
Brugh!
Tubuh Adji terlempar ke lantai, ia dibawa ke rumah di mana ia pernah dibesarkan. Jantungnya berdebar hebat, membayangkan dirinya akan disakiti lagi seperti dulu.
Namun, bayangannya musnah, saat bau tak sedap menusuk hidungnya. Samar-samar ia melihat sekeliling, kamar sang ayah. Sean berdiri di ujung jendela kamar, menatap kosong ke luar jendela.
Perlahan Adji bangkit, ia mendapati sang ayah tergeletak tak berdaya di atas ranjang besar, dengan selang infus ditangan, selang oksigen di hidung dan mulutnya. Alat rekam jantung juga ada di atas nakas. Matanya terpejam.
Adji tergugu, ia masih bertanya-tanya, apa yang tengah terjadi pada sang ayah. Ia mendekat perlahan. Mengusap lembut tangan orang tua yang membesarkannya dulu. Kini, tangan kekar itu bagai tak bertulang, lemah.
"Papih kenapa, Kak?" tanya Adji bergetar.
"Semua gara-gara, Loe!"
"Maksudnya?"
"Kenapa waktu itu loe harus pindah agama? Kenapa loe juga harus kabur dari gudang?"
"Kak, Papih sakit begini karena gue selamat? Iya?"
"Iya!"
"Ck. Nggak mungkin, Papih nggak selemah itu, Kak!"
"Loe lihat dia? Bisa apa dia sekarang?" Sean menunjuk ke arah ayahnya.
"Papih pasti bisa sembuh."
"Nggak mungkin, semua dokter sudah angkat tangan, gue capek, harus ngurusin dia, beli obat, bayar perawat. Sementara, Loe. Enak-enakan di luar sana." Sean duduk di sofa.
Adji hanya diam. Iapun bingung harus berbuat apa? Membawa ayahnya ke rumah juga tidak mungkin, itu sama saja mencabut nyawanya dengan paksa.
"Kerja Loe apa?" tanya Sean.
"Pemulung," jawab Adji lirih.
"Ketemu Maya di mana?"
"Dia pernah mencoba bunuh diri di rel, aku nyelamatin dia."
"Owh, pahlawan kesiangan rupanya. Ada hubungan apa loe sama dia?"
"Kita mau menikah?"
"Apa?" Sean terbelalak, ia bertepuk tangan.
"Hebat! Loe memang hebat. Loe tahu kan, Maya itu anak orang kaya, bokapnya punya perusahaan besar, tapi dia nggak tahu, kalau Papih adalah rival bisnisnya."
"Maksudnya?"
"Perusahaan yang gue kelola adalah anak perusahaan punya bokapnya Maya. Sengaja gue masuk di situ, buat menguasai seluruh saham di sana. Diam-diam bakal gue pindahin ke perusahaan Papih yang koleps."
"Apa? Licik!"
"Ya, gue emang licik. Gue ngelakuin itu buat biaya bokap loe juga."
Adji terdiam lagi, seandainya ia bisa bantu, tapi bantu apa.
"Apa tujuan kakak ajak aku ke sini?"
"Biar loe tahu, keadaan bokap loe. Dan gue juga mau loe bantu gue, buat melancarkan urusan gue sama bokapnya Maya."
"Enggak!"
"Kenapa? Loe mau identitas loe kebongkar sama mereka? Dan loe nggak jadi nikahin si Maya?"
"Mungkin itu lebih baik."
"Dan loe juga akan kehilangan dia!" Sean menunjuk ke arah ayahnya.
"Kakak egois!"
"Eh, Riyu! Loe yang egois. Mau enaknya aja. Loe juga anak Papih. Loe harus bantu gue dong biayain dia."
"Anak? Ayah macam apa yang mau bakar anaknya sendiri?"
"Terserah, kalau loe emang lebih memilih hidup susah dan tinggal di rumah kumuh. Tapi loe jangan sampai bocorin niat gue sama pacar loe itu."
