
Bab acak serial AJARI AKU SELINGKUH...
🌸🌸🌸🌸
Ting...
Tong...
Ting...
Tong...
Aini dan Daffa sedang makan saat mereka mendengar suara bell pintu berbunyi.
" Sepertinya ada tamu." Ucap Aini.
" Mana aku tidak mendengar apapun." Pekik Daffa sambil terus makan.
Ting..
Tong..
Ting..
Tong...
" Nah itu bunyinya..." Ucap Aini saat dia kembali mendengar suara bel pintu.
" Aku tidak mendengar suara selain suara hatiku yang memanggil manggil namamu." Ucap Daffa.
" Huh...." Aini melengos pergi.
" Lah dia kabur, padahal aku sudah coba untuk menjadi pria gombal loh.." Lirih Daffa.
Karena tidak ingin makanannya nanti dihabiskan oleh tamu yang datang meskipun Daffa tidak tahu siapa yang akan bertamu tapi Daffa memilih untuk segera menghabiskan makanannya sebelum Aini membawa tamu itu duduk dan bergabung di meja makan.
" Hai tetangga..." Ucap seorang gadis berpakaian minim.
" Walaikumsalam..." Pekik Aini.
" Eh salah yaa.. ya udah aku ulangi lagi yaa..."
Gadis tadi menekan bell pintu kemudian mengucapkan salam.
" Assalamualaikum tetangga."
" Udah telat." Pekik Aini.
" Hehe..."
" Cari siapa dan ada keperluan apa?" Tanya Aini.
" Begini, aku tetangga baru dan karena aku baru, masih new dan segelan aku belum memiliki tetangga."
" Udah nikah?"
" Kalau nikah belum, tapi kalau kawin udah."
" Ha?" Aini sedikit loading karena baginya nikah dan kawin adalah hal yang sama.
Sementara bagi gadis itu nikah dan kawin adalah dua hal yang berbeda.
" Maksud nya???" Tanya Aini.
" Ya kawin masak enggak tahu kawin sih. Itu lo kegiatan ber ehem ehem."
" Emm ya, nanti aku cari tahu sendiri aja, ngomong-ngomong ada perlu apa kemarin."
" Lah kok tanya lagi sih bukannya aku sudah mengatakan jika aku masih belum mempunyai tetangga jadi aku datang ke rumahmu karena ternyata rumahmu yang paling dekat dengan rumahku karena aku ingin berkenalan dan memiliki seorang teman di sini. Dan lihat aku membawa makanan." Ucapnya.
" Wah baik sekali dan kebetulan aku juga sedang makan, bagaimana kalau kita makan bersama di dalam?"
" Jadi apa kamu mau menerimaku sebagai tetangga?"
" Tentu saja, bukankah kita harus hidup bertetangga karena kita selalu membutuhkan tetangga, terutama saat kita berpulang ke Rahmatullah."
" Hehe..., namaku Viona."
" Panggil saja aku Aini."
Keduanya kemudian masuk ke dalam dan menuju dapur.
Aini terkejut karena Daffa sudah menghabiskan seluruh makanan yang ada di sana.
Viona terkejut karena melihat pemandangan spektakuler di depannya. Bagaimana tidak terkejut, Daffa adalah sosok paling tamvan yang pernah Viona temui. Postur tubuhnya yang gagah perkasa...
Ah Viona jadi membayangkan betapa perkasanya sang raja perkasa. Belut Belitung.
" Halo apa kamu baik-baik saja?" Tanya Aini.
" Dia siapa?" Tanya Viona yang masih termenung dengan bayangan nya sendiri.
" Dia suamiku."
" Oh maaf. Assalamualaikum suaminya tetangga."
" Sudah aku bilang panggil aku Aini."
" Iya maaf kadang kadang otakku suka loading kalau lagi laper."
" Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita duduk dan makan. Aku juga penasaran apa yang kamu bawa, apakah itu aman di makan." Tanya Aini sambil melirik rantang yang dibawa Viona.
" Ini?, Tentu saja ini sangat aman dimakan karena aku sendiri yang memasaknya. Aku adalah lulusan master chef Indonesia loh."
" Ohya."
" Iya dan Aku pastikan bahwa makanan yang aku bawa ini sangat aman dan layak untuk dimakan."
" Sudah bersertifikat Halal?" Tanya Aini yang membuat Daffa menahan tawanya.
" Belum, masih proses..."
