
πMadjiπ
Flashback
Madji masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara Bella tetap di luar.
Adji mengambil kaus berkerah dengan celana jeans. Memasukkan dompet ke saku celana bagian belakang, dan meninggalkan ponselnya di rumah.
Setelah siap, ia pun kembali berjalan menghampiri Bella. Saat hendak menutup pintu depan, keningnya mengkerut karena Bella sudah tak terlihat di terasnya lagi.
"Mbak, Mbak Bella!" panggil Adji seraya menyusuri halaman rumahnya mencari sosok wanita yang hendak ditolongnya itu.
Adji menarik napas pelan, ia tak menemukan Bella di mana pun. Mungkinkah Bella pergi untuk menemui Reza sendiri.
Adji tak mau ambil pusing memikirkan wanita itu. Ia pun berencana untuk menjemput sang istriΒ di rumah sang mertua. Karena menurutnya Bella tak butuh bantuan lagi.
ππ
Adji memilih pergi dengan menumpang angkot. Meskipun di rumahnya ada kendaraan, selama ini motor yang ia beli hanya untuk pergi jarak dekat saja.
Perjalanan siang itu begitu terik, saat turun dari angkot pertama, Adji pun pergi ke sebuah warung di pinggir jalan untuk membeli minuman dingin. Ia duduk di sana seraya memakan pisang goreng dan bakwan.
Perutnya terasa lapar, biasanya Maya yang selalu memasak setiap kali libur kerja. Tapi, kali ini istrinya itu ngambek. Adji berharap sang istri mau kembali pulang ke rumah.
Tiba-tiba saja kedua mata Adji terperangah melihat sepasang suami istri yang usianya sudah sepuh, sedang duduk di pinggir jalan. Dibatas trotoar keduanya asyik makan nasi bungkus bersama. Sementara sebuah gerobak berisi rongsokan yang sudah penuh, terparkir tak jauh dari mereka duduk.
Adji terenyuh, mengingat akan masa lalunya yang sama dengan kedua orang tua itu. Hanya saja dirinya masih beruntung, karena masih muda dam kuat. Sedangkan kedua orang tua itu, mereka sudah tua dan renta masih mampu mencari rezeki, mendorong dan menarik gerobak.
Adji bangkit dari duduknya, membayar makanan dan minuman yang tadi ia makan. Lalu menghampiri kedua orang tua tadi.
"Assalamualaikum, Kek, Nek," sapa Adji.
Sang kakek menoleh dan tersenyum, sang nenek cepat-cepat membuang bungkus nasi tadi dan menyiram tangannya dengan air mineral.
Adji mengulurkan tangan pada kedua orang tua itu, lalu menciumnya.
"Tangan Kakek kotor, Nak," ujar sang kakek seraya mengusap-usap tangannya yang bekas makan tadi ke baju yang ia kenakan.
"Tangan Nenek juga kotor." Kali ini si nenek yang mengusap tangannya yang basah pada bajunya.
"Nggak apa-apa, Kek, Nek." Adji duduk di sebelah sang kakek.
"Kakek sama Nenek pulang ke mana?" tanya Adji.
"Di belakang sekolahan itu." Si kakek menunjuk ke sekolahan di seberang jalan.
Kedua mata Adji mengarah ke tempat yang kakek tunjuk, ia tersenyum kecil. Kasihan kalau si kakek harus menyebrang jalan berdua dengan membawa gerobak yang isinya penuh, karena pasti berat.
"Kakek sama Nenek masih mau keliling lagi?"
"Enggak, kita mau pulang. Sebentar lagi ashar," jawab si kakek.
Adji terdiam, ia bangga dengan kedua orang tua di hadapannya. Karena mereka tak melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjuk ke angka dua siang lebih tiga puluh lima menit.
"Saya antar ya, Kek."
