Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
27


__ADS_3

Madji


🍒🍒🍒


Sore itu rintik hujan membasahi kota.  Dua insan nan sedang asyik bercengkrama di kamar tertawa riang. Menghabiskan waktu dengan bermain ular tangga.


"Yah,  sial terus aku ini." Adji berdecak kesal.


Dilemparnya pelan kocokan beserta dadu ke atas kasur lalu ia berbaring.


"Payah, gitu aja nyerah. Belum dihukum," timpal Maya.


Adji menoleh,  menatap sang istri yang sibuk membereskan mainan lalu memasukkannya Ke dalam plastik.  Kemudian ia melangkah ke meja kerjanya, menyimpan di dalam laci.


"Kamu mau ngehukum aku apa?" Tanya Adji.


"Aku lapar,  kamu bisa kan buat mie rebus?" Maya berjalan mendekati suaminya.


Adji bangkit dan duduk. "Eum bisa sih. Serius kamu mau aku buatin mie rebus?"


Maya mengangguk cepat.


"Okey, tapi ada syaratnya." Adji mengerling nakal.


"Kenapa jadi kamu yang ngasih syarat? Ya udah, apa?"


Adji lalu menunjuk pipi kanan kiri, hidung, kening juga bibirnya. Lalu ia memejamkan Mata.


Maya mendengkus pelan. Lalu mendekatkan wajah ke arah suaminya. Mengecup bagian wajah yang tadi ditunjuk oleh Adji.


"Udah," ucap Maya selesai melakukan apa yang diperintahkan suaminya.


"Nggak berasa," seloroh Adji dengan senyum tipis.


Maya hanya tersipu malu,  wajahnya memerah saat Adji kembali mendekatkan wajahnya ke arah sang istri. 


Cup.


Kecupan mendarat kembali di bibir tipisnya,  Adji melumatnya dengan perlahan.  Mereka berpagutan sesaat sampai deru napas terdengar berat. Maya mendorong dada suaminya pelan,  lalu Adji melepas perlahan ciumannya.


"Kenapa?" tanya Adji dengan raut wajah kecewa.


"Nggak apa-apa. Aku ingat ada sesuatu yang mau aku kasih tahu ke kamu, sebentar." Maya beringsut dari ranjangnya.


Ia berjalan ke arah meja kerja, meraih tas yang tergeletak di atas meja, mengambil sebuah amplop pemberian Sean yang masih ia simpan dengan baik. Hadiah pernikahannya. Voucer liburan bulan madu.


Adji mengernyit melihat amplop yang dibawa sang istri. "Apa itu?" tanyanya.


Maya memberikan amplop tersebut pada suaminya.  Adji membukanya perlahan. Membaca dengan seksama.


"Dari siapa?" tanya Adji menyelidik.


"Eum, Mas Denis," jawab Maya bohong.


"Jangan bohong!" Adji seakan tahu sesuatu tengah disembunyikan oleh istrinya.


Maya ragu untuk memberitahu yang sebenarnya.  Kalau voucer liburan itu diberikan Sean beberapa waktu lalu sebelum pernikahannya berlangsung. Karena ia takut Adji pasti akan menolaknya.


Adji menatap erat istrinya itu yang menunduk cemas. "Jawab jujur, ini dari siapa?"


"Tapi kamu jangan marah?"


"Kamu aja belum bilang yang sebenarnya sama aku. Gimana aku bisa marah."


"Nanti kalau aku jawab, kamu marah."


"Kalau kamu bohong, aku akan marah."

__ADS_1


"Sebenarnya, ini dari--- kakak kamu," ucap Maya lirih. Ia menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Takut melihat reaksi suaminya.


Adji mendengkus kesal. Lalu bangkit dari duduknya berjalan ke arah jendela. Menatap keluar memandang langit yang kian cerah karena hujan telah reda.


"Kamu mau liburan?" tanya Adji.


"Eum...."


"Nanti kalau aku ada rezeki, aku pasti ajak kamu jalan-jalan. Tapi bukan untuk saat ini. Aku ingin kamu kembalikan itu pada Kak Sean."


"Kenapa, Dji? Nggak enak. Sudah dikasih masa mau dikembalikan?"


"Dia itu nggak tulus,  May."


"Tau dari mana dia nggak tulus? Masa kamu nggak percaya sama kakak kamu sendiri. Belajar menghargai pemberian orang."


