Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
24


__ADS_3

****


Hari berganti, memasuki Minggu tenang untuk kedua calon pengantin. Dua hari lagi adalah saat di mana janji suci akan diikrarkan. Maya sudah mengambil cuti kerja. Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu luangnya di rumah dengan membaca dan menonton televisi.


Ia tak lupa pula selalu merapalkan doa terbaik untuk acara pernikahannya lusa. Beberapa hari ini ia tak bisa menemui sang kekasih, calon suaminya itu. Karena orang tua dan keluarga memingitnya.


Keluarga sebagian sudah ada yang berdatangan, Tante Ratna adik satu-satunya Hardi sang ayah sudah tiba dari Semarang. Sementara kedua adik dari almarhumah Susanti sang ibu baru akan datang besok dari Bandung bersama rombongan keluarga yang lain.


Hati Maya rasanya bercampur aduk, antara haru dan bahagia. Pernikahan yang pernah ia bayangkan mungkin tak sesuai dengan apa yang akan dilaksanakan besok. Bersanding dengan seorang pria yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Bukan teman sekolah, teman main atau bahkan tetangganya.


Pria yang pekerjaan sehari-harinya hanya sebagai pemulung, usianya juga lebih muda. Di tambah dengan masalah keluarganya yang sampai saat ini belum terselesaikan dengan baik. Dapatkah ia menjalani kehidupan barunya nanti?


Tok tok tok ....


Pintu kamarnya diketuk, Maya yang sedang duduk di tepi ranjang seraya membaca sebuah novel seketika tersentak. Ia lalu meletakkan novel itu di ranjang, berjalan ke arah pintu dan membukanya. Seorang wanita paruh baya tersenyum di depan pintu.


"Tante, masuk!" Maya menyuruh Ratna masuk.


Wanita paruh baya itu melihat ke sekeliling kamar keponakannya dengan takjub.


"Rapi juga kamar kamu," ujarnya sambil duduk di kursi depan meja rias.


"Iya, dong."


"Besok berarti kamar ini dihias ya? Ciyeee kamar pengantin," ledek Ratna.


"Hehehe ... Tante, bisa aja."


"Kapan ya, Tante bisa ngerasain seperti kamu. Rasanya diri Tante ini sial terus." Ratna lalu berjalan ke arah jendela, membuka gordengnya sedikit. Memandang ke arah luar.


"Tante nggak boleh bicara seperti itu. Mungkin memang tante belum ketemu jodohnya." Maya mencoba menghibur tantenya itu.


"Semenjak Om Rudi meninggal, hati Tante rasanya sulit untuk menerima pria lain. Cuma dia yang sabar dan setia sama Tante. Apalagi waktu kami tahu kalau Tante nggak bisa punya anak. Dia sama sekali nggak meninggalkan Tante, dia selalu mendukung, memberi semangat. Seandainya saja waktu itu Tante ...."


Ratna tak sanggup melanjutkan ceritanya. Ia menunduk, buliran air kini telah membasahi kelopak mata dan pipinya.


Maya berjalan mendekat, memegang kedua bahu  Ratna dari arah belakang. Merengkuhnya, kepala Ratna bersandar di bahu keponakannya.


"Ini semua sudah takdirnya, Tante. Tante harus kuat."


"Iya, May. Dua tahun ini Tante mencoba menyibukkan diri dengan ikut ibu-ibu komplek pengajian di mesjid. Santunan anak yatim. Seandainya dulu Tante nggak minum obat-obat pelangsing, mungkin rahim Tante akan baik-baik saja."


"Memang semua sudah jalannya, Tante. Oh iya pekerjaan Tante gimana?"


"Alhamdulillah lancar, trus calon suami kamu sendiri kerja apa?"


Deg.


Maya terdiam sejenak. Ratna mengernyit melihat perubahan raut wajah keponakannya itu.


Maya lalu duduk di tepi ranjang.


"Tante pasti kaget kalau aku cerita yang sebenarnya."


"Loh memang kenapa? Calon suami kamu bukan penjahat kan?"


"Bukan sih, ta-tapi ... dia ...."


"Dia siapa?"


"Dia ... pemulung, Tante." Maya menunduk.


"Apa? Kok bisa? Kamu nggak lagi bercanda kan?" Kini Ratna menatapnya tak percaya.


