Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
42


__ADS_3

πŸ’— Madji πŸ’—


Adji masuk ke ruangannya. Ia lalu duduk di kursi dan memeriksa berkas yang ada di meja. Beberapa ia baca dan pelajari. Sebuah laptop tersedia pula di mejanya. Ia pun mencoba membukanya.


Beruntung ia masih mengingat pelajaran akutansi dan komputer saat masih sekolah dulu. Jadi sedikit banyak, ia bisa mempelajari laporan keuangan yang masuk dan keluar.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambilnya dari atas meja.


"Ya, Assalamualaikum, Pa."


"Waalaikum salam,Β  Dji. Gimana kerjaan kamu? Bisa?"


"Saya lagi buka laporan keuangan di laptop, Pa. Mau dicek dulu."


"Okey, nanti pulang kerja mampir ke rumah, ya. Sama Maya sekalian. Kita makan malam bersama. Sekalian Papa mau minta kamu pilih kampus buat lanjutin kuliah."


"Eum, ta-tapi, Pa." Adji merasa tidak enak hati. Jika semua dibiayai oleh mertuanya.


"Sudah, jangan sungkan. Kamu kan juga anak Papa. Ya sudah, bilang Maya, ya. Assalamualaikum."


"Wah waalaikumsalam."


Panggilan pun terputus. Adji menghela napas pelan. Diliriknya Reza yang sedang sibuk pula di depan laptop. Entah sedang mengerjakan apa. Wajahnya terlihat serius. Namun, Adji tersenyum kecil saat melihat flashdisk yang ia temukan kemarin menancap di laptop Reza.


🌸🌸🌸


Waktu istirahat tiba. Adji dan Reza keluar ruangan beriringan.


"Makan di mana, Bro?" tanya Reza sok akrab.


Adji menggeleng, ia dan sang istri sudah membawa bekal makan siang sendiri. Mereka berjalan ke arah meja Maya dan Monik. Reza berhenti di belakang Adji.


"Ya ampun, kalian bawa bekal? May, bilangin suami kamu dong. Sekarang sudah jadi bos, masa makan bawa. Malu tau," ucap Reza sinis menatap Maya yang mengeluarkan tempat bekalnya.


"Bilang aja Bapak iri, nggak ada yang bawain bekal," ledek Monik.


Reza menjadi salah tingkah. Jelas dia iri, bawa bekal kan salah satu cara menghemat pengeluaran. Apalagi kalau yang bikin istri sendiri, pasti masaknya pakai cinta.


"Bapak mau saya bawain besok?" goda Monik melirik ke arah bosnya itu.


"Duh, makasih deh. Mending saja jajan di luar. Permisi." Reza pun akhirnya keluar kantor sendiri.


"Mon, kejar tuh. Kasihan dia makan sendiri." Kali ini Maya yang angkat suara menggoda sohibnya itu.


"Ogah, bos pelit dia. Sekarang gue juga udah bawa bekal kok. Hehehe. Lumayan lah ngirit. Gue juga udah mulai belajar masak. Yah, meskipun nggak seenak masakan Mbok Rima, si tukang warteg deket rumah gue. Yang penting suami gue seneng bininya bisa masak. Hehehe."


"Wah, Bagus kalo gitu. Kemajuan."


Adji hanya tersenyum kecil.


"Kita mau makan di mana?" tanya Adji.


"Di pentry aja gimana?"

__ADS_1


"Yuk!"


Saat mereka hendak berjalan ke arah pentry. Seorang wanita memanggil Adji dari kejauhan.


"Pak Adji!"


Sontak ketiganya menoleh. Wanita itu berjalan tergesa menghampiri mereka.


"Pak, Bapak mau makan siang di mana? Saya ikut dong!" tanyanya pada Adji.


"Saya bawa bekal, mau makan di pentry dengan istri saya." Adji meraih tangan istrinya.


Wanita bernama Bella itu melirik ke arah Maya dengan tatapan sinis. Ia baru tahu kalau ternyata Adji sudah beristri, dan ternyata istrinya itu satu kantor dengannya.


"Oh, gitu." Bella pun membalik badan lalu berjalan meninggalkan ketiganya.


"Pfff. Dasar gatel. Nggak tau apa kalau Pak Adji bininya galak!" ledek Monik.


Adji terkekeh, "Galak tapi ngegemesin," ujarnya seraya merangkul sang istri.


"Aduh, please deh kalian. Kalau mau mesra-mesraan jangan di kantor. Bikin iri. Kan jadi pengen bawa laki gue ke sini juga."


Kali ini Maya dan Adji terbahak mendengar celotehan Monik. Ketiganya lalu makan bersama di pentry.


🌸🌸🌸


οΏΌ


Bella


Tiba-tiba seorang wanita duduk tepat di hadapannya seraya menggebrak meja. Membuat Reza melotot.


"Kamu bisa nggak sih, yang sopan gitu?" ujar Reza kesal.


