
Keluarga adalah harta yang paling berharga. Setidaknya, begitulah makna keluarga yang digambarkan dalam lagu dari acara "Keluarga Cemara".
Keluarga memang sudah seharusnya menjadi bagian penting dalam hidup seseorang.
Keluarga menjadi tempat kembali yang paling dirindukan oleh seseorang. Keluarga menjadi pelipur lara dan obat paling ampuh untuk menghilangkan rasa lelah dan mengembalikan suasana hati.
Namun, tidak setiap orang bisa merasakan keharmonisan dari sebuah keluarga.
Bahkan, muncul rasa kecewa dari seseorang terhadap keluarganya.
Mungkin itulah yang sedang dirasakan oleh Nathan dan Natalia.
Rasa kecewa yang begitu besar karena merasa telah dipermainkan oleh keluarganya.
Tapi tidak ada yang tahu takdir seseorang hingga kita sampai di titik itu.
Meja bundar sedang di gelar di rumah Fikri, seluruh keluarga Nathan dan Natalia hadir termasuk Nathan dan Natalia sendiri.
Tidak ada dari mereka yang saling menatap. Keduanya menunduk hingga membuat orang tua merasa bersalah.
" Jadi apakah kamu adalah Kristiani Laura Bella?" Tanya Tia yang sudah tidak sabar lagi menunggu kejelasan dari Lauren.
Lauren menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata iya.
" Kenapa kamu tidak memberi tahu ku?" Tanya Tia dengan wajah sedih.
" Seandainya kamu ada di posisiku apakah kamu akan memberitahukan identitas kamu yang sebelumnya yang banyak mengandung luka?" Tanya Lauren.
" Tidak..." Jawap Tia lemah.
" Sama halnya aku yang akan bertanya kepadamu kenapa kamu tidak memberitahu kepadaku bahwa Nathan bukan anak kandung kalian, kalian pasti akan menjawab untuk apa kalian memberitahu hal yang tidak seharusnya diketahui oleh orang lain."
Tia dan Felix terdiam. Mereka membenarkan semua itu tidak mungkin di antara mereka menceritakan kisah masa lalu yang sebenarnya sudah tidak perlu lagi untuk dibahas di masa sekarang.
"Hujan tak pernah tau untuk apa ia jatuh. Tapi air mata selalu tau untuk siapa ia jatuh." Ucap Nathalia sambil tetap menunduk.
"Pengkhianatan dari keluarga itu adalah luka yang paling dalam." Ucap Nathan.
__ADS_1
" Maafkan mereka, ini semua benar benar di luar pemahaman mereka, jika saja kami bisa menemukan kebenaran sejak awal jika kalian adalah saudara kandung. Mungkin kami tidak akan membiarkan kalian sampai di titik ini." Ucap Fikri.
" Percayalah lah hidup orang tua kalian jauh lebih sulit dan menyakitkan. Mereka seperti mati terbunuh namun tetap hidup dalam sebuah penyesalan." Imbuh Fikri.
" Percayalah nak, kami tidak bermaksud untuk memisahkan kalian." Pekik Lauren.
"Percaya pada diri sendiri, meski mungkin saat ini aku sedang bersedih. Karena penyemangat terbesar dalam hidupku adalah diriku sendiri." Ucap Nathalia sambil berlinang air mata.
Baru pertama kali merasakan cinta hingga akan menuju jenjang lebih dalam namun harus terhenti karena sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan. Lebih sakit daripada harus batal menikah karena pasangan selingkuh atau melarikan diri.
"Kekecewaan memberikan pelajaran kepada kita untuk bisa melihat sisi lain yang lebih baik sehingga tidak perlu terlarut dalam kekecewaan yang semakin mendalam." Fikri sambil memegang bahu Nathalia.
Nathalia tidak tahan lagi, dia menangis dalam pelukan Fikri. Nathan sangat ingin membawa Nathalia ke dalam pelukannya, tapi dia sadar dia sudah tidak sanggup untuk melakukan itu.
Nathan akhirnya mengerti kenapa dulu dia sangat tidak ingin untuk selalu mencium bibir Nathalia. Itu Karena dia mempunyai insting seorang kakak dan seorang kakak tentunya tidak akan mencium apa yang tidak seharusnya di sentuh oleh saudara.
"Beberapa orang yang susah dijauhi adalah anggota keluarga. Tapi seringkali justru mereka yang paling ingin kita jauhi." Ucap Nathan sambil melihat Lauren.
Lauren menunduk, dia tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan kepada Nathan bahwa dia hanya lah korban keegoisan Imelda.
