Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
39


__ADS_3

💗💗💗


Seminggu setelah pertemuan Adji dengan ayah mertuanya itu. Ia kini sudah yakin akan menggantikan posisi Reza. Meskipun dalam hatinya masih ada rasa khawatir. Takut, kalau keberadaannya justru membuat Reza curiga. Karena memang untuk memata-matai.


Maya dan Adji sempat belanja kebutuhan bekerja weekend kemarin. Seperti kemeja, celana bahan, sepatu, dan tas. Kini Maya berdiri di depan suaminya, mencoba memasangkan dasi yang ia pilih untuk hari ini. Rencana Hardu juga akan datang memperkenalkan Adji pada karyawan lain.


"Coba dari dulu aja kamu mau, kan kakak kamu mungkin sekarang masih hidup." Maya menarik dasi perlahan agar posisinya pas.


"Dengan kejadian ini juga kita jadi tau, kalau ada duri dalam daging."


"Iya, sih."


"Kamu bayangin kalau aku kerja dari dulu di tempat kamu. Bisa-bisa Kak Sean dan Reza justru gencar untuk menyingkirkan aku. Bisa-bisa aku yang celaka. Kamu mau?"


Maya menggeleng lemah. Ia lalu berjalan ke arah lemari. Mengambil pakaian kerja untuknya sendiri. Mereka akan berangkat kerja bersama.


"Kita mau naik apa?" tanya Maya pada suaminya yang sedang memakai kaus kaki itu.


"Eum."


"Okey, aku pesan taksi online aja." Cepat Maya mengambil ponselnya dan menekan gambar aplikasi berwarna hijau di layar.


"Handphone kamu jangan lupa dibawa, ya, Sayang. Penting itu," ucap Maya mengingatkan.


"Iya."


"Yup, lima menit lagi. Yuk!"


Mereka berdua pun keluar rumah hendak ke kantor. Sudah tiga hari Adji mengundurkan diri dari bengkel. Hanya saja ia masih belum bisa move on dari botol bekas. Setiap kali berjalan di mana pun. Dan melihat botol plastik berserak, ia pungut masukkan plastik dan bawa pulang.


Maya sempat malu, juga heran. Karena setiap kali mereka pergi, Adji pasti membawa plastik di saku celananya. Bilangnya sih jaga-jaga, kalau ada botol nganggur di jalan.


Mau bagaimana lagi, tapi memang Adji adalah Adji, dia tak pernah sekalipun pencitraan. Apalagi memanfaatkan sang istri untuk memenuhi kebutuhannya.


💗💗💗


Tepat pukul setengah delapan mereka tiba di parkiran kantor. Sekuriti menatap heran saat melihat Maya turun dari taksi dengan seorang pria tampan dan juga rapi. Memakai jas juga dasi.


Ternyata kedatangan mereka sudah ditungguboleh Hardi, Reza dan beberapa staf senior lainnya. Adji menyalami ayah mertuanya saat tiba di lobi. Begitu juga dengan Maya.


Sebelum Adji masuk ke ruangannya. Hardi mengajak para karyawannya berkumpul sejenak. Untuk mengumumkan perihal ada seorang manager baru yang akan menggantikan posisi Sean.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Hardi.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak," jawab mereka serempak.


"Saya akan perkenalkan ini adalah Pak Adji, menantu saya. Dia akan menduduki jabatan yang pernah dipegang oleh almarhum Sean. Kakaknya."


Suara bisik-bisik, kasak kusuk mulai terdengar saat Hardi selesai bicara. Mungkin mereka tak menduga kalau ternyata Sean punya adik setampan Adji. (Wkwkwkwk. Emak-emak nih biasanya begini, or gadis baru lulus kuliah). Sayangnya sang adik adalah suami dari anak pemilik perusahaan. Itu membuat para wanita di situ terdiam.


"Selamat pagi. Mohon kerjasa samanya untuk rekan-rekan semua di sini," ucap Adji seraya tersenyum.


"Iya, Pak."


"Okey, sekarang kalian kembali ke tempat masing-masing. Selamat bekerja!" ujar Hardi.


Kemudian para karyawan membubarkan diri, kembali ke meja masing-masing. Hardi mengantar Adji ke ruangan Sean bersama dengan Reza dan Maya.


"Ini nanti ruangan kamu, Dji." Hardi berdiri di depan meja ruangan itu.


Adji berdiri di depan lemari yang penuh dengan file kerja. Maya berdiri di depan pintu. Sementara Reza berdiri di sebelah Hardi menatap sinis ke arah Adji.


"Reza, tolong dibantu, ya. Pokoknya jangan pandang dia sebagai menantu saya kalau masalah pekerjaan. Profesional dalam bekerja, demi perusahaan ini!" Hardi menepuk bahu Reza.


"Baik, Pak. Lalu saya harus bagaimana? Eum, maksudnya ruangan saya?"


"Oh, nanti saya minta OB buat ambil kursi dan meja satu lagi di sini. Hanya sementara kan, Za. Yah buat ngebimbing Adji, mana-mana yang harus dikerjakan, ditandatangani. Kaya training gitu, Za," ujar Hardi.