" Proses ke...?"
__ADS_1
" Proses masuk ke dalam mulut."
" Ha?"
" Ya jadi setelah makanan ini masuk ke dalam mulut tetangga pasti akan mengatakan bahwa makanan ini sangat halal dan sudah bersertifikat."
Aini mengenal nafas panjang sebelum akhirnya Aini mengajak Fiona untuk duduk.
Fiona mulai membuka satu persatu rantang makanan yang dia bawa.
Cumi pedas manis...
Udang saus tiram..
Dan Mr.Crab bumbu kemangi.
Daffa melihatnya seperti dirinya yang belum makan selama berhari-hari dan membuat air liur nya menetes.
" Suami, kondisikan air liurnya. Nanti kalau terjatuh di makanan kan bahaya."
" Memangnya aku penyebab virus rabies apa."
" Jangan bertengkar lebih baik dimakan saja dan rasakan kenikmatan nya, uhhh... yaa .." Ucap Fiona sambil bergeliat.
" Kamu kenapa?" Tanya Daffa.
" Gak apa apa, aku hanya sedang meregangkan otot-otot dalam tubuh."
" Oh Aku pikir kamu sedang mengalami gatal-gatal."
" Pfff, gatal..." Kekeh Aini.
Daffa dan Aini mulai mencoba makanan yang dibawa oleh Viona dan betapa terkejutnya dia sangat mengetahui bahwa rasanya tidak kalah enak dengan restoran berkelas dan juga makanan yang ada di TV TV.
" Aini kamu belum mengenalkan suamimu kepadaku."
" Ah iya maaf saking enaknya makanan yang kamu bawa aku jadi lupa untuk mengenalkan kalian. Suami ini adalah Fiona tetangga baru kita dan Fiona ini adalah suamiku Daffa."
" Hai Tuan Tamvan, eh maksudnya Tuan Daffa." Ucap Fiona sambil memainkan kedua matanya.
" Loh matanya gatal ya?" Tanya Aini
" Iya minta di garuk." Imbuh Daffa.
" Suami kamu kerja apa?" Tanya Viona.
" Wakil rakyat mungkin." Pekik Aini.
"Kalau aku jadi wakil rakyat aku pasti gagal." Ucap Daffa.
" Lah kenapa?" Tanya Aini dan Fiona hampir bersamaan.
"Gimana mau mikirin rakyat, kalau yang selalu ada di pikiranku hanyalah kamu istriku.."
" Ah...." Daffa mencoba untuk menggombali Aini Namun ternyata yang meleleh adalah Fiona.
"Viona, kalau cari pasangan itu jangan liat dari kegantengannya, tapi dari matanya, mata pencahariannya." Ucap Aini.
" La kenapa?"
"Biasanya cewek yang masih sendiri itu belum punya pacar. Biasanya." Ucap Daffa.
" Ya kan memang masih belum punya pacar mangkanya sendiri." Ucap Aini sementara Viona masih terus memperhatikan cara dapat melahap Mr krab. Viona terus memperhatikan Bagaimana lidah Daffa mencari celah untuk mendapatkan sesuatu yang sangat nikmat di balik cangkang keras yang dimiliki oleh Mr. Krab.
" Viona udah punya pacar?" Tanya Daffa yang langsung membuat Fiona tersadar dan kembali pada dunia nyatanya.
" Hmmm, punya sih tapi kata pacar itu hanya berlaku untukku."
" Kenapa?"
" Hmm..., Udah sering antar-jemput. Udah sering hang-out bareng. Udah sering makan siang dan makan malam bareng. Ternyata, cuma dianggap sebatas teman. Sedih deh!" Ucap Viona sambil kembali bergeliat seperti cacing yang disiram air garam.
" Viona Sebenarnya kamu tuh kenapa sih kamu gatal ya?"
" Iya aku gatal karena ulat bulu yang ada di balik sana.." Pekik Fiona tanpa sadar.
" Maksudnya?" Tanya Daffa dan Aini secara bersamaan.
" Maksudnya aku terkenal ulat bulu dari tanaman yang ada di depan pagar rumahku." Ucap Fiona.
