CINTA TIADA AKHIR

CINTA TIADA AKHIR
Bab 83 Menahan Rasa Sakit.


__ADS_3

Hari sepulang kuliah Imah memutuskan untuk pergi nonton bersama teman-temannya.


Disebuah bioskop Imah melihat Sandy sedang bersama seorang gadis yang Imah kenal.


Gadis itu merupakan salah seorang teman kuliahnya.


Gadis itu memiliki tubuh yang tinggi dan berambut pirang, ia memiliki kaki semampai dan senyum yang manis.


Imah tersenyum pada Sandy yang mengetahui keberadaannya ketika gadis yang bersama Sandy membalikkan tubuhnya untuk mengenakan cardigan, dan Sandy pun membalas senyuman Imah.


Imah dan Sandy tidak bertegur sapa karena posisi mereka yang berjarak, dan Imah tidak ingin membuat gadis yang bersama Sandy salah paham jika Imah menyapa Sandy.


" Wah filmnya bagus juga, ya? lain kali kita bisa nonton bersama-sama lagi. " kata Lusi, salah seorang teman Imah yang merasa senang setelah menonton film bersama.


" Benar, ceritanya sangat bagus dan bikin terharu. " kata Leli, teman Imah yang lain.


" Kita mau kemana lagi nih? masih mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang? " tanya Mia.


" Sebaiknya kita langsung pulang saja, sore-sore seperti ini sangat menyenangkan jika kita mengendarai motor sambil bersantai. " jawab Selly yang mengajak teman-temannya untuk langsung pulang.


" Benar, sebaiknya kita langsung pulang sambil menikmati suasana sore dengan mengendarai motor secara santai. " kata Imah yang menyetujui ajakan Selly.


Kebetulan hari ini Imah pergi ke kampus dengan mengendarai motor karena Andika sedang pergi ke luar kota dan ayah tidak bisa mengantar Imah untuk pergi ke kampus, sehingga Imah meminta izin untuk pergi ke kampus dengan mengendarai motor.


Imah dan teman-temannya mengendarai motor dengan santai.


Selly berboncengan dengan Mia dan Lusi berboncengan dengan Leli sehingga Imah mengendarai motor sendirian.


Saat mereka meninggalkan bioskop, mereka mengendarai motor dalam keadaan karena mereka memang bermaksud untuk bersantai dan menikmati suasana sore hari.


Namun tiba-tiba, seorang lelaki mengendarai motor dengan sedikit oleng dan menyalip Imah yang membawa motor dengan pelan.


Motor lelaki tersebut menyenggol motor Imah sehingga motor Imah oleh dan terjatuh, begitupula dengan Imah yang jatuh kearah trotoar.


Sesaat Imah tidak sadarkan diri, tetapi ketika teman-temannya datang untuk membantunya Imah sudah kembali sadar, namun Imah merasakan pusing di bagian kepalanya.


Lelaki yang menabrak Imah pun terjatuh dari motornya. Ia jatuh tidak jauh dari Imah lalu menghampiri Imah dan berdiri disampingnya.


Lelaki itu terlihat panik dan bingung, ia terlihat seperti sedang mabuk.


" Apakah kau sudah gila..??! " kata Selly dengan marah pada lelaki itu.


" Ma.. ma..maafkan aku..! " kata lelaki itu dengan terbata karena merasa takut.


Selly meninggalkan lelaki itu begitu saja lalu menghampiri Imah.

__ADS_1


Lusi dan Leli membantu Imah untuk berdiri, sedangkan Mia membetulkan. motor Imah yang tergeletak di dekat trotoar.


Lengan dan pinggul Imah terlihat cedera, untung Imah tidak membawa motor dengan kencang sehingga ia tidak terjatuh terlalu keras.


Lusi dan Leli memperhatikan tubuh Imah, sepertinya tidak ada yang patah.


" Kita harus pergi ke dokter untuk memeriksa keadaanmu. " kata Selly yang menghampiri Imah.


" Tidak perlu ke dokter, aku tidak apa-apa. " kata Imah yang menolak ajakan Selly.


" Tapi tanganmu terluka, dan kau harus diobati. " kata Mia yang menyetujui ajakan Selly untuk pergi ke dokter.


" Tidak perlu, nanti aku obati sendiri di rumah. " kata Imah yang tetap menolak untuk pergi ke dokter.


" Baiklah, jika begitu kami akan mengantarkan kamu untuk pulang ke rumah. " kata Selly sambil membantu Imah untuk baik ke atas motornya.


Sedangkan motor Imah dibawa oleh Mia.


