Contradictory Love

Contradictory Love
10 - Menenangkan Emosi


__ADS_3

Daniel menghentikan mobilnya didepan sebuah cafe yang merangkap sebuah club malam. Dia ingin sekali menenangkan pikirannya. Lagian sudah lama juga dia tidak ke tempat itu bersama Billy hanya sekedar menghibur diri dengan bercakap cakap dengan Sahabat baiknya. Tapi Billy tidak bisa diajak saat itu, dia sudah ada agenda keluarga.


Daniel memasuki cafe itu dan memilih untuk duduk dipojok sambil memperhatikan orang-orang yang masuk dan keluar disana.


Pelayan menawarkan minuman pada Daniel dan disambut dengan anggukkan kepala oleh Daniel pertanda setuju dengan tawaran jenis minuman oleh pelayan itu.


Sambil meneguk minumannya, tiba-tiba mata Daniel menangkap sosok yang seharian ini telah membuatnya bad mood. Ya, sosok itu adalah Calista. Ia mengenakan kaos lengan panjang dengan bahu sebelah yang terbuka dipadukan dengan short pendek ketat.


Dia benar-benar terlihat berbeda. Mata Daniel tak lepas mengaggumi malaikat sexy yang duduk disebelahnya dengan jarak 3 meter.


Kondisi lampu yang remang-remang membuat Calista tidak dapat mengenali siapa saja yang Ada disekelilingnya. Calista memainkan hapenya sambil sekali-kali meneguk minuman didepannya langsung dari botol.


Daniel mengamati wajah gadis itu. Hidung, bibir, dan dagunya sungguh menggetarkan diantara remang cahaya. Tiba-tiba gadis itu berbicara dihapenya. "Kim, gak bisa ya. Oh gak apa-apa kok. Lain Kali aja kalo gitu yah." Kemudian berhenti bicara dan meneguk lagi botol bir didepannya.

__ADS_1


Terlihat dua orang pria menghampiri Calista. Calista tidak menggubris dua orang tersebut yang berusaha menggodanya.


"Pergi kalian. Jangan ganggu aku. Kalian pikir aku wanita gampangan ya!" teriak Calista.


Bukannya pergi, dua orang itu semakin nekad menggoda Calista. Mereka bahkan nekad mau menyentuhnya. Calista berang dan menyiramkan sisa birnya kepada dua makhluk reseh didepannya.


Melihat gelagat tidak baik dua pria itu, Daniel bangkit dari kursinya dan meninju seorang dari pria itu.


Belum sempat menghindar, salah satu dari pria itu mengambil botol bir diatas meja bermaksud memukulnya ke kepala Daniel.


Refleks Daniel menghindar.... dan naas justru botol itu mendarat di Kepala Calista..Darah mengucur dari kepalanya. Calista oleng dan pingsan seketika.


Daniel masih sempat menangkap pinggul Calista sebelum akhirnya mereka terjerembab dilantai secara bersamaan. Melihat gadis itu pingsan, dua pria tersebut langsung kabur lewat pintu belakang cafe.

__ADS_1


"Calista.....bangun. Calista...." Daniel berusaha menepuk-nepuk pipi Calista tapi gadis itu hanya tetap diam.


Dengan tergesa-gesa Daniel menggendong Calista ke mobilnya sambil tak lupa meminta pelayan memasukan bon minuman kedalam tagihannya.


Daniel memacu mobilnya ke sebuah klinik terdekat dan langsung membawa Calista kedalam untuk diobati.


Beberapa saat kemudian seorang dokter setengah baya keluar sambil tersenyum. "Beruntung lukanya tidak begitu dalam Dan lebar. Tidak perlu dijahit. Sudah kami obati dan perban. Ini resep obat penghilang rasa sakit jika Nona ini merasa nyut nyut. Selanjutnya bisa dirawat di rumah.


Daniel menyelesaikan administrasi dan mengambil resep. Ia menggendong kembali Calista yang masih antara sadar dan belum.


Gadis itu merintih pelan sambil terus memejamkan matanya. Daniel menggendong kembali Calista ke.mobilnya. Gadis itu sudah kelihatan tenang dalam tidurnya.


"Aduh... bagaimana ini? Aku tak tahu dimana gadis ini tinggal." Daniel bergumam pelan pada dirinya. Ia memijit mijit dahinya pelan. Beberapa saat kemudian ia memutuskan membawa Calista ke apartemennya. Waktu menunjukkan pukul 11:30. malam. Daniel memacu mobilnya menembus keheningan malam.

__ADS_1


__ADS_2