
Nathan dan Natalia terkejut saat Fikri dan Lauren menjelaskan bahwa yang terjadi diantara mereka bukalah sebuah sandiwara melainkan sebuah real kenyataan.
Nathan dan Natalia saling berpandangan seolah-olah merekalah yang berada di dunia mimpi.
Nathan menarik Natalia sedikit menjauh dari mereka dan berbisik.
" Natalia coba kamu cubit aku dan aku akan mencubitmu jika kita sama-sama merasakan sakit maka kita ada di dunia nyata."
" Tapi jika kita tidak merasakan sakit mata kita harus bersama-sama dalam hitungan ketiga menjentikkan jari mungkin itu akan mengembalikan keadaan seperti semula."
" Baiklah ayo, tunggu kenapa kita tidak jumpa untuk menjentikkan jari daripada kita harus menyakiti diri sendiri?" Ucap Natalia.
" Ah benar, kalau begitu dalam hitungan ketiga kita akan menjentikkan jari secara bersama-sama."
" Oke."
Satu...
Dua...
Tiga..
Tis...
" Keadaan masih tetap seperti ini mungkin kita kurang konsentrasi mungkin seharusnya kita menutup mata dan membaca sedikit mantra abrakadabra agar semuanya kembali normal." Ucap Nathalia.
Mereka selalu mengulangi cara itu dengan menambahkan Matra, Tapi tetap saja kadang masih sama dan mereka melihat Fikri dan Lauren saling berpegangan tangan dan berpandangan.
Nathan dan Natalia kemudian mencubit tangan sendiri-sendiri dan merasakan sakit.
Setelah memastikan bahwa ini bukanlah mimpi mereka kembali kepada Fikri dan Lauren.
" Mom.."
" Ya sayang..." Jawab Lauren tanpa melihat ke arah Natalia.
" Bisa kalian jelaskan sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?"
" Bukankah kami sudah menjelaskannya kepadamu bahwa aku akan segera menjadi Dady dan kita akan tinggal di rumahku karena aku tidak ingin hidup jauh dari kalian." Ucap Fikri.
" Kapan kita akan meresmikan hubungan ini?" Tanya Lauren.
" Bagaimana kalau sekarang?" Tanya Fikri.
" Cuss...."
Fikri menggandeng tangan Lauren dan membawanya masuk ke dalam mobil untuk pergi mendaftarkan pernikahan mereka.
Nathan dan Natalia melongo melihat mereka yang kembali meninggalkan rumah.
__ADS_1
" Sebenernya di sini yang lagi bucin siapa sih?" Pekik Nathan.
" Hehe, Ya sudah gimana kalau kita bucin bucinan?" Pekik Natalia.
" Boleh..."
Mereka kemudian memutuskan untuk bernyanyi bersama dan bertukar kata-kata bucin untuk menghibur mereka sambil menunggu kepulangan dari Fikri dan Lauren.
Karena mereka tidak kunjung kembali dan Natalia merasa bosan akhirnya Nathan membawa Natalia untuk pergi ke rumahnya.
Disana Natalia sedikit menceritakan tentang kejadian yang terjadi.
" Ya Bagus dong kalau akhirnya Momy kamu membuka hati untuk pria lain Bukankah selama ini Momy kamu selalu menutup diri?"
" Bagaimana mama bisa tahu?"
" Emmm itu... itu..."
" Itu karena momy kamu sendiri yang mengatakan Momy kamu masih belum bisa membuka hati untuk orang lain ketika kami menanyakan kenapa masih sendiri." Ucap papa Nathan yang datang dan memegang bahu istrinya seolah-olah tidak membiarkan istrinya itu berbicara.
Tidak bagi Natalia kedatangan papa Nathan justru seakan-akan membantu Mama Nathan yang terlihat gugup karena tidak dapat menjawab pertanyaan kecil dari Natalia.
" Ah seperti itu.."
" Iya, Nathan Kenapa kamu tidak membawa Natalia untuk jalan-jalan ke taman belakang rumah kita. Bukankah di sana ada kolam renang dan juga air mancurnya?" Ucap Papa.
" Ide bagus. Ayo sayang..."
Setelah makan dan Natalia pergi.