Satu hal yang Imah takutkan, yaitu mengenai kehamilannya.


Imah takut terjadi sesuatu dengan bayi yang tengah dikandungnya.


Tetapi Imah tidak mengatakan apapun pada teman-temannya dan meminta mereka untuk mengantarkannya pulang.


Beruntung saat Imah pulang, ayah dan ibunya sedang tidak berada di rumah.


Menurut bi Yati, ayah dan ibu keluar kota menyusul bang Andika karena ada pekerjaan yang harus ayah selesaikan di sana dan ibu ikut menemani ayah.


Imah hanya takut jika ayah dan ibunya tahu ia mengalami kecelakaan akan merasa panik apalagi saat Imah pulang dipapah oleh kedua temannya.


Bi Yati datang ke kamar Imah dengan membawa kompres es untuk lengan dan pinggul Imah setelah teman-temannya meninggalkan kamar Imah dan pulang ke rumah masing-masing.


" Non, apa non baik-baik saja? " tanya bi Yati pada Imah.


" Imah baik-baik saja, bi. " jawab Imah sambil tersenyum.


" Terima kasih atas kompres dan obatnya ya, bi. " kata Imah pula.


Sebenarnya bukan lengan atau pinggulnya yang membuat Imah cemas, Imah merasa kram pada perutnya selema beberapa menit dan ia tidak tahu harus melakukan apa.


Imah berpikir untuk pergi ke dokter, tapi tempat praktek dokter cukup jauh dari rumahnya dan ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa untuk mengantarnya kesana.


Imah berharap jika dengan berbaring ditempat tidur, maka keadaannya akan membaik. Imah tahu jika saat ia terjatuh tadi, bayi dalam perutnya pasti ikut terguncang.


Tetapi Imah berharap keadaan bayinya akan baik-baik saja.

__ADS_1


" Semoga kau baik-baik saja didalam sana ya, nak? " kata Imah sambil mengusap perutnya.


Untung bi Yati tidak memperhatikan ketika Imah mengusap perutnya dan berdoa untuk keselamatan bayi dalam rahimnya.


" Bibi ke bawah dulu, nonton, jika perlu sesuatu panggil saja bibi. " kata bi Yati sambil pergi meninggalkan Imah dengan membawa obat dan baskom bekas mengompres Imah.


Bi Yati turun ke bawah lalu menyelesaikan pekerjaannya di dapur bersama bu Sri.


Satu jam kemudian bi Yati pergi ke kamar Imah untuk melihat keadaannya, dan ternyata Imah sudah tertidur dengan pulas.


Bi Yati kemudian kembali turin kebawah setelah menutup pintu kamar Imah.


Imah tertidur dengan lelap, dan ketika terbangun waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Imah hendak bergerak untuk mencari posisi yang nyaman ketika merasa sangat kesakitan.


Imah melihat jika tubuhnya berdarah.


Imah mencoba menahan suaranya meski ia merasa sangat kesakitan di bagian perutnya.


Imah menahan suaranya agar tidak membangunkan orang yang berada di rumahnya.


Imah bangun dari tidurnya, lalu berjalan dengan terbungkuk ke kamar mandi.


Imah tidak menyadari jika ia meninggalkan jejak darah di lantai.


Tangan dan pinggul Imah terasa sakit karena terjatuh tadi, tapi rasa sakit itu tidak melebihi rasa sakit yang ia rasakan pada bagian perutnya.


Imah menahan rasa sakit itu sendiri dan ia hampir tidak bisa berdiri karena menahan rasa sakit itu.


" Ya Allah, sakit sekali. " kata Imah sambil membungkuk menahan rasa sakit di perutnya.


Imah masuk ke dalam kamar mandi dengan perlahan, lalu menyalakan lampu kamar mandi.


Ketika melihat dirinya di cermin besar yang ada dikamar mandi, Imah melihat jika dari pinggang ke bawah sudah berlumuran darah.


Baju yang dikenakannya pun sudah berwarna merah.


Imah tahu apa yang terjadi pada dirinya, ia tahu jika ia sudah mengalami pendarahan.


Imah sangat khawatir jika ia akan kehilangan bayi Zack, tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Imah ingin memanggil bi Yati dan bi Sri, tapi imah takut jika orang tuanya akan mengetahui kehamilannya dan akan marah padanya.


Imah takut jika kehamilannya diketahui saat ini, maka ia akan keluar dari kampus sebelum menyelesaikan ujian semester dan Imah akan kehilangan kesempatan untuk mengikuti kuliah di semester berikutnya setelah ia melahirkan.

__ADS_1


__ADS_2