
Pukul lima belas sore, seperti janjinya pada Imah, Zack mengantarkan Imah kembali kerumahnya.
Ibu Imah sedang menonton televisi, sedangkan ayah Imah belum kembali dari kantor.
" Assalamu'alaikum. " Salam Imah dan Zack saat mereka memasuki rumah.
Ibu yang tengah menonton televisi melihat kearah mereka dan menjawab salam mereka.
" Waalaikumsalam. " jawab ibu.
Zack menghampiri ibu dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan ibu.
" Apa kabar, bu? " tanya Zack sopan sambil bersalaman dengan ibu.
" Kabar ibu baik! Jawab ibu pada Zack.
" Zack, silakan duduk. " kata ibu yang mempersilakan Zack untuk duduk.
" Terima kasih, bu. " kata Zack sambil duduk di kursi tak jauh dari ibu.
" Ada berita apa bu? " tanya Zack yang melihat kearah siaran televisi.
" Hanya berita selebriti. " jawab ibu yang tengah menonton acara infotainment.
Zack hanya mengangguk mendengar jawaban ibu.
Bi Yati membawa minuman dan cemilan buat Zack setelah diberitahu oleh Imah jika ada Zack tengah mengobrol dengan ibunya.
" Silakan mas! " kata bi Yati yang menaruh gelas minuman didepan Zack.
" Iya bu, terima kasih! " kata Zack sambil tersenyum.
" Diminum tehnya, Zack! kata ibu yang meminta Zack untuk meminum teh yang dibuatkan oleh bi Yati.
" Iya, bu? " kata Zack sambil mengambil gelas berisi teh yang ada didepannya.
Zack berbincang-bincang dengan ibu diruang tengah sambil menonton televisi.
Jam enam belas sore, ayah Imah kembali dari kantor.
Melihat Zack sedang berada di rumahnya, ayah Imah berjabat tangan dengan Zack lalu menepuk pundak Zack layaknya seorang ayah pada anaknya.
Ayah Imah berbincang sebentar dengan Zack, sekedar menanyakan kabar dan kegiatan Zack.
Setelah beberapa saat mereka mengobrol, ayah mengajak ibu untuk naik ke lantai atas.
Ayah berpamitan pada Zack dan mengatakan akan berganti pakaian dan beristirahat sejenak.
Zack hanya mengangguk sambil tersenyum pada ayah.
Ayah memberi kesempatan pada Zack dan Imah untuk mengobrol berdua.
Ayah berfikir bahwa Imah dan Zack memiliki banyak beban dan pikiran.
__ADS_1
Jadi mereka tak perlu dibebani dengan harus bersikap sopan dihadapan kedua orang tua Imah.
Imah dan Zack sangat bersyukur, mereka diberi kesempatan untuk beberapa saat menghabiskan waktu berdua.
Awalnya Imah berpikir, bagaimana ia bisa menghabiskan waktu buat bersantai dengan Zack tanpa harus merasa malu dan sungkan pada kedua orang tuanya.
Bersyukur, ayah memahami apa yang ada di hati dan pikiran mereka sehingga ayah memberi waktu bagi mereka untuk mengobrol berdua.
" Abang akan selalu memberi kabar pada Imah. Abang akan menyurati Imah, jika perlu setiap hari. " kata Zack yang berjanji akan selalu memberi kabar pada Imah.
Terlihat sorot kesedihan yang terpancar dari mata Zack.
Zack tidak menjelaskan apapun pada Imah, dan Imah merasa takut untuk bertanya pada Zack.
Imah belum tahu masalah perasaan Zack yang sebenarnya terhadap dirinya.
Apakah mereka hanya sekedar bersahabat atau lebih dari itu.
Imah tidak bisa menyimpulkan mengenai hubungan mereka berdua.
Imah sangat tahu dan sangat menyadari perasaannya pada Zack.
Saat ini, Imah menyadari jika selama ini ia telah mencintai Zack, tapi Imah tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Zack.
Perasaan cinta Imah pada Zack tumbuh sejak mereka sering berkirim surat.
Dan pertemuan Imah dengan Zack dimalam tahun baru, merupakan konfirmasi perasaan Imah terhadap Zack.
Tapi sejak saat itu, Imah selalu berusaha melawan perasaannya terhadap Zack.
