
💗💗💗
"Aku nggak enak sama Pak Hardi, Mas," ujar Bella pada pria di sebelahnya itu.
"Aku juga, tapi mau gimana lagi. Ini semua salahku. Seandainya aja aku kemarin nggak lari dari kamu."
Reza dan Bella terdiam dalam pikirannya masing-masing. Mereka berdua mengakui kesalahannya. Tapi, mereka juga belum ingin pulang sampai mendapat maaf dari Adji.
Reza melihat Denis yang keluar dari ruangan ICU dengan tergesa lalu kembali bersama seorang dokter. Reza dan Bella pun bangkit dari duduk dan mengekor Denis yang hendak masuk, mereka berdua ikut melihat ke dalam karena penasaran dengan kondisi Adji.
Dokter memeriksa keadaan Adji dengan seksama. Mereka yang berada di dalam ruangan harap-harap cemas menunggu hasil yang akan disampaikan oleh sang dokter.
"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?" tanya Maya cemas.
"Suami Ibu sudah siuman, hanya saja ia masih lemah dan butuh banyak istirahat. Mungkin bius di kepalanya sudah mulai hilang. Jadi, Pak Adji merasakan sakit yang luar biasa. Tapi, sakit itu lama kelamaan akan berkurang. Saya harap untuk tidak terlalu lama mengajak Pak Adji bicara. Setelah ini saya akan pindahkan pasien ke ruang rawat inap ya, Bu."
"Baik, Dok. Terima kasih penjelasannya. Oh iya, tapi suami saya nggak ada kendala, atau luka parah lainnya, kan, Dok? Saya takut akibat benturan di kepalanya, nanti suami saya hilang ingatan."
"Ibu tenang saja, masa kritisnya sudah berlalu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, hanya menunggu pemulihan lalu pasien bisa kembali pulang ke rumah."
Maya dan semua yang berada di situ bernapas lega. Apa yang dikhawatirkannya itu tak akan terjadi. Sang suami sudah melewati masa kritisnya. Ia kesal dengan dirinya sendiri, karena saat suaminya kritis, ia tak berada di sampingnya. Ya, keegosian telah menghilangkan kepercayaan terhadap suami sendiri.
"Alhamdulillah ...."
Dokter pun keluar, Maya menyentuh tangan sang suami dan mengecupnya. Adji tersenyum kecil membalas sentuhan tangan sang istri. Lalu tatapannya berubah saat melihat Bella dan Reza berada di ruangan itu, tepatnya yang berdiri di belakang Denis.
Ia merasa bahagia, kalai akhirnya Bella berhasil menemui Reza sendiri. Itu tandanya rumah tangganya dengan sang istri akan aman, dan bisa kembali seperti dulu lagi. Ia berharap Maya mau mengerti dan menerima permohonan maafnya nanti.
"Bella, Mas Reza," ucap Adji lirih.
Seketika Maya dan keluarganya menoleh, menatap kedua orang itu dengan pandangan penuh tanya. Sambil menebak-nebak apa yang tengah terjadi di antara mereka.
"Dji, maafin gue," ucap Reza seraya mendekat ke samping brankar Adji tepat di seberang Maya yang tengah menatapnya.
Bella mengikuti langkah kekasihnya itu. Ia hanya bisa menunduk sesekali melirik ke arah Maya yang masih menatapnya dengan kesal.
"Saya nggak apa-apa, Mas. Yang penting Mbak Bella baik-baik sama Mas Reza," ucap Adji lirih dengan napas yang sedikit berat karena masih menahan sakit.
Maya memalingkan wajah dengan kesal. Di saat sakit seperti ini, sang suami masih memikirkan wanita lain. Bahkan ia tak peduli dengan keadaannya sendiri. Semakin sesak saja dadanya, yang ia inginkan saat ini hanyalah, kedua orang itu pergi dari hadapannya.
"Maafin saya, Pak," ucap Bella lirih.
"Sebenarnya ada apa sih?" celetuk Denis yang penasaran dengan gelagat adiknya sejak kemarin. Ia merasa itu bukan hanya masalah wanita. Tapi lebih rumit dari pada yang ia bayangkan.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Ini cuma salah paham aja," jawab Adji pelan.
Meski tak yakin akan jawaban Adji, Denis berusaha mempercayainya. Karena ia pun tak ingin membuat keributan di situ.
"Ya sudah, Dji. Kita pamit dulu. Semoga loe cepat sembuh, ya."
