CINTA TIADA AKHIR

CINTA TIADA AKHIR
Bab. Kesedihan Imah


__ADS_3

CTA BAB 86.


Imah masih berbaring di ruang UGD rumah sakit, ia belum dipindahkan ke kamar perawatan karena keadaannya masih sangat memprihatinkan.


Kehilangan banyak darah membuat Imah begitu lemah. Bibirnya yang sudah terlihat membiru membuat bi Yati merasa sangat khawatir.


Ia takut terjadi sesuatu pada Imah karena melihat keadaannya yang sangat mencemaskan.


Tetapi bi Yati sangat bersyukur, dengan kondisi yang lemah, Imah masih tetap sadar sampai ia dibawa masuk oleh dokter ke rumah UGD.


" Bi Yati tenang saja, Insya Allah Imah akan baik-baik saja. Saya melihat Imah sangat kuat walaupun ia banyak kehilangan darah. " kata dokter Sisil menenangkan bi Yati yang sedang. menunggu Imah di depan ruang UGD.


" Iya, bu dokter. Saya sangat bersyukur melihat keadaan non Imah yang kuat.


Saya sanga khawatir saat melihat ia begitu banyak. mengeluarkan darah dan bibirnya sudah terlihat membiru, tapi non Imah masih bisa mempertahankan kesadarannya. " kata bi Yati menanggapi kata-kata dokter Sisil.


" Benar bi, kita do'akan saja semoga Imah bisa segerakan dipindahkan ke kamar perawatan. " kata dokter Sisil lagi.


" Iya, dokter. " kata bi Yati singkat.


Dokter Sisil menemani bi Yati menunggu di depan ruang UGD karena merasa kasihan melihat keadaan bi Yati yang masih terlihat cemas.


Tidak lama, seorang dokter keluar dari ruang UGD.


Dokter Sisil dan bi Yati menghampiri dokter tersebut.


" Bagaimana dengan keadaan Imah, dokter? " tanya dokter Sisil pada rekan kerjanya yang merupakan seorang dokter kandungan.


" Keadaan pasien baik-baik saja, bagian rahimnya sudah bersih dan tidak ada janin yang tersisa. Beruntung pasien bisa bertahan setelah mengalami pendarahan yang begitu hebat. Saat ini pasien tengah diobservasi, jika dalam waktu satu atau dua jam kondisi pasien stabil, maka bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. "


Dokter kandungan tersebut menjelaskan keadaan Imah pada dokter Sisil dan bi Yati yang sejak tadi menunggu berita keadaan Imah yang tengah ditangani di ruang UGD.


" Terima kasih dokter, karena sudah membantu nona Imah. " kata bi Yati pada dokter kandungan tersebut.


" Sama-sama bu, sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu setiap pasien yang datang ke rumah sakit ini.


Kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang harus saya tangani. " kata dokter tersebut lalu meninggalkan dokter Sisil dan bi Yati yang masih menunggu di dengan ruang UGD.


Setelah dokter itu pergi, dokter Sisil dan bi Yati kembali duduk di kursi tunggu yang ada di depan UGD.

__ADS_1


" Bi, apa kedua orang tua Imah sudah diberitahu? " tanya dokter Sisil pada bi Yati setelah mereka terdiam beberapa saat.


" Bibi tadi sudah berpesan pada bi Sri untuk menelepon ibu dan bapak dan mengabarkan keadaan nona Imah.


Bibi juga sudah berpesan agar mereka segera menyusul ke rumah sakit jika kedua orang tua nona Imah sudah tiba di rumah. " jawab bi Yati.


" Semoga kedua orang tua Imah segera tiba untuk melihat keadaan Imah. " kata dokter Sisil lagi.


Bi Yati tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya saja.


Tidak berselang lama, dokter Sisil berpamitan pada bi Yati karena ia harus menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter di rumah sakit tersebut.


" Bi Yati, saya harus praktek pagi ini. Tidak apakan jika bibi saya tinggal? nanti jika sudah selesai praktek saya akan melihat keadaan Imah kembali.


Semoga Imah segera selesai di observasi sehingga bisa dipindahkan ke ruang rawat. "


Dokter Sisil berpamitan pada bi Yati dan berjanji akan melihat kondisi Imah setelah ia selesai praktek dan mendoakan Imah agar segera dibawa ke ruang perawatan.


" Terima kasih bu dokter atas bantuannya. Semoga nona Imah segera dipindahkan ke ruang rawat. " kata bi Yati pada dokter Sisil.


Setelah berpamitan, dokter Sisil meninggalkan bi Yati seorang diri didepan ruang UGD.


" Semoga non Imah segera dipindahkan ke ruang rawat, dan bapak serta ibu segera sampai ke rumah sakit. " kata bi Yati berkata dalam hati.