Adji menoleh ke arah istrinya. "Dan kamu belajar taat pada suami."


Ia lalu melangkah ke arah pintu hendak keluar kamar. Maya mengejar dan menarik tangan suaminya.


"Maaf,  kalau kata-kata aku salah," ujar Maya lirih.


"Aku seperti ini bukan karena tidak menghargai pemberiannya. Justru aku merasa nggak punya harga diri jika menerima hadiah itu. Keluarga kamu yang jadi taruhannya, May. Dia begitu menginginkan perusahaan papa kamu. Dengan kita menerima itu, apa bedanya dengan uang suap?"


"Maaf."


"Kalau kamu mau ke Bali, aku bisa ajak kamu hari ini juga. Tanpa menginap tapi."


"Kamu serius, Dji?" tanya Maya dengan mata berbinar.


Adji mengangguk mantap,  Maya lalu menggayut manja di lengan suaminya.


"Emang kamu udah beli tiket?" tanya Maya memastikan.


"Nggak perlu, nanti saja kalau mau jalan."


"Ngapain,  naik KRL aja."


"KRL?" Maya mengernyit menatap heran ke arah Adji yang terlihat menahan tawa.


"Bali mana sih? Denpasar Bali kan?"


"Emang aku bilang Denpasar Bali?"


"Trus Bali mana?" Maya semakin penasaran dengan Bali yang dimaksud suaminya itu.


"Balimester Jatinegara. Hihihi." Adji melangkah keluar kamar dengan cepat alias kabur sebelum jemari Maya bermain di pinggangnya.


"Adjiiii!" teriak Maya kesal.


🍒🍒🍒


Esoknya keluarga Maya tengah berkumpul di ruang keluarga.  Hardi mengajak anak-anaknya untuk kumpul karena ada yang hendak ia sampaikan.


"Dji, Papa titip Maya. Denis,  Papa titip adik kamu Sherli. Dua minggu ini Papa ada dinas ke Kuala Lumpur. Proyek baru Papa tembus di sana. Doakan ya biar berjalan lancar." Hardi membuka pembicaraan mengenai pekerjaan yang akan ia jalankan.


"Pa, saya izin akan bawa Maya pulang ke rumah saya," ucap Adji disertai lirikan tajam sang istri.


"Owh,  boleh.  Kamu serius nggak mau gabung di perusahaan papa?" tanya Hardi memastikan.


Adji hanya menggeleng. Ia tak ingin memanfaatkan apapun dari keluarga istrinya itu. Terlebih beberapa waktu lalu Denis mendatanginya untuk memintanya pergi dari rumah itu.


"Ya sudah,  Papa berangkat ya. Penerbangan jam sembilan pagi ini." Hardi bangkit dari duduknya.


"Nggak sarapan dulu,  Pah?" tanya Maya.


"Masih setengah enam. Nanti Papa sarapan di jalan aja. Takut telat."

__ADS_1


Hardi berpamitan pada anak-anaknya. Lalu Papa berangkat ke bandara di antar oleh sopir pribadi.


Denis melirik ke arah adik iparnya itu, lalu melangkah menuju tangga kembali ke kamarnya begitu juga dengan Sherli.


"Dji, kita tinggal di rumah kamu?" tanya Maya menatap intens ke arah sang suami.


"Kenapa? Kamu nggak mau?"


"Bukan,  memang kenapa kalau di sini?"


"Kerja aku jauh,  May."


"Kamu masih mau mulung?"


"Kamu kenapa?  Nggak suka sama pekerjaan aku? Malu?"


"Bu-bukan itu maksud aku, kenapa kamu nggak terima aja tawaran Papa. Jadi kamu nggak perlu capek-capek ngumpulin botol bekas lagi."


"May, kerja aku sekarang kan di bengkel, kalau bengkel libur aku ya balik mulung. Kan kamu tahu kerjaan aku dari dulu apa. Atau kamu nggak benar-benar Cinta sama aku. Karena berharap aku bakalan terima ajakan papa kamu gabung di perusahaannya."


"Enggak, aku nggak gitu kok. Aku---- aku Cinta kok sama kamu."


"Ya udah,  kamu harus nurut sama aku. Kita akan mulai hidup dari nol. Aku juga minta kamu resign dari kantor."


