
Setelah satu minggu yang lalu diadakan pesta yang sangat mewah dikediaman orang tua Imah, hari ini semua kembali seperti biasa.
Sanak keluarga yang menginap dirumah orang tua Imah, sudah kembali ke kampung halaman masing-masing.
Masih ada sedikit kegiatan yang dilakukan oleh para asisten rumah tangga, yaitu merapikan semua barang-barang yang ada dirumah itu seperti sedia kala.
Ibu Imah tidak pernah berpangku tangan dalam hal membereskan perabotan, justru asisten rumah tangga hanya membantu, semua dikerjakan oleh ibu Imah karena ia sangat suka menata barang-barang yang ada di rumahnya.
" Sudah bu, istirahat dulu, dari tadi ibu sibuk bebenah barang. " kata ayah yang melihat ibu sibuk merapikan barang yang ada di dapur.
" Iya ayah, ini tinggal sedikit lagi, tinggal merapikan barang pecah belah kedalam lemari. " kata ibu yang tangannya masih lincah memindahkan barang yang ada di atas meja dan memasukkannya ke dalam lemari.
" Ayah mau dibuatkan kopi? " tanya ibu yang melihat ayah duduk dimeja makan.
" Boleh bu, seperti biasa ya? kopi kesukaan ayah. " kata ayah yang menerima tawaran ibu untuk dibuatkan kopi.
" Beres, apa sih yang ga buat ayah? " kata ibu sambil tersenyum pada ayah.
Ayah hanya tertawa kecil mendengar kata-kata ibu.
Selalu ada sikap manis yang ditunjukkan ibu pada ayah, sehingga walaupun mereka sudah paruh baya tapi selalu bersikap romantis.
Ibu menghentikan pekerjaannya, lalu berjalan menuju dapur.
Ibu mengisi panci kecil yang biasa digunakan untuk memasak air dengan air yang ada di dispenser, lalu menaruh panci diatas kompor dan menyalakan kompor untuk memasak air.
Setelah air terjerang, ibu memasukkan kopi kedalam gelas yang biasa digunakan untuk ayah minum kopi.
Setelah air mendidih, ibu menyeduh kopi dan membawanya pada ayah.
" Ayah, ini kopinya. " kata ibu sambil menaruh kopi dihadapan ayah.
" Hmm.. wangi banget kopi buatan ibu. " kata ayah sambil menghirup aroma kopi yang ada dihadapannya.
" Ibu selalu tahu apa yang ayah mau! " kata ayah sambil mencolek dagu ibu yang duduk dihadapan ayah.
" Ih, ayah sudah tua masih suka genit, malu tahu kalau ada yang lihat. " kata ibu sambil tersenyum.
" Biar genit, tapi ibu suka kan? Lagian malu sama siapa? para pelayan kan sudah tahu kalau kita pasangan paling romantis, ga kalah sama anak muda. " ayah mengatakan hal itu pada ibu sambil tertawa.
Ibu hanya tertawa mendengar kata-kata ayah.
" Ini, cemilannya dimakan, yah! " kata ibu yang menyodorkan bolu karamel dan bika ambon pada ayah.
" Siang-siang ngopi sambil makan bolu, ditambah lagi ditemani sama istri yang cantik dan baik, maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan? "
__ADS_1
Ayah berkata sambil menyeruput kopi, lalu menikmati makanan yang ada dihadapannya.
" Makanya yah, kita harus banyak-banyak bersyukur dengan semua nikmat yang kita dapat. "
Ibu menimpali apa yang ayah katakan.
" Kita memiliki harta yang Allah titipkan pada kita, anak-anak yang sehat dan sudah beranjak dewasa, bahkan kita sudah memiliki menantu.
Apa lagi yang kita cari dan kita inginkan selain kebahagiaan keluarga kita.
Jangan lupa untuk bersyukur dengan semua yang kita miliki.
Jangan sampai tergoda dengan segala sesuatu yang membuat kita lupa dengan segala yang kita punya. "
Ibu menyampaikan pada ayah jika mereka harus selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki saat ini dan jangan sampai mereka tergoda untuk melakukan suatu kesalahan sehingga mereka lupa dengan segala nikmat yang mereka dapatkan saat ini.
Ayah terdiam mendengar apa yang ibu sampaikan, tidak menyangka jika ibu bisa berfikir bijak.