Bi Yati sempat meninggalkan ruang tunggu UGD untuk pergi ke toilet, lalu pergi ke kantin untuk membeli air minum karena ia merasa haus.


Setelah itu, bi Yati kembali ke ruang tunggu UGD.


Tak lama setelah bi Yati duduk di kursi tunggu, seorang suster keluar dari ruang UGD.


" Keluarga nona Imah. " kata suster memanggil keluarga Imah.


" Iya suster, saya keluarga nona Imah. " kata bi Yati menghampiri suster tersebut.


" Ibu keluarga nona Imah? " tanya suster.


" Iya suster, saya yang menemani nona Imah karena keluarganya sedang di luar kota. " jawab bi Yati.


" oh... begini bu, nona Imah sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Ibu bisa kebagian resepsionis untuk mengurus biaya administrasi sekalian memesan kamar untuk nona Imah.

__ADS_1


Jika sudah dapat kamar, nanti nona Imah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. " kata suster menjelaskan pada bi Yati.


" Baik suster, saya akan ke bagian resepsionis dulu. " kata bi Yati pada suster.


Bi Yati berjalan di lorong rumah sakit menuju bagian resepsionis untuk mengurus biaya administrasi dan memesan kamar rawat untuk Imah.


Bi Yati merasa bersyukur karena saat berangkat ke rumah sakit, ia tidak lupa membawa dompet dan uang simpanannya untuk mengurus biaya administrasi.


Setelah menyelesaikan administrasi, bi Yati kembali ke ruang UGD untuk mengurus perpindahan Imah ke ruang rawat inap.


" Non, apa nona ingin makan? " tanya bi Yati pada Imah saat mereka sudah berada di ruang rawat inap.


" Tidak bi, Imah hanya ingin minum saja. " jawab Imah.


Bi Yati mendekati meja kecil yang ada disisi tempat tidur pasien, lalu mengambil air minum dalam kemasan dan membantu Imah minum dengan menggunakan sedotan.


Setelah meminum air, Imah meminta bi Yati untuk pergi mencari makanan karena Imah tahu jika bi Yati belum makan sejak pagi karena mengurusi dirinya sejak subuh.


" Bi, ... jika bibi akan pergi mencari makanan, tidak apa-apa Imah berada disini sendiri. Sejak pagi bibi belum sempat sarapan dan ini sudah menjelang makan siang. Jika ada apa-apa, Imah bisa minta bantuan pada suster jaga. " kata Imah yang meminta bi Yati untuk membeli makan siang.


" Iya non, jika tidak keberatan bibi akan keluar sebentar untuk mencari makan siang, sekalian membeli buah-buahan buat non Imah. " kata bi Yati pada Imah.


" Iya bi, pergilah, bibi juga harus makan agar tidak sakit. " kata Imah lagi.


Setelah mendapat izin dari Imah, bi Yati keluar dari ruang rawat Imah untuk membeli makan siang sekalian membeli buah-buahan buat Imah karena untuk makan siang Imah sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit


Tidak lupa bi Yati menemui suster jaga dan menitipkan Imah karena Imah sendirian didalam ruang rawat, bi Yati mengatakan pada suster jika ia akan pergi membeli makan siang.


Setelah menemui suster, bi Yati pergi ke luar gerbang rumah sakit untuk membeli makan siang, serta cemilan dan buah-buahan untuk Imah.


Bi Yati merasa bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan Imah selama keluarga Imah belum datang ke rumah sakit.


Sementara itu kamar rawat inap, Imah sedang berbaring seorang diri.


Ia mengingat kejadian tadi malam yang merenggut bayi dalam kandungannya.


" Bang Zack, maafkan Imah karena tidak bisa menjaga anak yang ada dalam kandungan Imah. Walaupun abang belum tahu tentang hal ini, tapi Imah merasa sangat bersalah dan merasa sangat kehilangan. Imah berharap, bayi dalam kandungan Imah bisa bertahan hingga ia lahir ke dunia dan Imah akan merawatnya dengan baik, tapi ternyata yang maha Kuasa berkehendak lain, ia pergi sebelum sempat Imah melahirkannya ke dunia ini. "


Imah bermonolog sambil mengusap perutnya yang saat ini sudah tidak terasa menonjol lagi karena bayi yang dikandungnya harus pergi akibat pendarahan setelah ia mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Imah hanya bisa menitikkan air mata mengenang bayinya yang telah tiada sebelum ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya selain dirinya sendiri.


Setelah puas menangis, Imah tertidur karena pengaruh obat yang tadi diberikan oleh dokter setelah membersihkan rahimnya dari sisa-sisa pendarahan.


__ADS_2