
Maya menekuri kertas di meja kerja kamarnya, pulpen yang dipegang ia ketuk-ketuk pelan. Masih tak percaya dengan apa yang dilihat dan diucapkan calon suaminya itu. Bagaimana kalau papanya tahu siapa Adji sebenarnya.
Adji yang masih mempunyai keluarga, bahkan orang kaya. Ia takut papanya akan menganggap dia sebagai penipu.
Maya menggigit bibirnya, perih. Mengapa kisah cintanya harus serumit itu?
Ceklek!
Pintu kamarnya terbuka, ia menoleh. Denis sudah berdiri di depan pintu dan berjalan mendekat. Maya mendengkus kesal.
"Ngapain?" tanyanya sewot.
"Ya elah, sewot banget loe. Kenapa? Ketauan ya kedoknya si tukang mulung itu?" Denis tersenyum sinis, kini ia sudah duduk di tepi ranjang sang adik.
"Mas Denis bisa nggak sih nggak nyebut dia tukang mulung, dia punya nama."
"Ya gimana ya, emang dia tukang mulung kan?" Denis tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Loe mau ngapain ke sini?"
"Di tunggu papa di bawah, ada yang mau diomongin katanya."
"Masalah apa?"
"Undangan."
"Kenapa?"
"Ya, loe aja gih sana. Kan loe yang mau kawin. Gue cuma disuruh manggil loe doang."
"Owh." Maya bangkit dari duduknya.
Maya berjalan ke arah pintu, saat hendak keluar ia melihat ke arah Denis yang malah berbaring di ranjangnya.
"Mas, jangan tidur di kamar gue! Ngiler ntar baunya nggak kira-kira," selorohnya.
"Sembarangan loe kalo ngomong."
"Keluar nggak!"
"Iye, elah. Nyantai doangan aja nggak boleh." Denis beringsut dari ranjang.
"Kamar loe kan bisa."
"Berantakan. Males gue."
Brak!
Setelah Denis keluar, Maya menutup pintu kamarnya dengan keras. Denis menatap tajam.
"Buset, galak banget sih loe jadi cewek!"
"Bodo!" Maya lalu melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Denis yang cemberut dan langsung berbaring di karpet depan kamar, mengambil bantal kursi dan menyalakan televisi.
***
.
"Ada apa, Pah?" tanya Maya pada Hardi yang sedang duduk di ruang tamu.
"May, keluarganya si Adji banyak nggak? Butuh berapa undangan? Mau ditulisin sekalian apa mau tulis sendiri?"
"Emang udah jadi, Pah?"
"Seminggu lagi, di list aja nama-namanya."
"Eum ... besok Maya tanya deh."
"Okey, ada yang mau kamu tanyain?"
"Eum ... Pah, sebenarnya ...." Maya tampak ragu hendak menceritakan kondisi ayah Adji.
Hardi menatap tajam, "Ada apa?"
"Owh, eng-enggak ... nggak jadi, Pah."
"Oh iya, kalian nanti mau bulan madu ke mana? Biar Papa pesenin tiket sama hotel dari sekarang."
__ADS_1
"Apa? Bulan madu?" Maya tersenyum kecil.
Bulan madu, membayangkannya saja sudah membuat ia merasa begitu bahagia. Berdua pergi bersama ke suatu tempat yang indah, romantis. Mata Maya menerawang ke langit-langit.
"May," panggil Hardi.
"Maya," panggilnya lagi.
Maya masih melamun.
"Maya ...."
"Eh, iya. Pah. Mau-mau!"
"Mau apa? Kamu tuh belum apa-apa udah menghayal yang enggak-enggak." Hardi geleng-geleng melihat tingkat anak perempuannya itu.
Maya meringis, wajahnya memerah malu.
"Ya udah, mau ke mana? Bali? Eropa? Umroh?"
"Eum ... besok aku tanya orangnya dulu deh, Pah."
"Okey, langsung kabarin, sama undangannya juga."
"Iya, makasih ya, Pah."
" Iya, ya sudah tidur sana sudah malam. Besok kamu udah mulai kerja kan?"
"Iya, Pah. Kasihan Monik kerja sendiri. Kalau aku kelamaan nggak masuk."
"Tapi badan kamu udah sembuh?"
"Alhamdulillah sudah, Pah. Cuma ya obat dalamnya aja yang bikin ngantuk."
"Ya sudah, istirahat ya."
"Siap, Pah."
Maya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga. Saat tiba di atas suara speaker aktif terdengar menggema di depan kamarnya. Ia mencari arah suara.
Mengetahui suara apa itu, Maya langsung menarik napas pelan. Dilihatnya Denis sudah tidur sambil mendengkur. Televisi masih menyala, jendela luar juga masih terbuka.
Maya berjingkat masuk ke kamarnya. Menutup pintunya pelan, dan mematikan lampu. Kemudian berbaring di ranjang untuk beristirahat.
***
Pagi itu mentari bersinar cerah, Maya berangkat ke kantor dengan taksi online. Mobilnya belum selesai diperbaiki. Ia berjalan dengan senyum mengembang. Beberapa rekan kerja menyapanya.
