
Selesai makan malam bersama, mereka melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah.
Very mengantarkan Viny ke rumahnya dan keluarganya langsung pulang ke rumah.
" Imah, apa Zack tidak ada menelepon? " tanya ayah pada Imah saat mereka dalam perjalanan.
" Belum ayah, bang Zack belum ada menelepon Imah. Memangnya ada apa, yah? " jawab dan tanya Imah heran karena ayahnya tiba-tiba menanyakan tentang bang Zack.
" Tidak ada apa-apa, ayah kira Zack masih menelepon Imah. " jawab ayah.
" Rencananya Imah ingin mengundang bang Zack ke acara pernikahan bang Very, tapi Imah takut jika ayah dan ibu tidak mengizinkan.
Imah juga tidak tahu, apa bang Zack bisa datang atau tidak. " kata Imah yang mengatakan jika ia ingin mengundang Zack ke acara pernikahan abangnya.
" Tidak apa kalau Imah ingin mengundang Zack ke acara kita, silakan saja, siapa tahu Zack bisa datang. " kata ayah yang mengizinkan Imah untuk mengundang Zack.
" Terima kasih, ayah. Nanti jika bang Zack menelepon Imah akan Imah sampaikan jika kita mengundangnya. " kata Imah dengan perasaan senang setelah mendapat izin dari ayah untuk mengundang Zack.
Mendengar apa yang ayah katakan jika ayah mengizinkan Imah untuk mengundang Zack, ibu melihat pada ayah.
Ibu kurang setuju jika Imah dekat lagi dengan Zack.
Selama ini ibu merasa bersyukur Zack sudah kembali ke New Zealand, sehingga Imah dan Zack tidak ada kesempatan untuk bertemu.
Ibu tidak pernah tahu jika antara Imah dan Zack suka teleponan dan mereka juga sering berkirim surat.
Entah mengapa rasa khawatir ibu terhadap hubungan Imah dan Zack tidak pernah hilang, walaupun ibu berusaha mengikuti apa yang ayah dan Very katakan. Tetap saja rasa khawatir itu mengganjal di hati ibu.
Melihat ibu yang memandang pada ayah dengan tatapan tidak suka, ayah hanya tersenyum pada ibu dan mengusap punggung tangan ibu dengan lembut.
Ayah selalu berusaha memberikan ketenangan pada ibu, berusaha menghilangkan rasa kekhawatiran ibu yang berlebihan.
Satu jam perjalanan, mereka tiba di rumah dan turun dari mobil lalu masuk ke rumah.
Didalam rumah sudah ada beberapa keluarga dari luar kota yang datang untuk menghadiri acara pernikahan Very.
" Ayah,. Ibu, Imah langsung ke kamar ya, mau istirahat. " pamit Imah pada ayah dan ibunya.
" Iya, pergilah istirahat, jangan lupa cuci muka dulu, jangan langsung tidur. " kata ibu pada Imah.
" Baik, bu! " kata Imah sambil menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya, disusul oleh Andika yang juga ingin menuju ke kamarnya.
Ayah dan ibu menyapa keluarga sebentar, lalu mereka juga pamit untuk beristirahat.
Setelah membersihkan diri dan melakukan perawatan malam, ibu menyusul ayah naik keatas tempat tidur.
Ibu menyandarkan kepalanya di bahu dan tangan ayah yang melingkar di bahu ibu, dan mengusap-usap bahu ibu.
__ADS_1
" Mengapa ibu masih mengkhawatirkan mengenai Imah dan Zack? Jangan merusak hati ibu dengan pikiran-pikiran yang tidak baik.
Ibu ingatkan apa yang Very katakan? "
Ayah menasehati ibu agar ibu tidak terlalu memikirkan masalah hubungan Imah dan Zack.
" Entahlah, yah, ibu begitu sulit menghilangkan rasa khawatir ibu, walaupun ibu susah mencobanya. " kata ibu sambil mengelus dada ayah.
Ayah mengecup puncak kepala ibu, lalu mendongakkan kepala dan menatap wajah ayah.
Terlihat senyum ayah yang selalu menenangkan perasaan ibu.
" Biar ibu tidak stress dan banyak pikiran, bagaimana kalau kita buat adik untuk Imah? " bisik ayah yang menggoda ibu dengan penuh kemesraan.
Wajah ibu merona merah saat mendengar kata-kata ayah.
Ayah bisa melihat dengan jelas wajah merona ibu karena ibu sedang memandang ayah.
