
" Hai Elsa..." sapa Olaf.
" Olaf kau mengagetkan aku.."
" Sedang apa kamu disini?" Tanya Olaf saat mendapati Elsa sedang terdiam di atas kantor sendirian.
" Tidak ada, aku yang merasa bahwa di kantor ini sekarang jauh lebih sakti sejak tidak ada Bella dan Nathalia."
" Yaa, Aku juga merasa bahwa kita semakin hari semakin menjauh."
" Benar, tidak kusangka jika kehidupan setelah kuliah justru membuat segalanya berubah." Ucap Elsa.
" Tapi ada satu tren yang tidak akan pernah berubah. Bermuka dua. Ini adalah tren lama yang menjadi baru lagi dan semua orang tampaknya bergaya." Ucap Olaf.
" Benar. Orang palsu memiliki citra yang harus dipertahankan sementara orang sungguhan, tidak peduli."
" Ya selama tidak tersandung kata-katamu sendiri nanti jatuh ke dalam kemunafikan yang menyakitkan." Kekeh Olaf.
" Haha, ya ya. Sepertinya aku juga butuh kacamata karena rasanya banyak sekali manusia bermuka dua."
"Kamu percaya nggak sama teori evolusi darwin?. Mulanya aku nggak percaya, tapi setelah berteman sama kamu, aku mulai percaya sama darwin."
" Maaf Olaf tapi aku tidak kenal Darwin."
" Elsa. Kenapa kamu melakukannya?"
" Melakukan apa?"
" Aku tahu kamu dibalik semua yang dialami oleh Nathalia."
" Maksud kamu?"
" Kamu sengaja menukar laporan pekerjaan milik Natalia kan?"
" Haha, omongan mu tidak mendasar."
" Elsa aku sudah mengetahui semuanya. Kenapa kamu masih tidak mau mengakui kesalahan yang sudah kamu lakukan."
" Aku bersikap begitu karena memang aku tidak melakukan kesalahan apapun dan aku tidak merasa melakukan apa yang kamu tuduhkan padaku."
" Elsa kenapa kamu jahat kepada sahabatmu sendiri?"
" Sekali-kali boleh kan menjadi orang yang jahat? Habisnya, kalau jadi orang baik terus malah dimanfaatin sama teman sendiri." Ucap Elsa.
" Apa kamu sadar jika perbuatanmu ini mengakibatkan kamu kehilangan sahabatmu?" Pekik Olaf.
"Aku tidak kehilangan teman. Aku baru tersadar kalau tidak pernah punya satu teman pun."
__ADS_1
"Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun, orang yang lemah adalah orang yang mendapatkan banyak teman tapi menyia-nyiakannya. Dan aku rasa itu adalah kamu."
"Saya lebih suka memiliki musuh yang mengakui bahwa mereka membenci saya, daripada seorang teman yang diam-diam menjatuhkan saya."
" Tunggu apa maksud kamu menjatuhkan?. Memangnya apa yang sudah Natalia lakukan sehingga kamu mengira bahwa dia menjatuhkan kamu."
"Aku benci orang yang bermuka dua. Jika kamu tidak menyukaiku, maka berhentilah berpura-pura menyukaiku."
" Elsa sebenarnya apa yang terjadi padamu Kenapa kamu sekarang menganggap bahwa semua yang ada di sekitarmu bermuka dua?" Pekik Olaf.
"Setiap orang memiliki dua wajah, tetapi seringkali kita hanya melihat satu sisi dari mereka. Jadi, jangan pernah menilai siapa pun dari penampilan mereka." Ucap Elsa tanpa mau nanti tahu alasan kenapa dia sangat membenci Nathalia.
"Setiap tabir diam-diam ingin dibuka, kecuali tabir Kemunafikan." Imbuh Elsa.
" Elsa aku rasa sudah terjadi kesalahpahaman di sini. Aku tahu kamu adalah orang baik dan kamu tidak akan melakukan ini kecuali ada sesuatu yang mengganggu mu."
"Orang bermuka dua mengatakan hal-hal baik tentangmu di hadapanmu, lalu menceritakan hal-hal buruk tentangmu kepada orang lain saat kamu tidak ada."
" Elsa..."