"Nggak usah, Nak. Merepotkan. Kami sudah biasa kok." Kali ini si nenek tampak malu-malu. Sedari tadi wanita tua itu hanya melirik sekilas saja ke arah Adji saat suaminya berbincang dengannya.
"Saya juga biasa, Nek. Dulu saya juga seperti Kakek sama Nenek, mulung bawa gerobak." Adji tersenyum.
Si kakek mengernyit tak percaya, ia hanya mengangguk saja. Lalu keduanya bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri gerobaknya.
Sang kakek hendak meraih besi pegangan gerobak, Adji mengambil alih sehingga sang kakek tak jadi menariknya.
"Biar saya bantu, Kek. Kakek tunjukin aja jalannya," ucap Adji sambil melangkah perlahan dengan tangan menarik gerobak milik sang kakek.
"Nak, nanti kamu capek, biar kami saja yang bawa," ujar si kakek seraya mengikuti langkah Adji dari samping. Tangannya ikut membantu mendorong agar Adji tak keberatan.
"Nggak apa-apa, kok, Kek." Adji berusaha tersenyum.
Peluh membanjiri wajah Adji, ia melangkah pelan menyebrangi jalan raya. Dilihatnya kedua orang tua itu saling bergandengan tangan saat hendak menyeberang. Ia teringat akan Kakek Karso yang pernah menolongnya waktu itu. Mungkin jika sang kakek masih hidup, usianya sama dengan kakek itu.
Sang nenek lebih dulu melangkah di depan, tak lupa setiap melewati tempat sampah. Si nenek menghampiri dan mencari barang yang bisa dijual lagi, seperti botol bekas atau kardus.
Pakaian si nenek pun terlihat amat lusuh, bawahan kain jarit yang warnanya sudah pudar, dengan kaos oblong yang kebesaran berwarna abu-abu. Adji merasa pakaian itu pun mungkin bekas orang. Sementara sang kakek dengan celana bahan warna hitam yang sudah bule warnanya, dengan kaos putih yang bagian belakangnya terdapat banyak lubang.
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah yang amat sangat sederhana. Rumah itu terlihat bersih dan terawat, hanya saja halamannya memang penuh dengan barang rongsok yang belum di sortir.
__ADS_1
Bagian kanan rumah si kakek terdapat tumpukan botol bekas menyerupai gunung. Sementara bagian kirinya ada tumpukan kardus yang sudah diikat oleh tali. Tak jauh dari situ terlihat beberapa barang elektronik yang mungkin sudah rusak, seperti kipas angin, dan televisi tabung zaman dulu. Ada juga sepeda anak-anak yang tak bisa dipakai lagi karena jok dan besi rodanya patah.
Adji memarkir gerobak si kakek di depan pagar rumah. Kakek tadi menyuruh Adji masuk ke rumahnya. Sementara si nenek sudah tak terlihat, kemungkinan sudah lebih dulu masuk.
Adji melangkah masuk, dilihatnya rumah semi permanen yang bagian atapnya seperti baru diperbaiki. Namun, bagian dalam cat dindingnya sudah mengelupas. Padahal bagian luar terlihat seperti baru di cat.
Adji duduk beralaskan tikar, rumah itu tak ada kursi atau pun meja. Hanya satu ruangan di sana, sebuah pintu terlihat langsung ke arah dapur dan kamar mandi. Tumpukan baju berada di dalam keranjang. Mereka tak punya lemari untuk menaruh pakaian mereka. Kasur pun tak terlihat di ruangan itu.
Tak lama kemudian, si nenek keluar dengan membawa nampan berisi dua teh manis hangat. Lalu meletakannya di hadapan Adji dan si kakek.
"Silakan, Nak."
"Ya Allah, Nek. Repot-repot."
"Nggak apa-apa, cuma air. Nenek tinggal mandi dulu, ya. Bau." Si nenek tersenyum kecil.
"Oh, iya, Nek. Silakan."
Si nenek melangkah ke arah belakang. Sementara Adji dan si kakek masih duduk di depan.
