Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
36


__ADS_3

💗💗💗


"Gimana, Mbak?" tanya Reza memastikan.


"Lihat nanti ya, Pak," jawab Maya tanpa memandang ke arah pria di hadapannya itu.


"Owh, okey. Nanti saya ke meja kamu. Sekarang kamu tolong perbaiki halaman ini ya, tulis seperti contoh berkas yang ini, yang sudah saya tanda tangani." Reza menunjuk ke kertas di atas meja lalu menyerahkannya pada Maya.


Maya hanya mengangguk, lalu pamit keluar ruangan.


💗💗💗


Siang itu begitu terik, Adji dan beberapa teman bengkelnya sedang istirahat bergantian. Adji mencuci tangan ke belakang, dan berjalan ke arah jalan raya hendak membeli makan siang.


Ia teringat kalau sang istri tadi tak sempat membungkus bekal makan siang, karena dirinya yang mengajak bergumul sesaat di ranjang. Terpaksa ia harus mengeluarkan uang lebih untuk sekedar mengisi perutnya yang lapar. Padahal tadi masih banyak sisa lauk di rumah.


Adji masuk ke warteh seberang jalan. Membeli dua bungkus nasi. Yang satu untuknya dengan lauk seadanya, tumis touge dan telur dadar, lalu sebungkus lagi untuk sang istri, tumis taoge dan ayam goreng. Kata Bang Darma touge Bagus untuk kesuburan.


Setelah membayar, ia bergegas menyetop angkot menuju kantor sang istri. Jaraknya memang tak begitu jauh dari bengkel tempatnya bekerja. Dua kali naik angkot.


Adji tiba di depan gedung perkantoran sang istri, dan berjalan masuk. Namun, seorang satpam menghentikan langkahnya.


"Maaf, Bapak mau ke mana?" tanyanya.


"Saya mau bertemu istri saya, Pak. Namanya Maya. Dia bekerja di sini."


Satpam itu tertegun sesaat seraya mengernyit. Masih tak percaya kalau pria di hadapannya itu adalah suami dari anak pemilik perusahaan tersebut.


"Pak, istri saya ada di dalam kan?" tanya Adji lagi.


"Eum,  tadi sih saya lihat Bu Maya jalan keluar sana sama Pak Bos. Mungkin makan siang, Pak." Satpam itu menunjuk ke seberang jalan. Rumah makan padang.


Adji menoleh ke belakang, ia pun hendak menghampiri sang istri. Sebelum terlambat, kalau tidak makanan di tangannya akan terbuang karena tidak ada yang memakan.


"Makasih, Pak. Saya ke sana dulu!" Adji berpamitan dan berlari ke jalan menyebrang ke arah rumah makan padang.


Ia berhenti tepat di depan etalase, sebelum masuk ia memastikan terlebih dahulu apakah sang istri benar ada di dalam atau tidak.


Kedua matanya menyusuri tiap orang yang duduk di kursi. Pandangannya menangkap pada seorang wanita dengan kemeja biru muda sedang duduk berdua bersama seorang pria tampan dan kinyis.


Adji menelan saliva, ia membuang rasa cemburunya. Terlebih satpam tadi bilang kalau pria itu adalah bosnya.


"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan rumah makan itu pada Adji.


Adji terkejut bukan main. Ia langsung menoleh dan menjawab. "Owh, enggak, Mbak. Maaf. Saya cuma lewat saja." Adji melirik ke arah sang istri.


Maya menoleh, melihat suaminya berada di depan, ia pun berlari keluar untuk mengejar.


"Adji, Adji!" panggilnya saat Adji sudah berjalan menjauh.


"Adji, tunggu!" Maya terus mengejar.


Adji pun berhenti, Maya meraih tangan suaminya. Dengan napas yang masih tersengal ia menatap ke arah Adji.

__ADS_1


"Kamu kok di sini?" tanya Maya.


Adji hanya tersenyum. "Ya udah, kamu lanjutin aja makan siangnya."


"Aku belum makan kok, masih nungguin Monik. Kamu ngapain?"


"Enggak, cuma lewat aja."


"Itu apa?" Maya menunjuk ke bungkusan di tangan kanan sang suami.


Adji hanya diam. Maya merebut bungkusan itu. "Kamu bawain aku makan siang?"


Adji mengangguk lirih.


"Ya udah, kita makan berdua, Yuk!" ajak Maya.


"Di mana?"


"Eum,  di sana. Ada taman. Masa di jalanan." Maya meraih tangan sang suami menuju sebuah taman kota yanh terletak tak jauh dari kantornya.


Sesampainya di bangku taman, mereka membuka kedua nasi bungkus itu. Adji memberikan sendok plastik pada sang istri sementara dirinya tak memakai sendok. Ia mencuci tangannya di sebuah keran air yang memang disediakan di taman itu.