Akhirnya Reza dan Bella pamit pulang. Maya bisa bernapas lega. Hardi pun mencium gelagat mencurigakan dari gerakan tubuh putrinya itu. Ia merasa Maya tak menyukai keberadaan Bella di dekat sang suami. Namun, ia menepis semua pikiran buruk pada menantunya itu. Kalau pun mereka ada masalah, ia tak ingin mencari tahu. Kecuali kalau sang anak membutuhkan nasihatnya.
💗💗
Di ruang kerja sebuah rumah besar pinggir kota. Rumah mewah berlantai tiga dengan tipe modern menjulang di antara rumah di sekitarnya. Di dalam rumah besar berdinding marmer itu terlihat seseorang tengah menerima telepon dengan wajah cemas. Tak lama kemudian panggilan itu berakhir.
Brak!
Seorang pria paruh baya menggebrak meja dengan kesal. Ia meremas kepalanya, wajahnya memerah menahan marah, giginya bergemelutuk geram. Tangan kanan masih meremas ponsel yang baru saja ia gunakan untuk menerima panggilan dari karyawannya.
Reza yang melihat hal tersebut menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang tengah terjadi, entah apa hingga membuat ayahnya semarah itu. Bahkan saat dirinya mengakui pernah khilaf bersama Bella saja, ayahnya itu menanggapi biasa saja. Sang ayah tahu pergaulan anak muda zaman sekarang itu seperti apa, yang terpenting anaknya akan bertanggung jawab.
Pria paruh baya itu menatap putranya yang berdiri di tengah pintu ruang kerja miliknya. Lalu memalingkan wajah dan terduduk di kursi kebesarannya. Napasnya masih tersengal, jantungnya berkedut dan terasa nyeri. Pria itu memegangi dadanya, dan membuat Reza berjalan mendekat.
"Pa, Papa nggak apa-apa?" tanya Reza cemas.
"Gudang, Za. Gudang kita kebakaran. Semuanya habis, Za. Kita nggak punya apa-apa lagi," ucap Galih, ayah Reza.
Galih lemas, ia menyandarkan kepala di tubuh putranya. Mencari kekuatan, sebenarnya ia masih tak percaya dengan kejadian tersebut. Gudang itu siang tadi baru saja ia tinggalkan dan masih dalam keadaan baik-baik saja. Tidak mungkin dalam waktu cepat api menghanguskan isi di dalamnya, semua alat dan bahan produksi habis dilalap api.
Denyut jantung Galih mulai terasa berat, dadanya seperti dicabik-cabik. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Tiba-tiba tubuh itu ambruk di pelukan putranya.
"Pa, bangun, Pa. Pa!" Reza menepuk-nepuk pipi sang papa.
Perasaannya kalut, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan gudang dan kondisi sang papa saat ini. Reza menelpon ambulance untuk membawa papanya ke rumah sakit.
__ADS_1
💗💗💗
Tiga hari telah berlalu, kondisi Adji kian membaik. Dengan Setia sang istri selalu ada dan menjaganya. Namun, selama itu mereka tak pernah membahas masalah beberapa hari lalu yang membuat Adji terbaring di rumah sakit ini.
Maya menyadari tubuh suaminya masih sangat lemah. Akan terlalu beresiko kalau sampai ia membahas masalah itu lagi. Sedangkan Adji pun sama sekali tak menanyakannya.
Bagi Maya kondisi sang suami yang mulai membaik sudah cukup membuatnya bahagia. Tanpa perlu melihat kembali ke belakang.
Kini Maya tengah menyuapi suaminya sarapan. Sejak tadi Adji tak berkedip memandangi wajah istrinya yang semakin hari semakin terlihat cantik. Ia sadar kemarin sudah membuat istrinya tersakiti, dan ia pun belum meminta maaf untuk itu.
Perlahan Adji meraih tangan istrinya yang sedang memegang tempat makan. Maya tersentak lalu menatap erat suaminya yang tersenyum ke arahnya.
"Kenapa? Sudah makannya?" tanya Maya.
Adji hanya menggeleng. "Maafin aku, ya, Sayang. Kemarin aku udah bikin kamu sedih," ucap Adji lirih.
Maya hanya tersenyum kecil. "Nggak usah dibahas lagi, ya, Bang. Aku udah maafin kamu. Malah harusnya aku yang minta maaf udah ninggalin kamu."
"Aku yang salah, seharusnya aku ngejar kamu. Bukan bantu Bella."
"Tapi aku yang udah bikin kamu celaka kaya gini, Bang."
