
Seminggu telah berlalu, semakin dekat dengan hari pernikahannya. Maya tampak gugup dan cemas. Ia juga sudah mulai mengatur pola makan. Agar kebaya yang akan dipakainya nanti tidak sempit.
Pesanan undangan sudah tiba di rumahnya. Tidak banyak memang. Karena hanya orang terdekat dan keluarga saja. Ia sudah memisahkan seratus undangan untuk Adji. Dua Minggu lagi acara akan digelar.
Undangan untuk rekan kerja, teman kuliah dan sekolah hanya sebagian sudah disebar. Begitu juga dengan rekan kerja sang ayah juga Denis. Tak semua, hanya teman-teman Denis yang kenal dengan Maya saja, termasuk Haikal. Sahabatnya yang dulu pernah ia jodohkan itu.
Minggu yang cerah, sejak pagi Maya sudah bersiap untuk ke rumah Adji. Mengantar undangan, dan berharap Adji juga akan cepat menyebarkannya pada para tetangga.
"Mau ke mana, May?" Denis yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu, berusaha mencegah Maya.
Maya menarik napas pelan.
"Nganter undangan buat Adji."
"May, harusnya dia yang ambil ke sini. Kenapa jadi loe yang harus ngantar ke sana?"
"Mas, bisa nggak sih, loe nggak usah nyinyirin gue. Sekali-kali bantu kek."
"Males."
"Mending loe anterin gue."
"Sorry. Mending gue tidur." Denis melangkah ke arah tangga. Cepat Maya menarik lengan sang kakak mengajaknya keluar.
"Eh, gue mau dibawa ke mana nih?" pekiknya.
"Anterin gue, pake mobil loe." Maya menyerahkan kunci mobil yang baru saja diambilnya dari laci lemari dekat ruang keluarga.
"Nggak mau. Bukan urusan gue."
"Bentar doang sih, pelit banget."
"Ya gue nggak mau." Denis bersikeras untuk menolak dan menepis tangannya dari pegangan sang adik.
"Mas!"
"Ada apa sih ini?" Hardi keluar dari kamar melihat kedua anaknya bersitegang.
"Ini, Pah. Mas Denis nggak mau aku mintain tolong. Aku mau ke rumah Adji, antar undangan."
"Denis, anterin adik kamu."
"Biasanya juga dia jalan sendiri."
"Gue pengen loe lihat rumah Adji, kepribadiannya. Biar loe nggak terus-menerus nyalahin gue sama dia. Biar loe nggak berprasangka buruk sama dia."
"Ya tetep aja, mulung ya mulung. Nggak selevel sama kit. Udah ah gue mau tidur."
"Denis! Kalau kamu nggak mau antar adik kamu, mobil Papa sita!" ancam Hardi.
Denis melongo tak terima.
"Pah, kok gitu sih."
"Mang enak!"
"Udah buruan sana!" pinta Hardi lagi.
Denis mendengkus kesal. Dengan malas ia berjalan keluar rumah, Maya mengekor.
"Makasih, Pah." Maya berpamitan.
****
.
Dalam perjalanan Denis hanya diam, tak bersuara. Sesekali ia melirik ke arah sang adik yang duduk di sebelahnya. Maya senyum-senyum melihat ke luar jendela. Entah apa yang sedang ia bayangkan.
"Masih jauh nggak?" tanya Denis memecah sunyi.
"Dua belokan lagi, ntar masuk komplek perumahan Tirta Raya."
"Wuih, mantap rumahnya di komplek tuh si tukang pulung."
Maya melirik kesal.
"Mulut tuh mulut! Jaga kenapa sih!"
"Ya elah. Gitu aja ngambek. Gue juga punya kenalan tuh cewek di situ. Anak sekolah sih. Cakep. Pernah gue deketin. Tapi kayanya dia nggak suka sama gue, bilangnya udah punya pacar."
"Owh," ucap Maya malas menanggapi.
"Dih, gitu doang reaksi loe?" Denis menoleh ke arah Maya kesal.
"Ya mau gimana? Loe kan gitu, Mas. Siapa juga dideketin. Kuntilanak di dandanin juga loe sikat!" Maya terkekeh.
"Sembarangan loe kalau ngomong. Mana nih udah masuk perumahan."
"Tuh, belok kanan. Ntar pertigaan kanan lagi." Maya menunjuk ke arah jalanan.
Dua belokan sudah terlewati, Denis mengamati tiap-tiap rumah di sampingnya.
"Cakep-cakep ya rumah di sini. Nggak percaya gue kalo tuh bocah tinggal di sini," ujar Denis.
"Nah tuh sebelah kiri kan ada gang, parkir aja di depannya, dekat lapangan." Maya menunjuk sebuah lapangan di sebelah kanan jalan.
"Lah kenapa nggak di depan rumahnya aja kita parkir?" tanya Denis bingung.
"Nggak bisa lah."
__ADS_1
"Wuih, kenapa? Mobilnya banyak?"
"Berisik loe, Mas. Udah parkir aja dulu tuh, bae-bae kejebur got."
