CINTA TIADA AKHIR

CINTA TIADA AKHIR
Bab 73 Zack Seorang Pria Jenius.


__ADS_3

Dahulu Zack merasa sulit sekali untuk memikirkan masa depannya.


waktu itu Zack hanya berpikir jika ia bisa menghabiskan waktunya dengan berkeliling dengan pesawat yang ia bawa, dari satu kota ke kota lainnya.


Zack merasa tidak memerlukan rumah untuk ia tinggal karena dimanapun ia beristirahat dari tugasnya, ia memiliki fasilitas untuk tempat tinggal.


Jika sesekali ia libur, maka ia akan berkunjung ke rumah Denis, sahabatnya yang selalu mendukung setiap langkahnya.


Sahabat yang sama dengannya, menyukai dan memahami tentang pesawat. Mungkin karena mereka memiliki pemikiran yang sama tentang pesawat, maka mereka bisa bersahabat dan menjadi seperti saudara.


" Dulu, sangat sulit sekali memikirkan tentang masa depan jika dalam sehari saya harus dua atau tiga kali mempertaruhkan nyawa dengan membawa pesawat. Saya harus bisa mengendalikan pesawat dengan baik agar bisa mengantarkan para penumpang dengan selamat hingga sampai ke tujuan. "


Kata Zack pada ayah Imah yang masih setia mendengarkan tentang kehidupan Zack sebelumnya.


" Saya lebih memikirkan bagaimana saya harus berkonsentrasi dalam mengendalikan pesawat yang terkadang harus mengalami kendala saat berada di udara. Saya juga harus memikirkan keselamatan orang-orang yang saya bawa. " kata Zack melanjutkan ceritanya.


Kala Zack sedang mengendalikan pesawat, ia berkonsentrasi penuh karena besarnya tanggung jawab yang harus ia emban.


Ia tidak memikirkan hal lain termasuk memikirkan mengenai Imah.


Saat ini Zack ingin menyelesaikan tugasnya agar ia bisa segera berkumpul dengan Imah.


" Saya sangat mencintai Imah, pak.! " kata Zack pada ayah Imah.


" Apakah menurut bapak, Imah akan hidup bahagia bersama laki-laki seperti saya? Apakah ada yang bisa hidup bersama denganku? " tanya Zack pada ayah Imah saat ayah Imah menyodorkan segelas kopi agar Zack meminumnya.


" Bagiku terbang adalah nomor satu, dan orang yang akan mendampingi aku harus tahu akan hal itu dan dia harus bisa menerima segala sesuatu yang ada pada diriku. "


Zack mengatakan tentang apa yang menjadi keinginan pada orang ingin menjadi pendamping hidupnya.


Zack seorang pria yang jenius, ia mempunyai gagasan-gagasan yang brilian tentang pesawat.


Zack begitu hapal setiap bagian kecil dari mesin-mesin secara mendalam.


Zack bisa terbang dalam kondisi apapun, dan Zack sudah membuktikan hal tersebut.

__ADS_1


Zack lebih memahami tentang pesawat ketimbang dia memahami tentang wanita.


Ayah Imah baru mengerti mengenai siapa dan bagaimana Zack saat ia mendengarkan dan menyimak setiap apa yang Zack sampaikan.


Berbeda dengan ibu Imah yang bisa menilai Zack sejak awal ia melihat Zack.


" Aku kira Imah akan merasa bahagia jika kau bisa mencintainya dengan tulus. Rasanya Imah sama seperti wanita pada umumnya, ia membutuhkan rasa nyaman, kasih sayang, cinta dan kesetiaan.


Juga hal-hal yang mendasar dalam setiap hubungan, seperti rumah tangga yang harmonis dan saling menghargai serta memiliki anak-anak yang shaleh dan shalehah. "


Ayah Imah menjawab pertanyaan yang tadi Zack tanyakan sesuai dengan pendapat dan pengalamannya dalam menjalani kehidupan berumah tangga.


" Aku yakin kau bisa memberikan kehidupan yang layak bagi anak dan istrimu kelak, karena kau lelaki yang bertanggung jawab dan juga memiliki penghasilan yang besar dari pekerjaan mu, apalagi kau pandai merancang pesawat dan sangat paham dengan mesin pesawat.