Imah tidak tahu apakah Zack membalas perasaannya.
Akan sangat tidak pantas jika Imah menanyakan hal itu pada Zack.
Walaupun Imah gadis yang pemberani, tapi untuk menanyakan perasaan Zack secara langsung, Imah tidak memiliki keberanian.
Imah hanya mengikuti apa yang dirasakannya saat ini.
Entah untuk alasan apa ia ingin menghabiskan waktu dan melewati jam-jam terakhir bersama Zack yang akan melaksanakan tugasnya.
Imah hanya mengingatkan dirinya bahwa Zack tidak memiliki orang lain ataupun saudara yang biasa diajak menghabiskan waktu bersama.
Zack hanya memiliki saudara sepupu yang sudah bertahun-tahun tidak dijumpainya.
Zack tidak memiliki keluarga yang lain ataupun seorang kekasih.
Satu-satunya orang yang nampak penting bagi Zack hanya Denis, sahabatnya.
Selain Denis, Zack tidak memiliki siapapun, Zack hanya sebatang kara.
Dan Zack ingin menghabiskan waktu dan berkumpul bersama imah.
Ketika mereka duduk berdekatan di sofa dan mengobrol dengan santai, terlintas dalam pikiran Imah bahwa Zack tidak perlu ikut dalam misi ini.
__ADS_1
Imah hanya ingin Zack menjadi seorang pengajar, dan tidak ingin jadi yang lain, apalagi melakukan misi berbahaya.
Imah menceritakan bahwa kedua orang tuanya berencana untuk mengajak Imah liburan dan merayakan ulang tahun Imah.
Imah memang belum menceritakan tentang pesta ulang tahun yang akan dirayakan oleh orang tuanya.
Imah tidak ingin berharap jika Zack bisa menghadiri pesta itu karena keadaan Zack yang saat ini memiliki tugas penting.
Imah merasa jika pesta ulang tahunnya tidak begitu penting saat ini karena dipastikan Zack tidak akan menghadirinya.
" Apakah pesta itu tidak penting lagi bagi mu? " tanya Zack pada Imah.
Imah hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
" Apakah pestanya akan seperti tahun lalu, saat kita bertemu di pesta amal? "
tanya Zack lagi yang menggoda Imah.
Zack merasa jika itu sebuah pembicaraan yang bagus untuk mengalihkan perhatian Imah.
Imah terlihat begitu sedih dengan situasi saat ini, dan hal ini memberi Zack merasa terharu.
Zack merasa beruntung bisa bertemu dengan Imah di pesta amal itu.
Saat itu, Zack hampir saja tidak pergi ke acara itu.
Tapi karena mereka memang ditakdirkan untuk bertemu, Zack tetap pergi ke acara itu bersama Denis.
Imah tersenyum ketika Zack bertanya tentang pesta ulang tahunnya.
" Tidak semewah pesta amal itu. " kata Imah sambil tertawa.
" Hanya sebuah pesta sederhana dan mengundang teman dan keluarga aja."
kata Imah lagi.
Memikirkan Zack yang akan berangkat ke daerah konflik membuat Imah tidak memikirkan masalah pesta ulang tahunnya.
Imah berfikir jika ia ingin bergabung dengan organisasi palang merah, tapi Imah belum membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya.
Imah dan Zack hanya duduk dan mengobrol selama beberapa jam.
Melihat mereka yang tengah asik mengobrol, ibu Imah berinisiatif membawakan mereka dua piring makanan dan minuman.
Ibu tidak meminta mereka berdua untuk ikut bersamanya ke ruang makan.
Ayah berpikir jika mereka memang perlu waktu untuk berbicara berdua, walaupun ibu tidak sependapat dengan ayah tapi ibu mengikuti apa yang dikatakan oleh ayah.
Ibu ingin membuat semuanya mudah bagi Imah, karena ibu tidak ingin melihat kesedihan di wajah Imah saat Imah harus berpisah dengan Zack.
Terkadang ibu memang bingung dengan pikirannya sendiri.
Ibu ingin Zack menjauh dari Imah, tapi ibu tidak ingin melihat kesedihan di wajah Imah.
__ADS_1
Ibu akan mengikuti apa yang terbaik buat Imah tanpa harus terlalu mengekangnya lagi.