Mereka berdua saling bersitatap dan terdiam sesaat. Perasaan Maya menghangat saat tangan kekar suaminya menggenggam dan menarik tangannya ke depan hidung, lalu mengecupnya.
"Aku sayang sama kamu, selamanya," ucap Adji lirih.
Wajah Maya seketika memerah, entah berapa lama ia tak merasakan kehangatan seperti itu lagi. Semenjak suaminya itu sibuk kuliah dan bekerja. Mereka terkadang lupa untuk sekedar bercengkrama seperti saat ini.
"Aku juga," balas Maya lirih.
"Juga apa?"
"Sayang."
"Sayang apa?"
"Sayang kamu-lah." Maya mencubit lengan suaminya gemas.
"Oh, kirain sayang semuanya."
"Apaan sih, kamu."
"Assalamualaikum," sapa seseorang dari arah pintu.
Maya dan Adji menoleh melihat ke arah pintu. Beberapa orang masuk menghampiri dan menyalami mereka. Maya tak mengenali siapa mereka berlima. Ada tiga laki-laki dan dua perempuan, yang satu rambutnya panjang, dan satunya lagi pakai jilbab.
Gaya kelima pemuda pemudi ini seperti anak kuliahan. Masing-masing membawa tas dan pakaiannya pun sama seperti saat Maya kuliah dulu, bebas asal sopan.
"Gimana keadaan loe, Dji?" tanya seroang pria paling ganteng, tinggi dan berkulit putih yang berdiri di seberang Maya tepat samping kiri brankar Adji.
"Alhamdulillah, sudah membaik, makasih, ya. Kalian repot-repot ke sini," ucap Adji.
"Itu si Syifa dari kemarin ngajakin melulu, khawatir dia sama loe. Loe tau sendiri, kan, kalo sehari loe nggak masuk aja, dia cerewet banget nyuruh gue nanyain loe ke mana," ujar seorang pria di sebelah pria ganteng tadi, pria bertubuh tegap berkepala plontos itu menyenggol gadis berjilbab di sebelahnya.
"Oh iya, Mas Adji. Ini sekedarnya dari kami." Tangan gadis berjilbab itu memegang bungkusan plastik putih memberikannya pada Adji.
"Wah, bener-bener ngerepotin nih. Makasih, ya."
"Sama-sama, Dji."
"Oh iya, itu siapa, Dji? Kakak loe? Kenalin dong ke kita." Pria berkacamata yang berdiri di depan brankar Adji melirik Maya sedari tadi.
Adji tersentak, ia meraih tangan istrinya yang tadi sempat ia lepaskan saat melihat kedatangan teman kuliahnya itu.
"Ini istri saya, Maya namanya," jelas Adji.
Sontak kelima teman sekelas Adji menganga, mereka tak percaya atas apa yang Adji ucapkan barusan. Terlebih dengan gadis berjilbab bernama Syifa itu. Wajahnya seketika memucat mengetahui kenyataan kalau pria yang selama ini ia kagumi ternyata sudah memiliki seorang istri.
"Ah serius dia istri loe, kenalin saya Raka," ujar si pria ganteng itu seraya mengulurkan tangannya pada Maya.
"Saya Tania." Gadis berambut panjang tersenyum seraya mengulurkan tangannya juga menjabat tangan Maya.
"Saya Baim." Pria pelontos itu ikut bersalaman.
"Saya Rio." Pria berkacamata itu lama menggenggam tangan Maya. Adji yang melihat langsung memisahkan tangan keduanya.
__ADS_1
"Jangan lama-lama dong salamannya," ucap Adji kesal dan diiringi tawa dari yang lainnya.
Kini gadis berjilbab itu tampak ragu hendak menyalamai Maya. Namun, akhirnya tangan itu pun menjulur ke hadapan Maya.
"Saya Syifa," ucapnya lirih.
Maya hanya tersenyum berusaha menahan hatinya yang sempat memanas tadi. Pikirannya bertanya-tanya, mengapa sang suami merahasiakan statusnya yang sudah beristri? Untuk apa?
"Nggak nyangka loe udah nikah, pantes aja kalo kuliah loe bawaannya pengen buru-buru pulang. Ya iyalah di rumah udah ada bidadari yang nungguin," goda Raka.
"Duh ada yang patah hati nih," ledek Baim melirik ke arah Syifa yang sejak tadi hanya menunduk menghindari tatapan Maya padanya.
"Kenapa loe nggak pernah cerita sih kalo udah merried, Dji?" tanya Rio.
"Takut ntar istrinya loe godain, Rio," celetuk Tania.