"Tapi,  Dji. Kamu mau ngebiarin kakak kamu leluasa di sana? Kalau dia tiba-tiba ambil alih semuanya gimana? Nggak ada yang ngawasin."


"Bilang aja kamu belum siap hidup susah kan sama aku." Adji bangkit dari duduknya melangkah ke arah tangga menuju kamar Maya.


Maya terdiam,  jujur ia memang belum siap untuk memulai semuanya dari nol. Terlebih dengan apa yang ia punya saat ini. Ia pun tak menyangka kalau Adji akan bersikap demikian.  Ia pikir Adji yang dulu sebelum menikah bersikap biasa saja akan sama setelah menikah,  tapi justru sebaliknya ia sudah merencanakan semuanya.


Bagaimana dengan teman-temannya nanti, rekan kerja, keluarga, apa kata mereka kalau sampai tahu hidupnya susah,  tinggal di rumah kecil dengan hidup hanya berpangku dari penghasilan suaminya sebagai montir dan pemulung. Hidup pas-pasan hanya untuk makan. Bagaimana dengan perawatan wajah dan tubuhnya nanti.  Kalau ia tidak kerja,  maka ia tak akan pernah bisa lagi memanjakan diri.


Maya mengacak rambutnya, menarik napas perlahan. Bersiap untuk hidupnya yang baru. Di mana apa yang akan ia jalani nanti semua atas seizin suaminya. Bukan bertindak atas dasar kemauannya sendiri seperti dulu.


🍒🍒🍒


Malam itu saat Maya sedang keluar bersama Sherli untuk membeli nasi goreng di ujung jalan.  Denia menghampiri adik iparnya yang sedang duduk sendiri di teras rumah menunggu istrinya pulang.


"Dji, gue mau ngomong," ucapnya sambil mengambil tempat untuk duduk di sebelah Adji.


"Iya,  Mas."


"Loe mau sampai kapan numpang di sini?" tanya Denis tiba-tiba, dan itu membuat hati Adji terasa bagai tertusuk paku payung ribuan butir, perih dan sakit.


Ia diam menahan amarah. Tapi berusaha tetap tenang. Baru dua hari saja tinggal di situ,  Denis sudah menampakkan jati dirinya. Sejak awal memang kakak iparnya itu tak pernah menyetujui sang adik menikah dengannya.


"Maksud Mas Denis apa?" tanya Adji basa-basi.


Denis mengembuskan napas kasar.


"Emang loe nggak pengen beli rumah gitu? Yah minimal ngontrak lah, masa numpang sama mertua." Denis menaikan kaki kanannya bertumpu pada kaki kiri.


"Saya ada rumah kok, Mas. Tenang saja. Besok saya akan ajak Maya tinggal di rumah saya. Meskipun kecil,  yang penting rumah sendiri," ujar Adji dengan percaya diri.


"Baguslah, gue cuma mau ingetin loe aja, jangan buat adik gue menderita, dari kecil dia nggak pernah susah. Apa yang dia mau selalu diturutin sama bokap."


"Tenang aja, Mas. Saya tahu kok apa yang harus saya lakukan untuk membahagiakan istri saya."


"Bagus deh. Sampai kapan pun gue nggak bakalan rela kalau sampai adik gue kenapa-kenapa gara-gara nikah sama loe!" Denis lalu bangkit dari duduknya menuju ke dalam.


Adji menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya sesaat. Mencoba menata kembali hatinya. Di usia yang masih dua puluh tahun itu, ia harus memikirkan hidup keluarga kecilnya. Memang, hidup adalah pilihan. Pilihannya untuk menjauhi segala perbuatan yang mungkin dilarang agama dengan cara menikah muda.


Ia akan bertekad untuk bekerja lebih giat dan keras lagi, demi membahagiakan istri dan anaknya kelak. Ia tak ingin dibilang sebagai pria yang gagal dan tidak bertanggung jawab.


Adji menatap tas hitam miliknya yang sudah berisi beberapa helai pakaian yang ia bawa dari rumah ke rumah mertuanya. Pakaian-pakaian itu akan ia bawa pulang lagi beserta istrinya.  Mengingat akan perkataan Denis,  membuat ia tak sabar untuk cepat-cepat keluar dari rumah itu.


🍒🍒🍒

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2