"Kakek tinggal berdua saja?" tanya Adji penasaran.
"Sama cucu."
"Cucunya mana, Kek?"
"Sekolah, udah kelas tiga SMP," ujarnya seraya menyesap teh buatan sang istri.
"Oh, laki perempuan, Kek?"
"Perempuan, kasihan ibu bapaknya udah nggak ada."
"Meninggal?"
"Iya, rumahnya kebakaran waktu itu. Untung cucu bisa selamat. Cuma ya gini keadaan kita sekarang. Ini rumah dulu bekas rumah anak Kakek, bapaknya Mita yang kebakaran. Sama warga dibantuin buat bangun lagi. Soalnya mereka kasihan sama kakek sama nenek juga Mita."
"Masya Allah, warga di sini baik-baik, ya, Kek?"
"Alhamdulillah, Nak. Mereka juga suka ngasih makanan sama sembako. Cuma kan kita nggak bisa bergantung terus sama orang. Makanya Kakek sama Nenek nyari rongsok. Tetangga juga yang udah tahu suka ngasih barang-barang bekas ke kita buat dijual ke pengepul."
"Masya Allah. Kok hari sabtu masuk, Kek? Emang sekolahnya di mana cucunya?"
"Alhamdulillah, ya, Kek."
"Nama kamu siapa?"
"Saya Adji, Kek."
"Masih sekolah?"
"Alhamdulillah kuliah sambil kerja, Kek."
"Sudah nikah?"
"Alhamdulillah sudah, Kek."
"Alhamdulillah, sayang banget pasti sama istrinya. Kelihatan tulus wajah kamu, Nak Adji. Saya itu sama istri alhamdulillah nggak pernah namanya berantem hebat. Palingan salah paham aja, tapi saya selalu ngalah. Ya, namanya istri itu kan kadang pengen selalu dimanja, disayang, diperhatiin. Kadang dicuekin dikit aja suka ngambek." Si kakek terkekeh, gigi depannya yang ompong terlihat.
Adji merasa tertampar, benar apa yang diucapkan sang kakek. Hanya saja tak ia terapkan tadi. Ia justru lebih memilih wanita lin yang diberi perhatian, sementara istrinya malah diminta untuk memberi pengertian. Pantas dan wajar kalau Maya marah.
"Iya, Kek."
"Sudah punya anak?"
Adji menggeleng lemah. "Kami menikah sudah setahun lebih, tapi Allah belum beri kami kepercayaan itu, Kek."
"Oh, nggak apa-apa, sabar aja. Nikmatin masa berdua. Dulu Kakek sama Nenek, enam tahun nikah belum dikasih juga. Tahun ketujuh baru ada bapaknya Mita. Setelah itu, Nenek terkena kista, dan rahimnya harus diangkat. Jadi kita nggak bisa punya anak lagi."
"Masya Allah, yang sabar, ya, Kek."
"Iya, Nak. Makasih. Kamu mau ke mana? Kok sendirian, istri kamu mana?"
"Astaghfirullah, Kek. Saya pamit dulu, mau jemput istri saya." Adji pun gugup, ia lupa dengan tujuan awalnya. Dan malah keasyikan ngobrol.
"Masya Allah, salam buat istrinya, Nak. Dia pasti bangga punya suami kaya kamu."
"Makasih, Kek. Saya bukan suami yang baik, Kek. Makasih Kakek sudah mengingatkan saya, ini ada sedikit rezeki buat Kakek sama Nenek."
__ADS_1
Adji meraih beberapa lembar uang dari dalam dompetnya, ia berikan pada sang Kakek.
"Masya Allah, nggak usah, Nak. Kakek masih punya cukup uang. Lebih baik kamu serahkan ke panti asuhan atau panti jompo. Tempat itu lebih membutuhkan."
"Itu sudah ada bagiannya, Kek. Ini rezeki Kakek. Jangan ditolak, ya, Kek."
