
Imah sangat tidak menyangka jika semua ini akan terjadi.
Imah tidak tahu apa yang harus dilakukannya, pada siapa ia harus meminta bantuan?
Saat ini Imah tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Ia tengah berada seorang diri didalam kamar mandi dan darah yang terus menetes dikedua belah kakinya.
Imah tidak bisa memikirkan apa yang terjadi pada dirinya.
Rasa sakit yang begitu kuat telah membangunkan dirinya dari tidur lelapnya.
Saat ini rasa sakit itu terasa lebih menyakitkan lagi.
Kontraksi pada perutnya membuat Imah merasa kesulitan untuk bernafas.
Imah berlutut lantai menahan rasa sakit yang luar biasa ia rasakan, nafas Imah mulai terengah-engah.
" Ya Allah, apa yang terjadi? Apa yang harus aku lakukan? " kata Imah dalam hati sambil menahan rasa sakit.
Darah sudah membasahi lantai tempat ia berlutut saat ini.
Bi Yati yang merasakan sesuatu yang tidak enak dalam hatinya, pergi ke kamar Imah untuk melihat keadaan Imah karena tadi malam Imah melewatkan makan malamnya.
Ada rasa khawatir dalam hati bi Yati pada putri majikannya itu.
Bi Yati masuk ke dalam kamar Imah, lalu
dan melihat jika tempat tidur Imah sudah kosong.
Keadaan kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur membuat bi Yati membuat bi Yati bisa melihat jika Imah tidak berada di atas tempat tidurnya.
" Kemana non Imah? mengapa ia tidak ada di atas tempat tidurnya? Apa mungkin nona Imah ada dikamar mandi? " kata bi Yati yang berbicara pada dirinya sendiri.
Bi Yati menghampiri kamar mandi, namun ia tidak mendengar ada aktivitas didalam kamar mandi.
" Tidak ada suara apapun didalam kamar mandi. " kata bi Yati bermonolog.
Karena merasa penasaran, akhirnya bi Yati membuka pintu kamar mandi secara perlahan.
Betapa terkejutnya bi Yati saat melihat Imah yang tengah berlutut didalam kamar mandi dengan darah yang menggenang disekitarnya.
" Ya Allah, nona Imah, apa yang terjadi, non? " kata bi Yati yang merasa panik saat melihat keadaan Imah.
Bi Yati berpikir jika Imah seperti tengah melakukan tindakan b*nuh diri karena melihat banyak darah disekitar Imah duduk.
Bi Yati segera berisi lalu berteriak dari atas tangga untuk memanggil bi Sri.
" Bi Sri...! Bi Sri...! " teriak bi Yati dengan panik.
__ADS_1
Bi Sri yang tengah berada di dapur langsung berlari menghampiri bi Yati yang berada di ujung tangga.
" Ada apa bi Yati? mengapa berteriak-teriak seperti itu? Mengapa bibi terlihat panik? " tanya bi Sri yang merasa heran dengan. keadaan bi Yati.
Cepat kau telepon dokter untuk datang kemari, cepat lah! " kata bi Yati yang tidak menjawab pertanyaan bi Sri tetapi ia meminta bi Sri untuk menelepon dokter.
Bi Sri yang tidak tahu apa yang sudah terjadi segera menelepon dokter sesuai dengan permintaan bi Yati.
Bi Sri tahu pasti sesuatu sedang terjadi sehingga bi Yati terlihat panik dan memintanya menelepon seorang dokter.
Tanpa menunggu, bi Sri langsung turun dan menuju meja telepon.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya telepon di Sri diangkat oleh seseorang diseberang sana.
☎ " Hallo dokter, bisa datang ke kediaman bapak Surya Atmaja saat ini juga. Ada sesuatu yang terjadi dan dokter harus segera datang kesini. " kata bi Sri yang ikutan panik dan tanpa salam langsung meminta dokter untuk datang ke rumah pak Surya, majikannya.
☎ " .... "
☎ " Baik dokter, saya tunggu secepatnya. " kata bi Sri lalu langsung. menutup telepon.
Setelah menelepon dokter, bi Sri langsung menaiki tangga untuk melihat apa yang terjadi dikamar nona nya sehingga membuat bi Yati terlihat begitu panik.
Setelah meminta bi Sri untuk menelepon dokter, bi Yati kembali ke kamar mandi untuk melihat keadaan Imah.
" Nona, apa yang terjadi? " kata bi Yati sambil melihat keadaan Imah
Bi Yati tidak melihat ada bekas luka ditangan atau di bagian tubuh Imah lainnya selain bekas luka karena terjatuh dari motor kemarin.