"Hai, May. Gimana keadaan kamu?"
"Kamu udah mendingan?"
"Makanya, May. Kalo nyetir jangan sambil pacaran. Hehehe."
Maya hanya tersenyum menanggapi pernyataan rekan kerjanya itu.
"Alhamdulillah udah baikkan," jawabnya singkat seraya berjalan menuju meja kerjanya.
Di sana Monik terlihat sedang melukis alisnya di depan sebuah cermin.
"Dor!"
"Astaga. Maya!" pekiknya.
Ia langsung bangkit dan memeluk erat sahabatnya itu.
"Gimana keadaan loe? Udah mendingan?" tanya Monik dengan mata berbinar-binar.
"Alhamdulillah. Tega loe nggak jenguk gue." Maya duduk dan cemberut.
"Sorry, loe sih sakitnya bertepatan dengan tugas gue ke Bandung."
"Terus yang backup kerjaan kita siapa?"
"Tuh! Anak baru." Monik menunjuk seseorang di belakang meja kerjanya.
Maya menoleh, ia menatap tak percaya siapa yang sedang duduk di sana. Seorang pria yang dikenalnya. Kenapa dia bisa ada di situ?
__ADS_1
"Namanya Doni. Keren loh dia, masih baru tapi udah paham semua yang harus dia kerjain." Monik bercerita dengan semangat.
Maya menyalakan komputer dengan hati cemas. Bagaimana bisa orang yang pernah hampir ribut dengan Adji di rumah sakit itu, kini satu kantor dan satu team dengannya. Kalau Adji sampai tahu? Kalau dia bakalan menggagalkan pernikahannya bagaimana.
"Muka loe kenapa tegang gitu, May?" tanya Monik.
"Owh, eng-enggak. Masih agak kurang fit aja."
"Kalo masih nggak fit ngapain kerja, mending tidur di rumah."
"Yah, kan gue kasihan sama loe, kerja sendirian. Kalau tahu loe ada temennya ya mending gue tidur aja kalo di rumah. Hehehe."
"Ye dasar."
"Sejak kapan dia masuk?" tanya Maya.
"Dua hari yang lalu."
"Owh. Siapa yang bawa dia?"
"Si bos! Tau-tau dia masuk aja. Katanya buat nambahin karyawan yang dikirim ke luar kota. Kan kalo gue atau loe riskan karena perempuan. Kita butuh karyawan cowok satu buat dinas."
"Owh."
"Kenapa sih? Kaya nggak suka gitu. Ganteng tau dia. Baik juga kok. Kemarin gue ditraktir."
Maya hanya tersenyum.
"Ya gimana ya, nggak enak aja, kita biasa rumpi berdua, tiba-tiba ada satu makhluk beda jenis. Nanti kalo dia jadi ikutan rumpi kan rempong."
"Hahaha ... enggak lah, doi lebih sering keluar sama si bos. Katanya sih teman kuliahnya si bos dulu. Cuma lagi butuh kerja, dia kena PHK di perusahaan sebelumnya."
"Owh."
Maya tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Monik barusan. Jangan-jangan ini memang rencana si bos buat menghancurkan hubungannya dengan Adji.
***
Waktunya makan siang tiba, Monik sudah bersiap untuk ke kantin bersama sohibnya itu. Namun, saat hendak bangkit dari duduk. Sebuah suara memanggil Maya.
"Maya!"
Maya menoleh, Sean sudah berdiri di depan bilik meja kerjanya.
"Eh, i-iya. Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Gimana keadaan kamu?"
"Alhamdulillah, Pak. Sudah sehat."
"Bagus kalau begitu. Kamu sudah kenal dengan rekan baru kita?"
"Owh, sudah, Pak."
"Tolong bimbingannya ya. Maaf kemarin saya butuh seseorang di sini, jadi saya ambil dia. Karena teman saya juga."
"Iya, Pak. Enggak apa-apa."
"Saya takut kamu berpikiran kalau saya akan menyingkirkan kamu diam-diam."
Maya terdiam, benar juga. Ia sampai tak berpikiran sejauh itu malah.
"Owh, enggak, Pak. Saya percaya sama bapak."
Meskipun hati Maya tak percaya. Ia akan bersikap seolah tak mengetahui siapa sebenarnya Sean itu. Pembunuh berdarah dingin.
"Okey, kalau gitu silakan kalian istirahat." Sean mempersilakan Maya juga Monik untuk istirahat. Sementara Sean mengajak Doni keluar.
Maya bernapas lega. Ia takut dirinya akan diinterogasi lebih lanjut. Ternyata hanya seputar pekerjaan saja. Ia pun akhirnya pergi ke kantin.
Perasaan itu tak sama dengan hatinya yang sesungguhnya. Ia masih belum yakin kalau Doni benar-benar niat bekerja di situ. Karena ia masih sangat menginginkan dirinya untuk menjadikan Maya kekasihnya.
***
Bersambung.
Makasih.
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komentarnya 😘