"Pak, kenapa sih Bapak nggak bilang kalau Pak Adji itu udah punya istri."


"Loh, emang kenapa?"


"Bapak kan nyuruh saya deketin dia, godain dia kan biar dia suka sama saya. Tapi kalau posisinya dia udah nikah. Saya ogah. Nanti saya di cap jadi pelakor." Bella menyibak rambut panjangnya ke belakang.


"Eh, Belek. Aku kan cuma suruh kamu godain. Nggak ngerebut dia dari istrinya. Biar mereka pisah. Trus perusahaan itu bangkrut. Nah bokap aku deh yang beli sahamnya."


Bella tetap merengut. Ia lalu mengambil sebuah air mineral gelas di hadapannya. Menyedotnya pelan. Sambil menunggu pesanannya datang.


Tak lama kemudian pesanan mereka tiba di meja. Mereka pun makan berdua. Sebenarnya Bella tak begitu menyukai Adji, yang ia suka justru Reza. Entah kenapa pria yang ia sukai malah memintanya menggoda laki-laki lain.


Bella makan sesekali melirik ke arah pria di hadapannya itu. Menurutnya, sosok Reza terlihat lebih gentle dan berwibawa dari pada Adji yang seperti anak abege.


Merasa di perhatikan, Reza menatap wanita di depannya. Dilihatnya Bella salah tingkah. Dan tersedak. Ia pun tersenyum kecil.


"Makanya, kalo makan matanya jangan jelalatan," celetuk Reza.


Bella menjadi tersipu, tanpa sadar ada cipratan kuah di bagian bibir kirinya. Tiba-tiba saja tangan Reza menyentuhnya, mengusap bibir itu pelan. Semakin ser-seran saja Bella dibuatnya.

__ADS_1


"Nih, lap lagi pake tisu. Aku ke dalam dulu. Biar aku yang bayar." Reza menyodorkan tempat tisu ke hadapan Bella. Lalu ia bangkit dari duduknya dan keluar dari warung soto tersebut.


Bella masih terpaku di tempatnya, ia memegang bibir kirinya yang baru saja tersentuh tangan lelaki yang ia suka. Tapi,Β  tugasnya masih ada. Membuat bosnya bertengkar, mungkin saja setelah itu Reza akan bahagia dan memujinya.


'Ah, kenapa juga aku harus godain Pak Adji. Kenapa bukan kamu aja yang kugoda si Pak Eza,' gumam Bella lirih.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"May, Papa kamu tadi telepon. Pulang kerja disuruh mampir ke rumah. Makan malam bersama, sama mau ngomongin tentang kuliah aku."


Adji dan Maya sudah selesai makan, ia sedang menunggu Monik yang tengah mencuci tempat makan mereka. Sebenarnya Maya tak mau dicuciin, tapi Monik yang maksa.


"Wah, Bagus tuh."


"Dulu kamu kuliah di mana?"


"Eum, di Rawamangun. Kamu mau di tempat aku?"


"Boleh deh, kamu kan pasti masih kenal sama dosennya."


"Iya, tapi kamu jangan genit ya sama mahasiswi sana."


"Kamu tenang aja, aku kan genitnya cuma sama kamu." Adji mengedipkan matanya sebelah.


"Adji, jangan nakal di sini. Malu, ada Monik."


Monik yang sedang mencuci piring di belakang mereka pun berdehem. Lalu setelah itu menghampiri mereka berdua.


"Eh, May. Lu masa sama suami manggilnya Dja Dji gitu sih. Yang sopan kek, pake Mas, atau Abang, atau Kakanda," ujar Monik yang kini duduk di antara mereka.


Maya terdiam, memikirkan kembali ucapan Monik barusan. Benar juga yang dibilang Monik. Meskipun usia Adji lebih muda darinya, tapi kan sekarang dia sudah menjadi suami, dan kepala rumah tangga. Ia pun harus bisa menghormati dengan panggilan yang lebih sopan lagi. Karena Adji bukanlah temannya.


"Kamu mau kupanggil apa? Mas? Abang?" tanya Maya.


"Abang aja. Nanti kalau Mas takut ketuker sama Mas Denis," ujar Adji seraya tersenyum kecil.


"Hahaha. Kamu bisa aja." Maya dan Monik tertawa.


"Yuk, Bang. Kita sholat!" Maya pun mengajak suaminya untuk sholat dhuhur


"Iya, Dek," jawab Adji seraya tersenyum kecil.


"Aduh, kalian ini. Bikin iri aja deh. Kapan-kapan kita double date yuk!" ajak Monik.


Mereka bertiga berjalan ke arah mushola. Maya dan Monik berjalan di depan, sementara Adji di belakangnya.


"Boleh tuh," ucap Maya seraya menoleh ke belakang. Sang suami hanya mengangguk pelan.


🌸🌸🌸


Vote komen jangan lupaaaa.


Makasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2