Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
11


__ADS_3

Maya mengusap kakinya yang keseleo dengan minyak angin. Sambil dipijat perlahan.


"Loe kenapa sih, May? Modus ya biar ditolongin si bos?" tanya Monik yang terganggu dengan bau minyak, sesekali mengusap-usap hidungnya dengan jari.


"Nggak apa-apa," jawabnya malas.


"Owh, ya udahlah kalau nggak mau cerita." Monik kembali ke pekerjaannya.


Maya lanjut menekuni berkas di hadapannya itu, ia masih berpikir ada apa dengan Adji, mengapa ia begitu terlihat ketakutan saat melihat Sean. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya, atau Adji mengenali bosnya.


Setelah mengantarnya masuk, Sean juga terlihat terburu-buru ke luar dan pergi dengan mobilnya. Ke mana? Apa mencari Adji? Tapi untuk apa?


Pertanyaan itu terus berputar-putar dibenak Maya. Ia harus tanya langsung pada Adji, apa sebenarnya yang telah terjadi antara dirinya dengan Sean.


Drrrttttt ....


Ponsel Maya bergetar, sebuah nama terlihat di layar. Papa.


Segera ia menerima panggilan telepon itu.


"Ya, Pah."


"-----"


"Iya, iya, iya nanti sore aku pulang cepat."


"-----"


"Hem."


Tut Tut Tut .... panggilan terputus, Maya menarik napas pelan.


"Siapa?" tanya Monik penasaran.


"Bokap, nyuruh pulang cepat, ada yang mau diomongin katanya. Soalnya besok Minggu dia balik ke Australia."


"Owh, jadi loe nikah?"


Maya mengangkat bahu.


"Loh? Katanya si Adji."


"Iya, besok gue disuruh bawa dia ke rumah, bokap pengen ngobrol katanya."


"Owh, bagus tuh. Ngelamar ya."


"Enggak sih, cuma suruh dateng aja."


"Ya sama aja, May. Gue boleh dateng nggak?"


"Apaan sih Loe."


"Hehehe."


***


.


Hari kian sore. Ia melirik ponselnya, mengharap seseorang menghubunginya, tapi sama sekali tak ada panggilan masuk ataupun pesan masuk dari Adji. Semenjak ia melarikan diri di kantor tadi, sampai sore Maya belum tahu bagaimana kabar dia.


Maya sampai di rumahnya tepat saat adzan magrib berkumandang, ia tahu kalau dirinya sudah berbohong tadi pagi pada Adji, kalau dirinya sedang datang bulan, padahal ia tak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslimah yakni sholat lima waktu.


Kali ini tiba-tiba saja dadanya bergetar mendengar suara adzan dari masjid dekat rumahnya, karena itu mengingatkannya dengan pria yang sedari tadi tak ada kabar sama sekali.


"May!" panggil Denis saat melihatnya baru saja masuk rumah.


Maya menoleh sejenak ke arah sang kakak.


"Kenapa, Mas?"


"Ditunggu Papa di ruang makan."


"Ntar, gue mau sholat dulu," ucapnya pelan.


"Apa? Sholat?" tanya Denis dengan tatapan tak percaya.


Maya hanya tersenyum kecil. Lalu melangkah naik ke kamarnya, sementara Denis memanggilnya dari bawah tak ia hiraukan.


Maya membersihkan diri dan berwudhu. Lalu mencoba mengingat kembali bacaan surat pendek yang pernah dihapalnya dalam sholat magrib. Meski kakinya masih agak sakit ia berusaha untuk melaksanakan sholat sebisa mungkin.


Selesai sholat, ia berdoa, memohon ampun pada Allah karena selama ini ia telah lalai, tak lupa ia juga meminta petunjuk, setelah itu hatinya merasa sedikit lebih tenang, meski ia masih khawatir karena Adji tak memberi kabar.


Maya turun menemui sang ayah juga kakaknya, mereka sedang asyik berbincang sambil menyesap kopi. Ia lalu duduk di antaranya.


"May, kamu serius mau menikah dengan pemulung itu?" tanya Hardi.


"Iya, Pah." Maya menjawab agak malas.


"Kok wajah kamu begitu? Kalian bertengkar? Atau ada masalah?" tanya papa lagi.

__ADS_1


"Nggak kok, Pah. Maya cuma lagi kepikiran aja, dari pagi Adji nggak ada kabar. Maya khawatir dia kenapa-kenapa."


"Ya ampun, May. Dia bukan anak kecil kali. Lagi mulung mungkin." Denis menggeleng.


"Mas, nggak mungkin. Paling nggak ya kan bisa ngasih kabar, udah sampe rumah apa belum."


"Emang kalian dari mana?" tanya papa.


"Tadi pagi, rencana aku mau antar Adji ngelamar kerja di toko kue yang kebetulan punyanya istri bos aku, pas sampe kantor, Adji langsung pergi gitu aja."


"Wah, kenapa ya?"


Maya hanya mengangkat bahu.


"Ya udah, kalau gitu, kamu cek ke rumahnya. Denis antar adikmu ya!"


"Nggak mau, Pah. Aku capek." Denis menolak, lalu bangkit dari duduknya.


"Maya bisa pergi sendiri kok, Pah."


"Ya udah, yang penting besok pagi, Papa ingin kamu bawa dia ke rumah ini."


"Iya, Pah."


Maya meraih tangan sang ayah, mencium punggung tangannya dan berpamitan pergi mencari Adji.


***


.


Perasaan tak enak menggelayuti hati Maya. Entah apa yang terjadi pada pria yang ia sayangi itu. Berharap tak terjadi apa-apa.


Maya tiba di depan gang masuk menuju rumah Adji, seperti biasa ia memarkir mobilnya di sebuah lapangan. Lalu berjalan melewati lorong dalam gang yang sepi.