Semuanya tertawa mendengar ucapan Tania barusan. Siapa yang tak kenal Rio, cowok kutubuku yang biasanya pendiam. Tapi tidak untuk teman mereka bernama Rio itu.
"Kalian, kan, nggak pernah tanya tentang status dan keluarga saya. Jadi ya buat apa saya ceritakan keluarga saya. Keluarga itu dijaga, disayang, bukan diceritain ke orang lain," ucap Adji seraya menggenggam tangan sang istri. Membuat panas gadis berjilbab yang melihat keromantisan mereka.
"Aisssh bikin ngiri loe, Dji. Awas, Mbak. Jangan-jangan dia pura-pura sakit lagi, cuma pengen dimanja doang sama Mbak Maya."
"Emang dia manja," jawab Maya pelan, dengan wajah tersipu malu.
"Ya masa manja sama istri sendiri nggak boleh." Adji meraih bahu istrinya, merangkulnya erat dan mengecup kening sang istri di hadapan teman-temannya.
"Aduh, kalian so sweet banget sih. Sumpah bin ngiri loe, Dji," celetuk Raka seraya menyenggol gadis di sebelahnya.
"Apaan sih, Ka. Jangan ganjen deh. Rumah sakit, nih," sahut Tania yang tidak suka digoda oleh pria di sebelahnya itu.
"Maaf, Mas. Saya ke toilet dulu," ucap Syifa lirih. Ia tak kuat jika terus-menerus berada di situ. Melihat Adji yang bermesraan bersama istrinya.
"Eh, tunggu. Ya udah sekalian kita mau pamit juga. Udah jam sembilan, ada kelas kan ntar jam sepuluh." Baim menarik tangan Syifa agar tetap di tempatnya. Ia tahu perasaan yang tengah dirasakan gadis itu. Karena selama ini gadis itu selalu curhat dengannya tentang perasaaanya pada Adji. Akhirnya mereka berlima berpamitan.
Setelah mereka pulang, Maya tampak cemberut sambil merapikan bekas makan suaminya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adji yang sadar akan tingkah istrinya itu.
"Nggak apa-apa."
"Sayang, cerita dong."
Maya tak menanggapi ucapan suaminya. "Udah kamu istirahat lagi. Aku mau ke kantin dulu, cari kopi biar nggak ngantuk."
Sebelum istrinya pergi, Adji sudah lebih dulu menarik tangannya. Hingga tubuh Maya jatuh di pangkuannya.
"Aku tahu kamu cemburu."
"Enggak." Maya berusaha mengelak dengan tidak menatap wajah istrinya.
Adji menangkupkan kedua tangannya ke wajah sang istri. Ujung mata Maya terlihat berair, ia tak ingin istrinya kembali bersedih. Adji mendekatkan wajahnya ke hadapan istrinya itu. Perlahan sebuah kecupan mendarat di bibir mungil sang istri.
"Bang, rumah sakit nih. Ntar kalau ada suster atau dokter yang masuk gimana?" tanya Maya tersipu.
"Masih marah sama aku?" tanya Adji.
"Aku nggak emmh …."
Belum sempat Maya melanjutkan ucapannya, mulutnya sudah dibungkam oleh mulut sang suami. Adji ******* bibir sang istri yang terasa manis itu. Lama ia tak merasakan kehangatan seperti ini, semenjak beberapa hari. Dan baginya itu sangan nikmat sekali terlebih Maya membalas ciumannya.
"Aduuuh," pekik Adji seraya memegang kepalanya tiba-tiba.
Maya menarik napas pelan, "Makanya, kalau belum sembuh bener tuh nafsunya ditahan dulu. Nakal, sih." Maya membaringkan tubuh suaminya kembali.
"Kamu napsuin," goda Adji seraya mengerlingkan sebelah mata menahan sakit yang tiba-tiba saja muncul mengganggu aktivitasnya.
Maya tersipu, ia pun kembali menyelimuti tubuh suaminya itu. "Aku ke kantin dulu, ya."
"Jangan lama-lama."
"Iya, Sayang." Maya mengecup kening suaminya lembut sebelum keluar dari kamar sang suami.
Dari balik pintu sesosok gadis berjilbab sedari tadi memperhatikan mereka. Hatinya teriris dan sakit, awalnya ia tak percaya kalau Adji sudah beristri. Tapi, melihat kejadian yang baru saja pasangan itu lakukan. Membuatnya yakin untuk mengubur perasaannya dalam-dalam.
💗💗💗
__ADS_1
Tbc
Vote komennya yaaaa.