" Mama kenapa gugup begitu kenapa Mama tidak mengatakan bahwa Lauren sendiri yang mengatakan bahwa dialah yang mengatakan jika dirinya masih belum bisa untuk membuka hati?"
" Entahlah Mama tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh sesuatu seperti mama pernah mengenal Lauren."
" Itu hanya perasaan Mama saja."
" Hmm iya Papa benar ini hanya perasaan Mama saja karena kita sudah lama tidak pergi ke Indonesia dan saat mengetahui dan melihat Hektor dan Rahayu ada di sini mama jadi teringat dengan satu nama yaitu Lauren. Nama yang sama seperti nama yang pernah singgah di Hektor."
" Seperti Natalia. wanita yang bernama Natalia bukan hanya satu dan papa yakin nama Lauren juga tidak hanya satu pasti ada banyak Lauren di muka bumi ini."
" Papa benar."
" Sudah tentu benar jadi jangan sampai masa lalu membuat kita berhenti melangkah karena masa depan sudah menunggu."
" Benar, seharusnya Mama fokus untuk mempersiapkan pernikahan Nathan dan Natalia."
...----------------...
" Elsa sedang apa?" Tanya Olaf saat melihat Elsa berada di gudang kantor sendirian.
__ADS_1
" Olaf kamu mengagetkan aku saja." Ucap Elsa sambil menggeser sesuatu di belakang sana dengan kakinya.
" Kamu sedang apa tumben sekali aku melihatmu di kantor pada hari Minggu."
" Kamu sendiri ngapain di sini bukankah ini weekend?"
" Ya setiap weekend aku memang ada di sini karena aku tidak mempunyai aktivitas lain jadi aku datang ke sini untuk memeriksa sesuatu yang mencurigakan."
" Kamu ngapain?"
" Aku nggak ngapa-ngapain aku kebetulan lewat dan ingat bahwa make up ku tak tinggal di sini jadi aku datang ke sini dan mengambilnya."
" Tapi Kenapa kamu justru ada di gudang bukannya ada di tempat kerja kamu?"
" Itu..itu.. karena aku penasaran tentang sebenarnya apa yang ada di dalam gudang ini?"
" Ohya dari mana kamu mendapatkan kunci ini setahu aku hanya orang gudang yang memegang kunci ini."
" Oh ini... itu... itu tadi gudangnya tidak terkunci jadi aku pikir untuk melihat isi di dalamnya."
" Hmm begitu Ya sudah kalau begitu aku akan naik ke lantai atas dulu."
" Oke.."
Elsa memandang kepergian Olaf dengan perasaan lega. Sementara Olaf sendiri sebenarnya tidak benar-benar pergi ke lantai atas, dia bersembunyi di balik tembok karena dia penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Elsa mengingat gerak-geriknya mencurigakan dan jawaban yang diberikan Elsa sama sekali tidak masuk akal dan terkesan menutupi sesuatu.
Olaf lalu melihat Elsa mengambil sebuah berkas dari dalam gudang itu dan memasukkannya ke dalam plastik sampah.
Elsa membawanya pergi, Olaf mengikuti Elsa dan mengetahui bahwa Elsa memasukkan bungkusan plastik itu ke kobaran api yang ada di halaman belakang kantor.
Memang sudah menjadi rutinitas bahwa berkas-berkas ataupun segala sesuatu yang berkaitan dengan informasi kantor jika sudah tidak digunakan akan dibakar setiap hari minggu
Olaf mendekati plastik sampah yang baru saja masuk ke dalam lubang api itu dan berusaha meraihnya setelah Elsa pergi begitu dia melempar bungkusan plastik itu.
Betapa terkejutnya Olaf saat melihat isi dari plastik itu adalah dokumen milik Natalia.
Semua dokumen lengkap sejak tanggal di mana Natalia mulai melakukan kesalahan hingga sampai akhirnya Natalia dikeluarkan dari kantor.
Untung saja sang api belum melahap plastik yang baru dilemparkan oleh Elsa, dan Olaf merasa beruntung Karena setelah membuang berkas itu Elsa langsung pergi sehingga Olaf bisa mengambilnya.
Olaf kemudian memilih untuk menyimpan dokumen itu karena suatu saat dokumen itu pasti akan berguna untuk mengembalikan nama baik Natalia.
" Maaf Elsa, tapi aku akan mulai ekstra mengawasimu dari hari ini."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...