Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
Episode 55 Berpulang


__ADS_3

💗💗💗


"Assalamualaikum," sapa Adji saat memasuki halaman rumahnya.


Maya tersenyum kecil menyambut sang suami. Lalu duduk di kursi teras. Adji melepas peci putihnya dan memegangnya. Melirik ke arah sang istri yang tiba-tiba wajahnya berubah masam.


"Kamu kenapa?" tanya Adji.


"Ditungguin dari tadi, malah pacaran," celetuk Maya tanpa menatap suaminya.


Adji tertawa kecil, lalu mengusap lembut rambut sang istri. "Cemburu lagi? Sama Arin?" tanyanya seakan tahu isi hati istrinya itu.


"Maya sayang, aku suka kalau lihat kamu cemburu gitu. Berarti kamu beneran cinta sama aku, bukan kaleng-kaleng." Adji merangkul bahu istrinya.


"Yaiyalah, masa kaleng-keleng. Ngobrol apa aja kamu tadi sama dia? Lama banget." Maya masih saja bicara ketus.


"Tadi di masjid ngobrolnya sama bapak-bapak. Biasa itu mau kerja bakti. Pas pulangnya eh Arin nyamperin aku."


"Asyik, dong?"


"Kamu ngomong apa sih? Cemburu nggak boleh kaya gitu, jadinya suudzon nanti."


"Ya emang asyik, kan? Jalan bareng sama mantan gebetan, ngobrol sambil ketawa cengengesan."


Adji melepas tangannya dari bahu sang istri, lalu kini memegang kedua bahunya menghadap padanya. Maya menatap sendu wajah sang suami, lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Kamu mau aku sama dia?" tanya Adji.


Maya melotot, "Ya nggak mau, lah."


"Ya terus, kenapa kamu ngambek? Nuduh aku yang macam-macam, padahal aku nggak ngapa-ngapain. Mending ngapa-ngapain aja sekalian, kan?"


"Maunya. Trus ngapain aja tadi? Ngomongin apa? Ngomongin aku, ya?"


Adji mencubit hidung istrinya gemas. "Pede banget sih, orang ngomongin kakak kamu."


"Mas Denis? Ngapain ngomongin dia?"


"Ada yang kangen."


"Siapa? Arin? Hahaha. Kamu serius, Arin kangen sama Mas Denis? Dia nanyain Mas Denis?"


"Iya."


Maya yang sedari tadi hanya cemberut kesal karena cemburu. Kini sudah mulai kembali tersenyum. Tanpa sadar tangannya menggayut manja di tangan sang suami.


"Bobok, yuk!" ajak Maya manja. Ia merasa bersalah karena sudah menuduh suaminya berbuat macam-macam. Ia pun menggoda sang suami untuk masuk kamar.


"Tapi aku belum ngantuk, May."


"Ya, ngapain kek di kamar. Dari pada di sini, banyak nyamuk."


"Maunya ngapain?"


"Ya, bobok-an aja. Sambil ngapain gitu."


Adji melirik sang istri yang bertingkah aneh. Entah apa yang dipikirkan wanita di sebelahnya itu. Yang sikapnya dapat berubah-ubah semaunya. Kadang marah tanpa sebab, cemburu buta, nangis, tertawa bahkan manja seperti saat ini. Apakah semua wanita sikapnya sama, suka berubah-ubah sesuai dengan suasana hatinya.


"Ya udah, yuk!" Adji merangkul sang istri dan mengajaknya masuk rumah.


Dari kejauhan, seseorang memperhatikan kedua insan tersebut dari balik jendela kamar. Hatinya bahagia, meski masih tersisa rasa sakit yang menjalar. Pernah menyukai pria yang ia kira dapat menjadi pendamping hidup, nyatanya pria itu lebih memilih wanita lain. Dan sebaliknya, kini ia justru mengagumi sosok pria yang tak lain adalah kakak dari wanita itu.


"Arin," panggil seseorang dari balik pintu kamarnya.


Arin melangkah membukakan pintu, melihat sosok ayahnya sedang berdiri di depan kamarnya.


"Iya, Pak."


"Belum tidur?"