Ayah bersyukur memiliki istri seperti ibu yang selalu bersikap sederhana walau mereka hidup berkecukupan.
" Hayo.. pacaran aja kerjaannya! "
tiba-tiba Andika datang dan mengatakan jika ayah dan ibunya sedang berpacaran.
Ia ikut duduk dimeja makan sambil mencomot makanan yang ada di depan ayah dan memakannya.
" Dari halaman depan bu, lihat orang yang sedang merapikan taman bekas acara kemarin. " jawab Andika sambil kembali mencomot kue.
" Sudah selesai merapikan tamannya? " tanya ibu lagi.
" Sedikit lagi bu, sekarang mereka sedang istirahat sambil ngopi yang dibuatkan olah bi Sri." jawab Andika pada ibunya.
" Jam berapa mau jemput Imah, bang? " tanya ayah pada Andika.
Andika melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
" Sebentar lagi, yah. " jawab Andika.
" Jangan telat jemputnya, kasihan jika Imah harus menunggu lama. " kata ayah lagi pada Andika.
" Iya, ayah tenang saja, sebentar lagi abang akan berangkat menjemput Imah! " kata Andika meyakinkan ayahnya.
Andika menuangkan air yang ada di atas meja ke dalam gelas lalu meminumnya.
Andika lalu berdiri dari duduknya dan berkata jika ia akan menjemput Imah.
__ADS_1
" Bu, bagi duit dong? abang mau beli mie ayam yang ada didekat kampus Imah.! "
Andika meminta uang pada ibunya karena ingin makan mie ayam yang berada tidak jauh dari kampus Imah.
" Memang abang ga ada uang? " tanya ayah pada Andika.
" Kalau uang cash ga ada yah, adanya di ATM, tapi abang malas untuk mampir ke ATM. " jawab Andika.
" Lha, bukanya kemarin abang sudah narik di ATM? " tanya ibu heran, karena saat kemaren mengantar ibu ke butik, Andika mengambil uang di ATM yang ada di dekat butik.
" Kemarin abang cuma narik sedikit karena ada teman abang yang pinjam uang untuk membeli obat ibunya yang sedang sakit, sisanya abang beli coklat dan cemilan sama Imah. "
Andika menjelaskan jika ia mengambil uang untuk dipinjamkan pada temannya karena temannya perlu uang untuk membeli obat ibunya yang sedang sakit.
" Ya sudah, ini buat beli mie ayam, tapi Imah diajak juga. Tunggu Imah pulang baru makan mie ayam. "
Kata ayah sambil memberikan dua lembar uang merah pada Andika yang diambil dari dompet ayah.
" Alhamdulillah...! " kata Andika sambil mencium uang yang ia terima dari ayah.
" Dari ibu, mana? " tanya Andika pada ibu.
" Apa..? " tanya ibu heran.
" Inikan uang jajan dari ayah, terus dari ibu mana? kan abang tadi minta sama ibu. " kata Andika yang menggoda ibunya.
" Lha, itukan dari ayah sama saja.
Masa sudah dikasih sama ayah masih minta sama ibu. " kata ibu sewot setelah mendengar kata-kata Andika.
" Lagian kalau cuma untuk beli mie ayam, itu banyak lebihnya, kecuali kalau abang mau beli segerobak, baru kurang. " sambung ibu lagi.
Andika tertawa mendengar kata-kata ibunya.
" Iya ibuku sayang, abang hanya bercanda. " katanya sambil mencium pipi ibunya.
" Abang berangkat dulu, mau jemput Imah ke kampus sekalian beli mie ayam. " kata Andika setelah mencium pipi ibunya.
" Mau dibelikan juga ga mie ayamnya? " tanya Andika sebelum meninggalkan ruang makan.
" Boleh, ibu juga mau.. ini sekalian ibu tambah uangnya biar sekalian beli buat yang dirumah juga. " kata ibu sambil beranjak hendak mengambil dompet yang tergeletak diatas kulkas.
" Ga usah bu, ini uang ayah saja. " kata ayah sambil memberi dua lembar uang merah lagi pada Andika.
" Oke, terima kasih ayah, abang pergi dulu. " kata Andika sambil ngeloyor pergi.
__ADS_1
Ayah dan ibu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya yang satu itu.