang waktu. Gue mau loe pakai uang ini dengan baik. Gue tahu kok, kalau Maya juga udah tau siapa gue. Apa hubungan gue sama loe. Yang dia nggak tahu adalah, Papih adalah rival bisnisnya. Hati-hati!" Sean menunjuk ke arah pelipisnya.


Sean bangkit dari duduknya, dan keluar. Adji tetap diam di tempatnya, menatap amplop tebal berisi uang pemberian Sean. Ia meraih amplop itu, membukanya, mengeluarkan uang berwarna merah, menggenggamnya dengan erat. Lima puluh juta di tangan.


Tangannya bergetar dan berkeringat, tak pernah ia memegang uang dengan jumlah sebanyak itu. Iapun membawa uang tersebut ke dalam kamar, menyimpannya di dalam lemari. Ia akan gunakan sebagian uang tersebut untuk membeli mahar dan kebutuhan lainnya.


***


.


Pagi yang mendung diiringi dengan rintik hujan yang kian lama kian membesar. Maya yang hari ini berangkat di antar oleh sang kakak merasa beruntung, karena ia tak harus kehujanan kalau naik ojek online seperti biasa.


Saat berada di lampu merah, Maya memandang aneh sang kakak yang duduk di balik kemudi. Jemarinya tampak mengetuk-ngetuk jendela, dengan kepala mengangguk, mengikuti irama musik yang disetelnya. Dangdut.


"Sejak kapan loe suka dengerin lagu beginian?" tanya Maya heran.


"Eum ... sejak gue mulai jatuh cinta," jawab Denis tanpa menoleh ke arah Maya.


"What? Jatuh cinta? Sama biduan?"


"Enak aja kalau ngomong!" Denis tampak bersungut.


"Hahaha ... kirain. Yang suka dangdutan kan biduan. Hayo sama siapa? Ngaku nggak?" Maya menyolek lengan Denis.


"Kasih tau nggak ya?" ledek Denis.


"Halah, palingan juga sama Arin."


"Hehehe ... oh iya, May. Cewek itu suka dikasih hadiah apa sih?" Bunga apa cokelat?" tanya Denis menatap erat.


"Tergantung, kalau gue sih suka dikasih bunga, kesannya romantis. Cokelat juga mau sih, trus dimakan berdua. Deuuhhh." Mata Maya menerawang jauh ke depan.

__ADS_1


"Kok jadi loe yang baver, gue kan cuma nanya, bukan mau ngasih loe juga." Denis mulai menjalankan mobilnya, karena lampu sudah berubah hijau.


"Ye, kan gue jawab, gimana sih?"


"Bunga aja kali ya."


"Eh, tapi kalau bocah SMA kek Arin mah, lebih seneng itu dikasih boneka, Teddy bear yang gede, Mas. Trus sama cokelat deh. Itu bavernya bisa seabad dia. Hahaha." Maya terkekeh.


"Itu mah elu, kali. Disenyumin semenit, bapernya seabad." Denis ikut terkekeh.


Maya hanya manyun. Benar juga dirinya pernah suka dengan seseorang di sekolahnya dulu. Masih abegeh. Labil banget, ngefans sama kakak kelas. Yang kalau ketemu atau berpapasan bikin jantungnya berdegup kencang, apalagi waktu dia senyum. Padahal senyum nyapa doang, bukan suka. Tapi, bapernya nggak bisa hilang.


"Kapan-kapan double date yuk, Mas!" ajak Maya.


"Hahaha ... ntar lah, gue belum jadian. Rencana ntar malam Minggu gue mau ajak dia jalan, trus gue tembak dia. Sebelum dia masuk kuliah."


"Owh, dia mau kuliah di mana?"


"Belum tahu, masih nyari-nyari sih, apa di kampus loe aja ya, gue rekomendasiin."


"Jangan, Mas."


"Kenapa?"


"Hehehe ... cowoknya pada alay, hahaha."


"Hahaha. Macam Alex ya?"


"Alex nggak alay, lebay aja dia mah."


"Apa bedanya Kucrit!"


Mereka tertawa bersama. Akhirnya mobil Denis tiba di depan kantor Maya.


"Tengkyu ya, Mas. Ntar jemput gue. Hehehe." Maya menyalami sang kakak.


"Enak aja! Emang gue sopir. Gue pulang malem, akhir bulan ini."


"Okey. Assalamualaikum."


***


.


Siangnya, Maya masih kelihatan sibuk di depan layar komputer. Beberapa berkas yang menumpuk di meja kerjanya tampak berserakan. Handphone nya berbunyi, ia sendiri bingung mencari di mana letak benda pipih itu bersemayam.


"Hape loe bunyi, May," ujar Monik.


Maya celingukan sambil membuka satu persatu berkas di hadapannya itu, mencari ponsel yang terselip.


"Mana ya hape gue?"


