
💗💗💗
Denis akhirnya ikut ke rumah Arin. Cahyono atau biasa dipanggil Pak RT adalah ayah Arin, dia ingin bicara serius dengan Denis perihal putrinya. Kesempatan saat bertemu Denis tadi, tak akan ia sia-siakan.
Denis dipersilakan untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Sementara Cahyo berganti pakaian, dan Arin menyiapkan minuman di dapur.
Denis merasa ada yang aneh dengan sikap ayahnya Arin yang tak biasanya mengajak mampir ke rumah. Ia takut kalau tiba-tiba ayahnya Arin memintanya untuk melamar Putri kesayangannya itu.
Tak berapa lama kemudian, ia melihat Arin keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi tiga cangkit teh manis hangat dan sepiring biskuit. Lalu perlahan ia meletakkannya di atas meja.
"Diminum, Mas," ujarnya lirih lalu duduk di kursi panjang bagian tengah. Sementara Denis duduk di kursi tepat di dekat pintu.
"Makasih, Rin."
Cahyo pun keluar dari kamarnya, lalu ikut bergabung duduk di ruang tamu. Baju batiknya telah berganti dengan kaus berkerah warna merah hati.
"Eum, Nak Denis, sebenarnya Bapak ingin bicara serius dengan Nak Denis," ucap Cahyo membuka perbincangan.
Denis menatap serius, "Iya, Pak. Bicara masalah apa, ya?" tanyanya gugup.
Arin yang sejak tadi memperhatikan keduanya kini menunduk menanti apa yang akan disampaikan sang ayah. Ia tahu apa yang akan dibicarakan, terkait hubungannya dengan Denis.
"Bapak hanya ingin bertanya sama Nak Denis, tentang hubungan kalian. Karena selama ini Bapak melihat kalau kalian itu saling suka satu sama lain, tapi Bapak tahu kalau Arin masih ingin menyelesaikan kuliahnya. Apa Nak Denis serius dengan Putri Bapak, kalau memang iya, Bapak sih ingin Nak Denis segera membawa orang tua Nak Denis ke sini."
Deg. Seketika jantung Denis seakan berhenti berdenyut. Wajahnya pun mulai memerah dan bulit air terlihat membasahi keningnya. Tangannya berkeringat dingin, sementara kakinya bergetar. Ia tak menyangka kalau ayahnya Arin mengajaknya ke rumah ternyata untuk membicarakan hal itu. Sebenarnya ini yang ia inginkan, tapi kenapa sekarang dirinya justru gugup luar biasa.
"Eum, Ba-bapak serius? Ta-tapi, Arin, kan, masih kuliah, Pak."
"Loh, kenapa? Bukannya banyak, ya. Yang menikah sambil kuliah?"
"Me-menikah?"
Cahyo tertawa kecil melihat ekspresi wajah Denis yang melongo mendengar kata menikah. Ia pikir, pria di hadapannya itu serius menjalin hubungan dengan putrinya. Karena, ia melihat sang putri sering memandangi foto mereka berdua di ponselnya.
Arin tetap menunduk, menanti jawaban dari pria yang ia sayangi itu. Sementara Denis mati kutu tak berkutik bahkan bibirnya tak mampu berucap atau menjawab apa yang ada di dalam hatinya. Ia memandangi wajah gadis pujaannya itu, tak ingin menyakiti perasaan gadis itu. Tapi, di sisi lain ia pun belum siap jika menikah dalam waktu dekat ini.
"Bagaimana, Nak Denis?" tanyq Cahyo memastikan.
"Eum, sa-saya akan bicarakan dengan Papa saya, dan keluarga saya dulu, Pak. Tapi, saya serius kok sama anak Bapak," jawab Denis pada akhirnya.
Ada rasa lega menjalar di dada Arin mendengar kesanggupan Denis untuk melamarnya dalam waktu dekat. Meskipun ia tak tahu kapan pastinya. Paling tidak, ia tahu kalau hati Denis masih untuknya.
"Assalamualaikum," sapa seseorang dari luar.
Arin bangkit dari duduknya dan melihat ke depan. Dilihatnya seorang pria tinggi, putih dengan memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah datang dengan tangan kanan memegang sebuah bungkusan.
__ADS_1
"Mas Haris?" Arin tersenyum kecil ke arah pria yang berjalan menghampirinya.
"Siapa, Rin?" tanya Cahyo.
"Mas Haris, Pak."
"Siapa?" tanya Denis bingung.
Arin mempersilakan pria bernama Haris itu untuk masuk. Ia menyalami Denis juga sang ayah. Lalu ikut duduk di kursi panjang yang berada di tengah, tepat di sebelah Arin.
"Nah, Nak Denis. Kenalin ini Haris, teman mainnya Fahmi, kakaknya Arin. Dia sempat naksir Arin juga loh. Jangan sampai keduluan, soalnya Fahmi itu getol banget ngejodohin adiknya ini sama sahabatnya itu," jelas Cahyo.
Pria bernama Haris itu memerah wajahnya, ia tersenyum kecil ke arah Cahyo juga Arin. Sementara Denis dadanya memanas mendengar ucapan calon mertuanya. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia pun takut kalau sampai kehilangan gadis pujaannya itu.
"Eum, Pak. Arin. Mungkin minggu depan saya dan keluarga saya akan ke sini," ucap Denis akhirnya, ia tak mau kalau sampai diserobot oleh pria bernama Haris itu.
"Oh, silakan, Nak Denis. Bapak tunggu pokoknya. Bukannya mau dibicarakan dulu?"