Maya hanya menggeleng.


"Papa setuju gitu aja?"


"Iya, gimana lagi. Dia orangnya baik kok, pekerja keras, pekerjaannya juga halal. Papa setuju aja."


Ratna menghela napas pelan.


"Dulu, waktu Tante bawa pacar orang biasa, itu Papa kamu langsung maki-maki pacar Tante tau nggak. Modal nekat tuh Om Rudi, saking cintanya sama Tante, untungnya dulu kakek kamu masih hidup, jadi bukan Papa kamu yang jadi wali. Dia nggak mau datang ke pernikahan Tante, bilangnya keluarga Om Rudi nggak selevel sama dia. Ya Allah, May. Kalau inget itu, sakit hati Tante. Beneran."


"Maafin Papa ya, Te."


"Iya, waktu itu kamu masih kecil."


"Hehehe ...."


Akhirnya Maya menceritakan awal pertemuannya dengan Adji, begitu juga dengan pengkhianatan yang dilakukan mantan tunangannya itu, sampai Alex meninggal.


Ratna yang bekerja di sebuah kantor pemerintahan provinsi Jawa tengah itu mendukung penuh pernikahannya. Apalagi mendengar pengakuan Maya bahwasanya Adji adalah seorang mualaf, yang ditentang oleh keluarganya sendiri, bahkan hampir dibakar hidup-hidup.


Kegigihan Adji meyakinkan Ratna bahwa pria yang kelak mendampingi keponakannya itu adalah pria yang bertanggung jawab. Dulu Maya pernah berharap tantenya itu bisa tinggal bersama dengan keluarganya, menggantikan sosok ibu di rumah. Sayangnya Ratna lebih suka tinggal di rumah pemberian almarhum suaminya. Ditambah pekerjaannya di sana tak bisa ia tinggalkan.


Rudi meninggal saat bertugas di pabrik. Ia tertimpa bahan bangunan. Kecelakaan kerja yang dialami Rudi memang membuat Ratna histeris dan hampir gila saat itu. Perusahaan memberikannya sebuah rumah sebagai tanda penghargaan terhadap pengabdian Rudi selama bekerja di pabrik puluhan tahun. Oleh karena itu Ratna tak ingin meninggalkan kenangan terakhir dari mantan suaminya.


***


.


Esoknya, para ibu-ibu tetangga rumah Maya berdatangan, sekedar memberikan ucapan selamat, bahan makanan, dan membantu masak untuk acara pengajian nanti malam.


Di tempatnya memang sudah seperti kebiasaan setiap kali ada warga yang hendak melangsungkan pernikahan, maka malam harinya menjelang acara, dilakukan pengajian. Agar kelak acara berlangsung dengan lancar. Tak lupa di isi oleh ceramah dari tokoh agama setempat.

__ADS_1


Maya dilarang untuk ke dapur, meskipun hanya untuk mengambil makan. Konon katanya kalau ia melangkah ke dapur, besok riasan wajahnya akan berkeringat, dan membuat tampilannya menjadi tak enak dipandang.


Akhirnya Maya diperlakukan seperti Ratu. Semua yang diinginkan sudah ada yang bersedia mengambilkannya. Berhubung hari ini ia tak ada kegiatan, ia meminta tantenya untuk memanggil orang salon, karena ia ingin dilulur, agar tubuhnya wangi dan bersih.


"May, tuh orang salonnya udah datang. Mau di mana?" tanya Ratna.


Maya yang sedang duduk di ruang keluarga langsung bangkit.


"Ke kamar saya aja, Mbak." Maya menyuruh wanita muda dengan rambut kuncir kuda yang di bawa tantenya untuk ikut ke kamarnya.


"Tante, mau luluran juga?" tanya Maya.


"Hahaha ... enggak, buat apaan? Nggak ada yang nyentuh juga." Ratna terbahak.


Maya mesem-mesem.


***


.


Malamnya sehabis isya.


Di lain tempat, Adji terlihat sibuk dengan beberapa pria di kediaman Pak RT. Ia sudah menyewa satu buah minibus, dan tiga mobil pribadi dari rental. Untuk mengantarkan rombongan dari warga di kampungnya itu.