Tuhan aku pasti gila karena aku sudah membayangkan suami orang lain. Tapi Tuhan, jika dia jodohku, dekatkanlah. Tapi, jika dia bukan jodohku, aku rela dia Engkau memberiku laki-laki yang mirip dengannya, jadi aku mohon Tuhan kirimkan aku satu yang seperti dia"
----------------
"Pacaran kok nangis mulu. Kamu pacaran sama manusia apa bawang?" Ucap Daffa dengan santai saat dirinya ikut mendengar curhatan hati Fiona yang mengatakan bahwa lelaki hanya datang dan singgah sebentar lalu pergi.
"Putus cinta itu tidak sakit. Yang sakit itu, udah putus tapi tetap cinta!" Ucap Aini sambil melirik ke arah Daffa yang baru saja selesai menghubungi Kenzo.
Daffa yang sadar jika Aini sedang menyindirnya langsung meletakkan ponsel dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalikan suasana.
Ide muncul saat mata Daffa melihat botol hijau di dekat wastafel.
"Kamu itu ibarat Sunlight, mampu menghilangkan kenangan mantan yang membandel.
Aini langsung menoleh ke arah sunlight yang ada dibelakang nya. Sementara Fiona kembali meleleh mendengar gombalan Daffa.
Aini dan Fiona saling berpandangan, jika Aini menganggap Dafa sedang dalam model gilanya tapi tidak dengan Fiona. Fiona justru menganggap bahwa Daffa adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk yang sempurna lainnya karena mampu merangkai kata yang dapat melelehkan hati.
Fiona kembali meleleh saat Daffa kembali mengeluarkan kata-kata yang menjadi andalannya sekarang.
"Bukan makanan saja yang harus memiliki gizi yang seimbang, tapi hati ini perlu penyeimbang. Penyeimbangnya ya kamu."
" Aku?" Ucap Fiona sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Bukan kamu, tapi dia yang berdiri di sebelah kamu."
" Uhuk..." Aini yang sedang minum langsung terkejut dan tersedak.
Seperti nya Fiona memasukkan suatu bahan yang membuat kegilaan dalam diri suamiku meningkat tajam. Aku harus mencari tahu dengan apa Viona memasak makanan-makanan ini.
Setelah selesai makan, Viona pamit pulang karena dirinya sudah tidak sanggup jika terus-menerus mendengar kata-kata gombal dari Daffa, bisa-bisa dia akan meleleh sepenuhnya.
Saat Daffa juga ikut mengantar kepulangan Aini tiba-tiba Daffa berbicara ketika dirinya mendengar berita acara yang dibawakan oleh reporter TV.
__ADS_1
"Tau nggak?" Ucap Daffa.
" Apa?" Ucap Aini.
" BMG: Badan Meteorologi Geofisika, berubah nama jadi OMG setelah melihat paras secerah kamu."
Gubrak !!!
Fiona langsung terbentur pintu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Daffa.
" Suami bisakah kamu mengkondisikan kegilaan yang sedang kambuh ini. Atau kamu bisa melupakannya sebentar karena aku tidak enak dengan tamu kita." Bisik Aini.
" Tentu aku bisa melupakannya, tapi kalau disuruh melupakanmu, aku harus ke kantor kelurahan dulu bikin surat keterangan tidak mampu." Ucap Daffa sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya.
*Astaga sebaiknya aku segera membawa sampel makanan yang dimasak oleh Viona kolaboratorium untuk memastikan bahan apa yang membuat kegilaan suamiku menjadi tambah parah.
Ya Tuhan di mana Aini menemukan lelaki seperti ini. Aku harus bertanya agar aku bisa mencari satu lagi yang seperti ini.
Ahahaha ternyata aku tidak buruk juga dalam hal romantisme. Aini aku akan hadir kembali dengan jiwa-jiwa romantisku yang akan melelehkan hatimu. Dan Jangan pernah panggil aku Daffa jika aku tidak bisa melelehkan hatimu*.
" Aku pamit ya terima kasih karena sudah mengizinkan aku untuk datang dan bertamu." Ucap Fiona.
" Sama sama."
" Rumah kamu yang mana?" Tanya Daffa.
" Itu." Viona menunjuk ke arah rumah yang berada di depan rumah Daffa.
" Hmm lumayan, jaraknya mungkin sekitar 20 atau 30 kaki."
"Walaupun jarak kita bagai matahari dan Pluto saat ephehelium. Amplitudo gelombang hatimu berintervensi dengan hatiku." Ucap Viona.
" Tunggu Apa kamu pikir bisa berinvestasi dengan hati suamiku?. Memangnya berapa hati yang kamu punya sehingga kamu mau menginvestasikan kepada suamiku dan memangnya suamiku ini bank?"