"Ah, elu mah kebiasaan. Yang tapi dikit kenapa kalau kerja." Monik ikut membantu Maya mencari ponsel yang hanya terdengar suaranya tapi tak tampak wujudnya.


Suara deringnya berhenti. Mereka juga berhenti mencari.


"Ah bodo amat, tanggung. Kalau penting ntar juga telepon lagi." Maya melanjutkan pekerjaannya.


"Makan siang, May!" ajak Monik.


"Duluan deh."


"Okey, gue duluan ya, cacing di perut gue udah manggil-manggil."


"Sip!"


Monik beranjak dari duduknya, ia akan ke kantin. Dari kursi belakang seorang pria sedari tadi menatap ke arah Maya dengan tatapan tajam. Siapa lagi kalau bukan Doni. Sejak tadi ia memperhatikan setiap gerak gerik wanita yang ia sukai itu.


Doni bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekat ke kursi Monik, lalu duduk di sebelah Maya.


Wanita di sebelahnya itu tak bergeming, ia masih fokus di depan layar. Waktu dia tinggal dua hari lagi sebelum awal bulan. Sementara rekapan semua surat masuk dan keluar juga administrasi lainnya sebagian belum ia kerjakan.

__ADS_1


"May, kamu nggak makan siang?" tanya Doni.


Maya menoleh sekilas, lalu kembali fokus.


"Nanti, nggak lihat aku lagi ngapain?"


"Iya, tapi jangan lupa makan. Nanti sakit loh."


"Iya, makasih perhatiannya."


"Mau aku beliin makanan? Kita makan bareng di sini." Doni berusaha menawarkan diri untuk membelikan makan siang Maya.


"Nggak usah, Don. Makasih. Nanti kalau layar gue juga makan kok. Kamu makan duluan aja."


Doni tampak menarik napas pelan. Wajahnya terlihat kecewa, berbagai cara sudah pernah ia lakukan untuk menarik simpati wanita di sebelahnya itu. Namun, tetap saja tak pernah berhasil.


Tap.


Tap.


Tap.


"Maya, bisa ke ruangan saya sebentar!" Suara bernada tinggi mengejutkannya.


Ia mendongak, Sean sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"Iya, Pak." Maya lalu bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan ke arah ruangan bosnya itu.


Sementara Maya masuk ke ruangan Sean, Doni yang masih duduk di kursi Monik mempunyai rencana jahat untuk wanita yang sudah menolaknya mentah-mentah itu.


Ia melihat ke kanan kiri, dirasa aman. Ia lalu mengutak-atik pekerjaan Maya di komputer. Sambil tersenyum miring, ia berhasil merubah sebagian data administrasi keuangan. Sehingga semua hasilnya tidak balance. Begitu juga rekapan akhir bulan yang harus diserahkan hari ini. Ia rubah tidak sesuai dengan data yang ada di berkas meja kerja Maya. Setelah itu ia beranjak dari situ. Seolah tak mengetahui apa-apa.


***


.


"Maaf, Pak. Ada apa bapak memanggil saya ke sini?" tanya Maya.


"Owh, ini. Saya hanya ingin berikan kamu hadiah pernikahan."


"Tapi kan acaranya masih Minggu depan, Pak."


"Memangnya salah? Ini kamu terima ya."


Sean memberikan amplop pada Maya. Ia mengernyit. Mengambil amplop itu merabanya.


"Buka aja kalau penasaran."


Maya tersenyum kecil, lalu membuka amplop tersebut. Senyumnya semakin lebar, saat melihat dua tiket pesawat pulang pergi menuju ke Bali selama seminggu, begitu juga dengan tiket penginapannya.


"Ini serius, Pak?" tanya Maya dengan mata berbinar-binar.


"Apa saya kelihatan seperti sedang bercanda?" Sean menaikkan alisnya.


"Maaf, Pak. Saya senang sekali. Tapi nggak kelamaan ini seminggu?" Maya masih tak percaya.


"Kenapa? Ini kan perusahaan milik ayah kamu. Yang dipercayakan pada saya. Masa saya nggak boleh ngasih bonus untuk anak pemilik perusahaan ini?"


Maya tersenyum kecil, hatinya bahagia. Ternyata di balik sikap dingin Sean yang tak lain adalah kakak kandung calon suaminya itu. Ia masih memiliki hati yang tulus, dan baik. Maya hanya berharap, semoga kebaikan Sean itu benar-benar tulus padanya.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Kerjaan bisa dilanjutkan nanti setelah makan siang. Kalau sakit nanti acara kalian bisa kacau kan?" ujar Sean lagi.


"Iya, Pak. Sekali lagi. Saya berterima kasih atas hadiahnya."


"Sama-sama semoga acara kalian lancar sampai hari H."


"Tapi bapak bisa datang kan?"


"Saya usahakan."


Akhirnya Maya keluar dari ruangan si bos dengan hati berbunga-bunga.

__ADS_1


****


bersambung


__ADS_2