Dari kejauhan rumah Adji masih gelap, karena lampu rumahnya belum menyala, itu pertanda tak ada orang di sana alias Adji belum pulang.


Maya duduk di kursi teras, meraih ponselnya dari dalam tas, lalu mencoba menghubungi Adji. Berkali-kali nada sambung berbunyi, tapi tak ada sahutan. Hatinya mulai berdebar-debar. Baru sehari saja ia tak mendengar kabar dari Adji sudah membuatnya gelisah.


"Dji, loe di mana?" gumamnya seraya mondar-mandir di depan pintu rumah Adji.


Tiba-tiba dari kejauhan tampak seorang pria yang dinantinya sedang berjalan mendorong gerobak.


"Adji!" teriak Maya histeris. Ia langsung berlari dan memeluk erat pria itu.


Adji mengernyit.


"Kenapa, Mbak?" tanya Adji bingung.


Adji tersenyum kecil dan menggeleng.


"Saya nggak apa-apa, Mbak. oh iya, meluknya masih lama nggak? Ini gerobak jangan ditengah jalan," ujar Adji.


Maya manyun.


"Kok baru pulang? Nggak sholat?" tanya Maya sambil membantu Adji menarik gerobak.


"Udah, tadi di masjid."


Mereka lalu masuk ke rumah Adji.


Adji menuju kamar mandi, membersihkan diri dan berganti pakaian, sementara Maya menunggu di ruang tamu.


"Dji, besok Papa minta loe datang ke rumah, pagi. Bisa?" tanya Maya.


Adji yang duduk di sebelahnya itu hanya menunduk.


"Loe kenapa? Bisa kan?"


"Saya takut, Papanya Mbak, nolak saya."


"Kok loe jadi pesimis gini sih?"


"Saya nggak punya apa-apa, Mbak. Bahkan untuk beli mas kawin saja saya nggak mampu."


"Dji, emang loe nggak sayang sama gue?" Maya menatap tajam. Adji tetap menunduk.


"Maafin saya, Mbak."


"Adji, katanya loe mau njagain gue, nggak mau nyakitin gue." Kini Maya terisak.


Adji melirik ke arah wanita di sebelahnya, tersenyum kecil, lalu mengusap pelan air mata yang membasahi wajah Maya.


"Gitu aja nangis, apa sih yang buat Mbak Maya jatuh cinta sama saya?" Pertanyaan Adji membuat Maya tersipu.


Maya berbalik badan.


"Mbak, ngambek ya?"


Maya bergeming. Bahunya masih berguncang.

__ADS_1


"Mbak Maya yang cantik," panggil Adji berbisik di telinga Maya.


Tekuk Maya meremang. Darahnya seketika berdesir. Ia tetap bergeming. Sengaja agar Adji tak mempermainkannya lagi.


Adji merengkuh tubuh Maya, membawanya ke dalam pelukan.


"Maafin saya ya, Mbak. Mungkin ini bisa membuat perasaan Mbak Maya sedikit lebih baik."


"Dji ... gue sayang sama Loe. Gue juga nggak tahu kenapa perasaan ini ada."


"Pelet saya berhasil, Mbak," gumam Adji lirih.


"Nggak apa-apa, Dji. Yang penting gue bahagia. Jangan lepasin pelukannya ya, Dji."


"Sampai kapan, Mbak?"


"Emang kenapa?"


"Saya lapar, Mbak."


"Sebentar doang, Dji."


"Jangan ketiduran ya, Mbak."


"Emang kenapa?"


"Kalau saya mati kelaparan, Mbak siapa yang jagain?"


"Adji." Maya mencubit pinggang Adji


Adji semakin mengeratkan pelukannya pada Maya, mengusap lembut kepala wanita itu. Ia tahu itu salah, seharusnya belum boleh ia lakukan, tapi wangi rambut Maya melenakannya.


"Dji." Maya mendongak, wajah mereka saling pandang.


Adji mendekatkan wajahnya pada Maya jantung mereka berdebar hebat.


Maya semakin menutup mata saat bibir Adji hampir menyentuh bibirnya. Seketika Adji terkekeh melihat ekspresi wajah wanita di hadapannya itu.


"Mbak!" panggil Adji.


Maya membuka mata, Adji sudah berdiri di depan pintu tanpa ia sadari, sementara bibirnya masih monyong berharap mendapatkan ciuman dari Adji.


"Adji, kapan berdirinya?" tanya Maya malu.


"Hehehe ... Mbak kenapa? Makan yuk!"


"Nggak apa-apa, makan di mana?" tanya Maya sedikit ketus.


"Di depan pengkolan, ada nasgor enak."


"Tapi, Dji. Ada yang mau gue tanyain."


"Apa?"


"Tadi pagi kenapa loe pergi dari ...." Belum sempat Maya menyelesaikan perkataannya, Adji sudah menarik tangan Maya untuk ke luar dari rumah. Ia mengunci pintu dan berjalan menuju pengkolan.


"Dji."


"Nanti aja ya, Mbak ceritanya. Atau Mbak mau saya cium di sini, kalau masih berisik nanya-nanya."


"Kok loe jadi galak sih, Dji."


"Nggak kok."


"Terus itu."


"Emang nyium galak?"


"Ya enggak sih?"


"Tapi, mau kan?"


"Ya nggak di jalanan juga."


"Trus di mana, Mbak?"


"Adji, ngeledek aja."


"Hehehe."


Tangan mereka masih bergandengan. Sampai di tempat tukang nasi goreng dan mereka memesan dua porsi untuk di makan di tempat itu.


***


.


.


Vote dan komentarnya ya ...

__ADS_1


tbc


__ADS_2