Walaupun sudah tua, ibu masih suka merasa malu jika membahas hal yang intim dengan ayah.
" Ayah, seperti anak muda saja. Ibu ga mau Imah punya adik lagi, takut jika ibu sudah terlalu tua dan tidak bisa mengurusnya.
Kalau ada bayi lagi, kapan kita bisa menikmati hari tua.
Cukup kita nanti mengurus dan mengasuh cucu kita saja. "
" Kalau tidak ingin membuat adik untuk Imah, paling tidak ibu bisa menidurkan adik ayah yang sudah bangun karena ibu sudah mengelus dada ayah. "
Kata ayah yang tersenyum menggoda ibu, lalu mengarahkan tangan ibu pada adiknya yang sudah bangun dan mengeras.
" Ah, ayah.. Yang dielus dadanya, yang bangun malah adiknya. " kata ibu sambil mengerucutkan bibirnya.
Ayah hanya tertawa pelan lalu mulai mencium bibir ibu.
Malam itu menjadi malam yang hangat bagi ayah dan ibu, malam dimana mereka saling berbagi peluh dan berbagi kepuasan.
Pagi-pagi Imah sudah bangun dari tidurnya langsung mencuci muka dan menggosok gigi di wastafel kamarnya.
Saat tengah mengelap wajahnya dengan handuk, Imah mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok..!
Tok..!
Imah berjalan mendekati pintu kamar dan membuka kuncinya, karena setiap tidur malam, Imah akan mengunci pintu kamarnya.
" Imah, ada telepon untuk Imah.? " kata tante Arin, adik ayah yang datang dari luar kota.
__ADS_1
" Telepon? Dari siapa tan? " tanya Imah yang merasa heran karena mendapat telepon pagi-pagi.
" Katanya, namanya bang Zack. " kata tante Arin lagi.
" Iya tante, terima kasih. " kata Imah sambil buru-buru keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
Imah tidak mau Zack menunggu lama karena biaya teleponnya akan mahal.
Sampai di lantai bawah, Imah langsung menuju meja telepon dan menjawab panggilan dari Zack.
☎ " Hallo, Assalamu'alaikum bang Zack. " sapa Imah yang mengucapkan salam pada bang Zack.
☎ " Wa'alaikumsalam Imah. Apa kabar? " bang Zack menjawab salam dari Imah dan bertanya mengenai kabar Imah.
☎ " Alhamdulillah kabar Imah baik, bang.
Bang Zack apa kabar? Sekarang sedang berada dimana? " tanya Imah yang merasa senang karena mendapat telepon dari Zack.
☎ " Kabar abang juga Alhamdulillah baik.
Sekarang abang sedang berada di Medan, makanya abang bisa menelepon Imah. "
Jawab Zack yang juga merasa senang bisa berkomunikasi dengan Imah.
Zack bisa mendengar suara Imah yang selalu ia rindukan.
☎ " Imah kira bang Zack masih di luar negeri. " kata Imah pada Zack.
" Kebetulan bang Zack menelepon Imah, Imah mau mengundang bang Zack untuk menghadiri acara pernikahan bang Very hari minggu depan. "
Imah menyampaikan undangan pada Zack untuk menghadiri acara pernikahan abangnya, Very.
☎ " Maaf Imah, sepertinya abang tidak bisa menghadiri acara itu, karena kegiatan abang sedang padat. "
Zack meminta maaf, karena kemungkinan ia tidak bisa hadir pada acara pernikahan abangnya Imah.
" Rencananya abang akan ke Jakarta pada hari kamis dan pada hari Jum'at nya akan kembali ke New Zealand.
Ada berkas yang harus abang ambil di sana. Jika ada waktu abang akan usahakan untuk menemui Imah. "
Bang Zack mengatakan jika ia akan ke Jakarta dan akan berusaha untuk bisa menemui Imah.
☎ " Kalau abang banyak kesibukan dan tidak bisa. menghadiri acara pernikahan bang Very tidak apa-apa, Imah tahu abang sedang banyak kegiatan. "
Imah mencoba mengerti jika Zack tidak bisa memenuhi undangannya.
" Benarkah abang akan kesini beberapa hari lagi? Semoga kita sempat bertemu ya, bang? Walaupun bang Zack sibuk, semoga bisa ada waktu untuk kita bertemu. "
__ADS_1
Imah merasa senang saat mendengar Zack akan ke Jakarta dan berharap Zack ada waktu untuk bertemu dengannya.