Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
48


__ADS_3

💗💗


Di depan ruang ICU tampak seorang wanita masih dengan mengenakan pakaian kerjanya. Ia tampak berjalan mondar mandir, sesekali berhenti di depan pintu kaca itu dan mencoba melihat ke dalam. Namun, sayang apa yang ingin ia lihat tidak tampak dari luar.


Tangannya saling mengenggam, dengan wajah cemas. Sesekali ia melihat ke ponselnya yang dipegang. Bingung, wanita itu harus menghubungi siapa.


Ceklek.


Pintu ruangan terbuka, seorang dokter pria paruh baya dengan rambut yang sebagian berwarna putih itu, menghampiri sang wanita.


"Maaf, Ibu keluarganya?" tanya sang dokter.


"Bu-bukan, Dok. Bagaimana kondisi anak itu, Dok? Dia yang telah menolong saya dari jambret.  Dia terluka karena saya, Dok."


"Maaf, Bu. Kondisinya kritis. Tempurung kepala bagian kanannya retak. Secepatnya harus dilakukan tindakan. Dan saya butuh persetujuan keluarganya."


"Astaghfirullah …." Wanita itu mengusap wajahnya. Ia benar-benar merasa bersalah atas kejadian itu. Ia tak pernah menyangka kalau itu semua akan terjadi separah ini.


"Oh iya, ini saya temukan dompet milik korban. Mungkin di sana ada identitas korban, agar ibu bisa menghubungi keluarganya. Karena saya tidak menemukan ponsel di saku celananya." Dokter menyerahkan sebuah dompet kulit berwarna coklat pada wanita tersebut.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Dokter itu melangkah menjauh dari sang wanita.


Dengan cepat, wanita itu membuka isi dompet milik Adji. Ia hanya menemukan KTP, ATM, dan juga STNK motor.


"Rumahnya lumayan jauh juga dari sini," gumamnya lirih.


"Tante Sindy!" Sebuah suara mengejutkan wanita itu. Seseorang dari kejauhan berjalan mendekatinya.


"Adelia? Kamu ngapain ke sini?" tanya wanita yang ternyata bernama Sindy itu.


"Ini, biasa Mama mau check-up," jawab wanita yang baru saja datang itu.


"Mama sakit apa?"


"Enggak sakit, sih. Cuma check-up bulanan aja. Kolesterol, darah, gula sama asam urat."


"Oh gitu. Lalu mama mana?"


"Sudah pulang duluan naik gocar, aku masih mau nebus obat. Tante sendiri ngapain di sini? Kok di ruang ICU. Siapa yang sakit?"


"Oh, iya. Jadi gini …." Sindy menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya pada sang keponakan. Dan memakan korban, hingga korban kritis di dalam ruangan ICU.


"Ya Allah, trus gimana sekarang dianya?"


"Masih di dalam, Tante nggak berani lihat."


"Aku boleh lihat, Tante?"


Sindy hanya mengangguk pelan. Mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Dilihatnya seorang pria tengah terbaring tak berdaya, selang infus dan oksigen juga perban di kepala Adji membuat Adelia mengernyit.


"Adji," ucapnya lirih saat menyadari kalau yang terbaring di ranjang pesakitan adalah adik iparnya.


"Kamu kenal dia, Del?"


Adelia mengangguk. "Dia adiknya Mas Sean, Tante. Emang Tante nggak ngenalin?" Adelia langsung menghampiri tubuh adik iparnya itu.


"Enggak, Tante orangnya lupaan. Lagi pula ketemu dia cuma sekali pas di pemakaman suami kamu. Lupa lah."


"Ya Allah,  Tante. Istrinya udah tahu belum, ya? Maya pasti cemas banget ini kalau tahu suaminya kritis."

__ADS_1


"Nah itu dia, Del. tante nggak tahu harus hubungin ke mana. Kamu punya nomor handphone istrinya?"


Adelia pun menggeleng. "Tapi aku masih inget rumahnya. Nanti aku coba ke sana kasih tahu keluarganya."


"Secepatnya, ya, Del. Soalnya dia harus dioperasi. Tante takut kalau terjadi apa-apa sama dia. Sementara dokter maunya persetujuan dari keluarganya. Nanti biar Tante yang urus semua biaya dia."


"Owh gitu ya, Tante. Kalau gitu sekarang Tante antar aku ke dokter. Biar aku yang minta dokter operasi secepatnya. Aku yakin keluarga dia pasti menginginkan yang terbaik juga."


"I-iya, Del. Ayo!"


💗💗


Di tempat lain Maya tengah gelisah. Berbaring sedari tadi di atas ranjang tetap saja tak bisa memejamkan kedua matanya. Sudah pukul sebelas malam, suaminya tak kunjung menjemputnya pulang. Ia berpikir kalau sang suami kin tengah bersenang-senang dengan wanita lain.