Sekarang ia sedang mengkordinir mengenai rute jalan menuju rumah Maya, ditakutkan besok arus lalu lintas macet. Tapi biasanya kalau pagi masih lengang. Berhubung besok hari Minggu, sebagian jalanan ibukota dialihkan untuk car free day. Oleh karena itu Adji memberi beberapa arahan pada para supir.


Mereka berbincang di teras rumah, tak berapa lama kemudian anak perempuan satu-satunya pemilik rumah itu keluar dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas teh manis hangat dan dua piring pisang goreng.


Tiba-tiba bapak-bapak yang berkumpul langsung bersorak. Riuh.


"Waaahh, akhirnya. Udah kering ini dari tadi."


"Iye, taunya si eneng yang buatin minum."


"Tau gitu mah tadi akang bantuin, hehehe."


Begitu lah para bapak-bapak dan pemuda yang berkumpul menggoda Arin. Anak pak RT. Yang digoda hanya senyum-senyum.


"Diminum, Mas Adji," ujar Arin.


"Owh gitu. Yang ditawarin si Adji doang?"


"Iya si eneng, besok Adji udah nikah. Nggak patah hati, Neng?"


"Apaan sih bapak-bapak ini?" Arin tampak memerah wajahnya.


Adji hanya menunduk, tak enak kalau dia ikut menanggapi obrolan itu. Karena ia menghargai ayahnya Arin, yang sejauh ini sudah membantunya.


Tiba-tiba.


"Assalamualaikum."


Adji mengernyit melihat siapa yang datang, ia lalu bangkit dan menyalami pria di hadapannya itu. Pria yang bertamu itu juga menyalami semua yang ada di situ.


"Mas Denis, ada apa ya? Malam-malam begini?" tanya Adji gugup.


Ia takut ada kabar buruk atau sesuatu yang kurang untuk acara besok.


"Owh, enggak kok, Dji. Gue ke sini nggak ada perlu sama loe, tapi sama, Arin." Denis tampak malu-malu.


"Owh, loh bukannya di rumah Mas Denis sedang ada pengajian?"


"Ah, itu pengajian ibu-ibu. Loe sendiri nggak ngadain pengajian?"


"Enggak, Mas. Tapi sudah minta doa kok sama warga lewat mesjid tadi waktu sholat berjamaah. Sama saja."


"Owh."


"Ciye, Neng Arin. Rupanya sudah punya cowok baru ya, pantesan tadi diledekin cuma senyum-senyum aja. Pacarnya Arin ya, Om?" tanya seroang pria bertubuh kurus dengan tato naga di tangan kanannya yang lebih mirip seperti gambar cacing kremi.


"Sembarangan loe panggil gue om. Emang tampang gue setua itu?" Denis tampak sewot.


Sontak semua tertawa terbahak-bahak.


"Bercanda kali, Om."


Denis tetap aja cemberut, ia lalu meraih tangan Arin hendak membawanya pergi.


"Eh, tunggu dulu, Om. Izin lah sama bapaknya, main culik aja." Kini seorang bapak berperut buncit yang dari tadi tak berhenti merokok itu ikut bicara.


Denis menghentikan langkahnya.


"Oh iya lupa, maaf, Pak. Udah nggak sabar pengen malmingan. Heheh. Izin pinjam anaknya sebentar ya." Denis meminta izin pak RT dengan membungkuk malu.


"Iya, tapi biar kalian ditemani Adji ya." Pak RT memandang ke arah Adji yang sedang menyesap teh manis hangat. Ia hampir saja tersedak.


"Sa-saya nemenin, Pak?" tanya Adji bingung.


"Yang benar saja, Pak. Masa pacaran ditemenin. Nggak asik ah," ujar Denis sambil garuk-garuk kepala.


"Emang kita udah pacaran ya, Mas?" tanya Arin dengan menyenggol lengan Denis.


Denis hanya meringis.


"Ya belom sih, tapi bentar lagi kok. Kamu tenang aja ya."

__ADS_1


"Apaan sih, Mas." Arin menunduk malu.


"Enggak-enggak bercanda kok, ya udah tolong jaga anak Bapak ya, pulangnya nanti harus utuh. Nggak boleh ada yang berkurang sedikitpun, trus jangan malam-malam, karena besok kan kita juga ada acara." Pak RT memberi pesan.