" Olaf, aku selalu mencoba untuk tidak stres pada orang-orang curang yang mengkhianatiku. Aku tahu ini menyakitkan, tetapi kenyataannya mereka selalu busuk. Mereka tidak akan pernah berubah, dan Aku sebenarnya jauh lebih baik sekarang karena setidaknya, Aku tahu siapa mereka sebenarnya."
" Aku rasa kamu yang sudah menghianati dirimu sendiri karena tidak bisa melihat tanah yang benar-benar tulus dan mana yang berpura-pura." Pekik Olaf yang kemudian berjalan meninggalkan Elsa.
"Lebih baik dimusuhi orang dari depan daripada punya teman yang menusuk dari belakang. Kata ‘teman’ adalah label yang bisa dicoba siapa saja. Dan kaulah yang menentukan siapa yang paling pantas memakainya." Lirih Elsa sambil menatap kepergian Olaf.
" Hai Natalia..." Sapa Olaf
Nathalia yang saat itu tengah bersantai di depan rumah untuk menunggu Nathan tentu saja senang melihat Olaf.
Ya.
Ini sudah hari ke empat Nathalia ada di rumah.
" Olaf..." Mata Nathalia langsung berbinar binar dan segera memerintahkan penjaga untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka Natalia segera berlari menuju Olaf dan memeluknya.
" Olaf Kenapa kamu sudah tidak pernah lagi mengunjungiku apakah kamu tahu betapa aku sangat merindukanmu?."
" Maaf akhir-akhir ini aku terlalu sibuk terlebih lagi aku harus mengerjakan semua pekerjaanku sebelum aku resmi mengundurkan diri dari perusahaan keluarga Nathan."
" What?, apa yang terjadi kenapa kamu mengundurkan diri?"
" Aku tidak bisa satu kantor dengan orang bermuka dua terutama orang yang sudah menyakiti kamu."
" Olaf bukankah kita sudah sepakat untuk tidak lagi membahas tentang hal ini kenapa kamu masih membahasnya?"
__ADS_1
" Nathalia kamu tidak tahu betapa sakitnya aku saat mengetahui siapa orang yang sudah membuatmu terluka."
" Olaf..."
" Baiklah baik aku hanya bercanda aku tidak benar-benar mengetahui siapa orang yang telah mencelakakan kamu." Ucap Olaf.
" Jadi?"
" Aku harus ke Amerika untuk menyelesaikan studi karena ini adalah permintaan dari kedua orang tuaku."
" Kamu akan pergi?"
" Ya."
" Meninggalkan aku?"
" Huft..., tidak akan lama aku hanya pergi setelah 2 tahun dan aku akan memastikan bahwa aku akan datang sebelum pernikahanmu. Ya paling lambat aku akan datang saat hari pernikahan mu."
Natalia mundur dan duduk dengan tatapan kosong. Baru saja dia bahagia karena melihat Olaf yang sangat dia rindukan datang mengunjunginya tapi kini Olaf membuatnya merasa sedih dengan perkataan bahwa dirinya akan pergi ke Amerika selama 2 tahun.
Olaf menghela nafas panjang inilah yang paling dia tidak sukai melihat Natalia bersedih.
Sebenarnya Olaf enggan untuk mengatakan ini kepada Natalia karena dia tahu hal ini pasti akan terjadi. Tapi kalau saja jika dirinya tidak memberitahu lebih awal pada Natalia mungkin Natalia akan merasa jauh lebih sedih dari ini.
Perlahan Olaf berjalan mendekati Natalia dan berlutut di depannya.
"Meski jarak ada di antara kita, kita tidak pernah merasa jauh. Karena persahabatan tidak diukur dengan jarak, melainkan hati."
Natalia menatap Olaf dan dia tidak dapat lagi menahan air matanya.
Olaf adalah sahabat yang paling dekat dengan Natalia setelah Bella. Natalia sendiri merasa bahwa ikatan yang terjadi di antara mereka bukan hanya sekedar ikatan persahabatan tapi melebihi itu. Dan sungguh hati Natalia terasa teriris begitu mendengar Olaf akan pergi dari kehidupannya.
" Jadi kamu akan benar-benar pergi meninggalkan aku sendiri?"
" Nathalia aku pergi hanya sementara dan setelah itu aku akan kembali menetap di sini."
" Pergilah." Ucap Natalia sambil menghapus air matanya dan beranjak dari tempat duduknya
" Natalia.." Panggil Olaf, namun Natalia tetap berjalan dan masuk ke dalam rumahnya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1