Bi Yati langsung tersadar jika darah itu berasal dari bagian bawah tubuh Imah karena ditempat Imah berlutut terlihat banyak darah.
" Non, apa Non sedang hamil? " tanya bi Yati pada Imah setelah menyadari apa yang terjadi pada nona nya itu.
Bi Yati sangat takut jika akan terjadi hal-hal yang buruk pada Imah karena bi Yati yakin jika saat ini Imah tengah mengalami pendarahan.
" Iya bi, Imah sedang hamil. " kata Imah lirih,. tidak bisa menyembunyikan keadaannya saat ini.
" Imah sedang hamil tiga bulan. " kata Imah lagi.
Tak lama bi Sri datang dan masuk ke kamar mandi, ingin tahu apa yang terjadi pada nona majikannya.
Bi Sri berdiri diambang pintu dan tidak bisa berkata apa-apa saat melihat keadaan Imah.
" Bi Sri, jangan berdiri di sana, cepat bantu saya untuk membersihkan nona Imah dan membawanya ke kamar. " kata bi Yati pada bi Sri yang terlihat mematung didepan pintu kamar mandi.
" E.. ee.. i.. iyyaa.. bi! " kata bi Sri yang. merasa gugup dan takut setelah melihat keadaan Imah.
Bi Yati dan bi Sri membantu membersihkan tubuh Imah, lalu mereka berdua membawa tubuh Imah ke atas tempat tidur.
Bi Yati dan bi Sri dengan cekatan membantu membersihkan darah yang masih terus mengalir di sela-sela kaki Imah.
__ADS_1
" Bagaimana, apa kau sudah menelepon dokter? " tanya bi Yati pada bi Sri.
" Sudah bi, mungkin sebentar lagi dokternya datang. " jawab bi Sri.
Darah terus keluar dari jalan lahir dan Imah menggigit bantal yang ada didekatnya untuk menahan rasa sakit itu.
" Bi, sakit sekali. " kata Imah sambil menggigit bantal.
" Iya Non, sabar, sebentar lagi dokter akan sampai. " jawab bi Yati.
Tak lama terdengar suara bel pintu dan bi Sri segera turun untuk membukakan pintu, ia yakin jika dokter yang di teleponnya tadi yang datang.
" Assalamu'alaikum, bi. " salam dokter Sisil yang berdiri didepan pintu.
" Waalaikumsalam, dokter. Mari dokter kita langsung ke kamar nona Imah. "
Bi Sri menjawab salam lalu meminta dokter Sisil untuk langsung ke kamar Imah.
Tanpa banyak bicara, dokter Sisil mengikuti bi Sri menuju kamar Imah yang berada dilantai dua.
Saat memasuki kamar Imah, dokter Sisil sangat terkejut melihat keadaan Imah yang banyak mengeluarkan darah.
Dokter Sisil segera menyiapkan peralatan dokternya untuk memeriksa keadaan Imah.
" Apa yang terjadi, bi? " tanya dokter Sisil pada bi Yati.
" Maaf dokter, sepertinya nona Imah pendarahan. " jawab bi Yati.
Dokter Sisil tidak banyak bertanya, ia segera melakukan pertolongan pertama pada Imah.
Tidak lama Imah merasa perutnya sangat sakit, lalu segumpal darah keluar dari rahimnya.
" Astagfirullah.. Innalillahi wainnailaihi rojiun. " kata dokter Sisil juga bi Yati dan bi Sri saat melihat gumpalan darah itu.
Sepertinya Imah sudah kehilangan calon bayinya.
Bi Yati dan bi Sri sangat bersedih melihat kenyataan itu.
Nona mereka telah kehilangan calon anaknya tanpa ada satu orang pun keluarga yang mengetahuinya.
Setelah gumpalan darah itu keluar, rasa sakit pada perut Imah sudah mulai berkurang dan darah pun tidak banyak keluar seperti tadi.
Dengan cekatan dokter Sisil membantu proses bayi Imah yang harus gugur dalam keadaan masih sangat kecil.
Walaupun dokter Sisil seorang dokter umum, tapi ia pernah belajar mengenai proses kehamilan dan persalinan sehingga dia bisa membantu Imah saat ini.
Bi Yati menyimpan gumpalan darah itu dalam sebuah baskom yang dialasi dengan selendang berwarna putih.
Imah hanya bisa menangis saat melihat calon bayinya sudah terlebih dahulu meninggalkannya tanpa sempat ia melahirkan dan merawat bayi tersebut.
__ADS_1