" Huh, tau ah gelap." Ucap Viona sambil berlalu membuka gerbang rumah Aini dan berjalan pulang.
" Lah masih terang ini kok sudah gelap." Teriak Aini.
" Tau ah..."
" Lah kok marah?" Ucap Aini, sementara Daffa terkekeh karena dia tahu sebenarnya Fiona sedang mencoba untuk berkata gombal padanya dan berharap bahwa Daffa akan membalas gombalan Fiona seperti yang Daffa lakukan kepada Aini.
Sayang nya Aini yang beranggapan bahwa gombal itu merupakan salah satu gejala dari kegilaan Daffa membuat Fiona kehilangan selera untuk bergombal lagi.
" Dia kenapa yaa?" Tanya Aini.
" Sudah tidak usah dipikirkan nanti juga datang lagi, Sekarang kamu mau nggak aku ajak jalan-jalan."
" Kemana?"
" Ke hatiku..."
Tung !!!
Aini memukul kepala Daffa dengan sendok yang tanpa sadar dia bawa.
" Sadar suami sadar. Jangan kumat terus..." Ucap Aini sambil melengos masuk.
" Yah orang gombal kok dikata kumat. Sebenernya Aini itu wanita tipe seperti apa sih?" Keluh Daffa.
----------------
Malam harinya...
" Aini..." Panggil Daffa.
" Hmmm..." Jawap Aini yang tidur sambil membelakangi Daffa.
" Aini..."
" Hmm...."
" Dalam hati kamu ada aku gak?" Tanya Daffa.
" Ya gak ada lah orang kamu segede gajah masa iya mau lagi dalam hatiku yang sekecil upil."
" Yah, padahal handphone yang punya memory kecil aja sanggup simpan foto sampai beribu-ribu, masak hanya untuk menyimpan aku yang satu biji, hati kamu nggak sanggup sih."
Aini lalu berbalik dan menatap Daffa.
" Suami Sebenarnya kamu itu kenapa sih akhir-akhir ini aku merasa bahwa tingkat kegilaan kamu sudah sangat overdosis. Kamu salah minum obat atau kelebihan obat?"
" Loh memangnya salahku apa?" Tanya Daffa.
" Ya kamu malah meminta aku untuk memasukkan kamu ke dalam hatiku Ya jelas nggak muat lah. Memangnya mau masuk lewat mana orang lubang aja aku nggak punya."
Hah, padahal dia punya satu lubang yang menuju ke dalam hati yang terdalam. Hmmm, seandainya saja aku bisa menjelajah lubang itu. Pekik Daffa.
Aini jadi menggeleng-gelengkan kepala melihat Daffa yang memejamkan mata sambil senyum-senyum sendiri membayangkan ketika dirinya berhasil menjelajahi lubang yang ada pada Aini.
Aini kembali mengunjungi Daffa dan bermain dengan ponselnya mencari tahu cara untuk menghentikan kegilaan pasangan yang menjadi-jadi.
Pagi harinya, tidak biasanya Daffa akan minta dibuatkan segelas kopi kepada Aini.
Namun Aini tetap membuatkannya karena berpikir mungkin Daffa sudah kembali dalam mode normalnya.
" Terima kasih istri ku." Ucap Daffa saat Aini meletakkan segelas kopi di hadapannya.
Aini hanya tersenyum karena kalau Aini berbicara takut kegilaan Daffa kembali muncul.
"Kamu suka kopi nggak? Aku sih suka. Tau kenapa alasanya? Kopi itu ibarat kamu, pahit sih tapi bikin candu jadi pingin terus." Ucap Daffa sambil tersenyum.
Sementara Aini kembali dibuat melongo.
"Tatapanmu memanglah sederhana, namun dapat mengalihkan dunia. Jadi jangan terlalu lama menatapku karena aku takut jadi pindah ke dunia lain."
Aini yang tadinya memang melongo sambil memandangi Daffa langsung terlihat salah tingkah. Dan itu membuat Daffa semakin merasa bahagia karena dia merasa bahwa jiwa ke laki-lakinya mulai kembali.
Berjuang lah entong. Aku sedang berusaha menumbuhkan kembali jiwa-jiwa gila dalam diriku. Setelah ini kamu harus berusaha bangkit agar kita bisa bersama-sama menikmati indahnya dunia.
----------------
----------------
__ADS_1
----------------