
Happy reading....
****
Kebersamaan itu mengingatkan Maya pada pertemuan pertama mereka. Saat malam itu Adji membelikannya makan malam. Persis sama lauknya dengan yang mereka makan saat ini.
"Makannya jangan belepotan dong, Sayang. Lapar kamu ya?" tanya Adji seraya mengusap pipi sang istri yang mana di dekat bibirnya menempel nasi.
Maya meraih tangan suaminya, sesaat mereka beradu panjang dan saling melempar senyum. Degup jantung keduanya berdebar-debar.
"Terima kasih, Dji," ucap Maya lirih.
"Buat apa?"
"Semua perhatian kamu ke aku."
"Memang sudah seharusnya begitu, yaudah lanjutin lagi makannya. Aku mau mandi dulu. Habis itu kita ke rumah Papi aku."
Maya mengangguk. Kemudian melanjutkan makan. Sementara suaminya berjalan ke belakang untuk membersihkan diri.
***
Sayup-sayup terdengar suara adzan ashar berkumandang. Adji yang sedang berbaring di ranjang karena lelah, segera bangkit dan menuju ke belakang untuk berwudhu.
Kamar mandi yang terletak di luar rumah bagian belakang dan bersebelahan dengan tempat menjemur, di sana Maya terlihat sedang mengangkat jemuran, ia memperhatikan gerak gerik suaminya yang berwudhu di keran tempat biasa ia mencuci pakaian. (Bayangin rumahnya si doel ya, tapi udah pake keran kaga nimba di sumur) wkwkkw.
Ia bangga mempunyai suami yang begitu rajin beribadah juga bekerja. Tak pernah ia menemukan laki-laki seperti Adji. Mantan-mantannya dulu, jangankan bekerja. Mereka lebih membanggakan harta orang tuanya. Bahkan ibadah pun mereka tak pernah, padahal di kartu identitasnya jelas tertulis beragama Islam.
Darah Maya terasa berdesir saat melihat Adji menyibak rambutnya yang basah ke belakang. Ia terlihat begitu tampan. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Maya mengintip suaminya di balik jemuran yang masih tergantung dengan tali tambang.
"May," panggil Adji mengejutkannya.
"Eum, i-iya." Maya gugup dan berjalan mendekati suaminya.
"Ayo sholat ashar!" ajak Adji.
Maya hanya meringis.
"Ye, malah nyengir. Buruan aku tungguin!"
"Aku, aku lagi halangan," jawabnya malu.
Adji terdiam sesaat. "Datang bulan?" tanyanya memastikan.
Maya mengangguk.
Adji membuang napas kasar, "Deuh, pengantin barunya puasa dulu nih," celetuknya seraya berjalan ke dalam meninggalkan sang istri yang tertawa cekikikan mendengar ucapan Adji barusan.
***
__ADS_1
Hari beranjak sore, Adji mengajak sang istri untuk ke rumah ayahnya. Dengan menumpang dua kali naik angkot, mereka tiba di sebuah rumah besar bercat putih.
Rumah besar itu terlihat sepi, saat mereka tiba seorang security langsung menghampiri dan membukakan pintu gerbang.
"Tuan, silakan masuk!" Security mempersilakan keduanya untuk masuk.
Adji mengernyit saat memasuki halaman rumah itu, tampak mobil milik Sean terparkir di halaman.
"Ada kakak kamu, Dji. Gimana dong?" tanya Maya cemas.
Adji meraih tangan sang istri, menggenggamnya erat dan mereka berdua membuka pintu rumah besar itu perlahan.
Sepi.
Keduanya langsung melangkah menuju kamar sang ayah.
Ceklek.
Perlahan pintu dibuka oleh Adji.
Sean yang berada di samping ranjang ayahnya itu terbelalak kaget, ia cepat-cepat menyembunyikan sesuatu ke balik punggungnya.
"Ka-kalian, ada apa ke sini?" tanyanya gugup.
"Kakak ngapain?" tanya Adji curiga.
"Gimana keadaannya?"
"Baik, baik kok. Loe liat sendiri kan? Papi sekarang udah bisa melihat, bergerak, duduk juga bisa loh. Cuma emang nggak bisa ngomong. Mulutnya menyon begitu." Sean menunjuk sang ayah dan tersenyum sinis.
"Astaghfirullah, Kak. Ngomong apa sih? Begitu juga dia papih kita."
"Ngomong-ngomong, ngapain kalian ke sini? Bukannya lagi bulan madu ya, ke Bali?" Sean menatap heran, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Maaf, Kak. Kita nggak bisa ke sana. Lebih nyaman di rumah. Makasih atas tiketnya," ucap Adji seraya berjalan mendekati sang ayah.
Sean menjadi gugup, ia kemudian melangkah perlahan hendak menuju pintu. Namun, sebuah kertas tiba-tiba terjatuh tepat di bawah kaki Adji. Cepat ia mengambil dan membacanya sekilas.
Kedua bola mata Adji membulat, lalu menatap Sean lekat. Berjalan ke hadapan sang kakak yang sedang berusaha menutupi kesalahannya.
"Apa-apaan ini, Kak?" tanya Adji seraya mengangkat kertas itu ke udara, tepat di depan wajah Sean.