Ia mencoba memejamkan mata, menarik selimut hingga ke dada. Berkali napasnya berembus pelan. Saat matanya hendak terpejam, kembali bayangan akan wanita rekan kerjanya yang tadi pagi ke rumah membuat hatinya kembali terasa sakit.


Masih terngiang saat Bella berucap bahwa dirinya hamil. Dan seketika itu juga sang suami ingin membantu wanita itu tanpa mempedulikan dirinya yang tengah cemburu.


Tanpa terasa, air mata yang sedari tadi ia tahan untuk tak kembali turun, kini mengalir deras di pipinya. Tangisnya pecah, ia tak pernah menyangka suami yang ia percayai selama ini, sudah berani berbuat di luar batas. Lalu selama ini apa yang ia lakukan? Sampai-sampai suaminya dekat dengan wanita lain pun ia tak pernah sadar.


Maya mengusap perlahan wajahnya yang basah dengan punggung tangan. Hidungnya pun mulai berair. Ia tak mungkin seperti ini terus, sampai kapan? Ia harus bertindak. Bukankah dirinya adalah istri sah dari Adji, sementara Bella tak lebih dari sekedar karyawan di kantor sang papa. Kalau ia membiarkan mereka berdua terus bersama, itu sana saja dirinya merelakan sang suami untuk wanita lain.


Maya akhirnya bangkit dari ranjang, ia mengambil jaket dan membawa kembali pakaiannya yang masih berada di dalam koper. Lalu melangkah keluar kamar.


"Mau ke mana loe?"


Maya tersentak mendengar suara dari arah belakang punggungnya saat ia hendak menuruni anak tangga. Ia bergeming, tak menoleh. Ia tahu kakaknya itu pasti akan banyak tanya kalau ia menjawab pertanyaannya.


Maya dengan cepat menuruni tangga dengan koper yang ia angkat. Denis mengejar. Sampai di depan pintu, tangan sang adik ia tarik.


"Loe mau ke mana? Mau pulang? Cerita dulu sama gue, apa yang terjadi? Adji nyakitin loe?" tanyanya penuh selidik.


"May, gue nanya! Gue nggak mau terjadi apa-apa sama loe. Loe adek gue, gue wajib melindungi loe."


"Please, Mas. Lepasin tangan gue, gue mau pulang."


Denis melepas cengkeramannya. Maya mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa sakit karena cengkeraman tangan Denis.


"Ya udah, gue anterin loe pulang."


"Nggak usah, Mas. Gue naik grab aja."


"Enggak! Loe tunggu sini!"


Dengan cepat Denis berlari ke arah tangga, ia menuju lantai dua kamarnya. Berganti pakaian dan mengambil kunci mobil. Lalu kembali ke bawah. Sang adik masih menunggunya duduk di sofa ruang tamu. Sebenarnya bisa saja Maya kabur, tapi pasti kakaknya itu akan mengejar sampai dapat. Dan akan membuat seisi rumah menjadi khawatir.


💗💗


Maya dan Denis tiba di depan rumah Adji tepat pukul dua belas malam. Suasana rumah sepi, tak ada tanda-tanda Adji di dalam sana. Karena lampu rumah masih padam.


"Adji ke mana, May?" tanya Denis.


Maya hanya menggeleng lemah, ia yang kebetulan memiliki kunci cadangan segera membuka pintu rumahnya. Membawa masuk kembali kopernya ke kamar. Denis mengekor sampai ruang tamu.


Denis melihat sekeliling rumah adik iparnya itu. Setahun sudah Adji bekerja di kantor sang ayah, dan juga kuliah. Namun, ia tak melihat ada perubahan di rumah tersebut. Masih sama. Bahkan kursi yang mereka punya masih kursi kayu, lantainya pun belum diganti keramik. Tembok yang mulai retak karena panas juga sudah terlihat di setiap sudut ruangan. Cat dinding pun warnanya pudar dam mengelupas.


Denis menarik napas dalam sambil duduk di kursi menunggu sang adik. Tak lama kemudian, Maya datang dengan secangkir kopi untuk kakaknya itu.


"May, kalian kan kerja, kenapa rumah ini nggak direnov aja sih? Betah banget tinggal di rumah kaya gini. Kalau tiba-tiba hujan lebat, angin kencang, trus rubuh gimana?" tanya Denis seraya menatap atap rumah adik iparnya itu.

__ADS_1


"Nanti, Mas. Uangnya belum cukup."


"Belum cukup? Emang gaji yang papa kasih kurang?"


"Ya kan Bang Adji masih kuliah, dia nggak mau pakai uang gue, Mas. Jadi ya nunggu uang dia kumpul dulu."