"Belum, Pak. Ada apa, ya?"


"Besok, anak keduanya Pak Jimmy mau menikah. Kita diundang di rumah sakit. Sekarang kamu tidur, biar besok nggak telat."


"Iya, Pak."


💗💗💗


Ruangan ICU telah disulap menjadi tempat perhelatan akbar, sepasang calon pengantin. Seorang penghulu sudah hadir di antara keluarga kedua mempelai.


Jimmy, sang ayah dari mempelai pria masih terbaring lemah di brangkarnya. Ia merasa dirinya sudah tak tahan lagi menahan semua rasa sakit di dalam tubuhnya itu.

__ADS_1


Reza terlihat tampan dan gagah dengan jas hitam dan peci hitamnya. Di sebelahnya calon mempelai wanita memakai kebaya putih dan bersanggul tampak menundukkan kepala. Ada rasa cemas menjalar di dalam hati keduanya. Pernikahan mewah dengan dekorasi Indah sempat ia bayangkan. Namun, kenyataannya berbanding kebalik.


Di ruangan itu beberapa tamu yang diundang juga datang untuk menyaksikan pernikahan tersebut. Termasuk putra pertama Jimmy yang baru saja kembali dua hari yang lalu dari rumah rehabilitasi. Dokter dan suster tampak berjaga di sudut ruangan, takut kalau tiba-tiba kondisi Jimmy memburuk. Karena sejak semalam jantungnya melemah.


"Boleh dimulai, Pak," ucap Jimmy lirih menatap penghulu yang berdiri di sebelah kanannya.


"Baik, Pak. Kita mulai."


Ayahnya Bella menjabat tangan Reza erat. Lalu mengucapkan bismillah. Jujur dalam hati sang ayah, ia tak kuasa menahan kesedihan. Mengetahui kenyataan bahwa Putri kesayangannya harus menikah dengan cara seperti ini, dan dalam keadaan mengandung. Tapi, ia bisa berbuat apa. Karena yang menghamilinya tak lain adalah anak dari seorang pengusaha kaya Raya, yang ditakuti. Meskipun kini kondisi Jimmy sudah sekarat, tetap saja ia masih merasa canggung.


"Saya nikahkan engkau ananda Reza Putra Darmawan bin Jimmy Darmawan dengan Putri kandung saya Rania Isabella binti Ahmad Baihaqi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Isabella binti Ahmad Baihaqi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah."


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah …."


Tiiit …


Suara alat rekam jantung tiba-tiba terdengar nyaring, selepas membaca doa, Dokter bergegas menghampiri Jimmy. Memeriksa kondisinya, sayang pria itu tak terselamatkan.


"Pah, bangun, Pah!" Reza dan Reno sang kakak mendekati ke arah tubuh ayahnya.


Dokter menggeleng lemah. "Maaf, Pak. Pak Jimmy sudah meninggal dunia."


"Innalillahi wa innailaihi rojiun."


"Papah!"


Reza dan Reno memeluk erat orang tuanya. Menangis sejadi-jadinya. Terlebih keduanya memiliki begitu banyak kesalahan dan belum ditebusnya. Rasa sesal ada di dalam hati kakak beradik itu.


"Maafin Reno, Pah." Pria tinggi berkulit putih itu mengusap pipinya yang basah.


"Pah, kenapa Papah tinggalin Eza secepat ini? Papah nggak mau lihat cucu Papah?" Reza masih memeluk erat tubuh ayahnya.


Adji yang sedari tadi berdiri di dekat pintu, akhirnya mendekati Reza. Meraih bahunya agar pria itu tak meratapi kepergian ayahnya.


"Maafin gue, Dji. Gua banyak salah sama loe dan keluarga loe. Gue udah bikin kakak loe meninggal. Dan sekarang gue ngerasain gimana rasanya kehilangan. Sakit, Dji." Reza memeluk erat Adji.


"Iya, Mas. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Mas yang sabar, terlebih sekarang Mas sudah punya istri, tanggung jawab Mas bertambah. Mas harus kuat." Adji mengusap punggung Reza.