"Eum, kayanya nggak perlu, deh, Pak. Soalnya Papa saya tuh setuju aja orangnya, yang penting anak-anaknya bahagia."
"Oh, okey. Nak Haris mau bertemu Fahmi?" tanya Cahyo.
"Eum, enggak sih, Pak. Tapi, mau ngajak Arin jalan-jalan aja. Soalnya di gramedia lagi ada pameran buku gitu, banyak novel yang promo. Arin kan hobi baca, pasti suka deh."
"Eum, gimana, ya. Aku kan naik motor, Rin. Masa naik bertiga." Haris menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya ia tak mau diganggu oleh Denis.
"Yaaah, yaudah, deh. Kalau gitu, aku di rumah aja," jawab Arin tersenyum ke arah Denis.
Panas hati Haris melihat senyuman Arin mengembang sambil melihat ke arah pria di sebelahnya itu. Ia lalu meletakkan bungkusan yang sejak tadi ia pegang, di atas meja.
"Apa itu, Ris?" tanya Cahyo.
"Eum, soto betawi kesukaan Bapak," jawab Haris.
"Wah, makasih, ya. Tau saja kamu, dari pagi kira belum sarapan. Soalnya habis dari rumah sakit, terus lanjut ke pemakaman. Makasih, ya, Ris."
"Sama-sama, Pak. Ngomong-ngomong Fahmi ke mana, ya?"
"Fahmi pergi dari kemarin, katanya ada acara kantor gitu. Mungkin besok sore baru pulang."
Haris menghela napas pelan, ia lupa nggak nanya dulu sama Fahmi lewat wa. Main datang saja ke rumahnya, karena sohibnya itu bilang kalau sang adik sedang liburan di rumah. Tapi, dia lupa nanya kakaknya di rumah apa enggak. Memang sih, Arin ada di rumah. Tapi, ada laki-laki juga yang menyukai gadis itu di rumahnya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, deh, Pak." Haris pun bangkit dari duduknya dan menyalami Cahyo.
"Wah, kok buru-buru?"
__ADS_1
"Iya, Pak. Nggak enak, takut ganggu."
"Saya, juga pamit, Pak." Denis ikut bangkit dari duduknya, dan ikut menyalami Cahyo.
Mereka berdua keluar dari rumah Arin. Haris berjalan ke arah motornya yang terparkir di halan rumah Cahyo. Sementara Denis masih menunggu sampai pria itu pergi.
"Nak Denis, mau pulang naik apa?" tanya Cahyo yang melihat Denis kebingungan. Karena tadi dia ke sini menumpang mobil yang disewa ayahnya Arin.
"Eum, naik ojek online, Pak. Permisi, Assalamualaikum," ucap Denis.
"Waalaikum salam." Arin dan ayahnya menjawab berbarengan.
Mereka berdua pun masuk kembali ke rumah. Sementara Denis tidak langsung pulang. Ia melangkah menuju rumah sang adik yang tak jauh dari situ, tepatnya di seberang rumah kediaman pak RT.
Pintu rumah sang adik terbuka, pertanda pemiliknya ada di rumah. Denis duduk di kursi yang berada di teras.
"May, Maya. Dji, Adji," panggilnya dari luar.
Maya yang saat itu sedang melipar baju di kamar pun segera keluar mendengar sang kakak memanggilnya. Ia berdiri di depan pintu menatap bingung pria yang tadi tak mau diajak pulang bareng, tapi sekarang malah berada di depan rumahnya.
"Mas Denis? Ngapai ke sini?" tanya Maya.
Denis menoleh, "Gue laper. Loe masak, kan?"
"Enggak."
"Lah, kalian nggak makan? Adji nggak ngasih loe uang belanja?"
"Bukan, kita tadi udah makan di rumah makan sederhana, sama Papa sama Sherli juga. Masih kenyang. Lagian, Mas Denis kenapa tadi nggak mau pulang bareng kita? Trus tiba-tiba nongol di sini? Minta makan pula. Mas nyasar?"
"Banyak nanya, loe. Gue laper nih. Mie instan nggak ada apa?"
"Ya ada sih? Tapi belum masak nasi." Maya nyengir.
"Ya udah mie nya dua, telornya juga dua. Kasih sawi sama cabe rawit. Gue rebahan dulu. Capek." Denis masuk ke ruang tamu dan langsung merebahkan diri di kursi kayu dengan tangan kanan diletakkan di atas keningnya.
Maya menghela napas pelan, menatap heran sang kakak. Ia masih tak tahu apa yang tengah terjadi dengan kakaknya tersebut. Tak biasanya dia mampir lalu minta makan. Gengsinya kan gede banget, mana mau singgah di rumah suaminya yang selalu dia ejek itu. Namun, kali ini Maya merasa kasihan melihat Denis yang sepertinya lelah dan lapar.
"Kenapa masih berdiri di situ, May. Loe pengen liat gue mati kelaparan?" celetuk Denis yang melihat sang adik masih mematung di tengah pintu.
"Eh, iya iya, sabar kenapa sih." Maya pun pergi ke dapur membuatkan pesanan sang kakak.
Denis memejamkan matanya perlahan. Ia masih bingung bagaimana caranya bicara dengan ayahnya nanti perihal keinginan orang tua Arin, yang memintanya datang untuk melamar. Kalau tidak cepat-cepat nanti ia pun takut, kalau Haris pria yang tadi bertemu dengannya itu bergerak lebih cepat untuk melamar gadis pujaannya itu.
💗💗💗
__ADS_1