
***
.
Hampir sepuluh menit Maya memangku kepala suaminya yang pingsan. Ia tak kuat jika harus membopongnya ke ranjang. Sementara kalau dia keluar untuk meminta bantuan sang kakak, pasti nanti akan digoda habis-habisan.
Lebih baik ia menunggu Adji sampai tersadar. Berkali ia menepuk-nepuk pipi suaminya, namun tak juga bangun. Sejak tadi raut di wajahnya melihat cemas, tapi ia berusaha tenang.
Malam kian larut, udara dingin mulai menyusup ke kulitnya yang masih berbalut busana malam nan tipis itu. Tiba-tiba kepala Adji bergerak, matanya mulai terbuka sedikit, ia langsung duduk, dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Maya bingung.
"Kamu kenapa nggak pakai baju?" Adji balik bertanya.
"Ini baju, kata Monik ini cocok buat malam pengantin. Kamu nggak suka ya?"
"Kamu nggak malu?"
"Ya malu sebenarnya, tapi kan kamu suami aku sekarang. Kalau kamu nggak suka, yaudah aku ganti baju dulu." Maya hendak bangkit berdiri.
Adji menarik tangan sang istri, hingga ia terduduk, mereka sekilas saling pandang. Adji berusaha untuk mengatur napasnya. Ia berharap agar tidak kembali pingsan lagi.
Perlahan Adji mulai menyentuh wajah istrinya itu, menangkupkan kedua tangan di wajah. Maya memejamkan mata, sementara Adji tersenyum kecil. Ia tahu apa yang akan dilakukannya saat itu
Naluri lelakinya mulai muncul, pelan ia sentuh bibir mungil sang istri dengan bibirnya. Dikecupnya, lalu sesaat mereka saling berpagutan.
Kini tangan Adji mulai berpindah, ia menggendong tubuh sang istri membawanya ke ranjang nan penuh bunga itu. Dibaringkannya perlahan. Tanpa melepas ciumannya.
"Dji," ucap Maya lirih.
Adji menghentikan aktifitasnya sesaat, memandang wajah istrinya yang kini berada di bawah tubuhnya itu.
"Kenapa?" tanya Adji dengan napas mulai terdengar tersengal.
"Kamu udah nggak pingsan lagi?"
"Enggak, saya udah sadar. Saya harus melakukan sesuatu agar kamu bahagia malam ini, sebenarnya saya juga hanya pura pingsan buat seberapa besar perhatian kamu ke saya," ucapnya berbohong, menutupi rasa malu dan kegugupannya.
Maya tidak menyangka, pria yang usianya lebih muda darinya itu dapat bicara seperti tadi. Sosoknya yang polos seketika hilang.
Adji mulai menyentuh tiap inci tubuh Maya, dari tangan, sampai ke kaki. Meski jantungnya masih berdebar, tangan terasa gemetar. Ia penasaran dengan apa yang orang-orang bilang tentang indahnya malam pengantin.

Ternyata benar, baginya indah dan sangat indah. Meskipun belum pada puncaknya. Masih dalam tahap awal mengenal pasangan satu sama lain. Ia mencumbu leher istrinya, harum tubuh Maya membuat adrenalinnya semakin memuncak.
Maya mulai merasa ada yang mengganjal di bawah sana. Ia tersenyum kecil.
"Sayang, apa kamu sudah merasa menginginkannya?" tanya Maya, ia melingkarkan kedua tangan di leher sang suami.
Adji terkekeh, dan mengangguk seraya menarik hidung sang istri. Lalu mengecup lagi bibir yang masih basah itu.
"Tapi, tunggu dulu. Kalau mau mulai kamu harus ...."
"Harus apa?" tanya Adji gugup.
"Itu, tirainya ditutup dulu. Biar readers nggak pada ngintip."
"Okey!"
***Jangan diintip. Mau ritual dulu. 😁
***
.
Sepanjang malam mereka menikmati kehangatan cinta. Keduanya saling menyatu, meski awalnya agak sungkan dan malu. Namun, saat hasrat sudah tak lagi bisa dibendung, semua terelakkan begitu saja.
Nikmatnya madu telah dihisap oleh sang kumbang, kini seakan bunga-bunga tengah bertebaran di hati mereka. Saat tubuh beradu, keringat dan liur bercampur, di situlah kekuatan cinta bersatu.
Malam panjang telah dilalui mereka di balik selimut, kini keduanya tampak kelelahan. Sang wanita tampak tertidur di sebelah suaminya, sang suami memeluknya erat dari belakang.
Sayup-sayup suara adzan subuh terdengar berkumandang. Adji menggeliat pelan. Melihat istrinya yang masih tidur pulas, tak tega ia membangunkannya. Sambil tersenyum kecil, ia kembali mengecup pucuk kepala sang istri.
Adji beringsut dari ranjang, mengambil celananya yang berserak di lantai, memakainya lalu bergegas mandi.
Maya terbangun saat mengetahui sang suami sudah tak disisinya. Ia duduk seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Ia merasa tubuhnya remuk redam, nyeri di sekujur tubuh bagian bawah.
Ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, ia yakini itu pasti suaminya. Maya beringsut dari ranjang, mengambil handuk dari lemari pakaian lalu melilitkan di tubuhnya. Berjalan mengetuk pintu kamar mandi.
"Dji, masih lama nggak?" tanya Maya.
"Sebentar lagi," jawab suara dari dalam.
Maya kembali berjalan ke ranjang, langkahnya terhenti saat melihat ada bercak darah di seprainya yang berwarna putih itu. Cepat ia mengambil gelas berisi air dari atas nakas, lalu menyiramnya sedikit ke bagian yang ternoda. Ia gosok-gosok dengan jari, sayangnya noda itu tak hilang, hanya sedikit memudar saja.
Wajah Maya pucat pasi, ia malu kalau sampai orang rumah tahu, pagi-pagi sudah mencuci seprai. Padahal baru diganti.
"Kamu ngapain?" tanya Adji yang tiba-tiba ada di belakangnya.
Maya menutup bercak itu dengan tangannya. tangannya karena malu. Adji mengernyit. "Apa itu?"
__ADS_1
Adji menarik pelan tangan sang istri, lalu terkekeh melihat noda di seprai.
"Pecah," ucapnya lirih.
"Kamu nakal," ledek Maya seraya memukul dada suaminya pelan.
"Hahaha ... tapi kamu suka kan?"
Maya mengangguk malu.
"Masih sakit?" tanya Adji.
"Sedikit."
"Maaf ya. Kalau saya membuatmu merasa tersakiti." Adji membelai rambut istrinya lembut.
"Tapi aku suka caramu menyakitiku." Maya menatap wajah suami gantengnya itu.
"Ya udah, mandi dulu sana, saya tungguin. Habis itu kita sholat subuh berjamaah."
Maya mengangguk pelan. "Nggak mau lagi?" ledek Maya dengan berjalan melenggok ke arah kamar mandi. Adji terkekeh melihat tingkah konyol istrinya itu.
***
.
Pagi itu di ruang makan. Senin sibuk, seperti biasa Hardi, Denis, juga Sherli tengah bersiap untuk beraktivitas. Kecuali dua insan yang baru saja merasakan nikmatnya surga dunia. Pengantin baru Maya dan Adji.
Sepasang suami istri itu berjalan dengan wajah semringah menuju ruang makan. Lalu keduanya duduk bersisian.
Ketiga pasang mata menatapnya.
"Ehem, pengantin baru. Seneng banget romannya," ledek Denis.
"Ye, sirik aja loe, Mas." Maya melirik sinis ke arah sang kakak.
"Eum ... Maya, Adji. Papa mau bicara." Hardi menatap keduanya.
"Iya, Pah."
"Begini, Adji kamu mau nggak kerja di tempat saya?" tanya Hardi.
"Apa? Tapi saya kan cuma lulusan SMA. Pak."
"Kamu ini, masih kali saja. Panggil saja Papah, seperti Maya." Hardi terkekeh.
"I-iya, Pah."
"Sa-saya belum ada pengalaman."
"Justru itu, sambil kerja nanti kamu saya kuliahkan, agar kamu dapat menggantikan Sean di perusahaan."
Adji tercekat, mendengar nama sang kakak disebut.
"Nggak bisa gitu dong, Pah. Masa Adji langsung naik jabatan begitu. Proses dong," protes Denis.
"Yang punya perusahaan kan Papah, kenapa kamu yang ngatur. Kamu sendiri nggak mau ngurus perusahaan." Hardi tampak kecewa dengan sikap Denis barusan.
"Males."
"Eum ... gimana ya, Pah." Adji masih bingung, ia tak terbiasa bekerja di kantor. Ia juga tak begitu menyukai pekerjaan yang saklak. Dengan waktu kerja yang diatur dari perusahaan. Ia lebih suka berwirausaha. Banyak waktu luang yang dapat ia kerjakan untuk keluarga atau untuk beribadah.
"Ya udah, kamu pikirkan saja dulu tawaran saya, sebelum saya berubah fikiran. Karena cabang kita di Bandung butuh kepala toko."
"Apa? Bandung, Pah?" Kini Maya yang terkejut.
"Iya, kenapa?"
"Berarti kita pisah dong kalau Adji kerja di Bandung?" Maya tampak cemberut.
"Ya kamu ikutlah."
"Trus kerjaan aku gimana?"
"Kamu ini masih mikirin kerjaan. Ya terserah kamu, lebih milih kerjaan apa suami kamu. Emang kamu rela suami kamu digoda sama awewe Bandung?" goda Hardi.
"Ih, Papah. Nggak lah. Ya aku pilih suami aku."
"Ya elah, lebay banget loe, May," celetuk Denis.
"Ikut campur aja sih loe, Mas."
"Gimana semalam? Lancar nggak, Dji. Tuh bocah nggak pecicilan kan di atas kasur?" tanya Denis pada Adji seraya menarik turunkan alisnya melirik ke arah sang adik yang sibuk mengunyah roti.