Dokter melepas semua alat dari tubuh Jimmy. Lalu menutup wajahnya dengan kain. Keluarga sudah mengikhlaskan kepergian orang yang sangat berharga bagi mereka. Meskipun sosok Jimmy terkenal galak, dan ambisius. Namun, di mata anak-anaknya ia tetap seorang ayah yang sayang dan peduli akan kehidupan mereka. Menjadi single parent sejak Reza masih duduk di bangku SMP, dan tidak pernah berniat untuk menikah lagi. Karena, bagi Jimmy karir yang utama, bukan wanita.


💗💗💗


Wajah-wajah sendu terlihat di sekitar makam yang tanahnya masih tinggi. Bunga di atasnya mengeluarkan aroma harum menusuk indera pencium. Tampak dua pria masih memandang kosong ke arah batu nisan ayahnya. Lantunan ayat suci alquran terdengar merdu mengiringi kepergian sosok yang berarti bagi keluarganya.


Reza mengecup nisan sang ayah dan memeluknya. Ia yang begitu terpukul atas kepergian ayahnya, merasa kalau penyakit yang di derita kambuh karena kesalahannya. Seandainya saja sejak awal ia bisa menolak perintah ayahnya waktu itu untuk menghancurkan perusahaan keluarga Maya. Mungkin semua akan baik-baik saja, harta dan kekayaan yang didapat tak akan musnah begitu saja. Meninggalkan jejak hutang dan tanggung jawab pada karyawan yang kemarin terkena musibah akibat kebakaran tersebut. Kini dirinya dan sang kakak-lah yang menanggung semuanya.


Kembali lagi, semua sudah kehendak yang Maha Kuasa. Takdir nyatanya berkata lain, Jimmy haru berpulang karena penyakitnya. Sementara Reza harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Bella.


"Reza, Bella. Selamat atas pernikahan kalian. Om juga mengucapkan turut berduka cita yang mendalam atas kepergian ayahmu," ucap Hardi pada Reza dan Bella.


Reza meraih tangan Hardi menjabat dan menciumnya layaknya seorang anak dengan ayah.


"Maafkan saya, Om. Maafkan Papa saya, Om. Atas semua yang pernah dilakukan oleh Papa saya." Reza menunduk dan kembali ujung matanya berair.


"Om sudah memaafkan. Kamu yang sabar dan tabah. Semua sudah takdir, jalan yang harus kalian lalui memang seperti ini. Kamu harus kembali bangkit dan semangat." Hardi memegang dan menepuk bahu Reza.


Reza mengangguk paham. Ia memejamkan matanya, menahan sesak yang bergejolak di dalam dada. Kenapa ia harus merasakan rasa sesakit itu. Kenapa ia pernah ingin berbuat jahat pada pria paruh baya di depannya, pria yang baik dan telah membantunya dalam pekerjaan selama ini, malah ia sia-siakan kebaikannya.


"Om, pamit dulu, ya."


"Iya, Om."


Hardi melangkah menjauh dari pemakaman setelah berpamitan pada keluarga Reza dan keluarga Bella yang masih berada di situ.


Adji dan Maya mendekat ke arah Reza dan Bella.


"Mas, saya turut berduka, ya. Dan selamat atas pernikahan kalian. Semoga apa yang terjadi saat ini, dapat kita ambil hikmahnya. Keluarga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah. Dan lahir generasi penerus yang sholeh dan sholehah," ujar Adji yang menyalami Reza.


"Makasih, Dji, May."


Keduanya hanya mengangguk. Lalu berpamitan pulang. Begitu juga dengan Denis dan Sherli. Mereka menumpang mobil sang ayah.

__ADS_1


💗💗💗


Hardi menunggu anak-anaknya di dalam mobil. Tak lama kemudian, mereka terlihat berjalan mendekat ke arahnya. Membuka pintu dan satu persatu masuk lalu duduk di kursi penumpang.


"Loh, Denis mana?" tanya Hardi.


Adji, Maya dan Sherli melihat di dalam mobil. Benar saja, kakak mereka tidak terlihat. Di kuria paling belakang hanya duduk Sherli seorang diri,  sementara di kursi penumpang bagian tengah, Adji dan Maya.


