CINTA TIADA AKHIR

CINTA TIADA AKHIR
Bab 38. Semua Karena Cinta


__ADS_3

Imah tidak ingin menjelaskan pada teman-temannya tentang hubungannya dengan Zack, karena itu sulit untuk dijelaskan.


Teman-temannya tidak akan percaya jika Imah mengatakan bahwa dia tidak mencintai Zack, apalagi tergila-gila pada Zack.


Imah sendiri tidak bisa lagi membohongi dirinya tentang perasaannya kepada Zack.


Sampai akhirnya Selly teman Imah menanyakan tentang Zack yang selalu berkirim surat pada Imah.


" Imah, apakah kau menghabiskan masa akhir tahun mu dengan pria yang selalu berkirim surat dengan mu? "


Tanya Selly pada Imah.


" Iya, dia datang mengunjungi ku. "


Jawab Imah singkat.


" Apakah dia kuliah di luar kota?


Apakah dia kekasihmu? "


Tanya Selly yang ingin tahu mengenai hubungan Imah dengan lelaki yang sering berkirim surat padanya.


Imah tidak ingin menceritakan tentang Zack pada Sally, dan Imah mencoba menghindari tatapan mata Selly.


" Dia bukan kekasih aku, kami cuma sekedar bersahabat.


Dia tidak kuliah, tapi dia bekerja diluar kota. "


Imah mencoba menjawab pertanyaan Selly agar Selly tidak curiga padanya.


" Dia rajin sekali berkirim surat padamu, seperti orang yang tidak memiliki kesibukan." kata Selly yang seperti meremehkan Zack.


Imah hanya mengangguk dan tidak membalas apa yang Selly katakan.


" Kalau kau ingin berkenalan, aku akan mengenalkan padamu jika ia sedang datang kesini. "


Kata Imah yang menggoda Selly.


Tiba-tiba, Artida  ke kelas mereka dengan wajah bahagia.


Ia baru kembali dari acara tahun baru bersama keluarganya yang tinggal diluar kota.


" Hai semua.. "


Sapa Artida  dengan riang pada teman-temannya.


" Aku ada pengumuman penting sekaligus kabar gembira buat kalian. "


Artida menghampiri Imah dan teman-temannya yang sedang duduk berkumpul dikelas itu.


" Tara... "


Artida menunjukkan jari manis sebelah kirinya yang terdapat cincin.


" Tahun baru kemarin, aku pulang kerumah orang tuaku, lalu aku bertunangan. "


Kata Artida dengan wajah yang bahagia, senyuman tak lepas dari bibirnya.


" Wah.. Selamat ya, Artida. "


Kata Selly sambil memeluk Artida.

__ADS_1


" Selamat ya Artida, semoga hubungan kalian lancar hingga hari H. "


Imah juga mengucapkan selamat pada Artida.


Juga teman-teman yang lainpun mengucapkan hal yang sama.


" Tapi bagaimana mungkin kau sudah bertunangan, sedangkan kuliah mu masih lama. "


Tanya Selly pada Artida.


" Bertunangan kan tidak mengganggu kuliah, lagian banyak yang sudah menikah tapi masih kuliah. Aku hanya bertunangan dulu, calon suamiku menginginkan agar kami ada ikatan. Nanti selesai aku kuliah, kami baru akan menikah. "


Artida menjelaskan pada Selly juga teman-temannya yang ada disana.


" Nanti jangan mentang-mentang sudah tunangan, hubungan kalian malah kebablasan. "


Kata Selly mengingatkan.


" Ya.. Jangan mendoakan yang jelek dong, jangan sampai hal seperti itu terjadi, aku akan menjaga diri baik-baik. "


Artida tidak ingin ada sesuatu yang tidak baik terjadi di masa pertunangannya.


Mendengar apa yang dibicarakan oleh Artida, membuat apa yang dirasakan dan tidak diakui dengan sekeras hati oleh Imah semakin kuat memenuhi perasaan Imah.


Imah merasa tergila-gila pada seorang laki-laki yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya, dan laki-laki yang bersikeras mengatakan jika dirinya tidak ingin menikah.


Zack bahkan mungkin tidak tahu jika Imah sudah jatuh hati padanya.


Imah benar-benar merasa konyol.


Saat Imah tidur malam setelah ia bertemu dengan Zack, Imah sudah meyakinkan diri bahwa ia benar-benar bodoh dan merasa lalai karena bisa jatuh cinta pada Zack.