"Siap, Bos!" Denis memberi hormat pada pak RT. Mereka yang disitu hanya senyum-senyum melihat tingkah Denis.


Denis dan Arin melangkah meninggalkan halaman rumah. Entah mereka ingin menghabiskan malam Minggu di mana.


***


.


Denis membawa calon kekasihnya itu ke sebuah cafe pinggir jalan. Mereka duduk di kursi yang berada tepat di pinggir samping trotoar. Cafe itu biasa didatangi oleh para muda mudi seperti mereka berdua.


Arin tampak salah tingkah waktu Denis memintanya duduk tepat di hadapannya. Ia melihat sekeliling, angin berembus kencang, dingin merasuk ke dalam pori-pori kulit. Ia yang saat itu hanya mengenakan kaus lengan pendek dengan setelan rok pendek terlihat mengusap-usap lengannya karena dingin.


Dengan sigap, Denis melepas jaket yang dipakainya, lalu memberikannya pada Arin.


"Kamu mau makan apa?" tanya Denis.


"Aku udah kenyang, Mas. Baru abis makan."


"Udah sih, makan aja. Jangan bila kamu diet, ingat, seusia kamu itu masih masa pertumbuhan." Denis memanggil seorang waiters.


"Emang ya, Mas? Tapi aku kan udah delapan belas tahun, emang balita masa pertumbuhan."


"Loh, emang iya. Di dalam tubuh kita ini masih ada yang terus tumbuh."


"Hahaha ... apaan tuh, Mas?"


"Eum ... apa ya, ya itu pokoknya."


"Apa?" Arin tersenyum kecil.


"Rambut contohnya. Kan tumbuh terus tuh."


"Iya deh."


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Wanita yang berdiri di samping Arin merasa dicuekin.


"Astaghfirullah, lupa. Ya udah, Mbak. Pesan kue serabi topping oncom pedas satu, sama jus alpuket, kamu apa?" tanya Denis.


"Serabi oncom? Mas suka?" Arin mengernyit.


"Iya, kamu mau apa?"


"Aku nggak suka pedas, mau serabi topping coklat mesis satu, topping stroberi satu, minumnya es lemon tea."


"Okey, tunggu sebentar ya." Waiters itu melangkah pergi.


"Kamu serius pesan dua?" tanya Denis heran. Tadi ditanya katanya habis makan, ini malah pesan dua.


"Hehehe ... nggak boleh ya, Mas?"


"Boleh sih. Oh iya gimana sudah ada keputusan mau kuliah di mana?"


"Eum belum, Mas. Pengennya sih langsung nikah aja."


"Apa?"


"Hehehe ... enggak kok. Bisa dimarahin sama bapak."


"Emang kalau nikah udah ada calonnya?" tanya Denis menggoda.


Arin tersenyum malu dan menggeleng pelan.


"Boleh daftar nggak?" tanya Denis lagi.


Kini Arin menatap tak percaya pria di hadapannya itu. Mereka saling bersitatap sekian detik, kemudian keduanya mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Emang Mas mau?"


"Mau apa?"


"Enggak apa-apa."


Tangan Arin tampak gugup, ia terlihat meremas-remas jemarinya sendiri, Denis yang menyadari hal itu langsung meraihnya, menggenggam erat dan mengecupnya pelan.


Arin terbelalak, jantungnya berdebar, tak pernah ia diperlakukan semanis itu.


"Arin, sebenarnya aku mau bicara jujur sama kamu," ujar Denis lirih.


"Apa, Mas?" Arin menatap intens. Penuh harap.


"Eum ...."


"Maaf, permisi, pesanannya, Mbak, Mas." Seorang waiters datang membawa nampan berisi jus alpukat dan es lemon tea pesanan mereka.


Spontan Denis melepas genggaman tangannya, ia mendengkus kesal. Saat waiters itu selesai meletakkan dua gelas tadi, dan pergi. Denis kembali meraih tangan Arin, namun sayang ditepis pelan.


"Malu, Mas. Kepergok." Arin tersipu.


"Biarin sih, belum selesai aku ngomongnya."


Tak berapa lama kemudian, seorang waiters datang lagi membawa tiga piring serabi pesanan mereka. Karena Arin terlanjur malu. Maka niat Denis untuk menyatakan cintanya malam itu gagal total.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2