CINTA TIADA AKHIR

CINTA TIADA AKHIR
Bab 85 Imah Dirawat


__ADS_3

Dokter Sisil sudah membantu Imah yang mengalami pendadaran dan bayi kandungan Imah pun sudah keluar.


" Bi, bisa pinjam telepon sebentar? saya akan menelepon ambulance untuk membawa Imah ke rumah sakit.


Sebaiknya bibi juga memberi kabar tentang keadaan Imah pada kedua orang tuanya. "


Dokter Sisil berkata pada bi Yati yang ada didekatnya untuk meminjam telepon karena ia akan menelepon ambulance untuk membawa Imah ke rumah sakit.


Dokter Sisil merasa khawatir dengan keadaan Imah yang semakin lemah dan pucat.


" Silakan bu dokter jika ingin menggunakan telepon. " kata bi Yati pada dokter Sisil.


Dokter Sisil segera keluar dari kamar Imah untuk menuju meja telepon.


Dokter Sisil menelepon ambulance di rumah sakit tempat ia bekerja, lalu memberikan alamat rumah Imah agar ambulance itu bisa segera menjemput dan membawa Imah ke rumah sakit.


" Bagaimana keadaannya, non? " tanya bi Sri saat menemani Imah di kamar.


" Imah sudah lebih baik bi, tapi perut Imah masih terasa nyeri. " jawab Imah lirih.


" Sabar ya non, bu dokter sedang menelepon ambulance untuk membawa nona ke rumah sakit. " kata bi Sri dengan wajah yang sangat khawatir karena melihat wajah Imah yang sangat pucat, bahkan bibir Imah terlihat membiru.


Bi Sri mengusap kepala Imah yang berkeringat dengan handuk kecil yang ada di tangannya dengan penuh rasa sayang.


" Ya Allah, tolong selamatkan non Imah." do'a bi Sri dalam hati.


Sesungguhnya bi Sri sangat khawatir dengan keadaan Imah saat ini, tapi ia pun tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan keselamatan Imah dalam hati.


Sementara itu, bi Yati membawa janin Imah yang masih sangat kecil, lalu membersihkan dan membungkusnya dengan kain putih, lalu bi Yati menguburkan janin tersebut dihalaman belakang rumah dan memberi tanda dengan tumpukan batu bata.


Karena tidak ada lelaki di rumah itu membuat bi Yati memakamkan janin itu sendirian.


Setelah selesai memakamkan janin dan membersihkan tangannya, bi Yati menghampiri dokter Sisil yang masih berada dibawah, lalu bi Yati membuatkan teh untuk dokter Sisil.


" Silakan diminum dulu tehnya, bu dokter. " kata bi Yati sambil menyuguhkan teh pada bu dokter yang sedang duduk didekat meja telepon.


" Terima kasih, bi. " kata dokter Sisil sambil mengambil gelas dan menyeruput teh manis hangat itu.


" Sejak kapan Imah mengalami pendarahan, bi? " tanya dokter Sisil.


" Bibi juga tidak tahu bu dokter, saat setelah subuh bibi ke kamar non Imah, non Imah sudah berada di kamar mandi dalam keadaan berlutut dan disekitarnya sudah ada darah yang tergenang. " jawab bi Yati menjelaskan keadaan Imah saat pertama kali bi Yati melihatnya di kamar mandi.


" Apa orang tua Imah tidak tahu jika saat ini Imah sedang hamil? " tanya dokter Sisil lagi.

__ADS_1


" Sepertinya tidak ada yang tahu bu dokter, saya sendiri sangat terkejut dan shock melihat keadaan non Imah yang mengalami pendarahan. " jawab bi Yati pada dokter Sisil.


" Apa yang dialami Imah sehingga membuat ia pendarahan, apa ia terjatuh di kamar mandi? " lirih dokter Sisil seolah bertanya pada dirinya sendiri.


" Kemarin nona Imah mengalami kecelakaan, ia jatuh karena ada yang menyenggol motor yang dikendarainya.


Tangan nona Imah memar dan sedikit. luka, serta ia merasa sakit pada bagian pinggulnya. Nona Imah menolak diajak berobat ke dokter oleh teman-temannya. "


Bi Yati menjelaskan apa yang terjadi pada Imah sore kemarin saat ia terjatuh dari motor.


" Bisa jadi itu yang menyebabkan Imah mengalami pendarahan. Ia terjatuh dan terbentur sehingga mengalami guncangan kuat pada bagian perutnya, apalagi Imah mengeluh sakit pada bagian pinggulnya. "


Kata bu dokter yang menyimpulkan kejadian yang menyebabkan Imah pendarahan dan harus kehilangan bayinya.


" Maaf bi, apa Imah masih kuliah? " tanya dokter Sisil.