"Mau ditunggu, Pak?" tanya sang sopir.


"Sebentar, saya telepon dulu." Hardi mengusap ponselnya untuk menghubungi putra sulungnya itu.


"Den, kamu di mana?"


"------"


"Oh, ya sudah. Kita duluan, ya."


"-------"


Panggilan telepon diputus. "Jalan, Pak. Denis ada perlu katanya!" titah Hardi pada si sopir.


Mobil pun melaju menjauh dari pemakaman. Meninggalkan Denis dan keluarga Reza.


💗💗💗


"Mas Denis," panggil gadis berkerudung putih yang tengah berjalan keluar area pemakaman bersama keluarga Reza.


Denis yang sejak tadi memang sedang menunggu gadis itu pun menoleh. Ia tersenyum melihat gadis pujaannya yang lama tak pernah ia temui. Ada rasa ser-seran yang tiba-tiba menyergap ketika gadis itu berdiri di hadapannya.


"Eum, Arin. Apa kabar?" tanya Denis gugup.


"Alhamdulillah, baik. Mas gimana?" Arin menunduk, ia memilin ujung jilbabnya karena gugup.


"Alhamdulillah, baik. Eum, keluarga kamu kenal juga dengan keluarga Reza?" tanya Denis basa-basi.


"Iya, Mas. Om Jimmy itu teman main bapak saat masih sekolah dulu. Cukup dekat sih, tapi belakangan karena Om Jimmy sibuk mereka jarang ketemu."


"Arin!" panggil seseorang.


Dari kejauhan terlihat ayah Arin memanggilnya dengan mengangkat tangan. Mereka telah bersiap untuk pulang.


"Bapak nungguin, Mas."


"Yah, padahal aku masih mau ngobrol sama kamu, Rin."


"Ta, tapi, Mas."


"Ya udah deh, kamu pulang saja. Salam sama bapak dan keluarga kamu. Nanti kita lanjut ngobrol di wa, ya. Kamu masih nyimpen nomor aku, kan?"


"Iya, Mas."


"Yuk!"


Denis melangkah berjalan bersisian dengan gadis pujaannya itu. Arin yang dulu masih terlihat polos layaknya anak sekolah, kini sudah tampak dewasa. Wajahnya terlihat sudah mulai terkena makeup, meskipun tidak begitu mencolok. Membuat hati Denis semakin klepek-klepek. Ingin sekali ia berlama-lama bersama, ngobrol atau makan malam. Sayang, gadisnya itu bukam seperti gadis lainnya yang bebas main ke luar dengan lawan jenis tanpa izin ortu dan lupa waktu.


"Eh, Nak Denis. Apa kabar?" tanya ayahnya Arin seraya menjabat tangannya.


"Alhamdulillah, baik, Om."


"Gimana, kapan nih nyusul kaya Reza, adik kamu udah setahun loh nikahnya," goda pria berkumis itu.


Denis tersenyum kecil, "Ya saya sih, tergantung Arinnya aja," celetuknya.


Arin seketika melotot ke arah pria yang tengah menyibak rambutnya ke belakang itu. Denis mengedipkan sebelah matanya. Sementara Arin menunduk dengan wajah memerah.


"Hahaha, kamu, bisa saja. Emang mau nungguin Arin sampai lulus kuliah?"


"Ya, kalau Om bersedia. Saya siap."


"Om sih, terserah Arinnya saja. Yang penting kuliahnya selesai dulu, ya, Nak Denis."


"Siap, Om!"


"Trus sekarang kamu mau ke mana? Bukannya keluarga kamu sudah pulang."


"Iya, Om. Tadinya mau ngobrol sama Arin. Tapi, kayanya Arin mau ikutan pulang."


"Oh, ya sudah ke rumah saya aja. Yuk, ngobrol di rumah saja."


Akhirnya Denis ikut menumpang di mobil ayahnya Arin, dan ikut bersama ke rumah sang gadis. Ada rasa bahagia tapi juga canggung. Dalam perjalanan ia hanya diam, sesekali melirik ke arah sebelahnya.

__ADS_1


💗💗💗


Tbc.


__ADS_2