"Aman terkendali," jawab Adji malu.
"Apaan aman, orang Adji aja ...." Belum sempat Maya melanjutkan pembicaraan, ia langsung ingat kalau Denis bisa membahas itu seumur hidup kalau sampai tahu kejadian yang sebenarnya tentang suaminya yang pingsan.
"Kenapa dia? Kalah sebelum bertanding? Hahaha ... biasa itu, May." Denis terbahak.
Adji menahan malu. Akhirnya mereka semua berpamitan berangkat kerja dan sekolah. Sejak tadi Sherli mencoba mencuri-curi pandang ke arah kakak iparnya itu. Maya pun tahu kalau adiknya tak henti memperhatikan suaminya.
__ADS_1
"Eh anak kecil, belajar yang bener jangan pacaran melulu," cecar Maya pada sang adik yang hendak menyalaminya.
"Ih, enak aja pacaran, kalo sama Kak Adji sih nggak apa-apa, iya nggak, Kak?" Sherli mencoba menggoda Adji agar kakaknya itu cemburu.
"Eh, apa loe bilang? Sini nggak? Belum pernah dilempar botol kecap apa ya?" Maya bangkit berdiri seraya mengacungkan botol kecap ke arah sang adik yang tengah berlari keluar rumah mengejar Denis.
"Udah sih, gitu aja marah," ujar Adji meraih kembali tangan sang istri.
"Iya, maaf."
Tiba-tiba saat Maya baru saja duduk, Adji dengan lembut membelai rambut istrinya. Maya menoleh. Sesaat mereka saling pandang. Adji mendekatkan wajahnya ke arah sang istri.
"Kamu mau apa, Dji?" tanya Maya gugup.
"Kamu makan permen ya?" tanya Adji.
Maya menggeleng, "Enggak."
"Masa?"
"Iya."
"Coba, aku cicipi dulu."
Cup.
Adji mengecup bibir Maya lembut, melumatnya sesaat. Kemudian menarik kembali bibirnya dan tersenyum kecil.
"Tuh kan, manis," ujarnya lirih.
"Adji." Maya kembali tersipu.
"Kamu tuh, ini di ruang makan, kalau ada yang lihat gimana?" tanya Maya.
"Rumah kamu ada cctvnya?" Adji tampak cemas.
"Hehehe ... enggak kok."
"Huft ...." Adji menarik napas pelan sambil melirik ke arah sang istri.
Kemudian ia menarik tangan sang istri membawanya ke sofa ruang keluarga.
"Kamu mau apa?" tanya Maya curiga.
Tiba-tiba Adji mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sekeping CD yang waktu itu ia temukan. Ia bawa ke rumah Maya terkhusus untuk ditonton bersama sang istri tercinta.
Maya terbelalak kaget.
"I-ini kan?"
"Iya, yang waktu itu. Kita tonton yuk!"
"Tonton doang kan?" tanya Maya gugup.
"Ya tergantung, kalau seru, kita bisa ikutan kan?"
"Astaga Adji. Jangan di sini. Kita ke kamar aja yuk!"
"Nggak, saya mau di sini. Di kamar takut."
"Loh kenapa?"
"Kamu tahu, ikatan bunga di atas tempat tidur kamu udah mau putus. Kalah tiba-tiba ngejatuhin kita gimana?"
"Hahaha ... bener juga ya, ya udah sini. Aku yang pasang cd-nya."
Maya menghidupkan DVD player dan memasukan CD itu. Lalu duduk di sebelah sang suami menghadap ke layar televisi. Dengan sebuah remote di tangannya, Maya tampak ragu. Ia takut dan gugup. Meski ia pernah menonton film seperti itu, tapi tak pernah menontonnya dengan seorang laki-laki yang suatu waktu bisa menerkamnya seperti yang akan terlihat nanti di layar kaca.
Gambar sudah mulai terlihat di layar, Adji merangkul istrinya, Maya tak segan merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
Terdengar suara dari layar, kedua insan kini saling pandang, mungkin siap-siap melihat hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Adji kembali mengecup pucuk kepala sang istri, mencumbunya pelan. Seraya menunggu tampilan film di hadapannya.
Tiba-tiba ada yang aneh dari layar kaca besar itu, seekor tikus tampak berlari ke sana kemari. Di belakangnya seekor kucing tengah mengejar seraya memegang sapu.
Maya dan Adji terbahak. Ia lalu meraih kembali remote, dan mempercepat film tersebut. Isinya sama. Hanya dua hewan itu yang tampak dengan gambar warna warni.
"Hahaha ... ini sih Tom and Jerry," ujar Maya terbahak-bahak.
"Saya udah tegang loh, tega." Adji tampak memerah wajahnya.
"Hahaha ... kamu sih."
"Nanggung nih, lanjutin aja." Adji merengkuh tubuh istrinya, ia berbaring, sementara Maya berada di atasnya. Mencumbui sang istri tanpa henti dan bertubi-tubi.
****
.
bersambung.
__ADS_1