Denis diam, ia menuruti perintah sang adik. Selesai parkir, Maya mengambil kardus di bagasi mobil. Denis yang melihat sang adik membawa kardus itu langsung membantunya.
Mobil sudah dikunci kembali, mereka menyebrang jalan lalu masuk ke dalam gang menuju rumah Adji. Denis menghentikan langkahnya di ujung gang.
"Maya, bukan ini rumahnya?" Denis menunjuk sebuah rumah besar tepat di samping gang masuk.
Maya tertawa, "Bukan! Emang gue bilang kalo itu rumahnya?"
Denis cemberut. Ia lalu mengikuti langkah sang adik. Beberapa pasang mata memandang mereka. Denis berjalan agak jinjit karena jalanan sedikit becek sisa hujan semalam. Ia takut kalau sepatu kesayangannya itu kotor.
Tibalah mereka di depan sebuah rumah sederhana milik Adji. Denis meletakkan kardus yang ia bawa di kursi kayu teras. Maya mengetuk pintu rumah yang tertutup.
"Assalamualaikum, Adji."
Tak ada sahutan.
"Dji. Assalamualaikum," sapa Maya lagi.
Denis menunggu Adji keluar dengan berkeliling rumah Adji, ia melihat bagian samping rumah itu yang penuh dengan karung dan botol bekas yang masih belum dipilah, juga gerobak yang terparkir di sana.
"Mbak Maya!" Suara Adji mengejutkan mereka.
Maya menoleh, melihat Adji bersama dengan seorang gadis, siapa lagi kalau bukan anak pak RT.
"Kamu dari mana?" tanya Maya.
"Dari rumah pak RT, ngebahas tentang undangan sama transportasi besok ke pernikahan kita," jawab Adji.
"Owh."
"Mbak sendiri?"
"Owh, enggak. Tadi sama Mas Denis. Ke mana tuh orang ya?" Maya celingukan mencari sang kakak yang tiba-tiba tak ada.
Krasak krusuk suara terdengar dari samping rumah. Mereka berjalan ke arah suara. Maya tersenyum geli melihat sang kakak sedang asyik jongkok sambil memilah botol dan gelas plastik yang masih terbungkus, dan sedang di buang bungkusnya oleh Denis. Lalu dipipihkan di masukkan dalam karung.
"Anteng bener loe, Mas. Bakat juga!" ledek Maya.
Denis terkejut, ia ketahuan asyik di situ. Untuk menghilangkan rasa malunya, ia segera bangkit dan membuang pisau kecil yang digunakan untuk mengupas bungkus plastik botol tadi ke sembarang tempat.
"Iseng aja, kelamaan nungguin loe." Denis menunjuk ke arah Adji.
Adji menyalami calon kakak iparnya. Mata Denis terpaku dengan gadis di sebelah Maya. Ia kenal dengan gadis itu. Begitu juga sebaliknya.
"Ka-kamu," ucap Denis gugup.
Gadis itu tersipu.
"Iya, Mas. Saya yang waktu itu," ucap gadis itu malu-malu.
"Apaan sih loe. Berisik aja."
"Ya udah, ngobrol di dalam saja yuk!" ajak Adji.
"Tapi, saya mau pulang dulu, Mas." Arin mencoba untuk pergi.
"Eh, jangan dong. Nanti aku ngobrol sama siapa kalau kamu pulang. Bisa jadi obat nyamuk mereka berdua nih." Denis berusaha mencegah.
"Iya, Rin. Udah ayo masuk. Temenin Mas Denis. Kasihan kan dia ntar cengok kaya kambing. Hehehe." Maya mengajak Arin menuju pintu rumah Adji yang sudah dibuka oleh pemiliknya.
Mereka duduk, sementara Adji pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk tamunya.
Tak lama ia kembali dengan empat gelas teh manis hangat.
"Ada apa ya, Mbak, Mas?" tanya Adji bingung dengan kedatangan kedua kakak beradik itu.
"Ini, cuma mau ngasih ini kok." Maya menunjuk kardus berisi undangan di bawah kakinya pada Adji.
"Owh, makasih, Mbak. Harusnya biar saya aja yang ambil ke rumah, kan saya jadi ngerepotin kalian."
"Ah nggak apa-apa, Dji," sahut Denis. Berbanding kebalik dengan apa yang ia ucapkan tadi sebelum bertemu dengan gadis yang duduk di sebelahnya.
"Mau tulis tangan apa diketik?" tanya Maya.
"Ke rental kali ya, Mbak. Biar rapi."
"Ya udah ntar gue ketikin."
"Owh gitu. Nanti malam saya buat listnya."
"Oiya betewe, kita ngobrol di luar aja yuk, cantik." Denis mengajak Arin untuk keluar ruangan. Adji dan Maya saling pandang lalu melihat ke arah mereka yang berjalan keluar.
"Dari tadi kek. Untung kamu tadi ngajak Arin. Ngapain tadi kamu sama dia?" tanya Maya curiga.
"Nggak ngapa-ngapain, Mbak. Cuma ngobrol aja sambil jalan tadi. Bilangnya Arin mau beli mie ayam. Eh malah ketemu kalian."