Adji meraih tangan sang kakek dan memberikan uang tersebut lalu mencium tangan itu.
"Makasih banyak, Nak." Sang Kakek tanpa terasa menitikkan air mata, ia teringat kembali akan almarhum putranya.
Tak lama kemudian, nenek terlihat berjalan tergopoh saat mendengar Adji berpamitan. Wanita tua itu sudah berganti pakaian, dengan sebuah daster batik melekat di tubuhnya yang kurus.
"Nggak makan dulu, Nak. Nenek mau masak."
"Makasih, Nek. Saya harus buru-buru jemput istri saya. Tadi dia main ke rumah orang tuanya. Dan minta jemput." Adji berbohong, ia tak mungkin menceritakan keadaan rumah tangganya pada orang lain.
"Hati-hati, Nak. Sering-sering main ke sini, ya." Si kakek mengusap tangan Adji lembut.
Akhirnya Adji pun berpamitan, dan kedua orang tua itu mengantar Adji sampai depan jalan.
Adji tak langsung naik ke angkot, ia berjalan dahulu ke masjid yang berada tak jauh dari sekolahan untuk menunaikan sholat ashar. Setelah itu barulah ia melanjutkan perjalananan.
ππ
Adji tiba di depan komplek perumahan sang istri. Angkot yang ia tumpangi tak bisa masuk ke sana, ia pun turun di depan gapura.
Setelah membayar ongkos, ia pun melangkah hendak ke blok B, rumah Maya.
Bugh!
Tiba-tiba seorang menabraknya, dan menyodorkannya sebuah tas wanita. Lalu orang itu kabur bersama temannya dengan motor.
Dari kejauhan warga berbondong-bondong berlari menuju ke arahnya, tangan mereka terangkat ke udara dengan wajah merah.
"Woy, jambret!Β Jambret!" teriaknya.
Adji masih terlaku di tempatnya berdiri.
"Jambret?" gumamnya lirih.
"Ini dia woy, jambretnya!" teriak seorang pria yang langsung menarik kerah baju Adji.
"Saya bukan jambret, Pak," ucap Adji membela diri.
"Halah, mana ada maling mau ngaku."
"Itu tasnya loe pegang."
"Udah hajar aja biar kapok."
Adji tak berkutik, kedua tangannya di pegangi, perut dan wajahnya habis dipukuli. Tas merah yang ia pegang terjatuh di bawah kakinya. Kaki kanan dan kirinya pun tak luput dari amuk massa.
Kedua matanya tak dapat lagi melihat, lebam di wajahnya membuat darah mengalir dari bibir dan pelipisnya. Kakinya pun lunglai, ia tergeletak tak berdaya.
Dari kejauhan seorang wanita berlari ke arah kerumunan. Wanita itu menerobos massa yang masih memukuli Adji tanpa ampun.
"Stop! Stop! Stop!" teriak seorang wanita berambut panjang.
Warga pun menghentikan aksinya, lalu menatap sang wanita yang berlari mendekati korban.
Wanita itu berlutut seraya mengusap wajah Adji yang baru saja menolongnya itu. Wajah pria itu membiru.
"Kalian salah tangkap. Anak ini bukan penjambretnya. Jambretnya kabur, kalau anak ini sampai kenapa-napa, kalian harus tanggung jawab," ucap sang wanita geram.
"Ma-maafkan kami, Mbak."
"Ye, ngomong dong dari tadi."
"Ya mana kita tahu, orang tasnya dia yang pegang."
Warga yang mengeroyok Adji itu pun membubarkan diri.
"Dek, kamu nggak apa-apa?" wanita itu menepuk-nepuk pipi Adji.
Kemudian wanita tadi meminta warga yang masih berada di lokasi untuk membatu menggotong tubuh Adji ke dalam mobilnya. Adji yang tak sadarkan diri itu pun di bawa ke rumah sakit.
πππ
__ADS_1
Vote dan komennya ya gaesss
Tengkyu πππ