"Dji, kamu tuh kebiasaan. Selalu ngebedain makanan." Maya cemberut.


"Aku nggak bisa makan daging, Sayang." Adji tersenyum simpul.


"Kenapa?" tanya Maya sambil mengunyah makanannya.


"Takut gemuk."


"Bukan itu."


"Ya terus?" Maya memandang intens sang suami.


"Aku cuma takut kamu nggak kuat kalau aku gemuk."


Maya mengernyit. "Emang aku mau gendong kamu apa? Yang ada kamu gendong aku."


"Bukan, kalau pas aku di atas, nanti kamu keberatan." Adji terkekeh.


Maya mencubit gemas lengan sang suami. "Nakal banget sih suami aku."


Mereka akhirnya makan siang bersama. Tanpa mempedulikan Reza dan Monik yang tengah menunggu sejak tadi.


💗💗💗


"Pak, mau ke mana? Belum makan." Monik merasa kesal karena Reza keluar rumah makan begitu saja. Padahal belum memesan makanan.


"Pak, ye, si Bapak!" Monik si modal gratisan itu terus mengejar bosnya.


"Kamu bisa diam nggak sih? Kamu kalau mau makan, makan aja sendiri." Reza akhirnya menghentikan langkah menoleh ke belakang.


"Trus siapa yang bayar?"

__ADS_1


"Ya bayar sendiri lah, kan kamu yang makan, bukan saya."


"Tapi kan katanya Bapak mau traktir saya." Monik mengikuti langkah bosnya itu.


"Siapa bilang? Saya mau traktir teman kamu, Maya. Bukan kamu." Reza mulai berdiri di pinggir jalan hendak menyeberang.


Monik dengan serta merta meraih tangan bosnya untuk ikut menyeberang. Reza melotot tajam. Namun, karena kondisi jalanan nan sepi merela akhirnya menyeberang bersama.


Sesampainya di depan kantor Reza langsung menepis tangan anak buahnya itu dengan kesal.


"Sekali lagi kamu sentuh saya, awas saja!" ancamnya.


"Iya, Pak. Iya, Maaf."


Reza berjalan perlahan memasuki halaman kantor.


"Dasar bos gila, pelit!" umpat Monik kesal.


Reza yang mendengar menghentikan langkahnya, lalu berjalan kembali ke arah Monik yang masih berdiri di depan jalan.


"Kamu bilang apa?" tanya Reza menatap tajam.


"Eng-enggak. Saya nggak ngomong apa-apa," jawab Monik gugup.


"Ya udah, sebagai hukumannya. Sekarang kamu belikan saya makan siang, nasi padang pakai rendang, sambelnya sambel merah aja jangan pakai sayur nangka. Nih uangnya. Kamu kalau mau sekalian beli. Kalau kurang kamu tambahin sendiri." Reza menyerahkan uang berwarna biru pada Monik.


Dengan bibir mengerucut ia menerima dan menjalankan tugasnya itu. Reza pun melangkah masuk dalam kantor.


"Dikerjain nih gue!" gerutunya kesal.


💗💗💗


Maya baru saja kembali dari mushola, selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Sholat dhuhur. Seusai makan siang romantis di taman bersama sang suami, ia merasa bahagia.


Ia tak pernah merasa sebahagia itu, tak pernah pula membayangkan akan mengalami hal seperti tadi. Bahagia yang dapat diciptakan dengan kesederhanaan lewat kebersamaan.


Ia kembali ke meja kerja. Ternyata di depan mejanya Reza sudah menunggu sambil berdiri.


Maya menaruh mukena berwarna putih ke dalam laci meja kerjanya. Menatap ke arah Reza.


"Kamu dari mana aja sih, May. Saya tungguin." Reza melipat kedua tangannya di depan dada.


"Eum,  maaf, Pak. Tadi saya kebelet. Perut saya mules. Jadi saya terpakas buru-buru ke toilet," jawab Maya bohong seraya menunduk.


Reza tak mau tau alasan Maya. Baginya Maya sudah menolak ajakan makan siangnya. Reza melangkah ke arah ruangannya.


"Bos!" panggil Monik yang berlari ke arah Reza.


"Kamu lagi, ada apa?"


"Ini makanannya!" Monik menyodorkan plastik berisi nasi padang pesanan bosnya itu.


Reza mengambilnya, lalu masuk ke ruangan. Monik pun bernapas lega. Tugasnya selesai. Kini giliran dia yang makan siang sendiri di pentry. Karena waktu sudah lewat dari jam makan siang.

__ADS_1


💗💗💗


bersambung


__ADS_2