"Owh, yakin nggak ngapa-ngapain? Pegangan tangan apa ngapain gitu?" tanya Maya lagi.
"Ya Allah, Mbak. Cemburu ya?"
"Iyalah, awas aja kalo kamu berani pegang-pegang dia!" ancam Maya.
Tiba-tiba tangan Adji meraih tangan wanita di hadapannya itu, menggenggam nya erat.
Mereka saling bersitatap, jantung mulai bertalu. Adji menatap intens, sementara Maya menunduk malu. Ia lalu membalik tangan Maya, dan mencium telapak tangannya, lama. Menahannya di hidung seraya melirik dan tersenyum kecil.
Maya terenyuh, ada desiran hangat di dalam dadanya. Ia merasa apa yang dilakukan Adji membuatnya berbunga-bunga. Debaran jantungnya mungkin kini sudah terdengar.
__ADS_1
"Cuma tangan ini yang aku berani pegang," ucap Adji lirih.
Maya segera melepas tangannya dari genggaman Adji.
"Jangan lama-lama, bahaya," ujar Maya.
"Kenapa?"
"Iya, nanti kalau ketagihan gimana?"
"Hahaha ... mbak kali yang ketagihan. Saya cuma pengen lihat ekspresi mbak aja tadi. Kirain nolak atau nampar saya gitu, taunya menikmati." Adji terkekeh.
Plak!
Pukulan kecil mengenai bahu Adji.
"Aduh! Sakit, Mbak." Adji meringis sambil mengusap-usap bahunya.
"Bisaan ya, ngerjain. Awas besok aku kerjain balik."
"Hehehe ... maaf sayangku."
Maya membuang muka ke arah pintu luar. Lalu mengernyit karena tak lagi mendengar suara obrolan antara kakaknya dengan Arin.
"Kenapa, Mbak?"
"Pada ke mana ya?"
"Siapa? Mas Denis sama Arin?"
"Iya, siapa lagi."
"Biarin aja sih, kan kita jadi bisa berduaan," goda Adji lagi.
"Kok jadi kamu yang seneng ya?" Maya melirik curiga.
"Ya gimana."
"Oh iya, gimana keadaan ayah kamu?" tanya Maya.
Adji tersenyum, "Alhamdulillah, Mbak. Papi saya udah mulai bisa membuka mata, jemarinya juga udah mulai bergerak. Syarafnya mulai kembali bekerja dengan baik. Kemarin saya ke sana bawa dokter pribadi Papi. Katanya ini seperti mukjizat dari Allah. Papi juga kelihatan mulai nyaman waktu saya bacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Saya berharap dia bisa hadir dan menyaksikan pernikahan kita." Adji bercerita panjang lebar tentang kondisi sang ayah.
"Masya Allah, Alhamdulillah. Aku ikut senang dengarnya. Kapan kamu mau ke sana lagi?"
"Besok siang. Soalnya kalau hari libur pasti ada Kak Sean."
"Aku ikut boleh?"
"Boleh. Nanti sekalian aku kenalin ke Papi. Calon istriku yang cantik ini."
"Bisa aja kamu."
****
Sepulang dari rumah Adji, ada yang tampaknya senang berbahagia. Bukan Maya melainkan Denis, ia tak henti bersiul sambil bermain ponsel.
Maya yang sejak pulang tadi melihat tingkah aneh sang kakak menjadi penasaran. Apa yang membuat kakak semata wayangnya seperti orang kerasukan. Senyum-senyum sendiri sambil balas chat.
Ia menghampiri kakaknya yang asyik duduk di ruang keluarga.
"Mas," panggil Maya.
"Hem," jawab Denis tanpa menoleh ke arah sang adik.
"Loe sehat?"
"Hem."
Maya meletakkan punggung tangannya ke kening sang kakak lalu membandingkannya ke ketiak. Sama hangatnya.
"Loe nggak kemasukan demit kampung Bonang kan? Rumahnya Adji?"
"Bhahahaha ... sembarangan. Gue kemasukan cintanya si Arin."
"Owh, jadi yang bikin loe dari tadi senyum-senyum itu si Arin."
"Yoi, ternyata dulu dia suka sama Adji, pantes nggak mau gue deketin. Sekarang gue ada kesempatan lagi deketin dia."
"Berarti, loe setuju dong hubungan gue sama Adji?"
"Iyalah, dari pada ntar si Adji ngerebus gebetan gue."
"Yes! Mudah sekali dirimu sang kakak, menyerahkan sang adik hanya dengan sogokan wanita. Hahaha." Maya tertawa geli.
"Sial! Besok kalo ke rumah Adji lagi, ajak gue ya. Lupa jalannya kalo ke sana sendiri."
"Nggak, udah nggak ke sana lagi. Dipingit gue."
Denis menatap ke arah sang adik dengan kecewa. Lalu menghela napas pelan.
"Ya udah, pake GPS aja kali ya."
"Niat banget loe, Mas."
"Iya dong. Wee." Denis menjulurkan lidahnya lalu beranjak dari sofa dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
****
bersambung
.
__ADS_1
Vote dan komentarnya please ...