"Bu-bukan apa-apa," jawab Sean gugup.
"Bukan apa-apa gimana? Ini surat pengalihan semua harta peninggalan Papih. Kakak gila ya? Papih masih hidup sudah disuruh menanda tangani ini semua?" Adji mulai bersuara tinggi.
Ia tidak terima ayahnya yang sedang sakit itu dimanfaatkan. Padahal selama ini yang merawat adalah dirinya. Demi agar sang ayah pulih kembali. Ia ingin pria yang tengah terbaring tak berdaya itu segera mengikuti jejaknya menjadi seorang mualaf. Sebelum semuanya terlambat.
"Memangnya kenapa? Salah? Loe minta bagian? Tenang, ntar gue kasih bagian loe." Sean seolah tak merasa dirinya bersalah. Malah semakin berani menghadapi adiknya itu.
__ADS_1
"Eh, Kak. Asal Kakak tahu ya. Aku nggak peduli dengan semua harta milik Papih. Cuma cara Kakak ini nggak manusiawi."
"Dji, rasional dong. Bokap loe itu udah nggak bisa apa-apa. Ujung-ujungnya juga meninggal. Nah sebelum dia meninggal biar kita nggak ribet ngurusin warisan, harus pake akte waris lah, surat kematian lah. Mendingan dari sekarang dibagi-bagi." Sean terus berusaha untuk tetap ingin melakukan niatnya tersebut.
Adji berdecak dan menggeleng. "Kalau Kakak udah nggak Mau merawat Papih lagi, biar Papih tinggal di rumahku aja. Dan Kakak ambil semua harta Papih. Aku cuma ingin Papih kembali sehat."
"Wuiiih, nggak bisa gitu. Makanya gue cuma butuh tanda tangan bokap. Udah. Itu aja. Gue juga nggak ngusir dia kok. Kan gue cuma bilang jaga-jaga."
"Oh iya, emangnya rumah kalian bisa apa buat nampung dia? Wah lupa gue. Jual tanah beli rumah baru kan?" Sean terbahak.
"Aku nggak akan jual rumah dan tanah itu," tegas Adji.
"Apa? Jangan gila loe, gue udah bayar sebagian uang warga dari penjualan tanah mereka. Kalau sampai loe nggak mau ngelepas itu tanah. Loe harus bayar ganti rugi. Sebanyak uang yang udah gue kasih ke warga."
Adji terdiam. Ia baru tahu kalau kakaknya benar-benar jahat. Bukan cuma ayahnya yang dimanfaatkan. Tapi juga dirinya dan warga. Ia seakan tak ingin melihat keluarganya bahagia.
Adji menarik napas panjang. "Terserah, yang pasti. Aku nggak akan melepas tanah itu."
Maya cemas melihat perdebatan kakak beradik itu, ditambah wajah ayah mertuanya yang juga ikut menegang.
Tiba-tiba terdengar suara tarikan napas yang begitu berat dari arah belakang Adji dan Sean. Mereka menoleh, terlihat jelas wajah ayahnya yang menegang itu sedang mengangkat satu tangannya menunjuk ke arah Adji, dan membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu.
Adji mendekati sang ayah.
"Pih, kenapa, Pih? Papih mau apa?" tanya Adji menatap erat.
Kedua mata sang ayah membasah, air matanya kini tumpah. Deru napasnya terdengar semakin berat, dadanya terangkat sedikit ke atas. Mulutnya pun bergetar.
"Pih, bicara, Pih." Kini mata Adji mulai berkaca-kaca.
Sean hanya memandang dari kejauhan, mendekat pun tidak. Ia justru tersenyum miring dan berharap ayahnya cepat tiada. Agar ia bisa menguasai seluruh harta kekayaan yang dimiliki sang ayah.
"Pih, ikutin aku ya."
Adji melihat ayahnya sedang sakaratul maut. Keadaannya sama seperti saat Eyang Tarjo meninggal. Ia pun memejamkan kedua matanya. Lalu mendekati telinga sang ayah. Mencoba membisikkan dua kalimat syahadat. Berharap ayahnya akan mengikuti.
Air mata Adji kini telah tumpah, dengan sesenggukan ia terus mengucap kalimat syahadat dengan berulang-ulang dan nada yang sangat lambat. Sesekali ia mengusap air matanya yang kian membasahi wajah.
Satu tarikan napas terdengar panjang, dan kalimat itu tak berhasil diucapkan oleh pria paruh baya tersebut. Perlahan kedua matanya mulai tertutup.
"Papih...!" Adji menjerit seraya memeluk sang ayah yang baru saja mengembuskan napas terakhir.
Ia masih tak menyangka. Kunjungannya kali ini adalah pertemuan terakhir. Padahal sudah seminggu keadaan sang ayah dinyatakan membaik. Ia begitu sedih dan terpukul karena tak bisa mengajak ayahnya mengikuti keyakinannya.
Maya menunduk, air matanya ikut tumpah. Ia tak bisa membayangkan jika itu terjadi pada dirinya. Kehilangan orang tua yang begitu ia sayangi dengan keadaan seperti ayah mertuanya. Di mana melihat kedua anaknya yang beradu argumen membicarakan harta warisan.
***
bersambung
__ADS_1