Ia merasa usahanya selama ini sia-sia. Terlebih karena kematian Sean. Ia pun merasa kehilangan kambing hitam. Yang sewaktu-waktu bisa ia seret namanya. Seandainya ia terjerat hukum, atau dilaporkan karena dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen. Kini ia tak berkutik.


Reza merasa Hardi sudah mengetahui rencananya. Ia pun akan berhati-hati pada Adji. Meski Adji terlihat polos, dan tidak mengerti apa-apa. Ia yakin, keberadaan Adji akan sangat merugikan dirinya.


"Oke, Reza. Maya. Papa titip Adji. Sekarang Papa kembali ke kantor pusat dulu. Jam sepuluh nanti ada meeting." Hardi lalu beranjak keluar ruangan.


Maya dan Adji mengantar sampai depan lobi. Hingga sang ayah naik ke dalam mobil. Dan kendaraannya melaju keluar kantor.


Mereka berdua pun kembali masuk.


"Semangat, ya, sayang. Kalau Reza macam-macam sama kamu. Laporin aku atau Papa. Tapi kamu jangan lawan. Ada cctv di ruangan. Jadi, dia nggak bisa ngelak.


"Iya, Mayang." Adji menjawil pipi istrinya.


"Kok Mayang, siapa tuh? Mantan kamu?"


"Maya Sayang. Kamu tuh, cuma kamu tau yang mau sama pemulung kaya aku."


"Bukan pemulung, kan udah jadi manager sekarang." Maya bergelayut manja di lengan suaminya.

__ADS_1


"Ehem, ehem."


"Ciye, ciye Bu Maya …."


"Ish, bikin ngiri aja deh."


Suara dari balik meja membuatnya tersipu. Karyawan yang melihat kemesraan mereka di depan umum membuat ngiri.


"Malu, Sayang. Nanti malam aja kalau mau mesra-mesraan," ucap Adji lirih di telinga sang istri.


"Iya. Kamu semangat, ya, kerjanya."


Adji mengangguk. Maya kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Adji masuk ke ruangannya, di sana Reza sedang sibuk menata kursi dan meja untuknya yang baru saja dipindahkan OB untuknya.


"Eh, bantuin gue dong. Pindahin ke deket jendela!" pinta Reza saat melihat Adji hendak duduk di kursinya.


Mau tidak mau Adji membantu Reza mengangkat meja ke posisi yang diinginkan pria itu.


"Kursinya sekalian lah, masa gue duduk di sana mejanya di sini!" titah Reza seraya bertolak pinggang menunjuk ke kursi miliknya yang masih tertinggal di depan lemari.


Adji menghela napas pelan, lalu mengambil kursi tersebut dan meletakkan di depan meja milik Reza.


"Oh iya, loe tolong bersihin meja gue, ya. Gue mau ke pantry dulu. Bikin kopi. Loe mau?" tanya Reza seraya berjalan ke pintu.


"Enggak, Mas. Makasih."


"Okey."


Reza melangkah keluar ruangan. Menuju ke pantry,  mengambil cangkir dan menuangkan kopi instan lalu menyeduhnya. Ia duduk melepas penat sejenak. Membiarkan Adji di ruangan sendiri.


Adji pun merasa kalau keluarnya Reza barusan adalah sebuah kesempatan. Untuk mencari tahu apa saja selama ini yang sudah dikerjakan oleh seniornya itu. Ia menuju meja kerjanya. Membuka laci, mengeluarkan beberapa map dan membaca isinya satu persatu.


Adji tak pernah duduk di bangku kuliah. Namun, saat sekolah ia selalu menjadi juara dalam olimpiade matematika. Begitu pula di kelasnya. Sejak kelas satu SD selalu berada di peringkat satu. Seandainya sang ayah tak pernah melarangnya memeluk Islam. Mungkin kini dirinya sudah dikuliahkan di luar negeri. Dan mungkin juga ia tak pernah bertemu dengan wanita bernama Maya, lalu masuk ke dalam kehidupannya.


Semua memang sudah digariskan oleh Allah. Kini ia cukup bahagia, kalau perjalanan hijrahnya mengenal Islam, tak hanya membawanya pada sebuah kebaikan. Tapi juga sedikit banyak dapat merubah sikap almarhum kakaknya. Begitu juga dengan sikapnya sendiri.


Adji kecil yang manja, cengeng dan pemalu. Tampil kembali menjadi sosok yang mandiri, kuat, juga pantang menyerah. Hidup yang membuatnya dapat bertahan dalam kondisi apa pun. Allah yang senantiasa ada di dalam hatinya. Allah yang selalu menunjukkan jalan pada kebenaran. Sekecil atau sebesar apa pun masalah yang ia hadapi, kembalinya hanya pada sang pemilik alam ia berserah diri.


💗💗💗


Tbc.


Vote dan komennya gaesss.

__ADS_1


Tengkyu.


__ADS_2