Imah akan mencari cara agar Zack membencinya dan memutuskan persahabatan mereka.


Imah tidak ingin hal itu terjadi.


Imah berharap suatu hari Zack akan mengajarkannya untuk terbang.


Hari ini, Imah melalui harinya  dengan  tidak bersemangat.


Ia ingat Artida yang sudah bertunangan dan akan menikah setelah lulus kuliah.


Imah juga ingat hubungannya dengan  Zack yang tidak ada perkembangan apapun selain hanya sebuah persahabatan yang Zack janjikan.


Ketika Andika menjemputnya, dia merasa heran melihat adiknya yang tidak bersemangat, tidak seperti saat dia mengantarkannya pagi tadi.


Saat sudah didalam mobil dan mobil melaju menuju kerumah, Andika mencoba bertanya pada Imah, apa yang sebenarnya terjadi saat ia di kampus.


" Imah, ada apa? Kok mukanya kelihatan kusut kayak cucian baru diperas? "


Tanya Andika sambil bercanda pada Imah.


" Tidak ada apa-apa. Memangnya kenapa, bang? "


Tanya Imah balik pada abangnya.


" Tidak, tadi pagi saat abang mengantarkan Imah, Imah terlihat ceria dan bersemangat, tapi saat pulang Imah terlihat begitu kusut dan seperti menyimpan sebuah masalah."


Kata Andika penuh perhatian pada Imah.


" Bukankah sudah abang bilang, jika ada apa-apa Imah bisa cerita pada abang. "

__ADS_1


Andika mencoba membujuk Imah untuk bercerita, karena Andika yakin ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Imah.


" Imah cuma capek aja bang, mungkin efek baru masuk kuliah setelah libur beberapa hari.


Tadi juga ada dosen killer yang mengajar di kelas Imah, jadi Imah sedikit tegang. "


Kata Imah pada abangnya, dengan tidak ingin berterus-terang tentang apa yang sedang dirasakannya.


" Ya sudah kalau hanya sekedar capek, nanti dirumah bisa langsung istirahat. "


Kata Andika lagi.


Andika tidak ingin memaksa Imah untuk menceritakan apa yang terjadi, mungkin jika sudah merasa tenang, Imah akan menceritakan semua dengan sendirinya.


Tiba dirumah, Imah langsung masuk ke kamarnya, membersihkan diri dan beristirahat.


Imah ingin menenangkan hati dan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja.


Keesokan harinya, Imah sangat terkejut saat Zack meneleponnya.


Pagi-pagi sekali Zack menelepon Imah, untung ayah dan ibunya belum turun ke dapur.


Saat itu Imah ingin kedapur untuk mengambil air minum, kebetulan air di kamarnya habis.


Hari baru menunjukkan pukul lima tiga puluh pagi.


Saat Imah melewati ruang tengah menuju dapur, Imah mendengar telepon yang berdering dan Imah mengangkat telepon yang berdering itu.


☎ " Hallo, Assalamu'alaikum.. "


Salam Imah saat mengangkat telepon.


☎" Wa'alaikumussalam warahmatullah..


Apa kabar, Imah? "


Tanya Zack diseberang sana.


Ternyata Zack yang menelepon Imah pagi-pagi sekali.


☎ " Alhamdulillah, kabar Imah baik bang.


Bang Zack sendiri, gimana? "


Tanya Imah balik menanyakan kabar pada Zack.


☎ " Alhamdulillah kabar abang juga baik."


Jawab Zack.


☎ " Maaf Imah, abang baru memberi kabar. Abang baru saja tiba di New Zealand. Penerbangan abang mengalami delay karena pengaruh cuaca, sehingga abang baru tiba disini. "


Zack mengabarkan jika penerbangannya mengalami kendala, sehingga harus delay dan menunggu di bandara.


Suara Zack terdengar sangat lelah, mungkin karena perjalanannya yang memakan waktu lebih lama karena pengaruh cuaca.


☎ " Iya bang, tidak apa-apa.. Alhamdulillah abang sudah sampai dengan selamat dan abang masih berkenan untuk memberi kabar pada Imah."


Imah bersyukur Zack bisa sampai dengan selamat dan masih sempat memberi kabar padanya.


Imah tidak berharap bisa mendengar suara Zack dan mendengar kabarnya lagi.

__ADS_1


Imah mengira bahwa Zack hanya berpura-pura baik pada Imah, hal ini karena ia merasa jika selanjutnya suara Zack terdengar agak dingin dan acuh tak acuh.


__ADS_2