Masih sangat jarang orang yang memiliki keahlian seperti dirimu, sehingga jasamu pasti dibayar sangat mahal. "


" Masalah harta biasanya tidak terlalu jadi tolak ukur bagi seorang istri merasa bahagia. Walaupun Imah sudah terbiasa hidup dalam kemewahan tapi dia bukan sosok perempuan yang suka berfoya-foya, Imah sudah terbiasa hidup sederhana, jadi rasanya tidak jadi masalah jika kau merasa tidak memiliki financial yang berlebih karena Imah tidak akan mempermasalahkan semua itu."


Ayah Imah mengatakan pada Zack jika Imah tidak akan mempermasalahkan harta walaupun ia berasal dari keluarga yang berada.


" Rasanya hal seperti itu tidak terlalu rumit. " kata Zack sambil menyeruput kopi yang disodorkan oleh ayah Imah.


" Jangan salah, terkadang segala sesuatu akan lebih rumit dari yang kau kira. Wanita bisa merasa terganggu dengan hal yang terlihat sepele.


Kau tidak bisa meremehkan wanita seperti kau melemparkan koper kedalam bagasi mobil.


Jika kau membuat seorang wanita tersinggung atau kau tidak mengikuti keinginan dan kebutuhannya, secara emosional ataupun yang lainnya, maka keadaan akan menjadi kacau. "


Sebuah nasehat bijak yang berusaha ayah Imah sampaikan.


Ayah Imah tidak tahu apa Zack akan mendengarkan apa yang ia sampaikan.


" Bapak benar, saya belum pernah memikirkan hal itu, karena selama ini aku merasa tidak perlu memikirkan hal itu. "


Zack meregangkan sedikit badannya dan menunduk.

__ADS_1


Zack menatap cangkir kopi yang ada dihadapannya, ia tidak memandang ayah Imah.


" Sepertinya mulai sekarang saya harus memikirkan tentang bagaimana wanita sebenarnya, memikirkan bagaimana sikap dan perasaannya. Saya harus belajar peka akan segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita. "


Kata Zack sambil menarik nafas secara perlahan.


Rupanya masih banyak yang harus ia pelajari dan ia pikirkan tentang wanita.


" Imah dan saya hampir belum saling mengenal dengan baik.


Nanti setelah saya menyelesaikan tugas dan semua dalam keadaan tenang saya dan Imah bisa saling memahami satu sama lain dengan baik. " kata Zack pada ayah Imah.


" Saya rasa, antara saya dan Imah belum ada yang mengambil keputusan besar untuk hubungan kami dalam waktu dekat ini. "


Zack berusaha menyampaikan apa yang menjadi pemikirannya saat ini.


Mungkin apa yang dikatakan oleh Zack benar adanya. Tapi ada rasa kecewa di hati ayah Imah karena berharap Zack segera melamar Imah.


Zack tidak mengatakan jika ia tidak akan melamar Imah, Zack hanya mengatakan jika saat ini ia belum siap.


Ayah berpikir jika Zack bersedia untuk menikah dalam waktu dekat, Imah pasti akan merasa gembira.


Diusia Imah yang baru menginjak dua puluh tahun, Imah lebih siap untuk menikah dibandingkan Zack yang berusia hampir tiga puluh tahun.


Hidup Zack hingga saat ini sangat berbeda. Zack selalu melanglang buana, melayang di udara, singgah dari landasan ke landasan lainnya dan selalu berkonsentrasi untuk mengendalikan pesawat.


Zack punya impian yang tinggi jika mengenai penerbangan, tapi Zack tidak pernah berpikir tentang kehidupannya sehari-hari.


Ayah Imah berpikir jika setelah menyelesaikan tugasnya, Zack harus mulai memikirkan kehidupannya, tidak hanya berpikir mengenai penebangan.


Dalam beberapa hal, Zack merupakan seorang pemimpi. Yang menjadi pertanyaan ayah Imah, apakah Imah ada dalam impian-impian Zack selama ini?


Sebagai seorang ayah, tentu saja ayah Imah ingin yang terbaik untuk anaknya.


Ayah ingin Imah menemukan pria yang tepat yang akan mendampingi Imah sepanjang hidupnya.

__ADS_1


Sebenarnya ayah tidak pernah meragukan cinta Zack pada Imah, tapi ayah pikir jika Zack terlalu mengutamakan kesenangan mengenai penerbangan.


Apakah Zack nanti bisa mengerti dan membahagiakan Imah jika mereka sudah menikah? Hal itu yang menjadi ganjalan di hati ayah Imah mengingat Zack saat ini belum siap jika harus menikahi Imah dan hanya bersedia untuk bertunangan terlebih dahulu.


__ADS_2