" Iya bu dokter, nona Imah masih kuliah, tetapi nona Imah sudah menikah dengan seorang pemuda yang saat ini tengah bertugas ke luar negeri. "


Kata bi Yati menjawab pertanyaan dokter Sisil, lalu menjelaskan status Imah yang sudah menikah agar dokter Sisil tidak salah paham dengan keadaan Imah.


" Jadi Imah sudah menikah? tapi mengapa ia menyembunyikan kehamilannya pada semua orang? " tanya dokter Sisil dalam hati.


Dokter Sisil tidak mau banyak bertanya lagi pada bi Yati karena takut salah bicara dan tidak ingin ikut campur urusan keluarga Imah.


Jadi dokter Sisil sedikit banyak mengenal Imah dan kedua saudara serta kedua orang tuanya.


Mereka keluarga yang dipandang sangat baik dan ramah pada setiap orang walaupun mereka berasal dari keluarga berada.


Ketika tengah berbincang dengan bi Yati, mobil ambulance yang tadi ditelepon oleh dokter Sisil sudah sampai.


Mereka bergegas menuju kamar Imah dan segera menurunkan Imah dari kamarnya lalu dinaikkan ke dalam mobil ambulance dan dibawa ke rumah sakit.


Bi Yati ikut naik di mobil ambulance dengan membawa pakaian ganti fan keperluan lainnya yang nanti akan dibutuhkan selama di rumah sakit.


Bi Sri sudah menyiapkan semuanya saat ia menemani Imah di dalam kamarnya.


" Bi Sri, saya ikut non Imah ke rumah sakit, bibi tolong jaga rumah.


Jika bapak dan ibu sudah sampai, nanti tolong beritahu alamat rumah sakit tempat nona Imah dirawat.


Saya tadi sudah berusaha menghubungi kantor yang ada diluar kota, tapi kata mereka bapak dan ibu sedang dalam perjalanan pulang. "


Sebelum berangkat ke rumah sakit, bi Yati berpesan pada bi Sri untuk menjaga rumah dan memberitahukan keadaan Imah jika kedua orang tua Imah datang dari luar kota.

__ADS_1


" Baik bi Yati, semua pesan bibi akan saya ingat dan saya kerjakan. " jawab bi Sri pada bi Yati.


Setelah itu, ambulance bergerak meninggalkan kediaman Imah untuk membawa Imah menuju rumah sakit.


Bi Yati yang duduk disisi Imah didalam ambulance selalu memperhatikan keadaan Imah yang sesekali mengeluhkan rasa sakit pada perutnya.


Sesekali Imah menangis, ia tidak menyangka jika saat ini ia harus banyak kehilangan darah.


Bukan hanya kehilangan darah, tapi Imah juga harus kehilangan bayi yang berada dalam kandungannya.


Imah merasa tertekan dan ketakutan dengan yang dialaminya saat ini.


Imah takut jika apa yang terjadi membuat kedua orang tuanya marah dan kecewa karena ia tidak berterus terang tentang kehamilannya.


Imah takut jika orang tuanya akan menyalahkan dirinya, terutama ibunya yang mungkin akan marah kepadanya.


Imah menyesal mengapa ia tidak bisa menjaga kehamilannya.


Janin dalam rahim yang ia sayangi dan ia jaga ternyata harus keluar begitu saja.


Imah sangat berharap bisa mempertahankan dan melahirkan bayi yang dikandungnya sehingga ia bisa melahirkan dan merawatnya.


Dari anak yang akan dilahirkannya Imah berharap bisa membuat Zack berubah pikiran untuk selalu berada bersama-sama dengannya dan anak mereka.


Zack tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk ikut misi perdamaian atau apapun itu yang membahayakan dirinya dan membuat ia jauh dari keluarganya.


Tetapi sebelum keinginan Imah tercapai untuk melahirkan bayi itu, bayi tersebut sudah lebih dulu meninggalkannya, meninggalkan keinginan untuk Imah bisa merawat dan merasakan menjadi seorang ibu.


Mengingat hal itu, air mata Imah kembali mengalir di pipinya.


Bi Yati yang melihat hal itu, segera menghapus air mata Imah dengan lembut.


" Sabar ya non, semua sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa.


Non harus ikhlas kehilangan janin yang sedang non kandung, suatu saat nona pasti akan kembali mendapatkan bayi lagi. "


Bi Yati berusaha untuk menghibur Imah yang terlihat begitu sedih dan terpukul karena kehilangan bayinya.


Tiba di rumah sakit, Imah langsung dibawa ke UGD untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih baik lagi.


Dokter Sisil memberitahukan keadaan Imah pada dokter jaga yang ada di sana sehingga Imah bisa ditangani dengan lebih baik lagi.


Bi Yati menunggu Imah didepan pintu UGD sambil membawa perlengkapan yang ia bawa dari rumah.

__ADS_1


Bi Yati berharap Imah akan baik-baik saja dan kedua orang tuanya akan segera datang menyusul mereka ke rumah sakit.


__ADS_2