"Kakak tenang aja, aku nggak akan biarin kakak berbuat nekat."
Adji melangkah ke luar rumah.
"Riyu!" teriak Sean.
Namun, Adji sudah pergi ke luar rumah.
__ADS_1
Sean menarik napas kesal, mencengkeram sofa erat.
"Awas saja kau, Riyu! Tak akan kubiarkan kamu hidup tenang," gumamnya.
****
.
Adji mematut diri di depan cermin. Rambut barunya membuat wajah terlihat lebih segar. Gel rambut ia kenakan. Minyak wangi ia semprot ke seluruh tubuhnya. Baju yang pernah dibelikan Maya ia kenakan. Kemeja biru laut ia kenakan. Sayangnya ia lupa tak punya sepatu bagus. Terpaksa ia memakai sepatu sendal yang pernah ia temukan di sebuah tempat sampah, bentuknya masih bagus, meskipun agak kegedean dikit.
"Bismillah ...," ucapnya lirih.
Ia melangkah ke luar, tak lupa ponsel pemberian Maya ia bawa. Jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang akan dibicarakan nanti dengan orang tua Maya. Untuk saat ini ia memang tak punya apa-apa. Hanya janji manis yang bisa ia ucapkan.
Adji pergi dengan ojek online. Kemarin malam Maya mengajarinya cara menggunakan aplikasi itu agar cepat sampai ke rumahnya.
Perjalan dari rumahnya menuju rumah Maya sekitar empat puluh lima menit. Akhirnya ia tiba di depan rumah besar dengan pagar besi warna putih. Seorang security membukakan pintu gerbang untuknya.
"Mas Adji, Ya?" tanya si security itu.
"Iya, Pak."
"Silakan masuk, sudah ditunggu."
"Terima kasih, Pak."
Adji melangkah masuk, jantungnya kembali berdebar, terlebih saat ia mengingat ucapan Sean kemarin. Kalau sampai ayahnya Maya tahu siapa dirinya dan keluarganya. Bisa-bisa ia batal menikahi Maya.
"Assalamualaikum," sapa Adji ramah.
Pintu sudah terbuka lebar.
"Waalaikumsalam," suara yang dikenalnya menyambut kedatangannya.
"Masuk, Dji!" Maya menyambutnya.
Maya yang terlihat cantik menggunakan dress hitam selutut, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi membuat Adji semakin gugup, terlebih tubuh Maya memancarkan harum yang menyengat hidung membuat syaraf-syaraf otak dikepalanya berputar tak karuan.
Adji menjabat tangan Hardi juga Denis. Lalu ia duduk di sofa panjang yang berada di tengah, sementara Hardi duduk di sofa sebelahnya, dan Denis duduk di hadapannya, Adji dan Maya duduk bersisian.
"Apa kabar, Dji?" tanya Hardi.
"Baik, Om."
"Sehat?"
"Langsung aja, ya, Dji. Saya memanggilmu ke sini hanya ingin memastikan, apa kamu benar-benar serius dengan putri saya?"
"Iya, Om. Saya serius dengan putri Om."
"Kamu sanggup membiayai hidupnya?"
"Insya Allah, Om. Saya akan berusaha untuk membahagiakan putri Om."
"Apa kamu nggak berniat untuk bekerja di tempat lain, selain menjadi pemulung?"
"Sejauh ini belum kepikiran, Om."
"Kenapa? Kamu nggak mau merubah hidupmu jadi lebih baik?"
"Tak ada yang salah dengan pekerjaan saya, halal dan berkah, insya Allah." Adji hanya bisa menunduk.
"Iya, saya tahu. Pekerjaan kamu memang tidak salah, karena tidak mencuri atau merampok. Hanya saja, kalau bekerja di kantor kan lebih baik, masa depan kalian pasti terjamin. Menikah itu tidak seperti pacaran. Indah semuanya indah."
"Iya, saya paham, Om."