"Egois banget sih tuh orang."


Maya hanya terdiam mendengar ucapan kakaknya itu. Denis menyesap kopi buatan sang adik. Lalu menatap adiknya dalam-dalam dengan pandangan curiga.


"Loe nangis, ya? Beneran loe nggak mau cerita sama gue?" tanyanya menyadari sembab di wajah adiknya.


"Nggak, gue nggak apa-apa. Loe mau pulang apa nginep?"


"Pulang lah, ngapain gue tidur di sini. Trus suami loe ke mana?"


Denis pun mulai curiga. Yang dia tahu selama ini, Adji begitu menyayangi sang adik. Bahkan ia tak pernah membiarkan adiknya itu ke mana-mana sendiri. Apalagi tengah malam seperti ini, dan Adji tak terlihat Batang hidungnya di rumah.


"Kalian bertengkar?"


"Sudahlah, Mas. Mending loe pulang aja. Udah malam. Biar gue yang nunggu suami gue pulang sendiri."


"Tapi loe nggak kenapa-napa kan gue tinggal?"


Denis mulai merasa cemas melihat wajah Maya yang seketika berubah pucat. Ia pun sadar kalau adiknya itu tadi tak ikut makan malam bersama keluarganya di rumah.


"May." Denis panik saat tubuh adiknya tiba-tiba luruh dan lemas, matanya pun terpejam. Maya pingsan di kursi samping sang kakak.


Denis mendekati adiknya, menepuk-nepuk pipi Maya. "May, bangun, May.  Yah elah, pake pingsan lagi loe. Nyusahin aja deh. Tau gitu nggak gue ajak pulang deh. Repot urusan kalau di sini."


Akhirnya Denis membawa tubuh adiknya ke dalam kamar. Membaringkannya di atas tempat tidur lalu menyelimutinya. Kemudian ia keluar rumah untuk memesan makanan lewat ojek online. Mencari rumah makan sekitar yang masih buka. Dan ternyata susah, ia pun berniat keluar rumah untuk mencari pedagang nasi goreng yang biasanya masih berkeliaran. Adiknya itu pingsan pasti karena belum makan.


💗💗


Adzan subuh berkumandang, Maya terbangun dan mendapati sebelahnya tak ada sosok sang suami. Saat semalam ia pingsan, dan sadar setengah jam setelahnya, ia melihat Denis sang kakak yang masih Setia menunggunya hingga tersadar dengan sebungkus nasi goreng di atas meja. Ia pun memakannya lalu kembali beranjak tidur setelah Denis pamit untuk pulang. Karena ia yakin suaminya pasti kembali.


Maya terduduk di tepi ranjang, menatap wajahnya lewat pantulan cermin yang berada di lemari depannya. Kantung matanya menghitam, ia merasa gagal menjadi istri. Hingga suaminya tak kembali di sisi dan lebih memilih wanita lain yang tengah hamil.


"Bang, kamu di mana?" ucapnya lirih. Kembali air matanya menetes. Hatinya teriris lagi, sesak dan sakit yang dirasakan.


Drrrttt …


Terdengar suara ponsel berdering. Maya tersentak dan menoleh ke atas nakas. Ponsel suaminya tergeletak di sana. Ia pun mendekat, dan mengambilnya. Sebuah panggilan dari wanita yang membuat sang suami tak kembali ke rumah.


"Mau apa dia telepon? Bukankah Bang Adji sedang bersama dia?" gumam Maya kesal.


Panggilan itu ia hiraukan. Meletakkan kembali ponsel yang bukan miliknya itu ke atas nakas. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang basah karena air mata.


Maya bahkan tak semangat untuk menjalani harinya. Padahal hari ini adalah hari minggu, hari libur di mana biasanya hari yang ia dan sang suami nantikan. Hari yang tak pernah mereka lewatkan untuk selalu bersama, bercengkrama.


Dari belanja bersama, masak bersama, bercocok tanam bersama, tertawa bersama, tidur bersama bahkan mandi bersama kerap mereka lakukan. Kebahagiaan yang dulu pernah ia rasakan kini terkikis dengan adanya badai yang tiba-tiba meruntuhkan kekuatan Cinta mereka. Maya menghela napas pelan, menatap cucian yang menumpuk di sudut kamar mandi. Pakaian sang suami masih berada di sana. Hari ini jadwalnya ia untuk mencuci.


Biasanya sang suami dengan senang hati membantunya menjemur pakaian, sementara dirinya menyiapkan sarapan. Lagi-lagi bayangan itu menari-nari di benaknya. Mungkinkah kebahagiaan itu akan kembali bersemi di rumah ini lagi?


💗💗


Tbc.


Vote dan komennya yaaaa.

__ADS_1


__ADS_2