"Ada kalanya kita harus siap dan menerima apa yang akan terjadi, bukan menyerah hanya berhenti memaksakan, daripada akhirnya hanya akan menjadikan kita semakin sakit dan kecewa. Tuhan tau kita telah berusaha semampu kita. Selebihnya biar menjadi urusan-Nya." Ucap Fikri yang masih berusaha memenangkan kembali Nathalia.
"Seseorang terkadang berpura-pura bahagia agar orang yang dia sayang tau bahwa dia baik-baik saja." Ucap Felix.
" Anggap saja cintamu bagaikan bayangan air. Di tengah padang pasir. Itu bukan sebuah oasis, tapi fatamorgana berlapis." Ucap Fikri.
" Maafkan kami Nathan, Nathalia. Kami tidak tahu jika kalian harus mengalami kekecewaan." Ucap Tia.
" Semoga kalian bisa segera melupakan rasa kecewa ini." Ucap Felix.
" Tidak akan ada kekecewaan yang mendalam jika tidak ada cinta yang mendalam." Ucap Nathan sambil berlalu pergi.
"Nathan kamu mau kemana?" Teriak Tia.
" Biarkan saja dia mungkin butuh waktu sendiri." Ucap Felix yang disertai anggukkan kepala Fikri.
" Seharusnya, keluarga adalah tempat perlindungan kita. Seringnya justru keluarga menjadi tempat kita menemukan rasa sakit hati terdalam." Ucap Lauren sambil menahan tangisnya.
__ADS_1
"Aku pernah kecewa dan aku pernah terluka. Tapi dibalik semua, aku yakin dan percaya iu adalah cara Tuhan untuk membuatku dewasa." Ucap Fikri.
" Betapa sulitnya diriku memiliki seorang keluarga yang membuat perpisahan semakin mudah." Ucap Nathalia.
" Nak maafkan kami." Ucap Tia.
" Tidak apa, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Ijinkan aku untuk masuk ke dalam kamar." Ucap Nathalia sambil berlalu pergi dari meja bundar.
" Sayang...." Panggil Lauren.
" Tidak apa, biarkan dia sendiri untuk beberapa saat. Dia butuh waktu untuk memahami apa yang terjadi." Ucap Fikri.
"Mencintai anak tidak cukup, yang terpenting anak sadar bahwa mereka dicintai oleh orangtuanya." Ucap Felix.
" Benar, kita harus membuat Nathan dan Natalia mengerti bahwa cinta orang tua mereka sangatlah besar melebihi apapun." Ucap Fikri.
Sementara itu, Hektor jatuh sakit. Dia meminta Imelda untuk mengirimkan pesan permintaan maaf kepada Nathan karena dia tidak dapat hadir dalam pesta pernikahannya.
" Jangan katakan bahwa aku sakit aku tidak ingin membuat Felix dan Tia khawatir sehingga mereka mengajak Nathan klemari." Ucap Hektor saat melihat Imelda masih belum selesai menulis surat yang akan dia kirimkan kepada Nathan.
" Tidak akan. Aku hanya mengatakan bahwa kamu sakit sehingga kita semua tidak bisa pergi ke acara pernikahannya." Ucap Imelda sambil tersenyum.
" Terima kasih.."
" Sama sama.." Ucap Imelda sambil mendekati Hektor dan mencium keningnya.
Imelda pergi yang mengirimkan surat itu dan menangis di taman tidak jauh dari kantor pengiriman surat.
Hektor terkena kanker darah namun dia tidak ingin dirawat atau di obati. Saat di tanya kenapa, Hektor hanya menjawab.
" Aku menganggap apa yang terjadi padaku sekarang adalah sebuah hukuman karena sebelumnya aku sudah menyakiti dua wanita sekaligus. Yang pertama Kristiani. Aku terpaksa menyuruhnya pergi sejauh mungkin dan aku tidak mengizinkannya kembali. Lalu aku menyakitimu Imelda dengan memisahkan kamu dari putramu. Walaupun aku tahu kamu hanyalah ibu penggantinya Tapi tetap saja dia juga putramu karena dia tumbuh di rahimmu."
Imelda terus menangis menyesali perbuatannya dulu. Seandainya saja dulu dia tidak egois dan tetap memilih untuk hidup bersama-sama dan merawat buah hati Hektor dan Kristiani yang dititipkan di rahimnya mungkin sekarang keadaan tidak akan seperti ini.
Tapi semua sudah terjadi nasi sudah menjadi bubur dan bubur itu sudah menuju tingkat basi.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...