"Keluarga kamu?"
Deg. Pertanyaan yang hendak ia hindari, dan akhirnya terlontar juga dari mulut Hardi.
Adji hanya menggeleng.
"Kamu nggak punya saudara?"
Adji menggeleng lagi.
Hardi menarik napas pelan.
"Untungnya kamu laki-laki, tanpa orang tuamu, pernikahan masih bisa jalan."
Adji tersenyum kecil.
"Ya sudah, kita makan siang dulu, Ya. Nanti kita ngobrol lagi."
Hardi bangkit dan mengajak Adji makan siang di rumahnya. Adji bernapas lega, karena Hardi tak curiga dengan keberadaan keluarganya. Paling tidak itu sudah membuatnya sedikit aman.
__ADS_1
***
.
.
Selesai berbincang dengan keluarga Maya, Adji pamit pulang, hanya Denis yang masih terlihat tidak suka dengan Adji. Denis merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh calon adik iparnya itu. Sementara Sherli adik Maya hari itu sedang pergi ke rumah temannya karena ada tugas kelompok.
Kesepakatan telah dibuat, Hardi merestui hubungan keduanya, ia meminta Adji untuk segera menyerahkan surat-surat yang dibutuhkan untuk mengajukan surat permohonan nikah ke KUA.
Maya tak meminta mahar yang memberatkan Adji, ia tahu betul kemampuan calon suaminya itu, apapun yang akan Adji berikan sebagai mahar, ia akan menerimanya dengan senang hati.
Adji dan Maya berdiri di depan gerbang menunggu ojek online yang dipesannya.
"Mbak, makasih ya," ucap Adji menggenggam erat tangan wanita di sebelahnya itu.
Mata Maya berbinar, wajahnya tersipu malu dan kemerahan.
"Buat apa?" tanya Maya seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Semuanya, oh iya. Mbak cantik."
Lagi, wajah Maya merah padam.
"Loe tuh ya."
"Kenapa? Ganteng nggak?"
"Hu um."
"Apa?"
"Ganteng."
Adji tersenyum manis. Ia mencubit pipi Maya yang memerah itu.
"Mbak, besok kalau kerja atau pergi, jangan pake rok pendek ya."
"Kenapa?"
"Aurat, Mbak. Saya nggak rela."
"Ye, kok gitu?"
"Apalagi, kalau nanti udah nikah. Nggak boleh tuh, baju-baju keliatan dada, ketek, paha."
"Trus gue pake baju apa dong?"
"Ya yang tertutup."
"Gerah, Dji."
"Panas mana sama api neraka?"
"Adji ...." Maya memanggil manja.
"Iya, Sayang ...."
Wajah Maya kembali memerah, matanya membulat mendengar Adji memanggilnya dengan sebutan sayang. Tak lama kemudian sebuah motor berhenti di hadapan mereka. Ojek online yang dipesan telah tiba, perpisahan harus terjadi untuk sementara.
"Pulang dulu ya," ucap Adji lirih.
"Iya, hati-hati."
"Gitu doang?" Adji mengerlingkan sebelah matanya.
"Iya, Sayang," bisik Maya lirih.
Adji tersenyum kecil. Lalu naik ke atas motor dan memakai helm kemudian melambaikan tangan ke arah Maya. Motor pun melaju.
"Pacarnya ya, Mas?" tanya si tukang ojek.
"Istri," jawab Adji cuek.
"Owh, kok ditinggal?"
"Iya, ada bisnis."
"Bisnis apa, Mas? Ajak-ajak dong, saya juga suka tuh diajak bisnis teman saya, cuma ya gitu pada nggak jelas semua, mending saya ngojek deh, lumayan dapat uang, ya kan, Mas?" Si tukang ojek nyerocos.
"Iya," jawab Adji singkat. Dia nanya dijawab sendiri.
***
tbc
__ADS_1
Vote dan komentarnya jangan lupa 😘😘😘😘